
"ARRKKHHTT," Putri Irha dan Putri Dinibi mengingat kejadian tersebut.
"Kau kenapa, Istriku?" Tanya Pangeran Boby.
"Arkhhttt....ini ingatan siapa sih," Gumam Putri Irha memegang kepalanya yang masih sakit.
'Jangan sampai ingatan Putri Andini pulih. Dia bisa membongkar semua kejahatan yang ku perbuat pada semua orang. Ini tidak bisa dibiarkan,' Batin Putri Izza.
"Putri Andini dan Putri Irha pasti sedang lelah. Sebaiknya kalian istirahat dulu," Saran Putri Izza.
'Dasar medusa. Dia yang sudah buat pemilik tubuh ini menjadi jahat. Takkan ku ampuni dia,' Batin Putri Andini.
'Iblis. Dia dan ratu badut itu yang telah mendorongku ke sumur. Hingga pemilik tubuh yang asli tiada akibat ulah mereka. Lihat saja nanti, akan ku balas semua kejahatan kalian,' Batin Putri Irha mulai mengingat ingatan sang pemilik tubuh, walau masih belum semuanya.
"Kau sebaiknya istirahat, Putri Irha," Ucap Putra Mahkota Ilyas.
"Hahaha, kau masih mencintai Putri Irha rupanya. Ku pikir kau tidak mencintainya lagi. Teryata kau pria brengsek yang tidak cukup dengan satu wanita. Sebaiknya kau lepaskan Putri Khina, jangan rakus jadi orang. Dengan senang hati aku jaga dan lindungi apa yang seharusnya jadi milikku," Ejek Pangeran Arjuna.
"DIAM! Aku sama sekali tidak mencintai Putri Irha, baik dulu maupun sekarang. Perasaanku terhadap Putri Irha hanya perasaan seorang Kakak yang melindungi adiknya. Aku sudah menyadarinya, jika selama ini aku mencintai seseorang yang berada dimimpiku. Seseorang itu ialah Putri Khina, istriku," Ucap Putra Mahkota Ilyas.
"Benarkah? Aku sama sekali tidak percaya," Ucap Pangeran Arjuna mengejek.
"Aku mau istrirahat, disini membuatku semakin pusing tujuh keliling," Ucap Putri Andini langsung melenggang pergi.
"Aku juga mau istrirahat. Kepalaku pusing sekali," Ucap Putri Irha.
"Istriku, ayo aku antar kau kekamar," Ucap Pangeran Boby sembari memegang bahu Putri Irha.
"Aku bisa jalan sendiri, enggak usah pegang-pegang, risih tau," Kesal Putri Irha yang tak nyaman disentuh.
Setelah mereka pergi, Putra Mahkota dan Pangeran Arjuna saling melayangkan tatapan membun*h.
"Kau akan mendekam didalam penjara seumur hidup. Kau takkan bisa bebas dari sini. Sekalipun kau bersujud dan memohon pengampunan, kau tak akan termaafkan. Camkan itu baik-baik," Ucap Putra Mahkota Ilyas.
"Hahaha, kau pikir akh bakal sujud dikakimu? Mimpi. Sampai kapan pun, aku takkan pernah tunduk pada siapapun, kecuali pada Putri Khina," Ucap Pangeran Arjuna.
"JANGAN PERNAH MENYEBUT NAMA ISTRIKU DENGAN MULUT KOTORMU ITU!" Teriak Putra Mahkota marah, dia mengankat kursi dan melempar kearah sel jeruji yang mengurung Pangeran Arjuna. Kursi itu mengenai tangan Pangeran Arjuna yang saat itu menggenggam bagian sel jeruji.
"Hahaha, kau pikir dengan memberiku luka kecil ini, kau merasa menang? Hahaha, itu mistahil. Karena Putri Khina hanya mencintaiku. Dan takkan pernah mencintai pria yang menyia-nyiakannya," Ucap Pangeran Arjuna dengan senyum remeh sembari meniup-niup punggung tangannya yang sedikit terluka.
Putra Mahkota terdiam, dia melenggang pergi begitu saja. Hatinya terasa tak tenang mendengar perkataan Pangeran Arjuna.
'Apa Putri Khina masih mencintai Pangeran Arjuna? Tidak, tidak, tidak. Aku yakin Putri Khina tidak mencintai Pangeran Arjuna. Putri Khina yang sekarang ialah Inaya. Wanita yang ada dalam mimpiku. Wanita yang selama ini ku cintai. Aku harus menemui-nya. Aku harus tau perasaannya padaku. Tapi bukan sekarang, dia sedang sakit sekarang. Aku akan menanyakanya nanti, setelah dia sembuh,' Batin Putra Mahkota Ilyas.
__ADS_1
•••••••••••••
Beberapa hari kemudian. Tepatnya dikamar Putri Khina.
"Eughhhh," Suara leguhanku.
"Kau sudah bangun, Sayangku," Ucap Putra Mahkota Ilyas.
"Eh, kau disini? Sejak kapan?" Tayaku bingung. Pasalnya seingatku semalam tidur sendirian.
"Sejak kau tidur sangat lelap dan terus mengigau nama Ilham lagi dan lagi," Ucap Putra Mahkota Ilyas yang mulai memasang raut wajah masam.
"Apa iya? Masa sih?" Tanyaku.
"Hmmm."
"Kau cemburu?" Tanyaku.
"Hm."
"Hem-hem, bisakah kau bilang iya. Hem-hem mulu," Kesalku.
"Iya aku cemburu," Ucap Putra Mahkota Ilyas.
"Tapi wajahnya mirip denganku," Ucap Putra Mahkota Ilyas.
"Iya sih...tapi iris mata kalian beda, rambut kalian juga beda. Aku lebih suka sama Ilyas dari pada pria keranjang yang suka mandang fisik itu. Tolong percayalah, hanya kau cinta terakhirku," Ucapku.
"Aku percaya, aku pun sangat-sangat mencintaimu. Tapi aku mau menanyakan satu hal padamu," Ucap Putra Mahkota Ilyas.
"Apa?" Tanyaku.
"Apa kau menyukai Pangeran Arjuna?" Tanya Putra Mahkota.
"Dulu aku sempat kagum sih padanya. Tapi sekarang rasa kagum itu hilang akibat kejadian itu. Aku enggak bakal maafin dia," Ucapku.
Putra Mahkota tersenyum hingga membuatku terpana mrlihatnya. Dia berjalan mendekatiku dan perlahan mulai menciumku. Awalnya aku masih kaku, karena Putra Mahkota lagi-lagi menciumku. Namun lama-kelamaan ciuman itu semakin dalam.
Putra Mahkota Ilyas mulai melepaskan ciumannya. Kami mengambil nafas sesaat.
"Kau sudah siap?" Tanyanya.
"Aku...," Ucapku menggigit kecil bawahku.
__ADS_1
"Aku takkan memaksamu kalau kau belum siap," Ucap Putra Mahkota Ilyas yang hendak beranjak dari ranjang.
"Tunggu...emmm...aku, aku, siap," Ucapku sedikit menunduk.
"Aku mencintaimu," Ucapnya.
"Aku juga," Ucapku.
"Juga apa, hem," Ucap Putra Mahkota.
"Mencintaimu," Cicitku.
"Apa, aku tidak dengar," Goda Putra Mahkota.
"Auh ah, aku mau pergi saja," Ucapku hendak pergi. Namun Putra Mahkota langsung menarik tanganku dan menindihku. Dia menatapku lekat-lekat.
"Aku belum pernah merasakan yang namanya malam pertama. Walau kesucianku telah direnggut oleh ayahku sendiri disaat aku terlelap. Tapi aku pengen mera..ra..sa..kannya," Ucapku sedikit gugup.
"Tatap mataku," Ucapnya menyentuh daguku dan membuatku menatapnya.
"Aku akan melakukannya dengan lembut hingga kau terbang ke awan," Ucap Putra Mahkota Ilyas.
Walau awalnya amu takut, namun lama kelamaan aku pun mulai terbuai dengan apa yang dilakukan Putra Mahkota padaku. Hingga hampir 5 jam pegulatan terjadi. Setelah itu kami tertidur kembali setelah mencapai pelepasan.
"Ughhh....badanku sakit semua," Ucapku yang sudah terbangun lebih dulu. Aku mulai berjalan menuju kekamar mandi. Namun lagi-lagi terhenti saat Putra Mahkota tiba-tiba menggendongku.
"Eh, turunin aku," Ucapku.
"Kita mandi bersama," Ucapnya.
'Tidak, tidak. Dari novel yang pernah ku baca, jika suami mengajak mandi bersama, itu berarti dia minta jatah lagi. Waduh, gawat. Badanku masih remuk semua lagi. Waktu kami melakukannya saja, dia sama sekali tak berhenti meski sesaat,' Batinku.
"Turunin aku. Aku bisa mandi sendiri," Ucapku memberontak.
"Ayolah, sayang. Kau pasti akan menikmatinya," Ucapnya.
"Enggak. Jangan mes*m," Ucapku menggigit dadanya dan lansung turun dari gendongannya.
"Arkhh, Tunggu."
Telat, aku menutup pintu lebih dulu sebelum dia masuk.
"Enak aja minta lagi. Apa dia enggak ngerti sedikit saja jika badanku terasa remuk semua akibat ulahnya. Apalagi banyak amat tanda merah dibadanku. Huh, sudahlah, aku lebih baik mandi saja," Gumamku kesal.
__ADS_1
...¤BERSAMBUNG¤...