TERLEMPAR KEZAMAN KERAJAAN KUNO

TERLEMPAR KEZAMAN KERAJAAN KUNO
BAB 38 WAJAH YANG SAMA PERSIS


__ADS_3

Setelah menyelesaikan ritual mandiku, aku bergegas keluar kamar.


"Untung Ilyas sudah pergi, jadi aman,"Gumamku.


"Oh iya, aku, Putri Irha dan Putri Andini akan berlatih memanah. Waduh gawat, aku udah telat," Ucapku bergegas memakai pakaian dan bedak tipis serta lipstik kuno.


Setelah selesai, aku keluar dari kamar dan bergegas ketempat pelatihan.


Sesampainya ditaman belakang tempat pelatihan, aku melihat Putri Irha dan Putri Dinibi. Ku langkahkan kakiku menuju ke arah mereka.


"Maaf, aku telat. Kalian sudah lama menunggu? Dimana guru yang mau melatih kita?" Tanyaku.


"Kau kelamaan, kakiku kesemutan gara-gara nungguin Lo. Dan guru gak jelas itu juga kagak tau kapan datang," Kesal Putri Andini.


"Gue tadi kemar Lo, cuman kamar Lo kekunci dan saat gue mau ketuk, eh enggak taunya ada yang lagi enak-enak," Ejek Putri Irha.


"Eh," Gumamku tersenyum malu dan mengalihkan wajahku.


"Ada yang lagi malu niee," Ejek Putri Andini.


"Sayang," Tiba-tiba Putra Mahkota Ilyas berada dibelakangku.


"Eh Ilyas, Kau disini," Ucapku.


"Ekhem, ekhem, ada yang lagi bucin nih," Goda Putri Irha.


"Apaan sih," Ucapku malu.


"Ini untukmu," Ucap Putra Mahkota menyerahkan setangkai bunga mawar.


"Makasih,"Ucapku.


"So sweet," Ucap Putri Andini.


"Kalian ini...." Ucapanku terhenti


"Ini buatmu," Ucap Pangeran Boby yang seracara tiba-tiba menghampiru kami dan memberi bunga ke Putri Irha.


"Enggak perlu, aku tidak suka bunga," Ketus Putri Irha.


"Kau kan sangat suka bunga mawar, dulu saja saat Kevin memberimu bunga, kau langsung menanamnya di halaman depan rumahmu," Ejek Putri Andini.


"Ciee, ambil aja bunganya. Suamimu sudah memberi bunga penuh kasih sayang loh. Masa kau tidak mau mengambilnya," Ucapku.


"Iya-iya, sini dan pergi sana," Ketus Putri Irha merebut bunga Pangeran Bobby dan mengusirnya.


"Siapa itu Kevin?" Tanya Pangeran Bobby.


"Selingkuhan Putri Irha," Ucap Putri Andini memanas- manasi.


"Dimana dia? Aku tak akan biarkan dia merebut istriku. Akan ku habisi dia," Ucap Pangeran Bobby mengepalkan telapak tangan.


"Kau tidak akan pernah menemukannya," Ucapku.


"Kenapa?" Ucap Pangeran Bobby.


"Karena dia bukan berasal dari du...," Belum sempat Putra Mahkota menyelesaikan ucapannya, aku lebih dulu membekap mulutnya.

__ADS_1


"Dia sudah mati," Ucap Putri Andini.


"Jangan asal ngomong, dia masih hidup," Ucap Putri Irha tak terima perkataan Putri Andini.


"Emang benar kan, dia sudah meninggoy akibat kecelakaan itu dan pasti sekarang dia sudah berada disurga," Ucap Putri Andini.


"Kau!" Kesal Putri Irha memolototi Putri Andini.


"Aku pergi dulu sayang, masih banyak pekerjaan yang belum ku kerjakan," Ucap Putra Mahkota mencium keningku, lalu bergegas pergi. Aku hanya tersenyum malu-malu sembari mencium bunga yang diberikan olehnya.


Pangeran Bobby yang melihatnya, ingin ikut mencium Putri Irha.


"Eh, Lo mau apa? Jangan dekat-dekat," Ucap Putri Irha berjalan mundur saat Bobby mencoba mencium keningnya.


"Apa aku tidak boleh menciummu, Istriku? Aku ini suamimu," Ucap Pangeran Bobby.


"Kagak-kagak. Kau jauh-jauh dariku. Aku enggak suka dekat-dekat denganmu," Ucap Putri Irha.


"Terima takdir aja, kau sekarang sudah jadi istrinya. Masa kau bersikap gitu ke suamimu sendiri," Ucap Putri Andini.


"Bener kata Putri Andini, bagaimanapun dia tetap suamimu," Ucapku.


"Kalian ini tidak pernah mengerti perasaanku!" Kesal Putri Irha melenggang pergi.


"Aku sudah berusaha membuatnya jatuh cinta padaku. Namun semua ternyata sia-sia," Gumam Pangeran Bobby bergegas pergi dengan wajah tertunduk.


"Kasihan juga dia," Gumamku.


Tak lama kemudian, tampak seseorang berjalan kearah kami bertiga.


Deg.....


'Dia...,' Batin Putri Irha terkejut melihat guru pelatih yang semakin mendekat. Dia teekejut dan membeku ditempat.


"Woi bangun, guru pelatih kita sudah datang," Ucapku menggoyangkan bahu Putri Andini yang bersandar di pohon.


"Apa sih," Kesal Putri Andini.


"Guru kita sudah datang," Bisikku.


"Mana?" Tanya Putri Andini.


"Itu didepan kita," Ucapku. Perlahan Putri Andini menengok kedepan.


Deg....


'Dia masih hidup...,' Batin Putri Andini terkejut.


"Lah, kok kalian pada diam sih?" Ucapku.


"Salam Yang Mulia Putri Mahkota, Putri Irha dan Putri Andini. Maaf kami telat datang kemari karena diperjalanan ada sedikit masalah. Maafkan atas keterlambatan kami," Ucapnya.


"Kami? Kau hanya sendiri, Tuan," Ucapku bingung. Pasalnya dia hanya seorang diri dan mengatakan kami, seakan-akan dia bersama temannya.


"Saya bersama...," Ucapnya mulai menengok kesamping.


"Dimana Arief?" Gumamnya.

__ADS_1


"Maafkan saya, Putri. Saya mengira teman saya berada didekat saya barusan," Ucapnya.


"Kevin, kau ini kenapa meniggalkanku sendirian," Kesal seseorang dari arah belakang.


"Alif?" Ucapku.


"Hah?" Arief dan Kevin melongo mendengar perkataanku.


"Kau, Alif?" Tanyaku.


"Maaf Putri Mahkota, nama saya Arief, bukan alif," Ucapnya.


"Oh maaf, mungkin saya salah orang," Ucapku.


"Tidak apa, Putri Mahkota. Salam hormat," Ucapnya membungkukkan badan pada kami bertiga.


'Wajahnya sangat mirip dengan Alif. Ku pikir dia Alif, nyatanya aku salah. Ini kan dunia kuno, mana mungkin orang didunia moderen sama dengan didunia kuno. Huh, apa dia guruku? Aku enggak suka liat wajahnya yang mengingatkanku pada Alif. Alif bermuka dua. Dia sama sekali tidak tulus. Dia mempermainkanku. Aku sangat membencinya. Dia menjadikanku barang taruhan,' Batinku.


"Maafkan atas keterlambatan kami, Putri-putri," Ucap Arief.


"Hm, iya," Ucapku.


"Boleh kita mulai latihannya?" Tanya Kevin.


"Boleh, tapi yang melatihku siapa ya?" Tanyaku.


"Saya, Putri Mahkota," Ucap Arief.


"Kenapa mesti dia sih. Tenang, aku harus tenang. Dia bukan Alif, jadi aku tidak boleh bersikap ketus padanya," Gumamku.


"Putri Mahkota mengatakan sesuatu?" Tanya Arief.


"Enggak, ayo kita mulai latihannya," Ucapku mulai berdiri.


"Putri Irha....eh kalian kok malah bengong sih? Hei, hei, kalian kenapa?" Ucapku bergegas duduk kembali dan menepuk pelan pipi keduannya.


'Ada apa mereka berdua? Kok jadi aneh?' Batinku.


"Kevin, hiks, hiks. Aku merindukanmu," Ucap Putri Irha hendak berdiri, belum sempat dia berdiri, Putri Andini mendorongnya.


"Kevin," Ucap Putri Andini bergegas berdiri dan memeluk Kevin dengan erat.


'Ee...ada apa ini?' Batin Kevin yang bingung dengan Putri Andini yang tiba-tiba memeluknya.


"Gue sangat mencintai Lo, Kevin. Tolong jangan tinggalin gue demi wanita ****** itu," Ucap Putri Andini.


"Lepaskan Bebeb Kevin gue. Lo tidak berhak," Ucap Putri Irha menarik rambut Putri Andini.


"Tidak akan pernah. Gue tidak akan melepaskan Kevin sampai kapanpun," Ucap Putri Andini semakin mempererat pekukannya.


"Lepaskan Pacarku!" Ucap Putri Irha marah. Dia semakin menarik rambut Putri Andini.


'Sungguh hidupmu lebih beruntung, Kev. Kau selalu dikelilingi perempuan cantik dimana-mana. Bahkan Putri Irha dan Putri Andini memperbutkanmu,' Batin Arief.


'Kevin? Apa dia Kevin yang dimaksud Irha? Tapi mana mungkin? Dia tidak mungkin Kevin, karena ini bukan dunia modern. Aku sangat yakin karena, Putra Mahkota Ilyas dan Ilham sungguh berbeda. Wajah mereka sama, karakter mereka beda jauh. Begitupula dengan Arief yang awalnya ku kira Alif,' Batinku.


...¤BERSAMBUNG¤...

__ADS_1


__ADS_2