
Cinta dengan senang hati mengambil Hamzah dari Nindi. Andri kemudian mengajaknya bermain di atas ranjang, "Suka dengan kumis, Om?" tanyanya bercanda saat Hamzah menarik kumis tipisnya.
Melihat itu Cinta kian yakin ia bisa membesarkan calon bayinya karena sang kakak pasti akan selalu bersamanya.
.............
Tak terasa 7 bulan telah berlalu. Ayu galau karena hingga kini ia belum juga hamil. Ia pikir setelah pengangkatan kista di rahimnya ia akan mengandung dengan cepat. "Apa yang terjadi pada diriku? Apa Miko bermasalah lagi?" tanyanya emosi. Pikirannya kacau hingga ia kembali menyalahkan sang suami. Ia putus asa dan membanting bantal dan guling ke lantai dan merusak tatanan ranjangnya.
Ia tak sadar Andri tengah memperhatikannya dari luar kamar.
Ia mengambil gunting dan menatapnya tajam.
"Apa yang akan dilakukannya?" tanya Andri. Ia segera menghampirinya dan menarik gunting itu ketika Ayu hendak menyayat nadinya.
"Kembalikan! Aku ingin mati saja!" teriak Ayu. Ia mencoba meraih gunting itu.
"Kamu gila! Bunuh diri tak menyelesaikan masalah!" hardik Andri masih berusaha menampis tangannya yang terus meraih gunting itu.
Wanita itu akhirnya menangis. Ia sudah benar-benar putus asa. Andri mencoba menyentuh punggungnya tetapi wanita itu malah memeluknya. "Apa lagi yang harus kulakukan....ini tidak adil...."
Andri risih dan mendorong pundaknya tetapi Ayu kian mempererat pelukan itu.
"Maaf Ayu, ini tak pantas," pinta Adri. Pelukan itu bertahan beberapa saat hingga tangisan wanita itu mereda.
"Terimakasih...." bisik Ayu setelah melepaskan diri. Wajahnya terlihat kacau di mata Andri namun tak menghilangkan pesona kecantikannya.
"Jangan lakukan ini lagi. Sayangi dirimu sendiri," saran Andri berbisik.
"Ayu mengangguk. Ia menyeka air matanya dan mundur beebrapa langkah.
"Aku akan keluar. Jika ku tinggalkan dirimu apa kamu akan melakukannya lagi?" telisik Andri.
"Tidak, pergilah. Aku berjanji takkan mengulanginya." Ayu mendengus dan kembali menyeka air matanya.
__ADS_1
Kondisi rumah saat ini sedang sepi di karenakan Fatur dan yang lainnya berada di toko mebel miliknya yang berada di samping taman rumah itu. Nindi dan Aisyah sengaja membantu karena pengunjung sedang padat. Sedangkan Miko menemani Cinta periksa kandungan ke klinik. Inilah penyebab Ayu kian kacau.
Andri berjalan cepat keluar dari rumah itu. Hampir saja ia mengambil kesempatan dalam kesempitan dari apa yang dilakukan Ayu terhadapnya, "Apa yang terjadi Andri....?" desahnya kacau. Ia menggaruk-garuk kepalanya gusar.
....................
Klinik bersalin 14.00 wita:
Miko menatap calon bayi Cinta pada layar monitor dengan takjub. Baru kali ini ia melihat seorang bayi dalam kandungan ibunya. Cinta yang melihat ekspesinya tersenyum geli.
"Alif berkembang dengan baik," ujar dokter Prida tersenyum.
"Anak kita pasti mirip diriku," ucap Miko tak sadar.
Cinta tersentak, "Mirip aku dong Mik, ini kan anakku," candanya.
Miko tersadar. Ia tak berpikir mengucapkan kalimat spontan itu. Perasaan bahaginya karena putra Cinta membuatnya tak sadar diri, "Tau....tapi kan aku tetap Ayahnya. Yang akan menggendongnya pertama kali dan mengumandangkan azan di telinganya diriku, jadi aku adalah ayah dari anak kita," kilahnya.
"Sudahan?" tanya dokter Prida bercanda.
Cinta mengangguk.
Miko membantu Cinta turun dari ranjang pemeriksaan. Rasanya bayi di dalam kandungannya terasa semakin berat hingga memperlambat pergerakannya, "Hati-hati Sayang," pinta Miko.
Setelah duduk di hadapan dokter, dokter Parida memberikan resep lanjutan. Miko meminta vitamin yang terbaik bagi Cinta.
"Lebih banyak bertres ya Cinta. Jangan mengangkat beban yang terlalu berat. Teratus meminum susu dan vitamin mu. Tetap ceria dan bahagia," tutur dokter Parida tetap dengan senyum khasnya yang membuat hati Cinta dan Miko terasa teduh.
Miko merangkul Cinta keluar dari klinik. Pria itu kian hari kian memberi perhatian yang berlebih padanya hingga Cinta lupa jika anak dalam kandungannya adalah hasil perkosaan.
Triiit...triit....
"Ponselmu, Mik," sela Cinta.
__ADS_1
Miko segera mengangkat panggilan itu, 'Iya halo, Ay?"
"Aku di Mall, sekarang temui aku. Aku di lantai 3 di tempat baju-baju, Sekarang juga," pintanya enteng.
"Tidak bisa, kamu tahu sekarang aku bersama Cinta. Bagaimana mungkin aku membiarkannya pulang seorang diri?"
"Istrimu aku atau dia?!" geram Ayu hingga orang-orang di sekelilingnya terkejut.
"Aku tahu tap..."
Tut..tut...
"Ya Allah...." desah Miko kesal.
"Dia menyuruhmu menemuinya?" tanya Cinta khawatir.
"Biarkan saja dia. Kita pulang sekarang."
"Tapi dia bagaimana? Temui saja, aku tak apa pulang seorang diri.."
"Sudah...." sela Miko.
Cinta tak mampu melawannya. Ia mengikuti pria itu dengan perasaan bersalah pada Ayu.
Kala keduanya di parkiran tepatnya di pinggir jalan Pria dengan kacamata hitam di atas motor menghidupkan kendaraannyaa lalu dengan cepat melintas dan menarik tas selempang Cinta dan menendang tubuhnya. Miko berteriak memakinya smentara Cinta menangis menahan sakit di bagian perutnya. Miko panik dan para perawat yang berada di sekitar membantu membopong Cinta masuk kembali kedalam klinik.
"Bagaimana?" tanya Ayu.
"Beres, Bos. Aku yakin wanita itu dan bayinya takkan selamat," balas pria yang sudah mencelakai Cinta.
Ayu tersenyum sinis, ia harap wanita itu segera meninggalkan dunia ini.
Bersambung.....
__ADS_1