
Angin malam di pesisir pantai berhembus dengan kencang. Lampu-lampu gemerlap dari lapak-lapak pedagang kaki lima berjejer di sepanjang pantai. Andri kini berada di tengah laut menangkap ikan bersama pekerjanya dan akan kembali subuh nanti.
Seseorang melempar batu kearah jendela. Cinta terkejut dan lantas mematikan api kompor. Ia memberanikan diri membuka pintu rumah. Tak di duga dua orang pria bertubuh kekar sudah berdiri dan langsung mendorong tubuhnya hingga ia terletak di lantai bambu rumah itu.
Tirta berdiri dan mendekat lalu menjamah rok panjangnya tetapi Cinta secepat kilat menendang hidungnya hingga mengeluarkan darah. "Wanita laknat!!" teriaknya.
Cinta dengan sigap berdiri. Ia mendorong Tirta dan berusaha menghantam wajahnya berkali-kali. Kedua babu Tirta memegangi tangannya akan tetapi Cinta tak menyerah dan menginjak telapak kaki mereka hingga ia terlepas. Perkelahian tak seimbang terjadi. Cinta melawan sekuat tenaga dan ia berlari ke dapur menganbil golok. Ketiga pria itu berusaha menghindar namun Cinta sudah bernafsu ingin menghabisi mereka. Ia mengejar ketiganya sebelum mereka keluar dari rumah itu dan menghujam nya berkali-kali hingga salah-satu dari mereka terluka parah. Tirta tak menyangka jika wanita ini adalah serigala yang haus darah. Ia dan kedua anak buahnya akhirnya bisa lolos keluar dari rumah itu.
Cinta menyeka darah yang ada pada bibirnya lalu menutup pintu rumahnya. Seluruh tubuhnya terluka dan terasa ngilu.
..........
5.00 wita:
Andri hampir mendekati bibir pantai. Cinta segera berlari seraya melambaikan tangan. Andri loncat dari atas perahu dan sang adik berlari mendekat dan menjamah tangan kirinya, "Ada apa ini?" tanya Andri menyentuh wajahnya yang Lebam. Ia sedikit terkejut, "Kamu berkelahi dengan siapa?"
"Tirta semalam datang dan menyerangku, tapi Kakak tak perlu khawatir. Aku sudah melukainya lebih dari apa yang ia lakukan padaku."
Adri tersenyum. Ia sudah tahu pasti apa yang di lakukan adiknya ini.
"Kakak hanya dapat segini?" tanya Cinta dalam rangkulannya melihat ikan yang berada di dalam perahu.
"Iya, lumayan banyak kok. Semua ini akan di kirim ke super market sedangkan hasil dari para nelayan yang di jual ke Kakak akan Kakak jual ke perusahaan sarden di seluruh kota di Indonesia."
"Aku boleh jualan tidak? Kelihatannya asyik juga jualan ikan di pasar."
Andri tertawa, ia menarik hidung sang adik dan membelai wajahnya dengan penuh kelembutan, "Tidak, kamu ratu di sini. Tempatmu di atas singgasana dan Kakak adalah rajanya."
"Raja bau ikan," celetuk Cinta tersenyum.
"Hahaha," tawa Andri.
Cinta mencium tubuhnya dan berpura-pura menutup hidungnya. "Mandi yuk, aku sudah menyiapkan semua perlengkapan mandi untuk Kakak."
"Makan dulu...." sela Andri mengusap perutnya.
__ADS_1
"Mandi dulu, masa makan dengan kondisi bau begini?" Ia akan melakukan hal yang sama seperti yang biasa di lakukannya pada Miko.
...
1minggu kemudian...
Bandara International Lombok:
Melihat sosok Fatur, Nindi langsung berlari menghampiri dan mencium tangannya. Ia tak tahan dan tanpa sadar menangis. Hamzah yang berada di kereta bayi meronta ingin sang ayah segera menjamah tubuhnya. "Papa!" teriaknya
Miko bersama Ayu mendekat dan mencium tangan Aisyah. Wanita itu terlihat begitu lemah. Karena terapi yang ia jalani rambutnya rontok dan terpaksa ia memakai penutup kepala, "Mama sehat?" tanya Miko lirih.
Aisyah tersenyum dan mengecup keningnya.
Ketakutan Miko tampak terlihat jelas. Ucapan Cinta ketika mereka berada dalam mobil menuju klinik alternative terngiang.
"Selamat datang kembali di rumah," canda Ayu.
Aisyah meraih pergelangan tangannya dan memeluknya. Melihat itu hati Miko sedikit luluh pada Ayu. Niatnya untuk memiliki anak kembali bangkit.
.....
Suasana rumah keluarga Fatur kembali hidup. Tawa dan canda yang sudah berbulan-bulan tak terdengar kembali mewarnai keluarga itu. Nindi sedikit cemburu karena sejak pulang tadi Fatur selalu berada di samping Aisyah.
"Di mana Cinta?" tanya Aisyah tiba-tiba. "Kenapa dia belum pulang sampai malam ini?"
"Dia sudah tak tinggal di sini lagi," jawab Miko ragu.
"Kenapa?" hardik Aisyah lembut.
"Mama tahu siapa yang sudah menabrak Mama dulu?" tanyanya berusaha menahan emosi, "Itu abangnya. Pria yang sudah mencelakai Mama dan tak mau bertanggung jawab lalu meninggalkan kita di pinggir jalan hingga Mama harus koma..."
Aisyah terpaku. Ia sudah tak mengingat itu lagi apalagi sampai menyimpan dendam...
"Sudah berapa lama ia pergi?" tanyanya.
__ADS_1
"Satu minggu."
"Kenapa tak beritahu Papa?" sela Fatur kecewa.
"Aku sudah melakukan yang terbaik. Mana mungkin adik dari pria yang hampir membunuh Ibuku aku biarkan tinggal bersama kita...? Tak masuk akal, Pa."
"Ma, Cinta tak penting. Dia tak perlu kita pikiran. Sekarang keluarga kita sudah lengkap, kita tak perlu membahas ini lagi," ungkap Ayu tanpa beban.
Aisyah tak menyukai ucapannya. Baginya Cinta sudah seperti putri kandungnya sendiri karena sejak tinggal di rumah ini gadis itu lah yang selalu merawat nya.
"Kita tak perlu khawatir kan Cinta. Ibu yakin dia dalam keadaan baik saat ini. Bukankah ia bersama abangnya? Bukan orang asing," gumam Nindi.
Aisyah membenarkan ucapannya dalam hati. Ia berharap Cinta tak kurang suatu apapun dan tetap dalam keadaan sehat.
"Papa aku jadi polisi!" seru Hamzah yang sedari tadi bermain sendiri.
Fatur tertawa dan memintanya untuk mendekat. Ia mengangkat tubuhnya dan menaruh Hamzah di atas pangkuannya. Putra keduanya itu terasa semakin berat. Ia sudah kangen dan rasanya tak ingin berpisah lagi. Ia sudah melewatkan momen pertumbuhan Hamzah hampir selama 6 bulan di Singapore. Ia juga merasa ini tak adik bagi Nindi.
"Pa, malam ini kamu tidur di mana?" tanya Nindi.
Aisyah menoleh padanya dengan tatapan benci. Baginya sebagai istri kedua harusnya ia tahu di mana posisinya, "Papa apa akan meninggalkanku?" selanya. "Aku tak ingin di tinggal untuk malam ini."
Fatur serbasalah. Tetapi memang Aisyah masih kurang stabil jika harus di biarkan seorang diri...
"Besok malam aku akan bersamamu. Untuk malam ini aku akan tetap bersama Aisyah," ucapnya yang membuat Nindi merasa tersingkir.
Nindi tak bisa berbuat apapun. Ia memang tak punya kekuasaan sedikitpun atas Fatur. Aisyah sudah rela memberi kehidupan yang layak untuknya dengan menikahkannya bersama sang suami. Fatur menginginkan seorang keturunan lagi dan Aisyah tak bisa memenuhinya....
"Baiklah..." angguk nya terpaksa.
23.00:
Miko diam-diam membuat minuman rempah penyubur setelah semua orang tertidur. Ia memasak air mendidih dan merebus ramuan itu kemudian meminumnya perlahan. Rasanya sangat aneh, namun ia berusaha menghabiskannya.
Bersambung....
__ADS_1