Ternodanya Cinta

Ternodanya Cinta
Pembunuhan


__ADS_3

Tirta menekan nomor Ayu pada ponselnya sambil mengunyah sarapan paginya. Ia kian penasaran pada wanita itu.


Ayu yang baru selesai mandi mengambil ponselnya di dalam tas selempangnya yang tergantung di samping cermin. Ia lumayan terkejut dan tanpa ragu mengangkat panggilan itu, " Halo?"


"Sayang, aku rindu padamu," ucap Tirta tersenyum bengis.


"Ada apa?"


Tirta mengernyit, "Kok ada apa? Kamu lupa yang semalam? Rasanya aku ingin lagi..."


"Itu hanya percintaan kilat dan aku tak ingin kita berhubungan lagi," tukas Ayu.


"Oh...tak bisa begitu...aku menginginkannya lagi maka kamu tak bisa menolak. Aku akan menjemputmu, kirimkan saja alamat rumahmu," pinta Tirta sangat memaksa.


Ayu ketakutan dan ia berkata sekali lagi dengan tegas, "Aku tak mau dan cukup sampai disini!"


Ia memang menyukainya tetapi hanya sesaat.


Wajah Tirta seketika berubah geram. Ia bangkit dari meja makan menuju balkon kamarnya, "Kamu tak bisa seperti ini padaku. Aku mau kamu dan kamu jangan mencoba-coba menghindar dariku!"


"Kita tak punya ikatan apapun jadi sudah cukup sampai di sini, Tirta!"


Tirta tak pikir panjang dan segera mengiriminya adegan percintaan mereka. Melihat itu Ayu terkejut setengah mati. Tirta pun mengancamnya jika ia tak mau menuruti keinginannya maka ia akan menyebarkan adengan panas mereka.


"Masih menolak?" tanya pria itu mengancam.


"Silalan!" batin Ayu,


"Aku mau dirimu dan aku ingin melakukannya lagi."


Ayu tak bisa mengelak. Ia bingung setengah mati dan merasa tertekan. Dengan terpaksa ia pun menuruti keinginan pria itu. Sekilas ia melihat sebuah gunting kecil di meja kerja Miko dan memasukkannya kedalam tas nya.


Tanpa izin ia kembali keluar rumah. Ia dan Tirta janjian di sebuah hotel sederhana di dalam sebuah pemukiman.


"Sayang...aku kangen sekali...." ujar Tirta seraya merangkulnya. Ia menarik tangan Ayu ke ranjang dan mulai menggaulinya.


Ayu tersiksa dan merasa tak berharga. Setelah berhubungan badan ia meminta pria itu untuk menghapus video itu tetapi Tirta berdalih ia akan menghapusnya nanti.


"Aku harus pulang sekarang," sergah Ayu usai mengenakan pakaiannya. Ia menatap posel pria itu di meja samping tempat tidur dan menyambarnya.


"Apa-apaan kamu!" geram Tirta dan berusaha mengambil benda itu.


Ayu sekuat tenaga melawannya hingga ia terhempas kembali keranjang. Tirta melayangkan pukulan ke wajahnya hingga ia berteriak, "Laki-laki brengsek!"


Tirta menjambak rambutnya dan tanpa di sadarinya Ayu mengeluarkan sebuah gunting dari dalam tasnya dan menghujamkannya berkali-kali pada punggung Tirta hingga pria itu terkapar. Wanita itu tak puas dan kembali menancapkan gunting itu pada dadanya hingga Tirta tewas.


Ayu membersihkan darah pada wajah dan tangannya kemudian menggunakan baju Tirta yang berada di atas kursi sebab pakaiannya berlumuran darah. Ia gusar dan ketakutan. Karena saking tengang dan ketakutan ia tak sadar mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Polisi yang melihat itu lansung mengelakukan pengejaran dan memintanya segera berhenti akan tetapi Ayu malah kian ngebut. Ketika hampir mendekati tikungan pada lampu merah ia tak bisa mengendalikan laju mobilnya dan menabrak beberapa pengendara di depannya. Ia sekarat dan polisi segera membawanya kerumah sakit. Melalui ponselnya polisi menghubungi Miko.


"Apa!" pekik Miko. Ia melepaskan brosur di tangannya dan berlari ke luar toko menuju rumah.


"Ada apa, Miko?" cegat Nindi saat ia hendak menghidupkan mobilnya.

__ADS_1


"Ayu kecelakaan dan sekarang ia ada di rumah sakit!"


Miko segera tancap gas. Nindi memberitahukan hal itu kepada seluruh keluarga. Aisyah menghubunginya dan ia memberitahukan alamat rumah sakit itu.


Rumah sakit D:


Miko terkulai lemas saat melihat Ayu di dalam ruangan ICU. Keadaannya sangat menyedihkan. Ayu menatapnya dan ia meminta perawat membiarkannya masuk.


"Sayang..." bisik Miko di telinganya.


"Maaf....." pinta Ayu terbata.


"Jangan bicara lagi...istirahatlah...."


"Aku sudah tak kuat....aku ingin kamu menikahi Cinta....."


Miko menangis....


"Sampaikan maafku padanya...."


"Hentikan..." pinta Miko lirih.


Wanita itu tersengal dan menghembuskan nafas terakhirnya.  Miko melotot dan ia mencoba menyadarkannya, "Sayang! Ayu!"


Perawat memintanya mundur untuk menegcek kondisi Ayu.


"Bagaimana? Istriku bagaimana?!"


Miko sekatika memeluk jasat Ayu dan menciumnya. Aisyah, Nindi, dan Cinta yang melihat itu menangis. Ketiganya merasakan penyesalan yang teramat dalam. Miko lalu menghubungi mertua dan kakak iparnya.


.............................


16.00 wita:


Miko menaburkan bunga di atas pusara Ayu. Ia masih belum menerima kepergian Ayu dan beharap wanita itu kembali. Keluarga Ayu sudah mengikhlaskannya dan untuk pertama kalinya mereka tak menyalahkan Miko.


..........................


Keesokan harinya....


Polisi menghubungi Miko untuk mendatangi kantor polisi. Miko berpikir ini mengenai kecelakaan yang menewaskan Ayu. Akan tetapi polisi mengatakan jika Ayu telah melakukan pembunuhan kepada Tirta. Ini sangat tak mungkin bagi Miko. Tak mungkin istrinya melakukan hal sekeji itu. Polisi menerangkan kejadian serta pemicu pembunuhan itu. Polisi telah mengambil keterangan beberapa anak buah Tirta dan menemukan kebenaran jika pemicu pembunuhan itu di karenakan ancaman Tirta melalui video panas dirinya bersama Ayu. Kesedihan dan rasa penyesalan Miko berubah menjadi rasa benci dan marah. Ia tak pernah mengira istrinya sebejat itu hingga ia mengutuk Ayu berkali-kali


Setelah mendengar penuturan Miko usai ia mendatangi kantor polisi itu seluruh keluarganya hampir tak mempercayainya. "Dia sampai seperti itu?" sela Nindi.


................


15.30 wita pantai Ampenan:


Rosi menatap lautan. Baginya kematian Tirta sangat pantas terjadi. Andri mendekat dan berdiri di sampingnya, "Aku turut berbela sungkawa."


"Tak perlu," ucap Rosi tersenyum, "Aku tak berduka samasekali.

__ADS_1


Andri menoleh, "Kenapa? Apa dia bukan kakak kandungmu?"


"Bukan begitu, tetapi semua yang terjadi padanya adalah karena kesalahnnya sendiri."


Rosi mengulurkan telapak tangannya dengan senyum manisnya.


"Apa?" tanya Andri tak mengerti.


"Aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal. Aku akan tinggal bersama kakekku."


Andri menangkupkan tangannya ke dada. Wanita itu tertawa kecil dan menarik tangannya kembali, "Baiklah. Kalau begitu aku pamit. Aku berharap di tanganmu para nelayan kian sejahtera."


"Bukan di tanganku, tetapi atas kuasa dan pertolongan Tuhan," balas Andri.


Rosi memohon pamit padanya dan meninggalkan pantai itu.


.........................


2 hari kemudian...


Miko sudah memutuskan untuk berbicara jujur jika dirinyalah yang telah menodai Cinta. Ia sangat yakin dengan keputusannya. Ia ingin meminang Cinta dan memulai hidup baru dengannya tanpa kebohongan.


Cinta terlihat bahagia hari ini. Ia mencandai Alif di dalam box nya.


"Cinta.." panggil nya.


Cinta berbalik. Pria itu mendekat padanya dan menjamah kedua pundaknya, "Aku ingin mengatakan sesuatu...."


"Ada apa? Kok serius sekali?" tanya Cinta tersenyum.


Miko kemudian mengucapkan bismillah, "Aku ayah kandung Alif. Aku ayah biologis anak kita."


Cinta tertegun.


Miko bersujut seraya menggenggam kedua telapak tangannya, "Aku mohon maafkan aku...."


"Cinta masih tak ngeh. "Aku tak mengerti?" tanyanya gusar.


"Aku yang sudah melakukan perkosaan itu....."


Cinta  melepaskan tangannya dengan kasar dan menjauh.


"Aku mohon maafkan aku...."


"Apa salahku! Kenapa tega sekali kamu melakukan itu padaku! Kamu tega menodaiku dan menghancurkan hidupku!!" teriak Cinta tak sadar.


Pria itu tertunduk dan menangis....


"Maafkan aku...." pintanya mengiba...


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2