Ternodanya Cinta

Ternodanya Cinta
Kedatangan tiba-tiba Jack


__ADS_3

Karena sudah tak bisa berkata-kata gadis itu pun meninggalkan tempat itu.


"Mas," panggil Pak Maluk.


Andri menoleh masih dengan senyum jahilnya.


"Dia menarik, Mas tembak saja dia...gadis seperti itu bisa di samber dengan cepat oleh pria lain karena dia sangat labil.."


Andri geleng-geleng dan kembali duduk. "Aku samasekali tak tertarik padanya..."


...........................


Rosi lantas menuju kamar Tirta. Ia ingin mendengarkan penjelasan atas kebohongan kakaknya itu.


"Bang!" bentaknya.


Andri terkejut dan menatapnya penuh amarah seraya menaruh gelas air mineralnya di meja lampu tidurnya, "Ada apa? Kamu mau membuat Abang jantungan!"


Rosi kian kesal dan berdiri tepat di hadapannya, "Apa benar Andri hanya membeli lebih lima belas persen lebih mahal pada para nelayan bukan seperti yang kamu katakan padaku?" sungutnya bertanya dengan angkuh.


Tirta kian kesal dan geram, "Maksudmu apa? Apa kamu menemuinya? Memang benar apa yang dia katakan tetapi tetap dia yang bersalah!"


"Astaga....ini artinya kamu yang bersalah, Bang, bukan dia! Jika hanya membeli sedikit lebih mahal harusnya tak jadi masalah untukmu! Kamu yang harusnya mengikuti tindakannya bukan malah mengancamnya dan menyakiti para nelayan! Aku malu setelah mengetahui semua kebenaran ini!"


"Diam!" teriak Tirta karena telinganya sudah terasa sakit. "Kamu harusnya berada di pihak ku saat ini bukan malah menyalahkanku! Anton! Bawa dan kurung dia di kamarnya!" perintahnya kepada pengawalnya yang sudah berdiri sejak tadi di samping pintu.


"Apa-apaan kamu Bang! Kamu tak bisa seperti ini padaku! Aku ini adikmu bukan musuhmu!" Rosi kian berang saat Anton menarik paksa kedua tangannya keluar dari kamar itu, "Aku akan adukan ini pada kakek ku agar kamu mendapatkan yang setimpal!" berangnya meronta hingga ia terkunci di dalam kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Tirta. Ia menangis sejadinya hingga tumbang bersandar di daun pintu, "Kamu tak bisa memperlakukanku seperti ini Bang....aku adikmu bukan tawananmu...." tangisnya lemas. Selama ini jika ia dan pria itu tak sejalan ia selalu di perlakukan seperti ini. Tirta selalu bertindak semaunya memaksakan kehendaknya. Terakhir ia membuat kekasih Rosi sampai meregang nyawa hanya karena ia tak merestui hubungan sang adik bersamanya. Karena semua itu para pria enggan menjalin hubungan bersama Rosi karena tak ingin celaka.


............................


Dua hari kemudian......


Cinta duduk termenung usai sholat subuh di atas sajadah. Sekilas ia menatap Alif yang tertidur pulas di ranjang dengan di apit mainannya. Ia berpikir sampai kapan dirinya hanya akan bergantung kepada Andri atau Miko....? Selama ini ia hanya berpangku tangan dan tak memikirkan untuk bekerja demi kelangsungan hidupnya dan bertanggungjawab atas Alif. Ia membuka mukenanya, melipatnya lalu menaruhnya di dalam lemari pakainan.


Mata Alif perlahan terbuka. Bayi itu menggeliat dan mencari sosoknya dan mulai menangis kencang.


"Aduh-aduh...sudah bangun anak Mama....." ujar Cinta dan segera mengangkat tubuhnya. Ia lalu membawanya keluar dari kamar menuju jalanan untuk menikmati suasana subuh. "Ya Allah....tolong beri aku petunjuk....pekerjaan apa yang harus aku lakoni demi diriku dan putraku..." batinnya.

__ADS_1


Angin berhembus sepoy-sepoy. Pohon-pohon dan bunga-bunga milik tetangga terlihat melambai. Cinta tiba-tiba kepikiran untuk membuat kerajinan tangan berbentuk bunga yang dahulu pernah ia pelajari saat SMA. "Kenapa aku tak coba buat itu saja...." bisiknya. Alif tiba-tiba tertawa dan menendang, "Coba itu saja ya, Sayang?" tanyanya pada bayi itu. Ia kemudian berjalan-jalan sambil memetik bunga-bunga di sepanjang jalan yang tumbuh liar di pagar tetangga hingga hampir tiba di masjid.


Matahari perlahan mulai terbit. Para warga sudah beraktivitas menyapu halaman mereka masing-masing dan berolah raga di sekitaran kawasan itu. Dari kejauhan sosok jack terlihat dengan mengendarai sepeda motor mendekat padanya. "Halo!" sapanya tersenyum.


"Jack?" panggil Cinta tak menyangka.


Pria itu turun dari motornya, "Apa kabar?" tanyanya seraya menyeka rambutnya.


"Baik, tumben pagi-pagi begini kamu kemari? Tokonya buka pukul delapan," jawab Cinta tersenyum senang.


"Aku kangen pada Alif. Sejak terakhir bertemu aku sudah jatuh cinta pada putramu," timpal pria itu menggodanya.


"Benarkah? Mau gendong?" tawar Cinta.


"Boleh, hitung-hitung belajar gendong anak sebelum menikah..."


"Jadi kamu belum menikah?" tanya Cinta terkejut.


"Tentu saja, para gadis tak ada yang mau menikah denganku kecuali hanya bermain-main untuk mendapat keuntungan."


Cinta menatapnya lekat.


Cinta dengan hati-hati memberikan Alif padanya. Ini suatu pengalaman yang menyenangkan bagi Jack. Seumur hidup baru kali ini ia menggendong seorang bayi. Alif nampak senang dan terus tersenyum melihat wajah asingnya.


"Coba kamu cium keningnya. Alif akan merindukanmu setelah ini," usul Cinta masih dengan senyumnya.


Jack kian terpesona pada dirinya dan mengikuti ucapannya. Ia menunduk dan mencoba mencium kening Alif akan tetapi bayi itu malah menggaruk-garuk wajahnya hingga ia kewalahan, "Astaga aku tak bisa.." tawa Jack.


Cinta ikut tertawa dan tanpa di sangka Alif buang air kecil dan itu membuat Jack sedikit gusar.


"Apa ini..?" tanya pria itu bingung.


Cinta segera mengambil Alif dan memohon maaf padanya. Jack untuk pertama kalinya tak marah. Padahal sebelumnya jika ia kecipratan sesuatu secara tak sengaja dari orang lain ia akan naik pitam.


"Kamu habis basah, Jack. Ayo bersihkan di rumah," ajak Cinta tak enak hati.


"Baiklah, ini cuma sedikit jadi tak mengapa," ungkap Jack bijak. Ia menuntun motornya mengikuti langkah Cinta.

__ADS_1


"Mari," pinta Cinta mempersilahkannya masuk kedalam rumah.


Nindi dan Fatur juga Miko terperangah dan bangkit ketika ia muncul. Mereka bingung untuk apa dia kemari sepagi ini...?


"Paman, aku minta izin membawa Jack masuk. Dia kena pipisnya Alif barusan," pinta Cinta berhati-hati.


'Oh...tentu saja, silahkan," balas Fatur.


Melihat Jack mengikuti Cinta, Miko cemburu dan segera menyusul. Nindi tersenyum diam-diam sebab kecurigaannya kian terbukti jika Jack menyukai Cinta. Ini akan menjadi hal yang sangat menarik.


Cinta mencari kaus milik Andri di dalam lemari dan memberikannya pada Jack yang tengah berada di dalam kamar mandi setelah itu ia membersihkan Alif di atas ranjang.


"Apa yang di lakukannya sepagi ini di sini?" tanya Miko kesal, tetapi Cinta tak menyadarinya karena ia tak melihat wajahnya.


"Cuma main-main saja. Katanya dia kangen pada Alif."


Miko kian meradang, "Ngapain dia kangen pada Alif? Apa maksudnya?!"


Cinta tak merespon karena ia tak sadar Miko marah, " Selesai...." celetuknya usai memakaikan Alif popok. Jack pun keluar dari kamar mandi. Cinta senang karena ternyata kaus Andri pas padanya. "Bajumu nanti ku cuci dan kalau sudah kering aku akan menghubungimu."


"Santai saja, di cuci kapan saja tak apa," canda Jack.


"Kamu ada hajat apa hingga sepagi ini datang?" sela Miko menyinggungnya.


"Oh tidak, aku hanya iseng ingin bertemu dengan Alif sebelum berangkat kerja,"


Wajah Miko kian tak bersahabat dan itu membuat Jack terganggu, "Aku harus segera ke kantor. Lain kali aku datang saat senggang untuk bermain dengan Alif," ujarnya pada Cinta.


"Baiklah," angguk Cinta memakluminya.


Fatur berharap bisa ngobrol sejenak bersama Jack. Ia pikir pria itu akan duduk sejenak.


Jack mencium kening Alif. Aroma tubuh Cinta membuatnya terbius dan ingin menghirupnya sekali lagi.


"Hati-hati," pinta Cinta.


Usai kepergian pria itu Miko segera mengembil Alif dan meminta Cinta ikut masuk bersamanya. Tak ada sepatah katapun yang ia ucapkan bahkan ketika Hamzah melakukan tindakan lucu saat sarapan ia tak ikut tertawa bersama seluruh keluarganya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2