
"Wanita ini kian menjadi," batin Nindi. Ia tak berselera memakan roti itu dan melepasnya di atas meja.
"Aku lihat si kecil dulu di kamar," pinta Cinta berlalu.
Ayu tersenyum puas.....
"Kamu harusnya berterimakasih pada Cinta karena sudah meringankan beban mu selama ini," tandas Nindi menghina
"Maksudmu?" sela wanita itu sangat sinis.
Nindi tersenyum tipis, "Yang mengurusi keperluan Miko selama ini keseringan Cinta kan? Dirimu sendiri selalu berada di luar rumah bermain dengan uang Miko."
Ayu menatapnya tajam dengan wajah marah. Ia bangkit mendekat dan berdiri tepat di hadapannya, "Aku tahu bagaimana perasaanmu. Sebagai orang ketiga sudah pasti kamu membela wanita itu..."
Nindi mencoba berdiri namun wanita itu mendorong pundaknya.
"Kesabaranku ada batasnya. Ini peringatan untukmu," ancamnya kemudian meninggalkannya.
Nindi melotot. Tak di sangkanya Ayu tega dan berani berbuat seperti ini padanya.
Cinta menggendong Hamzah setelah mata anak itu terbuka. Hamzah mengusap matanya dan menguap, "Ibu ku mana?"
"Di luar, Sayang. Mau ketemu?"
Hamzah mengangguk.
Melihat kepergian Cinta dari kamar Nindi Ayu kemudian masuk menyelinap mendekati Alif. Ia geram dan langsung mengambil bantal berniat membekap wajahnya, "Kamu harus mati anak haram!" Ia langsung mengarahkan bantal itu ke wajar Alif.....
"Stop!" teriak Hamzah tiba-tiba di ambang pintu.
Wanita itu seketika terkejut dan menoleh. Cinta dan Nindi terkejut. Ayu secepat kilat keluar dari kamar itu sebelum ia kepergok sampai-sampai terpeleset jatuh ketika memasuki kamarnya, "Aaaagh!" teriaknya. Ia terjatuh sangat keras sampai darah mengalir dari ***********
"Ya Allah Ayu!" sergah Cinta tergopoh-gopoh menghampirinya.
Nindi senang melihatnya. Ia membiarkan Cinta menolong wanita itu seorang diri dan lebih memilih menggendong Hamzah lalu melihat keadaan Alif.
"Sakit!" rintihnya.
Cinta dengan bersusah payah mengangkat tubuhnya menuju sofa di kamarnya.
"Panggil suamiku..!" pintanya.
Cinta tak banyak omong dan segera menelpon Miko. "Halo, Mik, cepat pulang!"
__ADS_1
"Memangnya ada apa?" potong Miko.
"Kamu cepat ke rumah, Ayu mengalami pendarahan karena terjatuh!" jawab Cinta gemetar.
Miko serta-merta berlari hingga orang-orang di dalam tokonya dan di sepanjang jalanan menatapnya heran. Fatur dan Aisyah bingung. Keduanya yakin ada hal buruk terjadi di rumah akan tetapi mereka tak bisa meninggalkan para costumer.
"Kenapa sampai begini?" sergah Miko terkejut kala mendapati Ayu sudah bersimbah darah. Ayu menangis lemas dan langsung pingsan. Miko segera membopong nya menuju mobil.
"Apa aku harus ikut?" tanya Cinta gusar.
"Tidak, kamu tetap berada di rumah," perintah pria itu.
Saat mobil Miko menghilang Cinta buru-buru kembali ke dalam mengecek darah Ayu yang tercecer, "Ya Allah, dia pendarahan hebat. Mudah-mudahan kandungnya selamat...."
"Hamzah bilang Ayu membawa bantal mendekati Alif," ucap Nindi di belakanya.
Cinta berbalik. "Maksud Ibu apa?" tanyanya tak mengerti.
"Aku juga tak tahu. Hamzah hanya mengatakan hal itu dan Ayu berlari keluar dari kamarku."
Cinta berpikir keras.
"Sudahlah, jangan kamu khawatirkan itu. Apapun yang hendak ia lakukan sekarang dia dalam keadaan sekarat dan mendapatkan hukuman."
.....
Miko menunggu di lobi UGD. Keluarga Ayu sampai setelah ia menghubunginya.
"Apa yang kamu lakukan pada Ayu!" teriak Andreas menarik kerah bajunya dan memberi bogem mentah pada pipinya. Miko terjerembab dengan bibir yang mengeluarkan darah.
Semua orang terlonjak dan berteriak. Kala dan Yunus berusaha menghentikannya dengan menahan tubuhnya, "Jangan begini!" teriak Kala marah.
"Aku akan membunuh banci ini! Dia tak berguna dan hanya menyengsarakan Ayu!!" pekik Andreas meronta ingin kembali memukul Miko.
Satpam lantas mendekat dan memberi peringatan padanya dengan tegas, "Bapak jangan buat keributan di sini. Ini rumah sakit dan jika anda ingin berkelahi sebaiknya tinggalkan tempat ini!"
Emosi Adreas sedikit berkurang. Seorang pria tua membantu Miko bangkit dan berusaha menenangkannya.
"Keluarga dari ibu Ayu?" tanya dokter.
"Bagaimana adik saya?" tanya Kala khawatir.
"Ibu Ayu mengalami keguguran dan secepatnya harus di kuret."
__ADS_1
Miko tetegun. Ia lemas dan surut. Ia harap ini tak nyata....
"Ini semua karena baj***an ini!!" amuk Andreas kembali ingin menyerangnya.
Kala dan Yunus memeluknya dan mendorong Miko menjauh, "Pergi kamu!" pinta Yunus menunjuknya.
Miko menangis dan menunduk menutup wajahnya. Ia sudah membayangkan wajah calon anaknya. Ia tak mengerti mengapa seolah Tuhan begitu tak meridhoinya memiliki anak bersama Ayu....
Sampai senja ia berdiri di luar kamar rawat inap Ayu karena Kala memintanya untuk tak masuk. Ia terus menimang dosa apa yang sudah di lakukan Ayu hingga ia tak diizinkan memiliki seorang anak?
Yunus sebagai kakak yang selama ini sangat dekat dengan Ayu terus berada di sampingnya dan berharap ketika ia bangun nanti wanita itu bisa menerima kejadian buruk yang menimpanya.
"Ibu jangan di beritahu dulu," ucap Andreas yang kini duduk berdampingan dengan Kala di sofa.
"Aku tahu...aku sudah meminta Nita untuk tak mengatakan apapun."
"Aku khawatir kesehatan Ibu menurun jika mengetahui hal ini. Jantungnya bisa kumat..." geleng Andreas.
"Kita akan menberitahunya saat Ayu sudah stabil."
"Aku harap Ayu segera berpisah dari pria banci itu!"
"Sudahlah," pinta Kala. "Kendalikan dirimu....apa yang kamu lakukan tak ada gunanya samasekali. Kita harus berpikir dengan kepala dingin. Emosimu hanya akan memperburuk keadaan Ayu."
"Ok, tapi aku ingin Ayu segera berpisah darinya!"
Kala menyentuh punggungnya. Rasa sayang Andreas terhadap Ayu begitu besar. Sejak kecil ia dan kedua saudaranya selalu berusaha melindungi dan memanjakan Ayu setelah ayahnya meninggal.
Azan menghentakkan hati Miko. Ia tersadar dari lamunannya dan menggosok wajahnya untuk mengembalikan kesadarannya lebih, "Bismillah..." bisiknya. Ia menengok sejenak kearah kamar Ayu yang tertutup rapat.
Di parkir an ia menatap masjid di seberang jalan. Hatinya menginginkan untuk sholat di sana akan tetapi ia tak tega meninggalkan Ayu terlalu lama dan jauh. Dirinya ingin ketika Ayu membuka mata ia bisa segera berada di sampingnya. Dengan berat hati ia memutuskan untuk sholat di dalam mushola rumah sakit.
"Apa ini ya Allah...." tanyanya dalam doanya, "maafkan kesalahan ku dan Ayu yang di hadapan-Mu mungkin terlalu besar dan hina....aku mohon berikan kami seorang keturunan. Tolong maafkan dia karena kekhilafannya...."
Ayu membuka mata. Ia meringis dan bingung melihat sekitarnya, "Aku di mana....?"
Yunus berbisik, "Kita di rumah sakit. Kamu mengalami pendarahan."
"Miko mana? Aku mau dia...."
Kala dan Andreas mendekat. Yunus mengusap kepalanya, "Tenang, suami mu berada di luar. Kakak akan memanggilnya," pintanya halus. Ia segera keluar dan mencari-cari sosok Miko. Nampak Miko berada jauh di koridor seberang. Ia merogoh ponselnya dari kantung kemejanya dan menghubunginya. "Cepat ke ruangan Ayu karena dia sudah sadar."
Bersambung....
__ADS_1