
4 bulan kemudian...
"Hei....wajah Ibu lucu ya...?" canda Cinta.
Alif terus meronta dalam gendongannya. Bayi itu terus menendang dan mencoba menggapai wajahnya. Cinta merasa agak lelah dan ia memutuskan untuk duduk di sofa.
Triiiit! Triiit!
"Bik Mun! Tolong angkat teleponnya dulu!" teriaknya menengok.
Bik Mun melepaskan cucian piringnya dan bergegas mengangkat telepon itu yang berada di samping pintu dapur, "Halo?"
"Halo, maaf apa benar ini kediaman Tuan Miko?"
"Iya benar...ini siapa ya?" tanya Bik Mun.
"Saya dari RS A ingin mengabarkan jika Ibu Ayu mengalami kecelakaan dan sekarang berada di UGD."
Bik Mun membungkam mulutnya. Ia memastikan dan bertanya apakah Ayu Masitoh yang ia maksudkan.
"Itu benar, sesuai KTP nya memang benar ini beliau."
Bik Mun pun segera memberitahukan hal itu kepada Nindi dan Aisyah yang tengah sibuk menyiapkan makan siang di dapur. Cinta bangkit dan menghampiri mereka, "Apa yang terjadi? Ada apa dengan Ayu?" tanyanya khawatir.
"Non Ayu kecelakaan dan sekarang di rumah sakit A."
"Innalillah...." desahnya terkejut.
"Aku akan pergi bersama Papa dan Miko. Kalian tetaplah di rumah,' pinta Aisyah dan bergegas meninggalkan rumah.
Miko yang mendengar itu bukannya nelangsa akan tetapi ia malah mengumpat kesal, "Dia terlalu liar dan sekarang ini balasannya! Keluyuran tak jelas dan pulang tengah malam!" Ia terus meracau dalam perjalanan hingga hampir tiba di rumah sakit.
Tak lama kemudian seorang pria turun dari sebuah mobil tepat di depan toko furniture milik Fatur. Ia kecewa karena toko itu tutup. Karena kebutuhan perusahaannya yang mendesak ia pun mencoba menyambangi rumah di sampingnya yang ia tahu pasti jika itu adalah rumah dari pemilik toko itu.
"Permisi spada! Halo....!"
Pak Parji melepas kopinya dan segera membuka pintu gerbang. "Cari siapa, Bos?" tanyanya bersemangat.
"Aku cari pemilik toko furniture di sebelah, orangnya ada tidak, Bro?" canda pria itu tersenyum jail.
"Kalau tokonya tutup artinya Bos lagi keluar. Kalau mau datang besok saja."
Pria itu berpikir sejenak. Apa ada yang bisa mewakilinya? Aku sangat butuh dan harus segera mendapatkan barangnya.."
__ADS_1
Cinta menengok. Ia penasaran dengan siapa Pak Parji berbicara, "Pak...!" panggilnya.
"Eh, Non Cinta.." ucap Pak Parji setelah menengok. "Ini ada orang yang mau beli barang. Katanya butuh banget.!" jawabnya.
Cinta menatap pria itu sekilas dan meminta Pak Parji mempersilahkannya masuk. Ia yakin jika pria itu akan membeli dalam partai besar.
"Silahkan duduk," pintanya setelah pria itu memasuki ruang tamu. Ia menyuruh Bik Mun menyiapkan minuman dan memintanya memberitahukan ini pada Nindi.
Pria itu tak lepas menatap wajah cantiknya. Ia memperhatikan wajah dan tubuh Cinta juga Alif yang berada dalam gendongannya.
Nindi mendekat dengan menggandeng Hamzah, "Ada apa?" tanyanya sedikit berbisik.
"Castumer," jawab Cinta singkat.
Nindi lantas duduk di sampingnya, "Ada yang bisa kami bantu?" tanyanya tersenyum ramah.
"Anda adiknya Tuan Fatur?" telisik pria itu lancang dan etrkesan selengean.
"Saya istrinya," jawab Nindi santai masih dengan senyumannya. "Apa yang bisa saya bantu?"
Pria itu to the poin. Ia menyampaikan hajatnya jika ia ingin membeli dan memesan semua jenis furnitire untuk perusahaannya yang baru saja usai ia bangun.
Nindi menginfokan padanya jika ia akan segera memberitahukan hal ini pada Fatur setelah suaminya itu pulang. Ia juga menunjukkan katalog furnitur milik tokonya pada pria itu.
"Saya suka," ungkap pria itu. "Apa saya bisa meminta nomor telepon suami anda?"
Pria itu lantas memotretnya menggunakan smart phon nya yang nampak mewah.
"Oh, ya. saya belum memperkenalkan diri. Nama saya Jack," ucapnya terlebih dahulu kepada Nindi.
"Saya Nindi."
" Kalau anda?" tanya pria itu lagi kepada Cinta.
"Saya Cinta keponakan Tuan Fatur," jawab Cinta tersenyum.
"Salam kenal,' ucap Pria itu.
Nindi curiga jika ia menyukai Cinta. Diam-diam ia tersenyum dengan alis terangkat.
"Kalau begitu saya mohon pamit," pinta Jack seraya bangkit.
Nindi dan Cinta mengantarkannya hingga depan rumah. Sebelum ia pergi sejenak pria itu menengok kebelakang manatap Cinta lalu memasang kacamata hitamnya.
__ADS_1
"Ssst," sergah Nindi.
Cinta lantas menatapnya.
"Kelihatannya dia menyukaimu," bisiknya.
Cinta melotot dan ia membantah, "Ibu tahu dari mana? Aku gendut begini mana mungkin ada yang tertarik..."
Nindi tersenyum jail dan berbalik meninggalkannya. Hamsah yang sudah bosan menarik tangannya meminta untuk di gendong, "Aku bosen!" celetuknya cemberut.
"Sama Kakak aja yuk, Sayang. Kita bobok sama Adek di karpet, " ajak Cinta seraya mengulurkan telapak tangannya.
Hingga malam tiba tak ada kabar dari Fatur, Miko atau Aisyah. Hamzah sudah terlelap di samping Nindi yang sejak tadi mencoba mengirim pesan singkat kepada Fatur.
Alif tak juga tertidur dan Cinta sudah kelelahan menimangnya sambil berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya.
....................
Rumah sakit a:
Ayu dengan manjanya memeluk pinggang Miko di atas ranjang. Miko terus membelai perutnya atas permintaan wanita itu. Ia di nyatakan hamil dan hampir keguguran akibat kecelaakan tunggal yang di alaminya. Ini semua di luar dugaan seluruh keluarga dari pihak keluarganya ataupun dari pihak keluarga sang suami. Saat ini Hani, ibunya dan ketiga saudara laki-laki Ayu menungguinya di ruangan rawat inap itu.
Miko merogoh ponselnya di dalam kantung kemejanya dan menekan nomor Cinta.
"Telepo siapa?" tanya Ayu mendongak.
"Cinta. Aku rasa dia dan Ibu lumayan khawatir dengan dirimu," jawabnya tanpa menatap Ayu
"Sampai kapan wanita itu akan terus tinggal di rumahmu?" tanya Adreas masam di pojok sofa.
Miko menoleh, "Dia membutuhkan bantuan dan kami hanya memberikan perlindungan padanya," jawabnya santai.
"Pertolongan macam apa?!" bentaknya tiba-tiba hingga semua orang menatapnya. "Dia wanita asing dan tak jelas! Kamu pikir kami tak tahu kelakukan dirimu dengannya selama ini?!"
Ayu ketakutan dan ia pun meminta Andres untuk diam. Ia tak mau Miko dan kakaknya lepas kontrol, "Sudah....aku sedang sakit. Hentikan perdebatan kalian!"
"Aku keluar dulu," pinta Miko akhirnya seraya melepaskan Ayu."
Fatur dan Aisyah menyusulnya. Mereka mencoba memberinya nasihat agar ia tak terpancing.
"Salahku di mana?!" bentak Andreas. "Mereka berselingkuh di depan dan di belakangmu tanpa perasaan bersalah dan kedua orangtuanya membiarkan bahkan mendukung keduanya!" ia tak puas dan kian berkoar.
Fatur meremas tangan Miko untuk menahannya agar tak berbuat anarkis. Semua ucapn Andres terdengar menyakitkan di telinganya karena ia juga membawa-bawa Aisyah dan Fatur.
__ADS_1
Miko sudah meminta izin kepada Ayu untuk menikahi Cinta beberapa kali namun ia menolak bahkan mengancam untuk bunuh diri. Miko serbasalah. Cinta sendiri sudah merasa begitu berdosa kepada Ayu akan tetapi manamungkin ia bisa menjauhi Miko karena mereka satu atap dan putranya membutuhkan kasih sayang seorang ayah dan ia pun masih ketakutan jika harus keluar dari rumah itu akibat pemerkosaan yang di alaminya. Ia sudah merasa aman berada di tengah-tegah keluarga Fatur dan tak pernah berpikir untuk keluar dari rumah itu.
Bersambung.....