Ternodanya Cinta

Ternodanya Cinta
PencurIan Intan


__ADS_3

Kerinduannya pada Cinta kembali menyapa. Ia menyesalkan kenapa harus Cinta yang menjadi adik dari orang yang telah mencelakai ibunya...?


"Sial! Aku bisa gila jika tak bisa move on!" berangnya tak tahan.


.......


6.30 wita Pantai Ampenan:


Para nelayan kian puas dengan pembayaran hasil tangkapannya dari Andri. Mereka bersyukur karena kerja keras mereka di bayar dengan setimpal. Lain halnya dengan Tirta yang hanya menguntungkan dirinya tanpa memikirkan nasib para nelayan. Karena itu tak ada lagi yang mau menjual hasil tangkapan mereka pada lelaki serakah itu.


Cinta memperhatikan seluruh nelayan di sepanjang pantai. Rambutnya yang kemerahan menyala di bawah terik matahari. Kulitnya sedikit coklat dan mampak eksotis yang membuat pesonanya kian terpancar. Sudah 1 jam ia duduk seorang diri memperhatikan para nelayan yang tengah menjual hasil tangkapannya pada Andri. Ia sudah bosan dan memutuskan untuk kembali ke rumah.


"Kakak!" teriaknya.


Andri menoleh.


Cinta bangkit dan menyapu roknya, "Aku kembali ke rumah!!"


Andri mengacungkan jempolnya.


Ia berjalan santai. Ketika keluar dari area pantai ia tersentak dan langkahnya terhenti, Intan dan Munah tengah menengok kedalam rumahnya di pinggir jalan. "Munah! Intan!" teriaknya berlari. Senyum kedua sahabatnya itu mengembang. Ketiganya lantas saling berpelukan melepas rindu. "Astaga kenapa baru sekarang kalian menemuiku?"


"Sibuk, suamiku menbuatku tak bisa keluar rumah," balas Intan.


"Dia baru saja berpisah," sela Munah.


"Astaga! Maksudnya cerai?" tanya Cinta terkejut.


"Dia hanya menginginkan uang ku. Tak sepeser pun nafkah yang ku terima dan malah katanya ia selingkuh," ujar Intan sedikit emosi.


"Ya sudah, kita masuk yuk!" ajak Cinta menggandeng keduanya kedalam rumahnya.


"Rumah mini. Nyaman juga," gumam Intan memperhatikan seluruh sudut rumah itu.


"Kakak mu benar sudah jadi duda?" tanya Munah seraya duduk pada kursi kayu di ruang tamu itu.


"Iya, sudah lama. Istrinya meninggal karena pendarahan saat melahirkan. Bayi nya juga ikut meninggal," terang Cinta.


"Astaga, bisa tragis seperti itu...." celetuk Munah iba.


"Takdir," jawab Cinta.

__ADS_1


Intan ragu untuk mengutarakan niatnya. Baru saja ia dan Cinta bertemu malah ia berniat meminjam uang untuk modal usaha.


"Oh ya, mau minum panas atau dingin?" tanya Cinta.


"Tak usah, kami harus cepat pulang karena ada undangan hajatan di kampung. Aku sebenarnya ingin meminta bantuan padamu....." Intan kian tak enak hati.


"Ada apa? Katakan saja jangan ragu."


"Aku mau pinjam uang. Hanya 3 juta. Apa bisa?"


Cinta menarik nafas, "Duh bukannya aku tak mau meminjamkan, tetapi aku tak punya sebanyak itu."


"Cuma 3 juta Cin...aku butuh sekali...."


Cinta terdesak, ia memang tak punya sebanyak itu....


"Maaf, tapi aku sungguh tak punya...."


Intan emosi. Ia memutuskan untuk berpamitan. Pikirannya sudah kacau dengan penolakan beberapa temannya sebelum is memohon pada Cinta. Ia yakin jika Cinta sengaja tak mau meminjamkannya.


"Kalau begitu kami pamit. Maaf sudah mengganggu waktumu," ucapnya seraya bangkit.


"Hati-hati di jalan," pintanya melepas kepergian mereka.


..........


Intan nekat mencuri gelang emas milik Sinti. Diam-diam ia menyelinap masuk kedalam kamar wanita tua itu dan mengambil gelang emas nya dari dalam lemari pakaian. Keinginannya untuk membeli gerobak es blender dan perlengkapan berdagang membuat Intan gelap mata. Ia sudah tak memiliki sepeser pun uang dan ini jalan satu-satunya untuk memulai usahanya.


Singkatnya ternyata hasil dari penjualan gelang itu di luar dugaan. Kini ia memiliki 4,5 juta rupiah.


Sementara itu Sinti panik. Ia sampai mengeluarkan semua isi lemarinya mencari benda itu namun nihil. Anto dan Fatma bingung dan akhirnya menangis.


"Ibu kenapa....?" tangis mereka. Anak-anak itu mempunyai hati yang lembut. Mereka tak pernah bisa melihat ibu dan ayahnya panik atau risau.


"Nggak, Nak. Nggak ada apa-apa. Ibu cuma sedikit bingung." Sinti berusaha menenangkan keduanya, "Sini Ibu peluk."


"Tadi aku lihat kakak ambil punya ibu di dalam lemari," ucap Anto polos.


"Kapan, Nak?" tanyanya terkejut.


"Barusan, terus dia pergi pakai motor....hiks."

__ADS_1


Sinti tertegun. Perubahan Intan sangat drastis setelah bercerai dari Rama. Ia begitu kecewa. Putrinya yang selama ini ia banggakan kini telah berubah.


Dengan penuh kecemasan ia menunggu kepulangan suaminya untuk menceritakan apa yang terjadi. Ia tak bisa membiarkan perbuatan Intan. Dan ternyata Bagas dan Intan pulang bersamaan. Ia menghampiri Intan dan mengusap air matanya.


"Sini kamu!" bentak nya menyeret Intan menuju kamarnya.


Intan terkejut, "Apaan sih, Buk!"


"Ada apa ini?" tanya Bagas.


"Dia sudah mencuri emas milikku!" teriak Sinti tak rerkontrol.


"Benar itu? Kenapa kamu jahat seperti ini? Kami keluarga mu! Apa dosa bapak dan ibu hingga kamu sampai hati melakukan ini semua...!!" tanya Bagas kecewa.


Intan hanya membisu. Ia tak merasa bersalah dengan semua perbuatannya, "Ini untuk kita juga, Yah. Aku ingin memulai usaha dengan emas milik Ibu," kilahnya.


"Lalu hasilnya...? Semua itu hanya untuk dlirimu! Hanya untuk kesenanganmu!" tandas Bagas.


Intan tak bisa membela diri karena itu semua adalah fakta. Kedua orangtuanya sudah hafal sifat egoisnya.


"Sekarang mana uang itu?" pinta Bagas mengulurkan tangannya.


"Tak ada!" sergah Intan.


Terpaksa Bagas menggeledah seluruh kantung celana jeans nya.


Intan berusaha merebut uang itu namun tak sanggup. Bagas menyepak tangannya dengan kasar lalu meninggalkannya. Ia gusar setengah mati dan menutup pintu kamar rumah pagar itu dengan kasar. Para tetangga terkejut dan menggunjingkan kelakuannya. "Buang aja anak kayak gitu! Nggak nyadar miskin itu si Intan," ucap Nek Ipah marah yang kini menempati rumah Cinta.


....


2 bulan kemudian...


21.00 wita:


Cinta berjalan-jalan di tepi pantai menikmati angin malam. Ia mendekap tubuhnya yang berbalut selimut tipis. Ketika berbalik ia tersenyum melihat kapal-lapal Andri yang bersandar di bibir pantai. Langit terlihat cerah.


Tak ada firasat apapun dalam benak Cinta. Ketika berjalan pulang ia menatap seorang pria di dalam mobil yang nampak asing baginya tengah parkir di samping gubuk kosong. Cinta tak curiga sedikitpun, ia terus berjalan dengan santai. Tanpa ia sadari pria itu turun dari mobilnya dengan mengenakan penutup wajah. Is berjalan di belakang Cinta dan langsung mendekap wajah Cinta menggunakan sapu tangan. Cinta lemas dan tumbang. Ia berada dalam kondisi antara sadar dan tidak. Pria itu mengangkat tubuhnya memasuki gubuk kosong itu. Cinta merintih. Pria itu membaringkannya dan melucuti pakaiannya. Cinta menangis. Ia tak bisa melawan dan hanya bisa memandangi tubuhnya yang di gerayangi.


Usai melakukan perbuatannya pria itu mengangkatnya kembali dan membuangnya di depan rumah Cinta. Ia melempar sebuah batu dan berlari meninggalkan kawasan itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2