
"Papa dan Mama pulanglah tak usah kemari lagi. Biar aku sendiri di sini," pinta Miko.
"Kamu yakin?" tanya Fatur.
"Iya."
"Asal kamu tak meladeni Andreas," tekan Fatur.
"Iya aku janji."
Aisyah mencium keningnya dan mendekap lengan Fatur keluar dari rumah sakit.
Miko mendesah mengeluarkan kekesalan di dadanya dan kembali kedalam ruangan Ayu.
"Mama dan Papa mana?" tanya Ayu mengulurkan tangannya.
"Mereka sudah ku minta pulang," jawam Miko ketus seraya menyambut uluran tangannya.
Andreas tersenyum sinis. Ingin sekali lagi dirinya menghina pria itu karena ia masih merasa belum puas apalagi dengan kepergian kedua orangtuanya yang tanpa pamit.
.............
Fatur bercerita mengenai keadaan Ayu kepada Nindi dan Cinta di ruang tamu. Cinta senang, akan tetapi ada sedikit perasaan cemburu yang terselip di dadanya.
"Syukur dia bisa hamil," cetus Nindi. "Dia akan tahu bagaimana cara menyayangi anak kecil."
"Aku harap kehamilannya berjalan dengan lancar sampai hari kelahiran bayinya," ungkap Cinta tulus.
"Oh ya, tadi apa yang mau kamu sampaikan Nindi?" tanya Fatur.
"Tadi ada seorang pria datang ingin membeli furniture dalam jumlah besar. Katanya sih untuk perusahaan yang baru dia bangun. Ini dia kartu namanya," ujar Nindi sembari merogoh kantung gamisnya dan memberikan kartu nama Jack."
"Baiklah," angguk Fatur menatap kartu nama itu. "Nanti Papa akan menghubunginya."
......................
Keesokan harinya pukul 12.00 wita:
Ayu dan Miko tiba di rumah. Saat wanita itu keluar dari dalam mobil ia berpura-pura lemas, Miko pun dengan sigap menghampiri dan menyangga tubuhnya, "Kenapa? Masih pusing?"
"Sedikit. Aku tak kuat jalan sampai di kamar..." bisiknya
Miko terpaksa membopong tubuhnya. Cinta merasa semburu namun ia menyembunyikannya dengan senyuman seolah ia senang melihat kemesraan kedunya. Fatur dan Aisyah bersyukur karena akhirnya setelah sekian lama Miko dan Ayu kembali mesra seperti dulu.
"Ada yang kamu inginkan?" tanya Miko setelah menaruh sang istri di ranjang.
"Aku ingin makan bubur ayam. Tetapi yang di jual di dekat perempatan lampu merah," pintanya manja
Dengan terpaksa Miko mengangguk, "Baiklah, aku akan belikan."
Ayu tersenyum senang. Miko meregangkan ototnya saat hendak menuju mobilnya. Ia sangat kelelahan sebab tak mendapat istirahat sedikitpun hingga detik ini. Alif menangis keras dan itu membuat langkahnya terhenti. Ia merasa sudah sangat lama meninggalkan bayi itu, "Alif...." bisiknya. Ingin rasanya ia masuk kedalam mengendongnya sejenak tetapi ia ragu karena Ayu pasti tak bisa menunggunya lama. Ia pun masuk kedalam mobilnya dan tancap gas.
Tangisan Alif membuat Ayu sangat terganggu dan ia tak tahan. Ia lekas turun dari ranjangnya dan menghampiri bayi itu di kamarnya, "Cinta......! Anakmu bisa di diamkan tidak! Aku tak bisa istirahat!" bentaknya emosi.
"Maaf, Ayu. Alif baru bangun. Kamu tahu sendiri kalau baru bangun dia akan menangis kencang," papar Cinta tak enak hati sambil terus menimang Alif yang masih tak mau diam.
"Ya kamu kasi susu kek atau bawa dia keluar! Aku mau istirahat dan kepalaku masih sakit!"
__ADS_1
Aisyah dan Fatur yang melihat kelakukannya dari dalam kamar hanya geleng kepala. Ayu semakin culas dan kasar pada Cinta.
"Bailkah," jawab Cinta. Ia membawa Alif menuju teras depan.
Hingga beberapa saat kemudian Alif masih tak mau diam sampai Miko tiba.
"Eh lihat itu Papa Alif sudah sampai," canda Cinta.
Miko tersenyum dan mendekatikanya, "Sini biar aku yang gendong," pintanya.
Melihat wajah Miko seketika Alif terdiam dan langsung tersenyum. Miko seolah melihat surga pada wajah Alif yang selama sehari semalam ia rindukan. Miko mengecup keningnya dan tertawa.
"Itu bubur untuk Ayu?" tanya Cinta.
'Iya," angguk Miko.
"Sini, biar aku yang berikan padanya."
"Aku akan mengajak Alif bermain di taman," ucap Miko.
Cinta menghidangkan bubur itu di piring dan membawanya ke kamar Ayu. "Buburmu," ucap Cinta tersenyum tipis.
"Mana suamiku? Kenapa kamu yang membawa bubur ini?" tanya Ayu seraya menerima semangkuk bubur itu dari tangan Cinta.
"Dia sedang menimang Alif di taman. Ada yang kamu inginkan lagi? Aku akan mengambilkan untukmu," ujar Cinta.
Ayu berusaha untuk tak melakukan hal gila padanya dengan sekuat hati. Rasanya ingin sekali ia melempar bubur panas itu kewajah Cinta....
"Pergilah, aku tak membuatuhkan apapun," ucapnya
Ayu muak mendengar ucapannya yang sok baik padanya. Ia berpikir padahal sesungguhnya Cinta menginginkan hal buruk selalu terjadi padanya.
Azan zuhur berkumandang. Miko mendongak menatap langit biru dan membawa Alif kembali kedalam.
"Kamu mau sholat?" tanya Nindi mendekat.
"Iya."
"Biar Alif Mama yang bawa," pintanya.
"Tumben dia baik?" batin Miko.
"Aku mau main sama adik!' pekik Hamzah berusaha menggapai Alif.
"Kita main di kamar Mama ya?"
"Iya!"
Langkah Miko terhenti di muka pintu saat melihat Ayu sedang berdandan di depan cermin. Ia yakin jika wanita itu akan keluar rumah lagi, " Kamu mau kemana?"
"Ke rumah Milan. Aku baru dapat sms jika dia sedang kedatangan seseorang yang menjual baju di rumahnya."
"Bukankah kepalamu sedang pusing?" tanya Miko dan berjalan mendekatinya.
"Aku akan semakin pusing jika berada di rumah ini terus," jawabnya enteng. Ia mengambil dompetnya dan memohon izin, "Aku keluar dulu. Aku akan pulang sore nanti."
Miko terpaku. Kelakuan Ayu masih semena-mena seperti sebelumnya....
__ADS_1
"Masa bodoh!" tukasnya. Ia masuk ke kamar mandi mengambil air wudlu.
Selesai melaksanakan sholat seluruh keluarga makan siang. Hidangan terlihat mengiurkan di mata Miko. Ia langsung saja menyendok makanan dalam porsi yang besar dan mengambil lauk yang ia tahu Cinta yang sudah membuatnya.
"Pelan-pelan, Sayang," pinta Aisyah tersenyum.
Cinta dan Nindi tertawa dengan kelakukannya yang nampak lucu.
"Minum susunya juga," ucap Cinta menggodanya.
Miko mengangguk setelah menelan makanannya, "Demi Allah....aku sangat lapar dan sangat merindukan masakan rumah," ujarnya geleng-geleng.
Semua keluarganya tertawa bahagia.
..................................
Pantai Ampenan:
Dubrak!! Rosi membanting buku catatannya di hadapan Adri. Ia sudah sangat emosi dan tidak bisa menahan diri lagi.
Adri bangkit dengan santai, "Ada apa?"
"Kamu sudah benar-benar kelewatan! Kamu membuat kakakku bangkrut dan sekarang dia jadi frustasi!"
Andri tersenyum dan mendekatkan wajahnya pada wanita manis nan elok itu, "Kamu sebenarnya tahu tidak kebenarannya? Kamu tahu sepak terjang kakakmu pada seluruh nelayan di pantai ini..."
Rosa kian geram, "Kamu itu terlalu mahal membeli harga ikan pada seluruh nelayan hingga mereka semua menjualnya padamu! Harusnya kamu ikuti harga yang sudah di tetapkan kakakku agar ia tak dirugikan!"
Andri tersenyum. Baginya isi otak wanita ini tak beda jauh dengan Tirta.
"Apanya yang lucu?!" tanya Rosi kian geram.
"Jika aku membeli ikan semurah kakakmu pada para nelayan itu artinya aku sama zalimnya dengan dirinya....Aku sekedar membeli sedikit mahal dan itu harusnya di ikuti kakakmu bukan malah aku yang mengikutinya. Dia itu terlalu tamak akan harta dan tak memikirkan kemaslahatan para nelayan!"
"Itu kemahalan! Aku yakin lama kelamaan kamu pun akan bangkrut dengan cara seperti ini!" Timpal Rosi tak kalah kasar.
"Naik cuma lima belas persen?" sela Andri tersenyum.
"Apa?" tanya Rosi. Ia pikir dirinya salah dengar, "Maksudmu?" tanyanya bingung.
"Lima belas persen, aku hanya menaikkan lima belas persen. Memangnya cerita kakakmu bagaimana?"
"Abangku berkata kamu menaikkannya sampai lima puluh persen! Tak mungkin dia berbohong padaku!"
Andri tertawa renyah diikuti senyuman para nelayan di sekitarnya.
"Silahkan kamu tanya kebenarannya pada mereka....aku yang berbohong atau abangmu yang berbohong..." sela Andri.
Rosi kian tersudut kala melihat sekelilingnya.
"Kenapa diam? Ayo tanya mereka..." tekan Andri bercanda.
"Benar Non! Mas Andri hanya menaikkan lima belas persen...." ucap Pak Yusril menyela.
Wajah Rosi bersemu merah dan ia merasakan malu yang luar biasa.
Bersambung...
__ADS_1