Ternodanya Cinta

Ternodanya Cinta
Kesadaran yang kembali


__ADS_3

"Cinta, maafkan Ayu," pinta Miko


Cinta berusaha untuk tak menangis, akan tetapi ia tak kuat. Ia berlari kedalam kamarnya dan menangis histeris. Ia menjambak tubuh dan bajunya secara membabi-buta.


"Stop," pinta Andri mencegat Miko di ambang pintu kamar sang adik.


Miko mengalah. Andri mendekat pada Cinta dan merangkul nya. "Iklas," pintanya.


"Aku tak kuat lagi Kak! Aku sudah tak tahan lagi!!" Jiwanya benar-benar terguncang.


.....


Hari ini Fatur mengundang sikiater untuk menangani kejiwaan Cinta.


Cinta bingung saat dokter itu masuk kedalam kamarnya dan memperkenalkan diri.


Dengan perlahan dokter Farhana meminta Cinta untuk mengungkapkan isi hatinya. Cinta enggan karena malu, tetapi dokter itu berusaha terus meyakinkannya.


Dengan penuh kesabaran dokter Farhana mendengar keluh kesahnya.


"Kenapa mesti diriku? Kenapa Tuhan menghukumku dengan cara seperti ini?"


Dokter Farhana menjamah telapak tangannya,


"Ini ujian bagi orang beriman. Apa kamu pernah membaca kandungan ayat dalam alquran yang Allah berkata di dalamnya, "Belum di katakan seseorang telah beriman sebelum Allah mengujinya. Dalam ayat yang lain Allah juga berfirman, "Jika sesudah kesulitan ada kemudahan. Tak ada yang luput dari cobaan, Nak."


Cinta terpaku memikirkan ucapannya.


"Ini semua hanya batu sandungan untuk menguji kekuatan keimananmu."


Cinta mengusap air matanya, "Apa ini cobaan bukti cinta dan kasih sayang Allah padaku?" tanyanya.


Dokter itu mengangguk tersenyum.


Cinta mendesah dan menarik nafas panjang, "Huuh......"


"Kamu pasti bisa melewati fase ini," ucap dokter Farhana.


Ruang tamu:


"Dia sudah stabil," ucap dokter itu tersenyum kepada seluruh keluarga Fatur.

__ADS_1


Andri tak percaya itu dan segera menemui Cinta. Cinta berlari kearahnya dan menarik tangannya lalu memeluknya, "Terimakasih atas segalanya," bisiknya di dada Andri.


.......


Hari ini Cinta menikmati panasnya sang surya. Ia berjemur di jalanan dan menghirup aroma yang tak karuan akibat bau masakan para tetangga yang tembus hingga jalan raya.


Andri sudah mulai kembali bekerja karena Cinta perlahan berangsur normal. Ia yakin melepaskan sang adik bersama Aisyah dan Nindi. Sementara kini bagian pagar rumah di samping taman rumah itu mulai di jebol untuk membangun toko mebel. Cinta menengok, Miko nampak sibuk memberi arahan pada para pekerja bangunan, ia nampak semakin dewasa di mata Cinta. Ia masih ingat dengan sosok Miko saat SMA dulu. Dulu ia lebih glamor dan trendi, tapi sekarang ia terlihat bersahaja dan kian dewasa. Ia juga masih ingat dengan hinaan yang selalu terlontar ketika ia memasuki sekolahnya. Tetapi semua itu hanya masa lalu. Bahkan sekarang sikap Miko jauh lebih lembut padanya ketimbang pada istrinya sendiri.


Dua bulan berlalu....


Cinta merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Ia nampak lebih gemuk dan dadanya terasa lebih kencang. Ia pun tak haid dalam dua bulan ini. Ia berpikir jika mungkin ada penyakit yang sedang bersarang di tubuhnya.


"Ma..." sapa nya tersenyum di muka pintu kamar Aisyah.


"Hei! Kemari," pinta Aisyah. Ia menurunkan ke dua kakinya dari ranjang. "Sini Sayang, duduk di samping Mama."


"Aku ingin ke rumah sakit, Ma. Siklus mens ku tak teratur. Sudah dua bulan aku tak haid. Rasanya juga tubuhku terasa aneh."


"Serius kamu?" Aisyah memang melihat keganjilan dari bentuk tubuhnya. "Mama antar ke klinik, sekalian Mama mau beli vitamin c."


"Ya sudah, kita berangkat sekarang?" tanya Cinta bersemangat.


Aisyah mengambil penutup kepalanya dan mengenakannya di depan cermin.


Perjalanan terasa menyenangkan. Cinta terus berceloteh bagaimana kajahilan Miko semalam. Miko berpura-pura ketiduran di taman hingga dirinya berpikir untuk memapahnya karena tak tega.


"Astaga! Miko memang tak pernah bisa berubah," celetuk Aisyah tertawa.


Cinta kian terbahak.


Klinik:


"Dari hasil pemeriksaan anda positive hamil," ucap dokter membaca hasil pemeriksaan Cinta.


Cinta terdiam.


Aisyah tak tahu harus apa.


"Usia kandungan anda sudah berumur tiga puluh hari," sambung dokter itu.


Cinta lantas keluar dari ruangan dokter dan Ia terus berjalan tanpa tujuan. Ia harap semua ini tak nyata...

__ADS_1


"Cinta!" panggil Aisyah.


Langkah Cinta terhenti.


"Nak....."


Cinta menatap perutnya dan merabanya, "Siapa yang akan bertanggung jawab....?" rintihnya.


Aisyah memekuknya untuk memberinya kekuatan. Ia menangis kebingungan dan takut dengan semua ini....


"Kamu harus kuat! Anak ini telah di titipkan padamu dan kamu harus ikhlas menerimanya,"


"Tapi dia tak punya ayah.....hiks."


Aisya melepaskan pelukan itu dan mrnyentuh wajahnya, "Kamu harus lebih kuat! Anak mu membutuhkan mu. Dia tak bersalah. Ini rizki yang tak ternilai dari Allah, Sayang."


Aisyah menghapus air mata di wajah Cinta dan berkata sekali lagi, "Kamu tak boleh lemah! Mama yakin dibalik semua ini ada maksud dan tujuan baik dari Tuhan.


20.30 wita:


Keluarga Fatur berkumpul di ruang tamu. Andri menggenggam tangan Cinta erat.


"Bagaimana jika Miko menikahi Cinta?" usul Aisyah.


Dalam hati Miko samasekali tak keberatan.


"Tidak," geleng Cinta. Itu akan menambah masalah baru baginya.


"Apa aku tak dianggap?" hardik Ayu tak terima. "Aku tak mau di duakan dan berbagi!"


"Rendahkan suaramu!" bentak Miko padanya.


"Kalian hingga kini tak memiliki keturunan. Apa salahnya jika suami mu menikahi Cinta agar Miko memiliki penerus?" sela Aisyah ketus.


"Sekarang aku yang di salahkan sebab kista dalam tubuhku karena sekarang Miko sudah di nyatakan subur? Mama apa punya hati!" sungut Ayu tak terima.


"Bukankah itu karena makanan yang tak kamu jaga? Lalu kamu mau menyalahkan siapa lagi?!"


"Aku akan besarkan anak ini seorang diri," sela Cinta. "Aku tak mau menyusahkan siapa pun lagi."


"Kamu yakin? Ini takkan mudah," ucap Aisyah. "Kamu butuh seorang pendamping untuk ayah dari anakmu."

__ADS_1


"Tidak, Ma. Aku juga wanita dan tak mungkin menyakiti wanita lain. Biarlah aku yakin jika aku mampu."


Bersambung....


__ADS_2