
Plakk!!!
"Baj *ngan kau, Hans!" Umpat Ara dengan bibir bergetar dan nyala mata penuh kebencian.
"Dengarkan penjelasanku, Ra. Aku juga tidak tahu mengapa kita berdua bisa berada di kamar ini dan melakukannya." Hans mencoba menjelaskan.
"Bed ebah. Kebohongan apa yang ingin kau keluarkan dari mulut busukmu, hah? Kau menerapkan kehidupan bebas dan liarmu kepadaku. Kau sudah menghancurkan hidupku, masa depanku." Air mata Ara semakin membasahi wajahnya.
"Aku berani bersumpah, aku benar-benar tidak tahu."
Tangan Hans menyentuh tangan Ara. Ara langsung menepisnya dan mendorong tubuh Hans menjauh. Gerakan Ara itu membuat selimut yang menutupi tubuhnya melorot dan menampilkan apa yang tidak seharusnya dilihat oleh Hans. Hans membuang muka dan berusaha menekan hasratnya yang bangkit kembali.
"****! Pengaruh obat perangsangnya kuat sekali. Siapa baj *ngan yang telah melakukannya kepadaku?" Gerutu Hans dengan lirih.
"Aaarrgghh!!!" Hans memukul dinding kamar berkali-kali dengan sangat kuat.
Flashback On
Di sebuah pesta pernikahan.
"Apa kau menyukai pestanya, Ra?" Tanya seorang pria tampan yang duduk di samping Ara.
Ara mengangguk seraya tersenyum. "Pestanya sungguh luar biasa. Anne dan Ian pasti merogoh uang dalam jumlah fantastis untuk mengadakan pesta sebesar ini, Beryl."
"Tentu saja. Mereka berdua berasal dari keluarga kaya raya, bukan perkara sulit menghabiskan uang mereka hanya untuk sebuah pesta," ucap Beryl, yang tak lain adalah kekasih Ara.
Ara dan kekasihnya, Beryl, duduk di sebuah mini bar. Seorang gadis datang dengan mini dress berwarna merah dan duduk di samping Ara.
"Kapan kalian berdua akan mengadakan pesta semewah ini? Aku sudah tidak sabar menantikannya," ucap gadis itu.
"Bicara apa kau, Mira? Jangan ngawur kamu," sahut Ara dengan pipi yang mulai merona.
Mira langsung tertawa. "Memangnya ada yang salah dari perkataanku, hah? Kalian berdua kan sudah lama pacaran. Sudah waktunya status kalian berubah menjadi sepasang suami istri."
Wajah Ara semakin merona.
"Lihatlah Ra. Wajahmu sudah seperti udang rebus," ledek Mira.
"Kau tidak perlu cemas, Mir. Setelah aku berhasil menempati posisiku direktur di perusahaan Papaku, di saat itulah kau akan mendapatkan undangan pernikahanku dengan Ara," ucap Beryl yang membuat hati Ara bahagia.
"Baguslah kalau begitu. Karena aku tidak ingin sahabat baikku ini menjadi jemuran yang terus kau gantung," sahut Mira.
Ara mengulum senyum di bibirnya. Beryl dipanggil oleh salah satu temannya dan mengajaknya berfoto dengan sang mempelai.
"Apa kau jadi menginap di rumahku malam ini, Ra?" tanya Mira.
"Jadilah. Aku sudah dapat izin dari ayah dan bundaku. Yah meskipun butuh usaha keras untuk meluluhkan hati Ayahku," jawab Ara.
"Yes!" seru Mira dengan wajah bahagia.
"By the way, aku haus, Ra."
"Aku juga. Mas, pesan squash delight orange dua ya," pesan Ara kepada pelayan yang berjaga di sana.
"Kamu kenapa, Mir?" tanya Ara yang melihat Mira yang terus memegang perutnya.
"Perutku sakit, Ra. Sepertinya aku datang bulan. Aku ke toilet dulu ya," jawab Mira sambil berbisik.
"Tolong berikan aku air es."
__ADS_1
Terdengar suara seorang pria yang tak asing di telinga Ara memesan minum kepada pelayan. Ara menoleh ke arah sumber suara itu.
"Hans!" seru Ara.
"Ara. Sedang apa kau di sini?" tanya Hans.
"Ini pesta pernikahan temanku. Kau sendiri sedang apa di sini?" jawab Ara ketus.
Bukannya menjawab Hans langsung menyambar minuman milik Ara dan meneguknya sampai tandas.
"Hans!" bentak Ara.
"Sorry," sahut Hans dengan bibir yang memerah.
"Tolong buatkan squash delight orange yang baru untuk Nona ini," pinta Hans saat pelayan memberikan air esnya.
Ara mendengus kesal.
"Pengantin prianya adalah anak dari salah satu klien HH Corps. Bagaimana kabarmu, Ra?"
"Aku baik, sebelum bertemu denganmu," jawab Ara sinis.
"Cih! Kau masih saja ketus seperti dulu," ucap Hans.
"Sudah pergi sana! Sebelum aku mendapatkan kesialan karenamu," usir Ara.
"Dasar ketus galak. Jangan seenaknya mengusirku. Lagi pula, siapa juga yang mau berlama-lama dekat dengan gadis galak dan menyeramkan sepertimu," balas Hans mengejek.
Hans segera pergi meninggalkan Ara.
"Tadi itu siapa, Ra?" tanya Beryl yang sudah kembali dengan nada cemburu.
Tak selang berapa lama, Mira kembali dari toilet saat DJ memutar musik yang membuat pesta pada malam itu semakin meriah.
"Apa kau baik-baik saja, Mir?"
Mira mengacungkan jari jempolnya. "Semua aman terkendali."
"Syukurlah."
"Apa kau mau berdansa denganku, Ra?" ajak Beryl.
Ara mengangguk sambil tersenyum. Beryl dan Ara turun ke lantai dansa. Keduanya terlihat serasi dan romantis. Dari seberang meja, Hans mengamati setiap gerakan mereka. Malam itu Ara terlihat sangat bahagia. Pesta berlangsung sampai menjelang tengah malam.
"Apa kau bahagia, Ra?"
"Tentu saja. Aku sangat bahagia," jawab Ara sambil tersenyum dengan mata sayunya.
"Aku baru sadar jika wajahmu ini tampan," tambahnya dengan satu tangan mengeksplor wajah tampan yang berada di hadapannya.
Entah siapa yang memulai terlebih dahulu, kedua bibir insan itu telah menyatu. Keduanya saling memagut. Ara sangat menyukai aroma tubuh itu dan memeluknya dengan sangat erat. Malam itupun bukan hanya menjadi saksi malam pertama sang pengantin, tetapi juga bagi dua insan yang tengah diliputi ga irah yang menggelora.
Namun, kebahagiaan yang Ara rasakan pada malam itu berbanding terbalik dengan apa yang dia rasakan ketika bangun keesokan harinya. Ara menangis histeris saat menyadari dirinya tengah tidur bersama seorang pria dan kesuciannya telah terenggut. Ara semakin terpukul saat mengetahui Hans lah pria itu. Ara sama sekali tidak mengingat apa yang telah terjadi di malam kelam itu.
Flashback Off
"Apa salahku padamu, Hans? Mengapa kau tega melakukan semua ini padaku? Mengapa kau tega menghancurkam hidupku?"
"Kau benar-benar pria be jat!" teriak Ara sambil terisak.
__ADS_1
Tubuh yang hanya berbalut selimut itu jatuh terduduk di atas lantai. Hans yang telah memakai celananya langsung menghampirinya.
"Maafkan aku, Ra. Aku mohon percayalah. Aku benar-benar tidak tahu mengapa semua ini bisa terjadi," mohon Hans sambil menyentuh tangan Ara.
Ara langsung menepisnya.
"Menjauhlah dariku! Aku jijik disentuh olehmu!" Bentak Ara yang membuat Hans memundurkan tubuhnya dan duduk agak jauh dari Ara.
Hans berusaha mengingat apa yang terjadi semalam sehingga dia sampai melakukan hal terlarang itu bersama Ara. Namun Hans tetap tidak bisa mengingatnya dan malah membuat kepalanya semakin sakit. Hans memukul-mukul kepalanya.
Hans menarik napas panjang.
"Aku akan bertanggung jawab, Ra," ucap Hans.
"Apa maksudmu?" tanya Ara.
"Aku akan menemui Uncle Bayu dan Aunty Alexa. Aku akan menikahimu, Ra," jawab Hans meyakinkan.
"Tidak! Aku tidak sudi menikah dengan baj* ngan sepertimu!" tolak Ara dengan tatapan penuh kebencian.
"Jika kau berani menceritakan aib ini kepada ayah dan bundaku atau siapapun itu, maka saat itu juga aku akan mengakhiri hidupku," ancam Ara.
Hans membulatkan matanya.
"Jangan gila kau, Ra!" bentak Hans.
Ara tak menjawab, namun dari sorot matanya terlihat jika Ara serius dengan ucapannya. Hans menyugar rambutnya dengan kasar. Pandangan Hans terfokus pada noda darah yang telah bercampur cairan miliknya yang masih membekas di kain sprei, membuatnya semakin merasa bersalah.
"Katakan Ra, apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku padamu?" tanya Hans kemudian.
"Pergilah yang jauh dan jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi di hadapanku. Lupakan apa yang telah terjadi. Anggaplah semua ini tidak pernah terjadi," jawab Ara dengan tegas.
Hans membuang napasnya kasar.
"Baiklah. Akan aku penuhi keinginanmu."
Bersambung ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
3. I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author agar semakin bersemangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
__ADS_1
Terima kasih🙏🥰