
Hans sedang menikmati sarapannya sambil membaca berkas yang akan dibahas dalam meeting bersama kliennya pagi ini. Terdengar suara langkah Ara yang baru saja memasuki ruang makan. Ara langsung duduk dan mengambil makanannya, tanpa menyapa Hans.
"Bagaimana keadaanmu? Apa pinggangmu masih sakit?" tanya Hans dengan wajah datarnya.
Usia kandungan Ara saat ini telah berusia 6 bulan. Dan akhir-akhir ini, Ara sering mengeluh sakit pinggang.
"Ya begitulah," jawab Ara singkat.
"Sebaiknya kita periksakan ke dokter."
"Tidak perlu. Minggu depan kan ada jadwal kontrol," jawab Ara ketus.
Hans menyerngitkan dahinya begitu menyadari wajah kesal Ara. Keduanya memang masih belum akrab dan acap kali berdebat, namun saat ini Ara terlihat kesal sekali. Hans membuang napasnya kasar sambil meletakkan ipadnya di atas meja.
"Jika ada yang ingin kau katakan, katakan saja. Tidak perlu menunjukkan wajah jelekmu itu," ucap Hans yang sontak membuat kekesalan Ara bertambah.
"Mengapa diam saja? Aku tak punya banyak waktu untuk meladeni sikap labilmu itu," tambah Hans.
"Kau benar-benar menyebalkan," teriak Ara.
Hans menggaruk telinganya yang tak gatal. "Kau tidak perlu berteriak seperti itu. Kasihan Baby H yang ada di perutmu."
"Aku merindukan Ayah dan Bunda," ujar Ara.
Hans menghela napasnya. "Bukankah kau selalu melakukan panggilan video dengan mereka bahkan hampir setiap saat?"
"Tapi rasanya berbeda. Tak bisakah kita pulang ke Indonesia? Aku benar-benar merindukan mereka," tanya Ara.
"Tidak bisa Ra. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, belum lagi pertemuan dengan beberapa klien penting perusahaan."
Ara berhenti menyuapkan makanannya dan meletakkan sendoknya.
"Selalu seperti itu. Pekerjaan dan pekerjaan. Hanya itu yang ada di dalam otakmu. Kau tidak pernah memikirkan perasaanku sedikitpun. Aku sudah bersedia untuk tinggal bersamamu di sini dan jauh dari keluargaku. Jika kau tidak bisa meninggalkan pekerjaanmu, setidaknya izinkan aku pulang ke Indonesia bersama Bu Indah." Mata Ara mulai berkaca-kaca.
"Aku tidak akan pernah mengizinkannya. Itu akan membahayakan bayi dalam kandunganmu," tolak Hans.
"Kau benar-benar egois!" bentak Ara sambil menangis.
"Aku memang egois. Dan itu demi kebaikan kalian. Aku tidak akan pernah mengambil tindakan bodoh yang beresiko untuk keselamatan bayiku."
Hans langsung berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Ara yang masih menangis. Bu Indah mendekati Ara dan memeluknya.
"Mengapa Tuhan mengirimkan pria kejam seperti dia untukku?"
"Non Ara yang sabar ya. Ibu yakin Tuan Hans tidak sekejam itu. Tuan Hans kan selalu menjaga dan memastikan kesehatan Nona dan calon bayi kalian," tutur Bu Indah.
Hans terus melangkahkan kakinya dengan wajah menahan marah. Sebenarnya Hans tidak bermaksud mengucapkan perkataan yang akan menyakiti perasaan Ara. Hans mengerti apa yang dirasakan oleh Ara, namun dia tidak bisa meninggalkan perusahaan dan tanggung jawab yang harus dia selesaikan saat ini. Hans berharap Ara bisa memahaminya. Hans membuka pintu dan seketika matanya terbelalak.
"Assalamualaikum!"
"Surprise!"
Tubuh Hans mematung begitu mengetahui kedua orang tuanya tiba di mansion tanpa memberi tahu terlebih dahulu.
"W-waalaikumsalam."
"D-daddy. Mommy."
"Ya putraku sayang. Ini Daddy dan Mommy. Kami sengaja datang tanpa memberi tahumu, karena kami ingin memberikan kejutan kepada kalian. Mommy tidak menyangka jika kau akan seterkejut ini," ucap Nyonya Charlotte sambil tertawa.
"Mengapa wajahmu pucat seperti itu? Kau sedang tidak menyembunyikan sesuatu dari kami kan, Hans?" tanya Tuan Narendra dengan tatapan menyelidik.
Hans menelan salivanya kasar, lalu mengubah ekspresi wajahnya.
"Tentu saja tidak, Dad. Daddy jangan berpikiran buruk seperti itu. Aku hanya terkejut saja. Baru semalam aku memimpikan kalian, dan sekarang kalian tiba-tiba sudah berada di hadapanku."
Hans langsung salim dan memeluk kedua orang tuanya.
"Mommy merindukanmu, sayang."
"Hans juga merindukan Mommy."
"Sepertinya ada yang datang bertamu, Non. Tuan Hans memanggil Mommy dan Daddy," ucap Bu Indah.
Ara membulatkan matanya. "I-tu orang tua Hans, Bu."
__ADS_1
Ara segera membersihkan bekas air matanya.
"Non Ara tenang ya. Sebaiknya Non Ara segera keluar dan menemui mertua Non. Bu Indah dan maid yang lain akan memindahkan barang-barang Nona ke kamar Tuan Hans."
Ara mengangguk. Dia mengambil napas dan membuangnya pelan untuk mengatasi kepanikannya. Ara segera melangkah menuju ruang tamu untuk menyambut kedatangan mertuanya.
"Di mana menantu, Daddy?" tanya Tuan Narendra sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion.
Hans langsung panik, namun berusaha agar tidak terlihat oleh kedua orang tuanya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Ara datang dengan senyuman di wajahnya. Ara langsung menyalimi ayah dan ibu mertuanya secara bergantian. Nyonya Charlotte langsung memeluknya penuh sayang, membuat hati Ara menghangat. Pelukan ibu mertuanya serasa seperti pelukan bundanya.
"Bagaimana keadaanmu dan calon cucu Mommy sayang?" tanya Nyonya Charlotte sambil mengusap-usap perut buncit Ara.
"Alhamdulillah kami baik, Mom. Mari silakan masuk Mom, Dad. Ara senang sekali kalian berkunjung ke sini," jawab Ara sambil tersenyum.
Hans menghubungi asistennya, Keenan, agar menggantikannya meeting dengan klien perusahaan mereka. Ara memerintahkan para maid untuk menyiapkan kamar untuk mertuanya.
Pada siang harinya, Hans bersama ayahnya pergi ke AH Corps. Sedangkan Ara dan Nyonya Charlotte tetap tinggal di mansion. Pasangan menantu dan mertua itu tengah sibuk membuat kue kacang dengan dibantu Bu Indah bersama maid yang lain.
"Kau pintar membuat kue ya, Ra," puji Nyonya Charlotte.
"Ah Mommy terlalu memuji. Kebetulan saja aku suka memasak. Ara dulu sering membantu nenek dan bunda memasak dan membuat kue."
"Hans dan Daddynya pasti senang sekali melihat kue kacang ini, Ra. Karena mereka sangat menyukai kue kacang," ucap Nyonya Charlotte.
Ara hanya tersenyum.
"Apa kau tidak tahu tentang hal itu?" tanya Nyonya Charlotte.
Ara menggeleng pelan.
"Hah, Hans memang seperti itu. Dia bukan tipe orang yang mudah membuka diri dengan orang lain. Dingin dan keras adalah kesan yang selalu dia tampilkan. Tapi Mommy yakin, kau sudah terbiasa dengan sikapnya. Dan Mommy harap kau bisa bersabar menghadapi sikapnya."
Ara mengangguk sambil tersenyum. Dalam hatinya Ara merasa lega karena ibu mertuanya tidak menakutkan seperti bayangannya selama ini. Ara mengira jika hubungan mereka akan canggung seperti hubungannya dengan Hans. Namun pada kenyataannya, Nyonya Charlotte adalah wanita yang baik dan hangat.
"Tapi kuenya kan masih ada yang belum matang, Mom," jawab Ara.
"Kue-kue ini biar jadi urusan Mommy. Kembalilah ke kamar. Atau kau ingin Mommy mengantarkanmu ke kamar?"
Ara langsung menggeleng. "Tidak perlu Mom. Kalau begitu Ara ke kamar dulu."
Ara masuk ke dalam lift dan naik ke lantai dua, lalu bergegas menuju kamarnya.
"Ekhm! Non Ara!" panggil Bu Indah.
"Ada apa Bu Indah?"
"Mulai sekarang kan Non Ara tinggal satu kamar dengan Tuan Hans," ucap Bu Indah mengingatkan.
Ara mendecis. Hampir saja dia lupa. Dengan langkah sedikit malas dia pergi ke kamar Hans. Ara membulatkan matanya saat dia masuk ke dalam kamar. Kamar yang sangat luas, bahkan lebih luas dari kamar miliknya. Ara menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan. Dalam hati dia memuji kamar Hans yang sangat rapi. Lalu, Ara menatap sebuah ranjang besar yang ada di sana. Ara bergidik ngeri membayangkan jika dia harus tidur seranjang dengan Hans.
"Buang jauh-jauh pikiranmu, Ara. Semua itu membuat perutku mual," gumamnya.
Ara yang tak tahan dengan kondisi tubuhnya yang lengket karena keringat segera bergegas menuju kamar mandi. Ara terdiam saat indra penciumannya menangkap aroma maskulin yang menyeruak di seluruh ruang kamar mandi. Perasaan mual yang dia rasakan tadi seketika menguap.
"Seharusnya aku kesal, tapi aku malah menikmati aroma ini," gerutunya dalam hati.
Ara melihat perlengkapan mandinya sudah tersusun rapi di samping milik Hans. Tanpa berbikir panjang dia segera membersihkan tubuhnya dan beristirahat. Hans dan Tuan Narendra tiba di mansion sebelum jam makan malam tiba. Mereka menikmati makan malam bersama dengan penuh kehangatan yang telah lama tidak Ara rasakan.
Benar apa yang dikatakan oleh Nyonya Charlotte, kue kacang buatan mereka langsung didominasi oleh Hans dan Tuan Narendra setelah selesai makan malam. Ara terkesima melihat suami dan ayah mertuanya sangat menikmati kue buatannya. Hans duduk di samping Ara. Sesekali dia melingkarkan tangannya di pinggang dan bahu Ara di depan kedua orang tuanya.
Dalam hatinya, Ara terus menggerutu karena sikap Hans. Namun dia berusaha terlihat senang di depan mertuanya. Hans dan Ara terus menunjukkan kemesraan di depan Tuan Narendra dan Nyonya Charlotte.
"Daddy tidak menyangka jika menantu Daddy yang cantik ini pandai membuat kue. Apa kau tahu Ra, kue kacang ini adalah kue kesukaan Daddy. Dan kue buatanmu ini top sekali," puji Tuan Narendra sambil mengacungkan jari jempolnya.
"Benar kan, Hans?"
"Tentu saja, Dad. Kue buatan istriku memang yang paling enak," sahut Hans sambil menatap Ara lekat.
Seketika jantung Ara berdebar kencang karena mendapat tatapan seintens itu dari suaminya. Ara menjadi salah tingkah. Dia langsung mengalihkan pandangannya. Hans tersenyum tipis.
__ADS_1
"Sudah malam. Sebaiknya kita istirahat sekarang," seru Nyonya Charlotte.
"Hans. Bawa istrimu ke kamar. Ara pasti masih lelah karena tadi sibuk membantu Mommy membuat kue."
"Baik, Mom."
"Ayo sayang kita ke kamar," ajak Hans sambil menggenggam tangan Ara.
Keduanya segera beranjak menuju kamar mereka yang ada di lantai atas. Saat mereka tiba di dalam kamar, Hans langsung melepaskan genggaman tangannya. Ara melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Saat keluar dari kamar mandi, Ara terlihat kesal melihat Hans yang tengah rebahan di atas ranjang.
"Mengapa kau menatapku seperti itu? Ini kamarku. Jangan harap aku akan tidur di sofa," ucap Hans ketus.
Ara membuang napasnya kasar. Dia langsung mengambil bantal dan meletakkannya di atas sofa. Saat Ara akan menjatuhkan tubuhnya, tiba-tiba tubuhnya terasa melayang. Ara membelalakkan matanya begitu menyadari tubuhnya berada di dalam gendongan Hans.
"Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" bentak Ara.
Hans tak bergeming. Dia membawa tubuh Ara dan meletakkan dengan perlahan di atas ranjang.
"Kau tidur di ranjang ini, begitu juga denganku!" perintah Hans.
"Tapi aku...."
"Aku tidak ingin dibantah!" bentak Hans.
Hans meletakkan dua buah guling di antara mereka.
"Sekarang tidurlah. Aku tidak akan melewati batas ini."
Ara mendengus kesal. "Bagaimana mungkin aku bisa mempercayai ucapanmu?"
"Terserah."
Hans segera merebahkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Ara dan menarik selimut sampai menutup dadanya. Ara pun juga merebahkan tubuhnya. Ara berusaha memejamkan matanya, namun tidak bisa. Dia terus bergerak mencari posisi ternyaman.
"Mengapa kau tidak bisa diam? Aku lelah sekali dan butuh istirahat," ucap Hans kesal sambil duduk dan diikuti oleh Ara.
"Aku tidak bisa tidur. Pinggangku sakit. Aku sedang mencari posisi ternyaman. Bukan hanya kau yang lelah, aku juga," jawab Ara ketus.
Hans menghela napas panjang.
"Tidurlah. Aku akan mengusap pinggang dan punggungmu."
"Aku tidak mau. Kau jangan coba-coba berbuat macam-macam padaku. Mentang-mentang orang tuamu ada di sini, kau mau mencari kesempatan," tolak Ara.
"Apa otakmu hanya dipenuhi hal-hal kotor seperti itu? Aku hanya ingin membantumu agar bisa cepat tidur. Supaya aku juga bisa segera istirahat. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu, Ra. Jadi menurutlah," ucap Hans.
Dengan sedikit ragu, Ara merebahkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Hans. Tubuhnya tersentak saat tangan Hans mengusap punggung dan pinggangnya dengan lembut. Tak butuh waktu lama, mata Ara terasa berat. Hans tersenyum tipis saat mendengar dengkuran pelan.
"Tidur yang nyenyak anakku," lirih Hans sambil mengelus perut buncit Ara sebelum dia kembali merebahkan tubuhnya.
Bersambung ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
3. I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author agar semakin bersemangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰
__ADS_1