Terpaksa Menikah : Suami BuleKu

Terpaksa Menikah : Suami BuleKu
Bab 8. Kesepian


__ADS_3

Tuan Narendra dan Nyonya Charlotte memutuskan untuk kembali ke Perancis setelah menghabiskan waktu selama satu bulan di Amerika bersama anak dan menantunya.


"Apa Mommy dan Daddy benar-benar akan kembali ke Perancis secepat ini?" tanya Ara dengan wajah sedihnya.


"Benar sayang. Karena banyak pekerjaan yang harus ayah mertuamu selesaikan. Meskipun Hans sudah ditunjuk sebagai CEO dari HH Corps., akan tetapi tugas utama masih dipegang oleh Daddy Narendra. Karena Hans masih terlalu muda untuk menangani dua perusahaan sekaligus," Nyonya Charlotte menjelaskan.


Ara memeluk ibu mertuanya dengan manja. "Kalau Mommy pergi nanti Ara jadi kesepian."


"Dasar anak manja. Kan masih ada suamimu, Hans, dan Bu Indah. Lagipula jika kau merasa bosan, kau bisa pergi ke mansion Jasmine," ucap Nyonya Charlotte.


Ara memeluk semakin erat.


"Mommy tahu apa yang kau rasakan, sayang. Ini kehamilan pertamamu dan kau berada jauh dari ibumu. Kau pasti merasa takut dan cemas, bukan?"


Ara mengangguk. Nyonya Charlotte tersenyum.


"Mommy juga pernah mengalaminya saat mengandung Helena dulu. Mommy juga tidak bersama ibu Mommy. Karena nenek Hans telah meninggal dunia sebelum Mommy menikah dengan Daddy Narendra."


Ara mengurai pelukannya dan menatap ibu mertuanya tak percaya. Ara merasa tak enak hati.


"Ara minta maaf, Mom," ucapnya.


"Mengapa kau meminta maaf. Kau tidak salah apa-apa, Ra."


Nyonya Charlotte mencubit hidung Ara karena gemas. Ara tersenyum malu.


Keesokan harinya, Hans dan Ara mengantar Tuan Narendra dan Nyonya Charlotte ke bandara. Mata Ara berkedut karena menahan tangis saat ibu mertuanya berpamitan.


"Hati-hati ya Mom, Dad. Saat tiba di Perancis nanti, Mommy harus segera menghubungi Ara ya," ujar Ara sambil memeluk ibu mertuanya.


"Pasti sayang. Begitu kami tiba di sana, Mommy akan langsung menghubungimu."


Ara menyeka air matanya yang mulai menetes.


"Hans! Jaga istri dan calon anak kalian dengan baik ya. Jika kau mengalami masalah, kau bisa menghubungi Daddy," tutur Tuan Narendra.


"Baik Dad. Daddy dan Mommy hati-hati ya. Dan terima kasih kalian sudah menemani kami selama satu bulan ini. Kehadiran kalian telah membuat Ara menjadi lebih ceria dan bahagia," ucap Hans.


Tuan Narendra mengangguk sambil tersenyum. Lalu dia berbisik pada Hans.


"Daddy tahu hubungan kalian masih dingin. Daddy juga tahu jika kalian tidur di kamar yang berbeda."


Hans membulatkan matanya. Tuan Narendra menyinggungkan bibirnya.


"Setidaknya selama satu bulan ini kau bisa merasakan kehangatan pelukan istrimu," tambah Tuan Narendra yang membuat Hans salah tingkah.


Tuan Narendra tak bisa menahan tawanya.


"Kau harus terus berjuang dan jangan pernah menyerah. Daddy yakin suatu saat nanti Ara akan menjadi milikmu sepenuhnya," kata Tuan Narendra untuk menyemangati putranya.


Tuan Narendra dan Nyonya Charlotte berpamitan, lalu masuk ke dalam private jet mereka. Sepeninggal orang tuanya, Hans mengantarkan Ara pulang ke mansion. Terlihat sekali kesedihan di raut wajah Ara.


"Apa kau menginginkan sesuatu? Mumpung kita berada di luar mansion," tanya Hans.


Ara menggelengkan kepalanya. "Antarkan saja aku kembali ke mansion."


Hans melajukan mobilnya. Keheningan menyelimuti keduanya selama dalam perjalanan. Saat tiba di mansion, Ara segera masuk ke dalam kamarnya. Bu Indah dan maid yang lain telah memindahkan barang-barang Ara ke sana. Sedangkan Hans berangkat ke AH Corps karena dia ada pertemuan dengan salah satu klien pentingnya dari Brazil.


Ara senang bisa kembali menempati kamarnya lagi. Namun, hal itu membuatnya semakin kesepian karena dia telah terbiasa berbagi kamar dan tinggal bersama Hans. Banyaknya pekerjaan yang harus Hans selesaikan di perusahaan, membuatnya sering pulang terlambat karena harus lembur bersama anak buahnya. Hal itu membuat Ara kesal karena mansion terasa semakin sepi.


"Apa yang terjadi dengan matamu? Apa kau sakit?" tanya Hans yang sejak tadi memperhatikan mata Ara yang sembab.


Keduanya sedang berada di ruang makan untuk menikmati makan malam mereka.


"Aku baik-baik saja," jawab Ara singkat.


"Apa pinggangmu masih sakit? Apa beberapa malam ini kau tidur dengan nyenyak?" Tanya Hans lagi.


"Ya, begitulah."


Ara fokus dengan santapannya. Hans menghabiskan makanannya dengan cepat. Setelah itu dia beranjak pergi ke ruang kerjanya tanpa berkata apapun lagi. Ara meletakkan sendoknya meskipun makanan di piringnya masih ada. Dia enggan untuk melanjutkan kegiatan makannya. Ara beranjak dari kursinya dan pergi ke dapur untuk mencuci piringnya beserta piring milik Hans.

__ADS_1


"Apa yang Non Ara lakukan? Biarkan Bu Indah yang mencuci piring kotor ini," ucap Bu Indah yang terkejut saat melihat Ara berada di dapur.


"Tidak apa-apa, Bu. Hanya dua piring saja. Aku melakukannya karena bosan," jawab Ara sambil tersenyum.


"Non Ara mau minum sekarang atau nanti?"


"Nanti saja Bu. Aku masih kenyang."


"Oh ya sudah. Nanti Ibu antarkan ke kamar, Non."


"Terima kasih, Bu. Aku ke kamar dulu."


Bu Indah mengangguk sambil tersenyum.


"Ara mana Bu? Bukankah tadi dia masih makan?" tanya Hans.


"Non Ara sudah kembali ke kamar Tuan," jawab Bu Indah.


"Ck.. Dia pasti tidak menghabiskan makanannya."


"Oh ya Bu. Apakah Ara beberapa malam ini bisa tidur dengan nyenyak? Apa dia habis menangis?Aku lihat matanya tadi sembab," tanya Hans bertubi-tubi.


"Alhamdulillah Non Ara tidur dengan nyenyak Tuan. Setiap malam saya selalu mengusap punggung dan pinggang Non Ara sebelum tidur. Saya keluar dari kamar setelah Non Ara tertidur, Tuan," Bu Indah menjelaskan.


"Sepertinya Non Ara memang habis menangis Tuan. Beberapa hari ini Non Ara terlihat murung dan kurang bersemangat. Non Ara merasa kesepian setelah Tuan dan Nyonya Besar tidak berada di mansion ini," tambahnya.


Hans mengangguk pelan.


"Apa ini susu buat Ara?" tanya Hans saat melihat susu yang diletakkan di atas nampan.


"Benar Tuan. Saya hendak mengantarkannya ke kamar Non Ara."


"Biar aku saja yang membawakannya. Bu Indah istirahat saja dan tidak perlu ke kamar Ara."


Hans segera mengambil nampan itu dari atas meja.


"Tapi Tuan," sahut Bu Indah.


"Meskipun Tuan Hans terkesan dingin, namun Tuan Hans perhatian sekali dengan Non Ara. Semoga Tuan Hans dan Non Ara bisa segera saling mencintai dan pernikahan mereka langgeng," gumam Bu Indah yang disertai dengan doa.


Tok... Tok...


"Masuk!" terdengar seruan dari dalam kamar.


Hans membuka pintu lalu menutupnya kembali.


"Letakkan saja susunya di atas meja, Bu. Nanti akan aku minum," ucap Ara.


Ara duduk bersila di atas ranjang. Dia tengah sibuk memijit kakinya yang semakin membengkak sehingga tidak mengetahui jika Hans lah yang masuk ke kamarnya. Karena tidak mendapatkan jawaban, Ara mengangkat wajahnya. Dia terkejut sekali melihat Hans berada di kamarnya.


"Apa yang kau lakukan di kamarku? Mana Bu Indah?" tanya Ara.


"Aku menyuruh Bu Indah untuk beristirahat," jawab Hans sambil meletakkan nampan di atas nakas.


"Terima kasih. Kau bisa keluar sekarang," ucap Ara sedikit ketus.


Bukannya pergi, Hans malah naik ke atas ranjang dan sontak membuat Ara kaget.


"A-apa yang kau lakukan? Turun dari ranjangku sekarang juga!" bentak Ara takut.


"Luruskan kakimu." Hans menarik kaki Ara pelan, namun Ara menolaknya.


"Kau mau apa? Jangan mendekat!"


Hans menghela napas kasar.


"Tenanglah Ra. Percayalah padaku, aku janji tidak akan melakukan sesuatu yang akan menyakitimu. Aku hanya ingin memijat kakimu," ucap Hans dengan nada lembut.


Ara mengerjapkan matanya.


"Saat kita tinggal satu kamar dulu, pernahkah aku melakukan hal buruk yang kau benci? Aku tidak akan berbuat macam-macam."

__ADS_1


Hans menarik kaki Ara perlahan dan menempatkannya di atas pahanya.


"Mengapa kau melakukannya?"


"Karena kau kesulitan untuk memijatnya sendiri. Dan aku adalah suamimu. Aku berkewajiban untuk membantumu," jawab Hans yang membuat Ara terdiam.


"Mengapa kau tidak meminta bantuan orang lain jika kau merasa kesulitan, Ra? Setidaknya kau bisa meminta bantuan kepada Bu Indah atau kepadaku," ujar Hans.


"Bu Indah terlihat lelah sekali. Hari ini banyak pekerjaan rumah yang dia kerjakan. Dan mana mungkin aku berani mengganggumu. Akhir-akhir ini kau sangat sibuk, bahkan terlalu sibuk," ucap Ara sinis.


"Aku minta maaf."


Ara melebarkan matanya. "Untuk apa kau meminta maaf?"


"Maaf jika beberapa hari ini aku harus lembur dan sering pulang malam. Karena banyak pekerjaan di kantor yang harus aku selesaikan. Banyak tender besar yang diambil oleh AH Corps dan juga HH Corps. Aku tahu kau merasa sangat kesepian sekarang karena kepergian Mommy dan Daddy ke Perancis."


"Aku mengerti. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku," kata Ara.


Hans memijat kedua kaki Ara secara bergantian. Tidak bisa dipungkiri jika Ara menikmati pijatan tangan Hans. Tanpa terasa Ara mengukir senyum tipis di bibirnya. Perhatian yang Hans berikan membuat hatinya kesalnya menguap.


"Apa sudah terasa lebih baik?" tanya Hans.


Ara mengangguk. "Terima kasih. Kau bisa keluar sekarang. Bukankah banyak pekerjaan yang harus kau selesaikan? Kau juga harus beristirahat."


"Aku akan pergi setelah memastikanmu tidur."


Hans mengambil segelas susu dan memberikannya kepada Ara. Ara meminum susunya sampai tandas. Hans meletakkan gelas kosong itu kembali ke atas nampan.


"Sekarang berbaringlah dan cari posisi ternyamanmu. Aku akan mengusap pinggang dan punggungmu."


"Tapi Hans!"


"Aku tidak menerima penolakan. Apa kau tega memanggil Bu Indah yang sedang beristirahat sekarang?" sahut Hans.


Ara menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu menurutlah padaku sekarang. Aku pastikan, jika aku tidak akan tidur di ranjangmu." Hans meyakinkan.


Ara yang sudah merasakan tubuhnya lelah pun segera berbaring dengan posisi miring. Hans mengusap punggungnya dengan lembut. Usapan tangan Hans memang yang ternyaman sehingga tak butuh waktu yang lama bagi Ara untuk tertidur dengan pulasnya.


Saat tengah malam, Ara tiba-tiba terbangun. Dia sudah tidak melihat keberadaan Hans di ranjangnya. Dengan perlahan, Ara turun dari ranjang untuk mengambil air di atas nakas. Ara terkejut melihat Hans yang tidur di atas sofa.


"Mengapa dia tidur di sini dan tidak kembali ke kamarnya?" gumam Ara.


Ara berniat untuk membangunkan Hans, namun segera dia urungkan. Hans tidur dengan pulas sekali dan wajahnya terlihat sangat lelah. Tangan Ara terulur dan hendak menyentuh wajah tampan Hans. Tiba-tiba tangan dan tubuh Ara gemetar. Ara seperti dilanda rasa takut yang luar biasa. Ara berjalan mundur dengan perlahan. Dia segera naik ke atas ranjang dan bersembunyi di dalam selimut dengan mata yang mulai berair.


Bersambung ...


...***-❤❤❤-***...


Baca juga novel author :


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku


3. I'm The Unstoppable Queen


Jangan lupa selalu dukung author agar semakin bersemangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2