Terpaksa Menikah : Suami BuleKu

Terpaksa Menikah : Suami BuleKu
Bab 9. Kehilangan Tender Besar


__ADS_3

Hans mengerjapkan matanya lalu menggeliatkan tubuhnya. Hans segera bangun dan melakukan peregangan. Tubuhnya terasa sakit akibat tidur di atas sofa. Semalam dia sempat ketiduran saat mengusap punggung Ara. Hans segera turun dari ranjang dan hendak kembali ke kamarnya. Namun, rasa kantuk yang luar biasa melandanua sehingga membuat tubuh Hans lemas untuk berjalan. Akhirnya Hans memutuskan untuk tidur di atas sofa.


“Kau sudah bangun!” seru Ara yang telah membersihkan diri.


Hans mengangguk pelan.


“Maaf semalam aku kelelahan dan mengantuk sekali, sehingga aku tidur di sini,” ucap Hans.


“Lain kali kau tidak perlu datang ke sini. Aku akan meminta tolong kepada Bu Indah jika membutuhakn bantuan,” kata Ara.


Hans menyerngitkan dahinya. “Apa kau marah karena aku tidur di sini?”


“Bukan karena itu. Bukankah semalam kau mengatakan bahwa pekerjaanmu di kantor sangat banyak, bahkan saat sampai rumah pun kau masih bekerja. Kau butuh waktu untuk istirahat dan tidur dengan baik.” Ara mencoba menjelaskan.


“Baiklah. Jika aku pulang terlambat, Bu Indah yang akan membantu mengusap punggungmu. Tapi jika pekerjaanku selesai lebih cepat, biarkan aku yang melakukannya. Aku tidak meminta banyak darimu, aku hanya ingin dekat dengan anakku. Itu saja.”


Hans langsung pergi tanpa mendengarkan jawaban Ara, yang artinya Ara harus setuju dengan apa yang dikatakan oleh Hans.


Hari telah berganti dengan cepat. Kandungan Ara saat ini sudah memasuki bulan kedelapan. Beberapa kali Ara mengalami kontraksi dan membuat Hans khawatir. Dokter menyarankan agar Ara tidak melakukan banyak aktivitas yang bisa membuatnya kelelahan dan dia harus banyak beristirahat.


“Selamat pagi, Tuan."


"Pagi, Ken."


"Saya ingin mengingatkan bahwa hari ini Anda ada pertemuan penting dengan Tuan Donovan untuk membahas rencana kerjasama antara HH Corps. dengan D’Van Group,” lapor Keenan melalui saluran telepon saat Hans sedang bersiap di kamarnya.


“Baiklah, Ken. Satu jam lagi aku akan tiba di kantor.”


Hans memutuskan panggilan teleponnya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya.


Tok... Tok... Tok...


“Masuk!” seru Hans.


“Tuan Hans!” Bu Indah masuk sambil berlari tergopoh-gopoh mendekat ke arah Hans.


“Ada apa, Bu?”


“Non Ara, Tuan.”


Hans melebarkan matanya. “ Ada apa dengan Ara? Apa dia mengalami kontraksi lagi?”


“Benar Tuan. Tapi kali ini membuat Non Ara sangat kesakitan,” Bu Indah menjelaskan dengan suara bergetar karena menangis.


Hans langsung berlari ke kamar dan mendapati Ara yang sedang meringkuk kesakitan di atas ranjang.


“Ara!”


“Perutku sakit sekali, Hans,” pekik Ara.


“Kita pergi ke rumah sakit sekarang. Bu Indah, suruh sopir untuk menyiapkan mobil.”


Hans langsung membopong tubuh Ara keluar dari kamar dan membawanya masuk ke dalam mobil. Bu Indah juga ikut pergi ke rumah sakit.


“Bertahanlah, Ra. Sebentar lagi kita tiba di rumah sakit,” lirih Hans sambil memeluk Ara yang terus kesakitan.


Saat tiba di rumah sakit, Ara langsung ditangani oleh dokter kandungan dan para perawat. Hans dan Bu Indah menunggu di luar pintu IGD dengan wajah cemas. Ponsel Hans terus berdering. Dia mendapatkan panggilan dari Keenan.


“Halo, Tuan. Anda di mana sekarang? Tuan Donovan sudah tiba di kantor,” tanya Keenan.


“Ken, dengarkan aku. Aku tidak bisa datang ke kantor sekarang. Tolong gantikan aku untuk rapat dengan Tuan Donovan.” Hans menjelaskan.


“Tapi Tuan! Tuan Donovan tidak akan bersedia. Beliau tidak pernah mau melakukan rapat tanpa dihadiri oleh CEO dari perusahaan yang akan bekerjasama dengannya.”


“Aku tahu, Ken. Tapi aku tidak bisa meninggalkan Ara. Saat ini aku berada di rumah sakit. Ara mengalami kontraksi hebat dan saat ini masih ditangani oleh dokter. Tolong sampaikan permintaan maafku kepada Tuan Donovan.”

__ADS_1


“Baik, Tuan. Saya mengerti. Semoga Nyonya Ara dan bayi kalian baik-baik saja.”


“Terima kasih, Ken.”


Hans segera menutup panggilan telponnya begitu melihat dokter keluar dari ruang IGD.


“Bagaimana dokter? Istriku dan bayinya baik-baik saja kan?” tanya Hans.


“Beruntung Tuan membawanya tepat waktu, sehingga istri Anda tidak sampai mengalami pendarahan karena kontraksinya cukup kuat. Saat ini kondisi istri dan bayi Anda baik-baik saja, namun masih harus mendapatkan perawatan secara intensif,” terang sang dokter.


“Lakukan yang terbaik untuk kesehatan dan keselamatan mereka, dokter.”


“Baik, Tuan. Saat ini istri Anda sedang tidur karena efek dari obat yang kami berikan. Dan pada saat istri Anda bangun nanti jangan sampai dia terlalu banyak pikiran agar kondisi tubuhnya bisa segera pulih kembali. Sebentar lagi istri Anda akan diantarkan ke ruang rawatnya.”


“Baik, dokter. Terima kasih banyak,” ucap Hans.


Hans duduk di samping ranjang dan menatap wajah lemah Ara yang masih tertidur. Hari sudah menjelang siang, namun Ara masih setia menutup mata. Bu Indah duduk di sofa sambil terus memanjatkan doa untuk Ara dan bayinya.


“Mmhh...” lenguh Ara dengan suara lirih.


Ara membuka matanya dengan perlahan meskipun masih terasa berat. Dia melihat Hans yang beraut wajah cemas.


"Alhamdulillah kau sudah bangun, Ra. Apa kau merasakan sakit lagi?" tanya Hans.


Ara menyerngitkan dahinya karena kepalanya masih terasa pusing.


“Aku berada di mana sekarang?” tanya Ara.


“Kita berada di rumah sakit. Tadi pagi kau mengalami kontraksi hebat. Apa kau masih ingat?”


Ara membulatkan matanya dan langsung meraba perut buncitnya.


“Alhamdulillah bayi kita baik-baik saja. Kau hanya perlu banyak istirahat.”


Bu Indah yang mengetahui Ara sudah bangun, segera beranjak dari duduknya dan berdiri di sisi ranjang yang lain sambil beruraian air mata.


Ara mengulum senyumnya.


“Ibu tidak perlu cemas lagi. Aku baik-baik saja. Terima kasih karena Ibu selalu berada di samping Ara.”


Ponsel Hans berdering. Ada panggilan telpon dari Tuan Narendra. Wajah Hans langsung terlihat tegang. Hans segera beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan Ara untuk mengangkat telpon dari ayahnya itu.


“Assalamualaikum, Dad.”


“Waalaikumsalam.” Jawab Tuan Narendra.


“Daddy baru saja mendapat laporan jika kau gagal menjalin kerjasama dengan D’Van Group karenq kau tidak hadir pada rapat penting yangbtelah dijadwalkan. Kau tahu kan siapa Tuan Donovan itu? Bagaimana kau bisa kehilangan tender sebesar itu, Hans?” Tuan Narendra sangat marah.


Sebelumnya Hans telah mendapatkan kabar dari Keenan jika Tuan Donovan membatalkan rencana kerjasama antara D’Van Group dengan HH Corps. dikerenakan Hans tidak hadir pada pertemuan penting mereka.


“Benar, Dad. Aku minta maaf," ucap Hans penuh sesal.


"Sekarang jelaskan kepada Daddy, mengapa kau bisa kehilangan tender sebesar itu?" tuntut Tuan Narendra.


"Tadi pagi Ara mengalami kontraksi hebat dan merintih kesakitan. Aku langsung membawanya ke rumah sakit. Beruntung kami tiba tepat waktu sehingga Ara tidak sampai mengalami pendarahan. Aku benar-benar takut, Dad. Aku takut terjadi sesuatu hal yang buruk pada Ara dan bayi kami. Aku menemani Ara di rumah sakit dan tidak datang ke kantor untuk menemui Tuan Donovan." Hans menjelaskan.


"Hans minta maaf, Dad."


"Apa? Ara mengalami kontraksi hebat? Mengapa kau tidak menghubungi Daddy atau Mommy? Bagaimana keadaaan Ara sekarang dan juga bayi kalian? Mereka baik-baik saja kan, Hans?"


"Alhamdulillah Ara dan bayi kami baik, Dad. Ara baru saja bangun. Sejak tadi dia tidur karena pengaruh obat yang diberikan oleh dokter," jawab Hans.


"Mulai sekarang, kau fokus saja dengan kesehatan Ara dan bayi dalam kandungannya. Untuk HH Corps. akan Daddy ambil alih lagi. Dan Daddy akan mengembalikannya kepadamu saat anak kalian sudah lahir dan kau siap mengemban tanggung jawabmu lagi," tutur Tuan Narendra.


"Terima kasih banyak, Dad. Dan maaf untuk tender yang gagal Hans dapatkan," kata Hans.

__ADS_1


"Keluarga jauh lebih penting dari pada sebuah tender. Keselamatan menantu dan calon cucu Daddy jauh lebih berharga. Kehilangan satu tender tidak akan bisa dengan mudahnya menjatuhkan pamor dari HH Corps."


Hans tersenyum mendengar perkataan ayahnya. Setelah cukup lama berbincang, sambungan telpon mereka pun terputus. Hans segera masuk ke ruangan Ara. Ara baru saja minum disuapi Bu Indah.


"Barusan Daddy telpon. Dia menitipkan salam untukmu. Daddy juga mendoakan semoga kau segera sehat kembali," ujar Hans.


"Sampaikan ucapan terima kasihku untuk Daddy," jawab Ara pelan.


Hans mengangguk sambil tersenyum.


Ara harus dirawat di rumah sakit selama tiga hari. Selama itu juga Hans dengan setia menemaninya. Jasmine dan Evan setiap hari datang untuk menjenguk dan juga menggantikan Hans untuk menjaga Ara sebentar. Hari ini Ara sudah diizinkan untuk pulang ke rumah. Keenan yang datang untuk menjemput mereka.


"Hans! Mengapa Bu Indah tadi pulang duluan dan tidak bersama kita?" tanya Ara.


"Aku tidak tahu. Mungkin Bu Indah ada urusan," jawab Hans sedikit acuh sambil terus menatap ponselnya.


"Kenapa sih ini orang? Waktu di rumah sakit saja sikapnya lembut. Tapi sekarang tiba-tiba sedingin kulkas lagi," batin Ara yang kesal dengan perubahan sikap Hans.


Mobil mereka memasuki halaman mansion. Hans membantu Ara turun dari mobil. Bahkan dia tidak melepaskan genggaman tangan Ara dan memapahnya masuk ke dalam mansion.


"Kejutan!"


Ara membulatkan matanya dengan sempurna.


"Bunda," lirihnya sambil menangis haru bercampur senang.


Nyonya Alexa dan Bagas, adik Ara, telah berada di mansion.


"Iya sayang. Ini Bunda, Nak."


Nyonya Alexa langsung memeluk putri kesayangannya.


"Ara sangat merindukan, Bunda," ucap Ara sambil terisak.


"Bunda juga sangat merindukanmu, sayang. Bunda minta maaf karena tidak bisa mendampingimu saat kau sakit," jawab Nyonya Alexa dengan air mata berlinang.


"Tidak apa-apa, Bun. Ara sudah sehat sekarang. Kehadiran Bunda di sini akan membuatku semakin sehat nantinya," ucap Ara sambil terkekeh.


"Kak Ara! Bagas juga kangen."


"Sini, peluk kakakmu. Kakak juga kangen sama kami, Dek." Ara merentangkan tangan kanannya sehingga Bagas ikut berpelukan.


Hans tersenyum tipis. Hatinya senang melihat senyuman bahagia di wajah Ara.


Bersambung ...


...***-❤❤❤-***...


Baca juga novel author :


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku


3. I'm The Unstoppable Queen


Jangan lupa selalu dukung author agar semakin bersemangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖

__ADS_1


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2