
Hans masuk ke dalam kamar dan melihat Ara menangis di atas ranjang. Hans menghela napas panjang. Kebenaran tentang kejahatan Mira pasti sangat menyakiti perasaannya. Hans melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
"Sejak kapan kau mengetahuinya? Sejak kapan kau tahu jika Mira adalah dalang dari semua ini?" tanya Ara membuat Hans menghentikan langkahnya.
"Tidak penting sejak kapan aku tahu. Yang terpenting adalah kau sudah tahu kebenarannya. Dan tragedi pada malam itu bukan sepenuhnya kesalahanku. Kesalahanku mengambil minumanmu dan meneguknya," jawab Hans.
Hans segera masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya. Ara terdiam sambil terus menangis.
Satu minggu telah berlalu. Di hadapan mertua dan adik iparnya, Hans mengutarakan niatnya untuk membawa Ara ke Amerika karena dia tidak bisa meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang CEO terlalu lama. Tuan Bayu dan Nyonya Alexa setuju. Mereka yakin jika Hans pasti akan menjaga anak dan calon cucu mereka dengan baik. Namun tidak dengan Ara. Ara merasa keberatan jika harus tinggal jauh dari keluarganya.
"Apa aku tidak bisa tinggal di sini saja?" protes Ara tak terima.
"Tidak bisa, Ra. Sekarang kau sudah menjadi istriku. Kau dan calon anak kita menjadi tanggung jawabku sekarang. Supaya aku bisa menjaga dan memastikan kesehatan kalian dengan baik," jawab Hans.
"Di sini ada Ayah, Bunda dan keluarga besarku. Kau tidak perlu khawatir. Mereka pasti akan menjagaku dan bayi dalam kandunganku dengan baik," sahut Ara dengan nada sinis.
"Ara. Jaga sikapmu. Hans itu suamimu," tegur Tuan Bayu.
"Mengapa kalian selalu memikirkan perasaan dia, tetapi tidak ada memikirkan bagaimana perasaanku. Apa aku juga tidak berhak untuk memiliki keinginan sendiri? Apa kalian sudah tidak menyayangiku lagi?" ucap Ara sambil menahan tangis.
"Bukan seperti itu, Ara sayang. Kami semua sangat menyayangimu. Tapi sekarang kau sudah menikah. Sudah sepatutnya seorang istri itu tinggal bersama suaminya," tutur Nyonya Alexa.
Ara langsung pergi meninggalkan ruang keluarga dengan perasaan marah.
"Ara!" panggil Tuan Bayu.
"Suamiku tenanglah. Aku akan berbicara dengan Ara dan membujuknya."
Nyonya Alexa segera mengejar putrinya.
"Maafkan sikap Ara, Hans. Ayah harap kau bisa bersabar menghadapinya," ucap Tuan Bayu.
"Iya, Yah. Hans tahu apa yang Ara rasakan saat ini. Ara pasti berat berpisah dengan kalian. Tapi, Hans juga tidak bisa terlalu lama meninggalkan pekerjaan Hans di sana," ujar Hans.
Nyonya Alexa menghampiri Ara yang sedang menangis di taman. Dia duduk di samping Ara.
"Ara." Nyonya Alexa menyentuh bahu Ara.
Ara menoleh dan langsung memeluk ibunya.
"Ara tidak ingin pergi, Bun. Ara tidak ingin berpisah dengan Ayah, Bunda, dan Bagas," ucapnya sambil terisak.
"Bunda tahu sayang. Itu pasti berat untukmu. Dan itu juga berat untuk Ayah dan Bunda berjauhan darimu. Karena selama ini kau tidak pernah berjauhan dari kami. Tapi keadaannya sudah berbeda. Kau sudah menjadi seorang istri dan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Istri itu adalah pendamping suami. Di manapun suamimu tinggal kau harus ikut dan mendampinginya," nasihat Nyonya Alexa.
"Sekarang Hans yang lebih berhak atas dirimu. Dan Bunda yakin Hans adalah pria yang baik. Dia akan menjadi suami dan ayah yang baik nantinya. Buktinya dia tidak lari dari tanggung jawab. Bunda Ayah dan Bagas nanti akan mengunjungi ke sana."
"Bunda janji?" seru Ara.
Nyonya Alexa mengangguk. "Bunda dan Ayah kan juga ingin bertemu dengan cucu kami nantinya."
Ara tersenyum simpul saat ibunya mengelus perutnya.
"Sudah jangan menangis lagi. Sebaiknya kita kembali ke ruang keluarga. Hans dan Ayahmu pasti sangat mencemaskanmu," ajak Nyonya Alexa.
"Bunda saja yang kembali ke sana. Aku masih ingin di sini, Bun," jawab Ara.
Nyonya Alexa mengangguk dan segera kembali ke ruang keluarga untuk memberitahu bahwa Ara sudah setuju pergi ke Amerika.
"Apa kau puas sekarang?" tanya Ara dengan nada sinis saat keduanya telah berada di kamar.
"Ya. Jika itu jawaban yang kau inginkan," jawab Hans malas.
Ara mendengus kesal. "Kapan kita akan berangkat?"
"Besok pagi kita akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisimu dan calon anak kita. Jika semua baik, lusa kita akan berangkat ke Amerika," jawab Hans.
__ADS_1
Keesokan harinya, Hans dan Ara pergi ke rumah sakit milik Helena (kakak Hans) dan didampingi Nyonya Alexa. Dokter obgyn segera memeriksa kandungan Ara. Dokter menyampaikan jika kondisi Ara dan calon bayinya dalam keadaan baik, sehingga diperbolehkan untuk melakukan perjalanan jauh. Dan sesuai dengan apa yang Hans katakan sebelumnya, dua hari kemudian mereka berangkat ke Amerika menggunakan private jet milik keluarga Hermawan. Ara tak bisa menahan tangisnya saat berpamitan dengan orang tuanya.
"Ayah, Bunda, Ara pamit. Kalian janji ya akan mengunjungiku di sana," ucapnya sambil memeluk kedua orang tuanya.
"InsyaAllah, Nak. Nanti jika Ayah sedang tidak sibuk, Ayah akan membawa Bunda dan adikmu, Bagas, pergi ke Amerika dan mengunjungi kalian," jawab Tuan Bayu.
"Kakak baik-baik ya di sana. Kakak juga harus sering mengabariku," ucap Bagas sambil menyeka air matanya.
Ara langsung memeluk adiknya dengan erat. "Kakak janji akan sering menghubungimu nantinya. Kakak pasti akan sangat merindukanmu."
"Hans. Ayah dan Bunda titip Ara ya. Kami mohon jagalah Ara dengan baik," ucap Tuan Bayu.
"Ayah dan Bunda tidak perlu cemas."
Hans memeluk ayah mertuanya. Hans dan Ara masuk ke dalam pesawat. Keduanya duduk dengan posisi berhadapan. Ara masih setia dengan tangisnya. Tak lama kemudian, pesawat itu lepas landas. Hans mengeluarkan ipadnya dan mengecek semua laporan yang dikirimkan oleh Keenan, asistennya.
"Mau sampai kapan kau akan menangis seperti anak kecil?" tanya Hans kesal.
Pasalnya tangis Ara telah mengganggu konsentrasinya. Ara tidak menjawab dan terus menatap ke luar jendela. Hans mendengus kesal karena Ara mengabaikannya.
"Apa Nona mau minum sesuatu?" tanya seseorang yang membuat Ara tersentak.
Ara menolehkan wajahnya.
"Bu Indah!" seru Ara.
"Iya Non. Ini saya, Bu Indah," jawab Bu Indah sambil tersenyum.
"Sini Bu. Duduk sama Ara."
Bu Indah segera duduk di samping Ara.
"Mengapa Bu Indah bisa berada di sini? Apa Bu Indah juga ikut ke Amerika dan tinggal bersamaku?" tanya Ara penasaran.
"Pasti Ayah dan Bunda yang meminta Ibu untuk ikut supaya aku tidak kesepian nantinya. Karena ada Bu Indah yang akan menemaniku," ucap Ara penuh semangat.
"Sebenarnya Tuan Hans lah yang telah meminta kepada Tuan dan Nyonya besar agar Ibu diizinkan ikut tinggal di Amerika dan menemani Non Ara selama di sana," jawab Bu Indah.
"Hans," cicit Ara.
Bu Indah mengangguk.
Dalam hati Ara senang sekali karena dia tidak akan kesepian selama di sana. Mau tidak mau dia harus mengucapkan terima kasih kepada Hans.
"Terima kasih," ucapnya pelan.
Hans tak menjawab. Dia tetap fokus pada ipadnya.
"Cih. Menyebalkan sekali. Dasar bule sombong," ejek Ara.
"Non." Bu Indah mengingatkan Ara.
Ara mendengus kesal.
"Terima kasih," ucap Ara sambil berteriak.
Hans mengangkat wajahnya dan menatapnya sekilas.
"Hmm." Hanya itu jawaban yang keluar dari bibir Hans, lalu dia fokus kembali dengan pekerjaannya.
"Cih. Pria sombong yang menyebalkan," umpat Ara dalam hati.
"Jangan mengumpatiku dalam hati. Nanti kau bisa jatuh cinta berat padaku," celetuk Hans yang membuat wajah Ara memerah.
Ingin rasanya Ara mencakar-cakar wajah Hans. Saat mereka tiba di Amerika, Jasmine dan Evan telah berada di bandara. Mereka sengaja datang ke bandara untuk menyambut kedatangan Hans dan Ara.
__ADS_1
"Selamat datang Ara," sambut Jasmine sambil memeluk adik sepupunya itu.
"Terima kasih, Kak. Terima kasih sudah repot-repot menyambut dan menjemputku," ucap Ara.
Hans dan Evan juga saling berpelukan.
"Tidak masalah, Ra. Kakak senang kok. Kakak minta maaf ya tidak bisa menghadiri pernikahan kalian, karena kakak belum berani membawa si kembar pergi jauh," ucap Jasmine
Jasmine dan Evan mengantarkan sampai ke mansion Hans. Ara dan Bu Indah terkesima melihat mansion mewah milik Hans. Ara mengira mereka akan tinggal di sebuah apartemen atau rumah yang tak cukup besar, seperti yang biasa dia lihat di film. Dan ternyata mereka akan menempati rumah sultan.
"Apa kalian tidak mau mampir dulu?" tanya Hans.
"Lain kali saja. Twins F pasti sudah merindukan Mamanya," jawab Evan.
Selepas kepergian Jasmine dan Evan, Hans membawa Ara dan Bu Indah masuk ke dalam mansion. Mereka naik ke lantai atas.
"Itu kamarmu," tunjuk Hans.
Ara menyerngitkan dahinya.
"Dan kamarku ada di sebelahnya. Aku sengaja membuat kamar kita bersebelahan supaya jika suatu saat nanti keluarga kita datang dan menginap, tidak butuh waktu lama untuk memindahkan barang-barangmu ke kamarku. Dan kamar Bu Indah ada di lantai bawah bersama para maid yang lain."
Ara hanya mengangguk dan langsung masuk ke dalam kamarnya diikuti Bu Indah. Dengan dibantu Bu Indah, Ara menata baju dan barang miliknya. Selesai menata barang, Bu Indah pergi ke kamarnya. Ara berdiri dan menatap keluar jendela.
"Baru juga tiba di sini, tapi aku sudah merindukan Ayah, Bunda dan Bagas," lirihnya.
Ara membaringkan tubuhnya di atas kasur empuknya. Kehamilan membuatnya sering merasa lelah. Tak butuh waktu lama untuknya tidur dengan lelap. Sedangkan Hans sudah berkutat dengan pekerjaannya sambil melakukan panggilan video dengan Keenan.
"Ken, apa kau sudah mempersiapkan semua yang aku perintahkan?" tanya Hans.
"Sudah, Tuan. Saya sudah mempersiapkan dokter kandungan terbaik dan semua kebutuhan Nyonya Muda dan calon bayinya. Selain itu, saya juga sudah memerintahkan beberapa anak buah kita untuk menjaga Nyonya dari jarak jauh," jawab Keenan.
"Kerja bagus, Ken. Sampai bertemu besok pagi. Dan terima kasih banyak," ucap Hans.
"Baik, Tuan."
Hans memutuskan panggilan video mereka.
"Selamat datang di duniaku, istri ketusku. Aku ingin tahu sampai berapa lama kau akan bertahan dengan sikap dingin dan ketusmu itu," gumam Hans sambil tersenyum tipis.
Bersambung ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
3. I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author agar semakin bersemangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰
__ADS_1