
Keesokan paginya, Ara bangun dan sudah tidak mendapati suaminya di kamar. Bantal dan selimut yang semalam dipakai oleh Hans juga sudah tertata rapi.
"Pergi ke mana dia?" gumamnya.
Ara tak mau ambil pusing. Dia segera beranjak dari tempat tidur dan membersihkan diri.
"Wah harum sekali. Bunda masak apa hari ini?" tanya Ara yang sudah tiba di dapur.
"Bunda hanya membuat sayur asem dan sambal pesanan adikmu. Itu Bu Indah lagi masak semur daging kesukaanmu," jawab Nyonya Alexa.
"Aku tidak mau semur daging Bun, bau. Aku makan sama sayur asem saja," ucap Ara sambil menatap sayur asem buatan ibunya dengan mata berbinar.
"Ayah mana Bun?"
"Ayahmu sudah pergi ke kantor tadi karena ada rapat penting pagi ini. Oh ya, Ra. Bu Indah tadi bilang jika suamimu pagi-pagi sekali sudah keluar. Memangnya Hans pergi ke mana?"
Ara mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tahu, Bun."
"Apa Hans tidak pamit padamu sebelum dia pergi?" tanya Nyonya Alexa sambil menyerngitkan dahinya.
"Tidak Bun. Waktu Ara bangun tadi, dia sudah tidak ada," jawab Ara cuek.
"Ra, sekarang kan Hans sudah menjadi suamimu. Jangan bersikap ketus dan dingin lagi padanya. Mungkin kau belum mencintainya saat ini, tapi kau tetap harus bersikap baik dan hormat kepada suamimu. Hans itu pria yang baik. Buktinya dia tidak lari dari tanggung jawab atas dirimu dan calon bayi kalian," tutur Nyonya Alexa.
Ara terdiam.
"Apa kau mendengarkan ucapan Bunda?"
"Iya Bun," jawab Ara sambil memaksakan senyumnya.
Sebuah mobil memasuki halaman markas milik keluarga Alvaro. Hans keluar dari dalam mobil bersama kakak iparnya, Axel. Seorang pria berwajah tampan khas Indonesia menyambut kedatangan keduanya.
"Apa anak buahmu berhasil menangkapnya Bima?" tanya Axel.
"Sudah Bos. Sejak semalam dia telah berada di markas kita dan terus menangis minta dibebaskan," jawab Bima sambil tertawa pelan.
"Kerja bagus, Bima," puji Hans.
"Terima kasih, Tuan Hans. Mari saya antarkan Anda berdua ke ruangannya," ujar Bima.
Hans dan Axel berjalan mengikuti langkah Bima menuju sebuah ruangan. Terdengar teriakan memohon agar dibebaskan yang disertai dengan tangisan dari dalam ruangan itu. Bima membuka pintu ruangan itu, dan masuklah ketiganya ke dalam. Terlihat seorang wanita yang duduk dalam keadaan terikat di sebuah kursi menangis ketakutan. Dia adalah Mira, sahabat Ara.
"Aku mohon, jangan sakiti aku Tuan. Aku tidak mengenal kalian dan aku juga tidak memiliki masalah dengan kalian. Aku mohon, lepaskan aku," mohon Mira dengan berurai air mata.
Hans menunjukkan wajah dinginnya. Hans duduk bersama Axel tak jauh dari tempat Mira. Sedangkan Bima berdiri di samping Axel.
"S-siapa kalian sebenarnya?" tanya Mira.
"Kau mungkin tidak mengenal kami, tapi kau pasti sangat mengenal Andara Gantari Saputra. Atau yang biasa kau panggil dengan nama Ara," jawab Hans.
Mira membelalakkan matanya.
"Ya aku kenal dengan Ara. Dia adalah sahabat baikku," aku Mira.
Hans menyunggingkan bibirnya.
"Cih. Sahabat baik kau bilang. Dasar munafik. Seorang sahabat tidak akan pernah mencelakai dan menyakiti," ucapnya sinis.
Mira mengerjapkan matanya. "A-apa maksud ucapanmu itu? Aku tidak mengerti. Dan apa hubunganmu dengan Ara? Setahuku Ara benci dengan pria berwajah bule."
"Aku Axel, kakak sepupu Ara," ucap Axel yang membuat Mira melebarkan matanya.
"Sedangkan aku Hans. Aku adalah pria yang terjebak bersama Ara di kamar hotel itu. Dan sekarang telah berstatus sebagai suami Ara," ucap Hans tajam.
"S-suami Ara?" pekik Mira dengan wajah yang semakin ketakutan.
"Benar. Dan kau adalah orang yang telah membuat kami melangsungkan pernikahan. Kau adalah orang yang telah menjebak Ara," teriak Hans sambil mengeraskan rahangnya.
"I-itu tidak benar. A-aku, aku t-tidak mengerti maksud ucapanmu," kilah Mira sambil terbata-bata.
"Kami mempunyai semua bukti dan kau tidak akan pernah bisa berkilah. Rekaman CCTV yang ada di tempat pesta itu, juga obat perangsang yang kau sembunyikan di dalam tasmu. Kami mengetahuinya segalanya jal @ng," tegas Axel yang membuat Mira ternganga.
"Aku sebagai kakaknya Ara, tidak akan pernah menerima semua kejahatan yang telah kau lakukan kepadanya. Aku akan menghancurkan keluargamu. Akan kubuat kalian hidup menggelandang!" ancam Axel.
__ADS_1
"Tidak. Aku mohon jangan sakiti keluargaku, Tuan," pinta Mira.
"Tapi kau yang lebih dulu menyakiti saudariku!" bentak Axel.
Tangis Mira semakin pecah. Dia takut jika Axel benar-benar akan menghancurkan keluarganya. Terlihat sekali jika Axel dan Hans, suami Ara, bukanlah orang sembarangan.
"Aku mohon Tuan jangan sakiti keluargaku. Aku mengaku salah karena telah berbuat jahat kepada Ara. Tapi aku mohon jangan lampiaskan kemarahan kalian kepada keluargaku. Aku benar-benar menyesal, Tuan," mohon Mira.
"Menyesal kau bilang? Penyesalanmu tidak akan mengembalikan semua yang telah terjadi!" bentak Hans yang membuat Mira terdiam.
"Mengapa kau tega melakukannya? Kau tega menyakiti seseorang yang menyayangimu seperti saudaranya sendiri!" cerca Hans dengan wajah memerah.
Mira menangis sesenggukan.
"Mengapa kau diam?" tanya Axel.
"Aku terpaksa melakukannya, karena aku mencintai Beryl. Akulah yang pertama kali mengenal Beryl dan jatuh hati padanya," jawab Mira jujur.
"Hanya demi mendapatkan seorang pria, kau tega berbuat sekeji itu. Bagaimana jika malam itu Ara tidur bersama pria lain yang tidak dia kenal? Bagaimana jika dia sampai hamil dan tidak tahu siapa ayah dari anak yang dikandungnya? Kau bukan hanya menghancurkan tubuh Ara, tapi juga hati dan mentalnya." Axel terlihat sangat marah.
"Aku minta maaf. Aku benar-benar menyesal. Akau mohon ampunilah aku," ucap Mira penuh penyesalan.
"Meminta ampunlah pada Ara. Karena dialah yang paling menderita dan dirugikan karena perbuatan busukmu," tegas Hans.
Ara berjalan menuruni tangga menuju ruang tamu. Ara terkejut mengetahui keluarganya telah berkumpul di sana. Hans dan Axel juga telah berada di sana. Ara semakin dikejutkan dengan keberadaan Mira di sana dalam keadaan menangis dan langsung menghampirinya.
"Mira. Kamu ke mana saja? Aku tidak menghubungimu. Dan mengapa kau menangis? Apa ada orang yang berusaha menyakitimu? Katakan padaku, siapa orang yang telah berani menyakiti sahabatku?" Ara langsung memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.
Mira terdiam dan tangisnya semakin pecah membuat Ara semakin bingung. Hans mendengus kesal. Ara yang mendengarnya langsung menatap ke arahnya.
"Ada apa ini sebenarnya? Apa kau yang telah membuat sahabatku menangis?" tuduh Ara kepada Hans sambil membentak.
Hans mengatupkan bibirnya dan mengabaikan tuduhan Ara. Dia tidak ingin tersulut emosi di depan keluarga istrinya.
"Jaga bicaramu saat berbicara dengan suamimu, Ara!" bentak Tuan Bayu.
Ara hendak protes, namun Nyonya Alexa memberinya isyarat dengan menggelengkan kepalanya.
"Jawab pertanyaan Ara, sebelum dia semakin salah paham!" perintah Axel kepada Mira.
"Aku mohon katakan Mir, apa yang sebenarnya terjadi? Dan kesalahpahaman apa yang dikatakan oleh Kak Axel?"
Mira mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Ara.
"Ra. Aku minta maaf," ucapnya dengan bibir bergetar.
Ara menggenggam tangan Mira. "Minta maaf? Untuk apa?"
Mira mengusap air matanya dan menarik napas panjang.
"Aku minta maaf karena akulah yang telah menjebakmu pada malam itu," aku Mira.
Tuan Bayu dan Nyonya Alexa terbelalak.
Ara mengerjapkan matanya. "A-apa maksud dari ucapanmu itu?"
"Aku telah mencampurkan obat perangsang ke dalam minumanmu saat di pesta pernikahan Anne dan Ian."
Genggaman tangan Ara seketika terlepas dan dia berjalan mundur secara perlahan.
"Aku minta maaf, Ra. Aku benar-benar menyesal," ucap Mira memohon.
"I-itu tidak benar kan. Kau adalah sahabatku, teman baikku. Kau tidak mungkin tega melakukannya kepadaku."
"Aku minta maaf, Ra. Aku benar-benar minta maaf," lirih Mira dengan air mata yang keluar semakin deras membasahi pipinya.
Tubuh Ara gemetar dan hampir limbung. Nyonya Alexa dengan sigap menopangnya dari belakang.
"Mengapa? Mengapa kau tega melakukannya padaku, Mir?" tanya Ara yang ingin tahu alasan Mira tega menjebaknya.
"Karena aku iri padamu, Ra. Aku iri melihatmu bersama Beryl. Aku, aku mencintai Beryl. Itu jauh sebelum kau mengenalnya. Dan aku ingin hubungan kalian berakhir," jawab Mira terus terang.
Plak!!!
__ADS_1
Ara menampar wajahnya dengan keras.
"Jika kau menginginkan Beryl, kau bisa mengatakannya padaku. Seandainya kau mau jujur tentang perasaanmu pada Beryl, maka aku akan mundur Mir. Karena bagiku sahabatku lebih berharga daripada seorang Beryl. Kau benar-benar jahat, Mira. Kau tega menghancurkanku dan masa depanku."
Mira membelalakkan matanya. Hatinya semakin merasa bersalah. Dalam hati dia merutuki kebodohannya. Karena ambisi dan obsesinya kepada Beryl, dia tega menjahati sahabat sebaik Ara. Air mata Ara tumpah seketika. Ara menangis di dalam pelukan ibunya. Hatinya semakin hancur setelah mendengar pengakuan dari Mira. Ara tak menyangka jika sahabatnya sendirilah yang telah menjerumuskannya ke dalam lumpur dosa.
"Kau sudah mengakui kesalahanmu. Dan kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Aku akan membawa masalah ini ke jalur hukum supaya kau bisa mendapatkan hukuman sesuai dengan kejahatan yang telah kau lakukan," ucap Tuan Bayu sambil menahan emosi.
"Aku setuju, Uncle. Dia harus mendapatkan hukuman." sahut Axel.
"Bima! Bawa wanita ini ke kantor polisi. Akan aku pastikan dia akan mendekam di penjara."
Mira hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia sudah pasrah jika keluarga Ara akan membawa masalah ini ke kantor polisi. Bima segera menarik tubuh Mira dan akan membawanya ke kantor polisi.
"Tunggu!" teriak Ara.
"Ada apalagi, Ra?" tanya Axel.
"Jangan laporkan dia ke polisi."
"Tapi, Ra," protes Tuan Bayu.
"Ara mohon Yah. Ara tidak ingin semakin banyak orang tahu tentang masalah ini. Aku tidak akan sanggup menahan rasa malu yang lebih besar lagi."
Tuan Bayu langsung memeluk putrinya.
Ara mengurai pelukan keduanya dan menatap ke arah Mira.
"Aku tidak akan melaporkanmu ke polisi. Tapi mulai sekarang persahabatan kita telah berakhir. Aku tidak sudi berteman dengan orang jahat sepertimu. Dan setelah ini, jangan pernah menunjukkan wajahmu di hadapanku."
Mira semakin merasa bersalah. Hati kecilnya terasa sakit saat Ara memutuskan hubungan mereka.
"Terima kasih, Ra. Dan aku menyesal. Aku benar-benar minta maaf padamu," ucap Mira.
"Kak Axel. Segera bawa dia pergi dari hadapanku," pinta Ara tanpa melihat ke arah Mira.
Axel segera meminta anak buahnya utuk membawa Mira dari hadapan Ara. Setelah Mira pergi, Ara segera kembali ke kamarnya sengan amarah yang masih menyelimuti dirinya.
Axel mengambil ponselnya.
"Bagaimana, Will?" tanya Axel.
"Berjalan dengan baik, Bos. Semua kolega dan rekan kerja dari PT. Arjuna telah memutuskan kontrak kerja mereka. Sudah dipastikan tak lama lagi PT. Arjuna akan gulung tikar hari ini," jawab William, asisten Axel.
"Pastikan Mira dan keluarganya hidup menderita untuk mengganti setiap rasa sakit Ara rasakan. Kalau perlu ratakan saja bangunan PT. Arjuna. Itu adalah hukuman yang harus mereka jalani," pungkas Axel sambil menyeringai.
Bersambung ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author agar semakin bersemangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
__ADS_1
Terima kasih🙏🥰