Terpaksa Menikah : Suami BuleKu

Terpaksa Menikah : Suami BuleKu
Bab 7. Ngidam Terang Bulan Bandung


__ADS_3

Ara menggeliatkan tubuhnya sambil mengukir senyum di bibirnya. Rasanya sudah lama sekali dia tidak tidur senyenyak ini.


"Ara bangun!" teriak Hans yang merusak kesenangan Ara pagi ini.


Ara mengerjapkan matanya pelan. Dia ingat jika dia sedang tidur di kamar Hans.


"Kalau kau mau bangun, ya bangun saja sendiri sana! Aku masih ingin tidur," ucap Ara dengan suara parau khas orang bangun tidur sambil menutup matanya lagi.


"Bagaimana aku bisa bangun kalau kau terus memelukku seperti ini?" sahut Hans dengan nada kesal.


Ara langsung membuka matanya lagi. Ara terbelalak saat menyadari dirinya memeluk tubuh Hans dengan sangat erat. Ara mengira jika dirinya tengah memeluk guling. Ara berusaha duduk sambil memegang perutnya.


"Apa yang kau lakukan padaku? Mengapa tubuhmu merapat padaku?" bentak Ara.


Hans segera ikut duduk. Hans menjentikkan jarinya di depan mata Ara.


"Hei. Buka matamu lebar-lebar. Lihatlah siapa yang mendekat? Aku atau kau? Posisiku masih sama seperti semalam. Dirimu yang salah malah menuduh orang lain." Sahut Hans tak terima.


Ara melihat ke sekeliling ranjang. Ara melebarkan matanya tak percaya. Dua guling yang menjadi pembatas bagi keduanya sudah tidak berada di tempatnya, namun berada di atas lantai.


"T-tidak mungkin aku yang melakukannya," cicit Ara.


"Hahhaa... Lucu sekali," ejek Hans.


Hans segera turun dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi. Sedangkan Ara masih terpaku dengan apa yang telah terjadi.


"J-jadi yang aku peluk sejak semalam itu bukan guling, tapi tubuh Hans," gumamnya.


"Hahh! Apa yang sudah aku lakukan? Mau ku taruh mana mukaku? Memalukan sekali."


Ara menarik selimut dan membungkus tubuhnya dari atas sampai bawah. Hans yang baru saka keluar dari kamar mandi tersenyum tipis melihat kelakuan istrinya.


"Apa yang kau lakukan? Cepat bangun dan mandi. Jangan jadi wanita malas. Aku tidak ingin anakku menjadi pemalas nantinya."


"Siapa yang kau bilang malas, Hah?!" teriak Ara sambil bangun dan membuka selimutnya.


Glek...


Ara mendelik sambil menelan salivanya kasar. Seketikan lidahnya terasa kelu begitu menatap pemandangan indah dari tubuh atletis Hans yang hanya terbungkus handuk yang dililitkan di pinggang. Ditambah dengan kondisi rambut dan wajah Hans yang masih basah membuatnya terlihat sangat seksi.


"Mau sampai kapan mulutmu akan menganga seperti itu?" bentak Hans membuat Ara tersentak.


"Aaaahh.. Apa kau tergiur untuk menyentuh tubuhku indahku ini, istriku?" tanya Hans dengan senyum mesumnya.


Wajah Ara langsung memerah. Dia mengambil bantal dan melemparnya ke wajah Hans.


"Cih. Aku tidak sudi!"


Ara langsung keluar dari kamar Hans dan pergi ke kamarnya dengan wajah marah seperti udang rebus. Hans tertawa terbahak-bahak. Menurutnya wajah istrinya saat ini benar-benar menggemaskan. Setelah selesai bersiap, Hans segera keluar dari kamarnya dan dikejutkan dengan suara tangisan dari lantai bawah.


"Siapa yang sedang menangis?" gumam Hans.


"Sepertinya itu suara, Ara," terdengar sahutan Tuan Narendra.


"Ara?" cengo Hans.


"Apa yang sudah kau lakukan pada menantu Daddy, Hans?" tanya Tuan Narendra.


"Maksud Daddy apa? Aku tidak melakukan apa-apa. Tadi dia masih baik-baik saja," ucap Hans kesal.


"Ya mana Daddy tahu? Mungkin saja kau terlalu banyak meminta jatah semalam," sahut Tuan Narendra dengan santainya.


"Jatah dari mana? Menyentuhnya saja tidak pernah, kecuali dipeluk tanpa sadar," gerutu Hans pelan.


"Kau bilang apa barusan?"


"Oh... Itu mungkin Ara mengeluhkan pinggangnya yang sakit. Akhir-akhir ini Ara sering mengeluh sakit pinggang. Kan perutnya semakin membesar," ujar Hans sambil memaksakan senyumnya.


"Tuh kan. Daddy sudah bilang jangan menuntut jatah terlalu banyak. Kau harus mengerti kondisi istrimu yang kandungannya semakin besar. Kau juga tidak boleh bermain kasar, harus pelan dan penuh kelembutan. Hal seperti itu saja masih harus Daddy ajari."


Tuan Narendra berjalan mendahului Hans yang menahan kesal dalam hatinya. Hans pun segera bergegas. Dia khawatir jika terjadi sesuatu pada Ara dan calon bayi mereka.


"Apa yang terjadi istriku? Mengapa Ara menangis?" tanya Tuan Narendra kepada istrinya.


Hans langsung mendekati istrinya.


"Apa pinggangmu sakit lagi? Sebaiknya kita pergi ke dokter sekarang," tanya Hans penuh perhatian.


Ara menggeleng sambil terus menangis.


"Ara menangis bukan karena pinggangnya sakit, Hans. Tapi istrimu sedang ngidam," ujar Nyonya Charlotte.


"Ngidam air mata?" tanya Hans dengan wajah polosnya.


Plak! (Tuan Narendra memukul kepala Hans)


"Dasar bodoh. Mana ada wanita hamil ngidam air mata!"

__ADS_1


"Memangnya kau ngidam apa, Ra?" tanya Hans sambil memegang kepalanya yang sakit.


"Aku ingin makan terang bulan Bandung," jawab Ara sambil terisak.


"Apa? Terang bulan Bandung? Apa kau sudah gila?" teriak Hans.


Ara menangis semakin keras.


"Dasar anak bodoh. Beraninya kau membentak menantu Daddy dan Mommy! Apa kau ingin Daddy memukul kepalamu lagi supaya otakmu berfungsi dengan baik?" marah Tuan Narendra.


"Hans hanya tidak habis pikir Dad. Bagaimana bisa dia menginginkan makanan yang mustahil ada di negara ini? Mengapa kau tidak meminta burger, pizza, salad, sushi, frech fries atau apalah yang ada di sini," ucap Hans emosi.


"Aku tidak mau. Aku hanya ingin terang bulan Bandung. Ini keinginan anakmu, bukan keinginanku. Mengapa kau marah padaku?" Ara tidak terima Hans memarahinya.


Hans menyugar rambutnya kasar.


"Mau tidak mau kau harus memenuhi keinginan Ara, Hans," tutur Nyonya Charlotte.


"Tapi Mom? Di mana aku bisa mendapatkan terang bulan Bandung di Amerika?" sahut Hans.


"Daripada kau terus mengomel, sebaiknya kau segera pergi dan dapatkan terang bulan itu bagaimanapun caranya!" perintah Tuan Narendra.


Hans membuang napasnya kasar. Dia segera pergi sambil menghubungi asistennya.


"Keenan, batalkan semua jadwal meeting hari ini. Hubungi semua anak buahmu dan perintahkan mereka untuk mencari terang bulan Bandung ke seluruh pelosok negara ini!" perintah Hans.


"A-apa Tuan? Terang bulan Bandung? Benda seperti apa itu?" tanya Keenan tak mengerti.


"Itu adalah salah satu makanan khas Indonesia. Gunakan ponsel pintarmu untuk mengetahui makanan itu. Aku tidak mau tahu kalian harus mendapatkan makanan itu secepatnya."


"Baik, Tuan."


Hans mengendarai mobilnya sambil mengaktifakn GPS untuk mencari keberadaan penjual terang bulan yang ada di sekitar tempat tinggalnya, dan beberapa daerah di sekitanya. Namun hasilnya nihil.


"Si*l!" Hans membuang ponselnya ke kursi di sampingnya karena tidak mendapatkan apa yang dia cari.


Hans dan anak buahnya yang menyebar di seluruh Amerika terus mencari makanan yang diinginkan oleh Ara. Dan satu jam sekali Tuan Narendra dan Nyonya Charlotte menanyakan apakah mereka sudah berhasil mendapatkannya atau belum. Hans bingung harus mencari ke mana lagi, tapi dia tetap tidak menyerah. Hans langsung teringat dengan sahabatnya, Jasmine.


"Halo, Hans!" sapa Jasmine dari seberang telepon.


"Halo, Jasmine. Apa kau tahu di mana aku bisa mendapatkan terang bulan Bandung di negara ini?" tanya Hans tanpa basa basi.


"Terang bulan Bandung?" teriak Jasmine.


"Ya. Ara sedang ngidam."


Tak selang berapa lama, mobil sport hitam milik Hans memasuki mansion milik Evan dan Jasmine.


"Akhirnya kau datang juga. Istri tercintaku sejak tadi mengomel karena kau tak kunjung datang," ucap Evan saat menyambut kedatangan Hans.


Evan segera mengajak Hans masuk ke dalam mansion dan membawanya ke dapur.


"Ini pakailah!" Jasmine melempar apron kepada Hans.


Hans mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Mencari terang bulan Bandung di negara ini sama saja seperti mencari sebuah jarum di tumpukan jerami. Kita sendiri yang akan membuat terang bulan Bandung untuk Ara," ucap Jasmine.


"Kita?!"


"Tentu saja. Jangan bilang kalau kau meremehkan kehebatanku dalam memasak," ucap Jasmine kesal.


"Apa kau pernah membuat terang bulan Bandung sebelumnya?" tanya Hans.


"Belum. Tapi aku punya resepnya," jawab Jasmine sambil tersenyum.


Jasmine segera mengolah bahan yang telah dia siapkan untuk membuat terang bulan. Hans dan Evan membantunya.


"Bagaimana rasanya sayang?" tanya Jasmine saat Evan mencicipi terang bulan yang sudah jadi.


Evan mengacungkan jari jempolnya.


"Ini enak sekali sayang. Tidak kalah dengan terang bulan yang dulu biasa aku beli di Indonesia," jawab Evan yang memuaskan hati Jasmine dan Hans.


"Syukurlah," gumam Hans lega.


Jasmine segera membungkus beberapa terang bulan yang mereka buat tadi dan memasukkannya ke dalam paperbag, lalu menyerahkannya kepada Hans.


"Cepat bawa terang bulan ini pulang. Ara pasti sudah sangat menantikannya."


"Terima kasih banyak Jasmine, Evan," ucap Hans.


"Sama-sama. Salam untuk Daddy Rendra dan Mommy Charlotte. Maaf kami belum bisa mengunjungi mereka karena Double F habis diimunisasi jadi sedikit rewel," ucap Jasmine.


"Nanti akan aku sampaikan. Kalau begitu aku pulang dulu ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Jawab Jasmine dan Evan bersamaan.

__ADS_1


Dengan perasaan senang Hans melajukan mobilnya menuju mansion. Dia juga tak lupa menghubungi Keenan dan anak buahnya. Setibanya di mansion, Hans sedikit berlari saat masuk ke dalam mansion.


"Kau sudah datang Hans. Apa kau berhasil mendapatkan terang bulan Bandungnya?" tanya Tuan Narendra saat melihat kedatangan putranya.


Hans mengangkat paperbag yang dia bawa sambil tersenyum.


"Bagus sekali. Segera berikan kepada istrimu. Sejak tadi dia makan sedikit sekali karena tidak berselera," ujar Tuan Narendra.


"Ara di mana Dad?"


"Istrimu berada di taman belakang bersama Mommymu," jawab Tuan Narendra.


Hans segera pergi ke taman belakang. Senyum Ara mengembang saat melihat Hans datang dengan membawa paperbag. Ara bisa mencium aroma terang bulan itu.


"Kau berhasil mendapatkan terang bulannya?" seru Ara.


Hans mengangguk dan menyerahkan paperbagnya. "Ya aku berhasil mendapatkannya."


Ara langsung membuka paparbag itu dengan tidak sabar. Matanya terbinar saat melihat terang bulan yang dia inginkan sejak tadi. Dalam hati, Ara girang bukan kepalang. Air liurnya seakan mau menetes. Ara segera memakan terang bulan itu dengan lahap.


"Pelan-pelan makannya sayang. Semua terang bulan ini milikmu dan tidak ada yang ingin merebutnya," ucap Nyonya Charlotte sambil terkekeh karena gemas melihat tingkah laku menantunya.


Ara tersenyum malu. "Maaf Mom. Terang bulan ini juga untuk Mommy dan Daddy. Hans membawakannya banyak sekali. Aku tidak mungkin bisa menghabiskan semuanya."


Hati Hans menghangat saat melihat raut kebahagiaan yang terpancar di wajah Ara.


Pada malam harinya, Ara membuatkan teh hangat dan mengantarkannya ke ruang kerja Hans. Hati kecilnya merasa kasihan melihat wajah lelah Hans yang sedang fokus pada laptopnya. Hans terkejut dengan kedatangan Ara.


"Aku buatkan teh untukmu," ujar Ara sambil meletakkan secangkir teh di meja kerja Hans.


"Terima kasih," ucap Hans singkat.


Ara masih berdiri di tempatnya sambil memegang nampan. Hans nenyerngitkan dahinya.


"Ada apa? Apa kau ngidam lagi?"


Ara menggeleng.


"Aku... Aku ingin mengucapkan terima kasih, karena kau telah mendapatkan terang bulan yang aku inginkan."


"Tidak perlu berterima kasih. Aku hanya ingin memenuhi keinginan anakku. Jika kau mengidam lagi, kau bilang saja padaku," ucap Hans dingin.


Ara mengangguk pelan. Ara membalikkan badan dan hendak melangkah keluar.


"Tunggu." Seru Hans yang menghentikan langkahnya.


"Ada apa?"


"Jika kau ingin berterima kasih padaku, lakukan apa yang aku inginkan?"


"A-apa maksudmu?"


Hans menyunggingkan bibirnya. Dia berdiri dan berjalan mendekati Ara. Wajah Ara terlihat sangat tegang.


"Aku ingin mengelus perutmu dan berbicara dengan anakku."


Ara menatap Hans lekat, dan tak lama kemudian dia mengangguk dengan perlahan. Hans membawa Ara duduk di sofa. Hans mengusap perut Ara dengan perlahan dan mendekatkan bibirnya.


"Assalamualaikum anak Papa," sapanya.


"Sehat-sehat ya di dalam sana, Nak. Papa janji akan melakukan dan memberikan yang terbaik untuk kalian. Jangan nakal dan jangan membuat Mamamu kesakitan. Papa menyayangimu."


Hati Ara terenyuh mendengar ucapan Hans.


Bersambung ...


...***-❤❤❤-***...


Baca juga novel author :


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku


3. I'm The Unstoppable Queen


Jangan lupa selalu dukung author agar semakin bersemangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹

__ADS_1


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2