
Drtt... Drtt...
Ponsel Naura bergetar, lalu ia bergegas mengambil ponsel nya yang mendapatkan telepon masuk itu.
"Hallo, Naura," seru seseorang dari seberang sana, dan dari suara cempreng nya itu bisa di kenali bahwa yang menelepon Naura adalah Windy.
"Iya, Win," balas Naura.
"Lo di Bali, ya?" tanya Windy.
"Iya, kok lo bisa tau?" tanya balik Naura.
"Ya karena gue tadi ke rumah Om lo, terus kata Art nya, katanya kalian pergi ke Bali. Lo tega deh, gak ngajak-ngajak gue."
"Oh iya, terus Bibi bilang apa lagi?" tanya Naura yang takut jika Art nya itu memberitahu Windy kalau Naura adalah istri Reno, bukan sebagai keponakan nya.
"Gak sih, cuman gitu doang," jawab Windy yang membuat Naura bisa bernafas lega.
"Lo kapan pulang?" sambung lagi Windy.
"Kayak nya besok deh. Win, lo nanti jangan ngomong-ngomong tentang Bali di depan Kenzo ya, apalagi kalau sampai lo ngasih tau Kenzo kalau gue abis dari Bali." ujar Naura.
"Loh, kenapa?" tanya Windy heran.
"Ya gue soalnya gak ngasih tau dia," jawab jujur Naura.
"Oke deh, siap. Gue kangen banget tau sama lo," terang Windy.
"Gue sih enggak," balas Naura.
"Oh jadi gitu, yaudah kita sampai di sini aja," ujar Windy.
"Gue bercanda, Windy, lo baper amat," balas Naura sembari terkekeh.
"Nau, lo comblangin gue sama Om lo dong," pinta Windy yang membuat Naura tiba-tiba merasa kesal.
__ADS_1
"Gak!! Om Reno punya gue," ujar Naura.
"Iya dia Om lo, tapi dia juga kan butuh pendamping hidup, masa seumur hidup nya dia cuman ngurusin lo. Jadi gue rela buat jadi Tante lo, lo juga pasti seneng kalau punya Tante sahabat lo sendiri," terang Windy dari seberang sana.
"Idih, apaan sih lo, kalau gue bilang enggak, ya enggak," balas Naura kepada sahabat nya itu.
"Lo pelit, yaudah kalau Om Reno gak boleh, kalau gitu biar Kak Kenzo aja buat gue, ya," ujar Windy yang memang senang membuat sahabat nya itu merasa kesal.
"Emh, enggak boleh juga," balas Naura yang memang belum bisa untuk melepaskan Kenzo begitu saja.
"Ah lo mah pelit, semua gak boleh. Gue kbl kbl deh."
"Kan cowok masih banyak Windy, jadi lo nyari yang lain aja jangan punya gue," ucap Naomi.
"Tapi kan Om Reno bukan punya lo, jadi gue bisa dong buat jadi Tante lo," ujar Windy.
"Gue bilang, enggak. Gue jadi kesel ah sama lo," balas Naura yang langsung mematikan telepon nya.
"Ngeselin banget deh si Windy," ucap Naura dengan kesal.
"Gue gabut banget, mending gue susul Om suami aja ah," lanjut Naura.
Kini Naura telah tiba di Restoran yang dimana Reno sedang meeting bersama klien nya di sana. Naura kini terlihat celingukkan mencari sosok sang suami tampan nya.
"Nah, itu dia. Tapi gue kayak nya nunggu di sini aja, takut nya nanti ganggu," ucap Naura ketika telah melihat suami nya memang sedang berbincang dengan klien nya itu.
Naura duduk di tempat yang lumayan jauh dari Reno, namun masih bisa terlihat jelas ketika Naura ingin melihat wajah tampan suami nya.
"Aduh, suami gue makin berdamage banget kalau lagi serius gitu," ucap Naura sembari melihat ke arah suami nya yang sedang berbicara dan terlihat berwibawa.
"Hai, anak kecil," sapa seorang wanita kepada Naura, dan itu adalah Nadira yang kini telah ikut duduk di kursi yang berada di meja Naura.
"Hai, Tante," balas Naura dengan santai, walaupun sebenarnya ia merasa kesal karena Nadira menyebut nya sebagai anak kecil.
"Lagi nunggu Reno, ya?" tanya Nadira dengan gaya congkak nya.
__ADS_1
"Iya, saya lagi nunggu suami saya," balas Naura.
"Kamu mau tau gak, kalau saya ini lagi hamil anak nya Reno, dan Reno belum mengetahui hal itu. Maka nya sekarang saya datang untuk memberitahukan mantan suami saya yang akan kembali menjadi suami saya," jelas Nadira kepada Naura. Dan Nadira berbicara seperti itu hany untuk memancing emosi Naura, dan berharap nantinya Naura dan Reno akan bertengkar hebat.
"Tante jangan sembarang ya. Om Reno itu udah lama cerai sama Tante, jadi gak mungkin itu anak Om Reno, palingan juga anak pria hidung_"
"Hidung apa hayo?" lanjut lagi Naura dengan wajah tengil nya.
"Kamu jangan asal bicara ya!!" ucap lantang Nadira yang sudah tersulut emosi, dan wanita itu hendak melayangkan tangan nya ke wajah Naura, namun Galiang yang baru datang langsung mencegah nya dan mencekal tangan wanita itu.
"Hhh... Lepasin," ucap Nadira dengan kesal kepada Gilang.
"Kamu jangan berani mendaratkan tangan kotor kamu pipi mulus bos kecil saya, karena saya gak akan segan-segan untuk memberikan perhitungan kepada kamu kalau kamu berani berbuat seperti itu lagi kepada Bos kecil saya," ucap tajam Gilang dengan mengancam Nadira.
"Tau tuh, denger," timpal Naura dengan tersenyum mengejek.
"Hhh, awas aja kalian!" Nadira langsung pergi dari sana karena ia tentu tidak ingin membuat malu dirinya sendiri. Karena orang-orang kini sedang melihat ke arah mereka.
Reno yang baru saja selesai meetting, lelaki itu langsung berjalan untuk menghampiri istri nya yang sudah beridiri sembari melambaikan tangan ke arah nya.
"Sayang, kok kamu bisa ada di sini? Bukan nya kamu masih sakit," tanya Reno kepada Naura.
"Sakit apa, Bos? Perasaan baik-baik aja dari tadi nih Bos kecil," tanya Gilang.
"Enggak sakit apa-apa, tau nih Om Reno emang suka berlebihan, " jawab Naura dengan cepat.
"Oh, yaudah, kalau gitu saya permisi pasutri," ujar Gilang yang langsung meninggalkan kedua pasangan suami istri itu.
"Sayang, aku pengen jalan-jalan. Aku mau beli oleh-oleh juga buat Windy," ucap Naura kepada Reno.
"Yaudah ayo sayang, tapi kamu masih sanggup buat jalan, kan? Kalau enggak, biar aku beli kursi roda," ujar Reno.
"Iya masih, kamu gak usah berlebihan deh," ujar Naura sembari bergelayut manja di lengan kekar sang suami.
"Yaudah ayo, jalan nya pelan-pelan ya. Jangan loncat-loncat kayak biasa nya, aku ngilu liat nya," ujar Reno, dan Naura hanya tertawa saja ketika mendengar itu.
__ADS_1
Naura dan Reno kini mengunjungi toko pernak-pernik untuk membeli oleh-oleh yang akan di bawa nya pulang besok. Setelah dari sana mereka langsung ke toko farfum untuk membeli farfum yang di inginkan Naura, karena waktu itu Reno belum sempat membeli. Karena ia di sana cukup di sibukkan dengan pekerjaan nya.
Saat akan keluar dari toko farfum, mata Naura langsung membulat ketika ia berpapasan dengan seseorang yang sangat di kenali nya.