Terusik Rindu

Terusik Rindu
Mengulas Memori


__ADS_3

Apartemen, 07:00 PM


Hembusan angin malam membelai lembut wajah gadis cantik yang kini tengah berdiri di balkon apartemennya menerbangkan helai rambut panjang hitamnya yang menjuntai indah.


Dengan segelas coklat panas ditangannya, ia bersandar di tepian balkon menatap langit malam yang tak berbintang.


Selalu begini.. Selalu saja seperti ini..


Bahkan ia bisa berdiri selama berjam-jam hanya untuk termenung menyaksikan langit malam yang semakin gelap, mengenang masalalu yang begitu menyesakan dada. Ingin rasanya melupakan namun kenangan itu seakan menari-nari dalam ingatan.


Sambil sesekali menyesap minumannya, ia terlihat menghela nafasnya dalam-dalam.


Hempasan angin telah membawa sebuah kenangan dalam angan-angan. Ia pejamkan matanya, memori itu, masalalu menyedihkan itu, kehidupannya yang hancur, tiba-tiba saja muncul dalam benaknya.


Sendiri, bersama angin ia ceritakan seluruh rahasia kemudian meneteskan air mata.


Sebagai manusia biasa yang dibekali rasa, sangat wajar jika ia merasa marah, sedih, kecewa dan terluka. Segala kepahitan hidup telah di laluinya selama 5 tahun ini. Berpisah dengan orang yang di cintai, meninggalkan keluarga, serta kehilangan harta yang paling berharga dalam hidupnya.


...********...


Azalea Delfina,


Orang-orang di sekitarnya memanggilnya Fina. Seorang gadis yang mungkin membuat semua wanita sangat iri padanya. Bagaimana tidak?


Ia memiliki paras wajah yang cantik dan menawan, serta di anugerahi bentuk tubuh yang indah bak seorang model.


Banyak pria yang memujanya bahkan berusaha mendapatkan hatinya. Namun dengan kepribadiannya yang dingin dan tertutup tidak mudah untuk mereka bisa meluluhkan hati gadis cantik itu.

__ADS_1


Entah Fina memiliki kepribadian antisosial atau apa, ia hanya selalu waspada terhadap orang-orang yang mendekatinya dan selalu melihat segala hal secara negatif.


Dulu ia tidak seperti ini. Fina adalah sosok gadis yang ceria dan juga hangat. Namun, gadis polos yang suka tersenyum pada siapapun itu kini telah tiada. Sekarang hanya ada Fina yang pendiam, tidak pernah tersenyum, tidak ramah dan selalu memasang wajah datar dan juga dingin.


Apakah ada alasan mengapa dia seperti ini?


Tentu saja ada


Trauma masa lalu telah membuatnya menjadi seperti sekarang. Kesalahan terbesar dalam hidupnya adalah pernah mencintai pria kejam itu.


Ya, 5 tahun yang lalu ia pernah sangat mencintai seorang pria. Pertama kali dalam hidupnya ia merasakan jatuh cinta. Namun apa yang ia dapatkan dari cinta itu? Hanya luka dan kekecewaan. Pria itu memberinya pengkhianatan dan itulah awal mula perubahan sikapnya.


...********...


Lamunannya tersadar ketika mendengar suara dering ponsel yang berasal dari dalam kamarnya. Dengan cepat ia menghapus air matanya lalu masuk untuk melihat ponsel dan memastikan siapa yang menelpon.


Tertera nama Lili di layar ponselnya. Fina pun kemudian mengangkat teleponnya.


"Hallo Fin?"


"Iya ada apa Li?" ucap Fina lembut


"Apa besok kau sibuk?"


Fina mengernyitkan dahinya


"Tidak, memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Ibu menyuruhmu untuk datang ke rumah. Ibu bilang dia sangat merindukanmu" ucap gadis bernama Lili di seberang telepon.


Sejenak Fina tersenyum


"Katakan pada ibu, aku juga sangat merindukannya. Besok aku akan datang" ucapnya masih tersenyum.


"Baiklah, aku menunggumu" ucap Lili bersemangat


"Kita akan menyambut kepulangan kak Alvin besok" lanjutnya


"A-apa?" Fina tampak terkejut mendengarnya


"Kakakmu akan pulang besok?" tanya Fina terbata-bata mengingat kejadian terakhir kali antara dirinya dengan Alvin.


"Hmm, jangan takut kan ada aku" ucap Lili menenangkan


"Baiklah aku tutup telponnya ya Fin, selamat malam"


"Aah baiklah, selamat malam"


Akhirnya panggilan telepon terputus.


Fina terlihat menghela panjang nafasnya. Setelah sekian lama menetap di New York, akhirnya kakak Lili yang galak itu kembali juga.


New York?


Mengingat kota itu raut wajahnya tiba-tiba berubah sedih. Entah apa sebenarnya yang ia pikirkan.

__ADS_1


__ADS_2