
Masih ditempat yang sama, yaitu club malam milik Daniel yang semakin malam semakin ramai dengan orang-orang yang ingin sekedar melepas penat setelah seharian lelah bekerja.
Ke lima pria tampan yang ada di ruangan excecutive club masih setia disana. Entah apa yang mereka bicarakan, namun dari ekspresinya terlihat seperti mereka semua sedang terkejut kecuali Alex dan David sekretarisnya.
"Apa kau serius?" tanya Marcel dengan wajah terkejutnya. Daniel dan Nathan juga sama terkejutnya.
"Hmm, tentu saja" sahut Alex yang masih sibuk dengan ponselnya.
Nathan menyunggingkan senyum sinisnya, ia tidak yakin dengan apa yang di katakan oleh Alex.
"Aaah akhirnya sahabatku akan segera menikah dan melupakan Laura"
Seketika Alex yang masih sibuk dengan ponselnya, menatap wajah Nathan dengan tatapan mematikan. Ia tidak suka mendengar nama Laura, benar-benar tidak ingin mendengarnya.
Namun yang ditatap malah tersenyum menyesap wine ditangannya dengan santai.
"Apa aku salah bicara?" tanya Nathan dengan wajah tanpa dosa
"Sepertinya benar, kau memang salah bicara" sahut Daniel tertawa yang sedari tadi memperhatikan wajah kesal Alex.
"Apa yang kalian bicarakan, sudahlah.. saat ini aku benar-benar sedang terkejut.. Apa kau pulang ke sini benar-benar untuk bertunangan Alex? Siapa wanita itu?" tanya Marcel penasaran
"Naomi" jawab Alex datar
"Naomi?" Nathan mengernyitkan dahi nya, seperti tidak asing dengan nama itu.
"Hmm, Naomi Winata"
"Apaaa?" Semua orang terkejut kecuali David. Bagaimana tidak, Naomi Winata adalah nama teman SMA mereka. Benarkah Naomi itu yang di maksud Alex?
"Apakah yang kau maksud adalah Naomi teman..." sebelum Marcel melanjutkan pertanyaannya Alex sudah mengiyakan.
"Benar"
Degg.. panasss
Seperti di sambar petir, tidak pernah terbayangkan wanita yang selama ini ia kagumi akan bertunangan dengan sahabatnya sendiri. Daniel mencengkram erat gelas wine yang ada ditangan nya. Ia berusaha menguasai dirinya, ini benar-benar seperti mimpi.
Kenapa bisa Naomi? Bukankah selama ini Alex hanya mencintai Laura? Apa mungkin Laura mengkhianatinya dan ingin menjadikan Naomi sebagai pelampiasannya? Tidak, jangan sampai Alex melakukan itu pada Naomi.
__ADS_1
"Apa kau mencintainya?"
Pertanyaan Daniel membuat Marcel yang tengah kegirangan mendengar sahabatnya akan bertunangan dengan Naomi, menjadi bisu seketika.
(hah benar juga, Alex kan sangat tergila-gila pada Laura) batin Marcel
Alex menghela nafasnya panjang. Ia tidak tahu apakah bertunangan dengan Naomi akan membuatnya melupakan gadis itu atau tidak.
"Aku juga tidak tau. Aku hanya ingin melanjutkan hidupku" ia bersandar kemudian menatap langit-langit, bayangan gadis cantik bernama Rachel tengah tersenyum lebar padanya, melambaikan tangannya. Namun perlahan bayangan gadis itu menghilang membuat Alex tersenyum kecut, bodoh jika ia masih mengharapkannya.
"Aku ingin melupakannya" lanjutnnya.
(benar, ternyata dugaanku memang benar Alex hanya ingin menjadikan Naomi pelampiasan) batin Daniel
"Jangan pernah mempermainkan perasaannya Alex" ucap Daniel berusaha menguasai emosinya.
"Benar yang Daniel katakan, Naomi adalah wanita yang baik. Akan sangat menyedihkan jika dia mengetahui kau hanya menjadikannya pelarian untuk melupakan Laura" ucap Nathan santai
David dan Marcel hanya mendengarkan, mereka tidak ingin ikut bicara. David menyadari posisinya yang hanya seorang bawahan, sedangkan Marcel, ia tidak berani menyinggung Alex. Meskipun mereka bersahabat sejak kecil, namun kekuasaan Alex tak sebanding dengannya dan itu membuat nyali nya menciut.
"Jangan pernah menyebut namanya lagi" ucap Alex jengkel
Alex menghembuskan nafasnya kasar
"Aku tidak akan menyakitinya, aku akan berusaha melanjutkan hidupku dan melupakan dia" ucap Alex meyakinkan
"Dan ingat ini, dia bukan Laura. Jadi jangan pernah menyebut nama Laura lagi dihadapanku" lanjutnya, kemudian ia bergegas untuk pergi.
David mengikuti tuannya yang sudah berdiri melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan dimana teman-temannya termenung mencerna ucapan Alex. Mereka berusaha memahami perkataan Alex yang mengatakan "dia bukan Laura".
Lalu siapa jika bukan Laura?
Marcel yang penasaran berusaha memberi kode agar David berbalik dan menoleh kepadanya. Dan benar saja, David menoleh pada Marcel.
"Apakah gadis itu?" ia bertanya tanpa suara
David hanya mengangguk, kemudian ia meninggalkan ruangan mengikuti tuannya untuk pulang ke rumah utama.
Sementara Marcel, mulutnya terbuka lebar. Ia masih tidak percaya mendengarnya. Tiba-tiba ekspresinya berubah nyinyir
__ADS_1
(Cih, dulu bilangnya tidak suka. Lalu sekarang kau berusaha ingin melupakannya. Dasar)
(Hmm, menarik juga. Aku harus bertanya pada David hihi)
(Kepo dikit gapapa kali ya) batin Marcel, ia tersenyum sendiri menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi pada Alex dan gadis itu selama 5 tahun ini.
Melihat ekspresi Marcel yang senyum-senyum tidak jelas membuat Nathan dan Daniel sedikit jijik. Apa yang sebenarnya dia pikirkan. Sepertinya Marcel tahu sesuatu tentang gadis itu.
Daniel melemparkan bantal sofa yang ada disamping nya pada Marcel
"Hei sialan, apa yang kau pikirkan? beritahu kita, apa kau mengenal gadis itu?"
"Yaa, eh tidak-tidak"
"Ck apa kau tidak bisa serius?" Daniel sudah sangat kesal
"Haha baiklah baiklah, jadi aku pernah bertemu dengannya saat aku berkunjung ke villa Alex di New York 5 tahun yang lalu"
Marcel menjeda ucapannya, kemudian menatap kedua sahabatnya secara bergantian
"Mereka tinggal bersama, hmm dia cantik, rambutnya pendek, kulitnya putih. Tapi apa kalian tahu?" ia kembali menjeda ucapannya memandang serius keduanya dengan mata yang melotot.
"Cepat selesaikan bodoh, kau ini sangat bertele-tele" ucap Daniel semakin kesal. Sedangkan Nathan hanya santai menanggapi
"Waktu itu, dia masih SMA"
Nathan dan Daniel terkejut, mata keduanya melotot menatap Marcel. Mereka semua tahu jika Alex hanya menyukai gadis-gadis dewasa. Apakah mungkin dia menyukai seorang gadis SMA?
"Yaa kalian juga pasti terkejut kan? Aku juga haha" ucap Marcel
"Dulu, Alex bilang dia hanya menjadikan gadis itu mainannya karena dia bosan menunggu Laura yang ada di Swiss. Tidak kusangka Alex akan menjilat ludahnya sendiri" lanjut Marcel
"Hmm menurut kalian, apa mungkin gadis itu mengetahui kebusukan Alex dan pergi meninggalkan Alex ketika Alex sudah jatuh cinta padanya?" tanya Marcel menebak-nebak
"Ya,, bisa saja" ucap Nathan masih tidak percaya
Dan malam itu pun sesi rumpi masih berlanjut. Mereka mengghibah Alex sepuasnya. Jika saja yang di ghibahkan tahu, wah bisa-bisa mereka di cincang habis-habisan.
* * * * *
__ADS_1
"Kenapa telingaku panas sekali" Alex