
Sudah dua hari Sheira mengurung diri di apartemennya sejak pertemuan terakhirnya dengan Alex. Entah sudah berapa banyak air mata yang tumpah. Hingga akhirnya Sheira menyerah, ia lelah menyiksa diri. Ia harus kuat, terutama dihadapan pria yang telah menyia-nyiakannya.
Kenapa ia harus mengeluarkan air mata untuk pria yang telah menyakitinya? Dia sama sekali tidak pantas untuk menerimanya!
Sheira harus bisa membuktikan bahwa tanpa pria itupun hidupnya baik-baik saja, bahkan lebih bahagia.
* * * * *
Hari ini Sheira menjalankan aktivitas seperti biasanya. Setelah dua hari ia izin tidak masuk kerja, akhirnya Sheira kembali menginjakan kakinya di perusahaan milik mantan kekasihnya itu.
Ada perasaan tidak nyaman ketika harus satu kantor dengan mantan kekasih, apalagi mantan kekasihnya itu adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Tapi Sheira sudah mempertimbangkannya baik-baik. Sangat bodoh jika ia harus keluar dari perusahaan yang gajinya 3 kali lipat dari perusahaan lain. Bahkan Sheira mengandalkan gajinya ini untuk membayar cicilan apartemennya.
Ah sudahlah mungkin memang sudah takdirnya harus bertemu lagi dengan seseorang yang pernah membuatnya jatuh begitu dalam. Tujuannya saat ini hanyalah memperbaiki semua kesalahan dimasa lalu, menjadi orang yang lebih baik kemudian bangkit dan tidak melakukan kesalahan yang sama.
Ia akan berusaha berdamai dengan masalalu, menerimanya dengan ikhlas dan menganggap semuanya adalah bagian dari perjalanan hidupnya. Semuanya hanya akan menjadi kisah yang telah usai. Sheira akan mulai menata kehidupannya dan menjadikan masalalu itu sebagai kenangan berharga yang akan menuntunnya ke masa depan yang lebih baik.
* * * * *
Di sebuah ruang kerja yang mewah, yang terletak dilantai paling atas gedung perkantoran megah ini, Alex tampak sedang duduk bersandar dikursi kebesarannya. Dihadapannya ada banyak tumpukan berkas-berkas yang harus ia tanda tangani. Raut wajah tampannya terlihat sangat gelisah saat David memasuki ruangannya.
"Apa dia masuk hari ini?"
"Masuk Tuan" David
Kemudian ia menyerahkan berkas-berkas yang cukup tebal ke tangan Alex.
"Ini data yang berhasil saya kumpulkan saat ini, Tuan"
"Semua informasi tentang nona Rachel ada di dalamnya" lanjutnya
"Hmm" ucap Alex mengangguk
"Kau boleh keluar"
"Baik Tuan, saya permisi" David membungkuk memberi hormat kemudian berlalu dari hadapan tuannya.
Alex mulai membuka berkas-berkas itu memindainya dengan tajam, memastikan tak ada informasi yang terlewat dari matanya.
Terdapat beberapa lembar foto disana. Di satu foto yang menampakan wajah Sheira dengan jelas, kesedihan mendalam terlihat dari raut wajah Alex.
Jemarinya yang panjang mengelus permukaan wajah Sheira di atas foto.
"Rachel..."
"Maaf" Bisik Alex nyaris tidak terdengar
__ADS_1
Entah sudah berapa ribu kali Alex mengucapkan kata itu setiap harinya, setiap kali ia mengingat masa-masa kebersamaannya dengan Sheira.
Dadanya selalu terasa sakit ketika mengingat pengkhianatan yang telah ia lakukan pada gadis itu.
"Apa kau membenciku?" Dengan mata yang mulai berair
"Ah..kenapa aku menanyakan itu. Kau pasti sangat membenciku kan?"
Alex tertunduk lesu dimeja kerjanya. Namun sesaat kemudian ia bangkit mengambil handphone dari saku jasnya dan mencari kontak milik David.
"Panggil dia keruangan ku sekarang" perintahnya
David mengernyitkan dahinya. Ia tidak tahu siapa yang Tuannya maksud.
"Maaf Tuan, tapi saya tidak tahu siapa yang Tuan maksud"
Alex memijat dahinya dengan mata yang terpejam
"Rachel"
"Baik Tuan akan saya panggilkan sekarang"
Alex mematikan teleponnya, kemudian ia kembali duduk di kursi kebesarannya dan mengetuk-ngetukan jarinya ke atas meja hingga menimbulkan bunyi. Saat ini Alex benar-benar gugup. Ia tidak tahu apa yang akan ia katakan nanti jika gadis itu datang.
* * * * *
"Benar" jawab Sheira
"Tuan David menyuruhmu untuk ke ruangan Presdir sekarang" ucapnya
Sheira terkejut dengan ucapan pria itu, jantungnya berdegup dengan sangat kencang.
Lili yang duduk bersebelahan dengan Sheira menatap sahabatnya khawatir.
(Untuk apa pria brengsek itu memanggil Sheira ke ruangannya) batin Lili kesal
"Untuk apa beliau memanggil saya?" Tanya Sheira memasang wajah datar berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
Pria itu hanya menggeleng, ia juga tidak tahu kenapa gadis ini dipanggil ke ruangan Presdir. Ia hanya mendapat perintah dari David. Namun ada sedikit kecurigaan dihatinya, pasalnya gadis dihadapannya ini sangat cantik.
(Apa mungkin Presdir menyukainya? Ah tidak mungkin. Gadis ini kan hanya karyawan biasa. Terlebih lagi Presdir sebentar lagi akan bertunangan dengan Naomi)
Sheira berniat bangkit dari kursinya namun tiba-tiba tangannya dicekal kuat oleh Lili hingga membuatnya kembali terduduk.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau akan menemuinya?" Ucap Lili setengah berbisik
__ADS_1
Sheira menghembuskan nafasnya kasar
"Jika aku menghindarinya, aku akan terlihat sangat lemah Lili"
"Tapi kau akan terluka" bisik Lili lirih
"Jangan khawatir, aku tidak akan selemah itu" ucap Sheira tersenyum meyakinkan sahabatnya. Kemudian ia bangkit dan melangkahkan kakinya, berjalan menuju lantai teratas gedung megah perkantoran ini bersama dengan manajer operasional itu.
Di dalam lift Sheira tiba-tiba merasa sedih membayangkan apa yang telah Alex perbuat padanya dimasalalu. Ia menghela nafasnya panjang berusaha menepis semua ingatan-ingatan menyakitkan itu.
(Jangan mengingatnya lagi Sheira, lupakan. Kau harus melanjutkan hidupmu) batinnya
Lift telah sampai di lantai teratas gedung ini. Sheira ingin menggerakkan kakinya untuk melangkah keluar dari lift ini namun seperti ada yang menahannya. Rasanya ia tak sanggup menginjakan kakinya di lantai yang berlapis marmer ini.
Sekali lagi Sheira menghela nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Dengan langkah pasti ia berjalan menuju satu-satunya pintu yang ada di sana. Sebelum mencapai pintu itu, seorang pria muda tampan dengan setelan jasnya tersenyum menyambut kedatangan Sheira. Namun Sheira tidak membalas senyuman itu, ia hanya menunduk memberi hormat.
(Gadis ini benar-benar ya, dia bahkan tidak tersenyum) batin David
"Masuklah nona, Presdir sudah menunggu anda di dalam" pintanya lembut
Sedangkan manajer yang mengantar Sheira pamit untuk kembali ke ruangannya.
Sheira melangkah untuk mendekat pada pintu besar yang ada di ruangan itu. Ia membuka pintu besar itu perlahan. Bunyi derit pintu terdengar bersamaan dengan bunyi detak jantung Sheira yang semakin cepat.
Pintupun terbuka. Tampak seorang pria bertubuh kekar yang sangat tidak asing dimata Sheira tengah berdiri di depan jendela kaca besar yang menampilkan hiruk pikuk kota. Ia memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya dengan posisi membelakangi Sheira.
"Kau sudah datang" ucapnya masih memandang keluar jendela. Namun tak terdengar jawaban dari gadis itu
"Aku pikir kau tidak ingin bertemu lagi denganku" Alex memutar badannya menghadap pada gadis yang selama ini ia harapkan kehadirannya
Gadis itu mengenakan trench coat warna cream berbahan wol dengan sabuk di pinggang membuat lekuk tubuhnya terlihat sangat indah. Rambut lurusnya diikat rapi dipangkal rambut dekat leher menambah kesan elegan dalam dirinya. Gadis itu masih terdiam di tempatnya berdiri.
"Rachel..." Panggil Alex dengan begitu hati-hati karena saat ini jantungnya tengah berdegup kencang. Ia tak pernah membayangkan jika akan bertemu lagi dengan gadis yang selalu ia kenang selama 5 tahun ini.
"Kenapa Tuan memanggil saya? Apa ada yang bisa saya bantu?" Ucap Sheira dengan wajah datar
BOOM...
Pertanyaan dari Sheira membuat Alex tersenyum kecut. Gadis dihadapannya sudah berubah, dia bukan lagi gadis lugu yang pernah membuat Alex hampir gila karena kehilangannya.
"Kau sudah banyak berubah sekarang. Aku memanggilmu kesini karena aku ingin melihatmu, aku sangat merindukanmu Rachel" ucap Alex lirih
Seketika suasana menjadi hening. Tidak ada jawaban atau pergerakan, bahkan Sheira tidak beranjak sedikitpun dari posisinya berdiri. Namun percayalah, ketika mendengar ucapan dari Alex hatinya benar-benar sakit. Ia berusaha menahan diri agar tidak menangis. Sheira memejamkan mata untuk menahan amarahnya. Ia tidak Ingin terpengaruh dengan ucapan pria dihadapannya, namun dalam hati Sheira mengumpatnya habis-habisan.
(Bajingan! Kau bilang kau merindukanku? Kau merindukan wanita yang sudah kau khianati? Apa kau tidak malu dengan apa yang kau ucapkan. Dasar pria sialan, brengsek. Jika bisa aku ingin membunuhmu pria kotor!!!)
__ADS_1