
Sheira berjalan menyusuri trotoar tanpa memakai alas kaki, ia bahkan tidak ingat dimana tadi ia menjatuhkan bootsnya. Ini adalah patah hati terbesar dalam hidupnya. Tak pernah terbayangkan jika ia harus melihat langsung sisi terburuk kekasihnya itu dengan mata kepalanya sendiri.
Pandangannya kosong, mulutnya bungkam, hanya air mata yang mengalir deras dari matanya. Sejenak Sheira terdiam, menatap salju yang turun cukup lebat. Salju pertama di tahun ini.
Sheira terus berdiri membiarkan butiran salju terjatuh ke rambutnya. Wajahnya sendu, perpaduan antara amarah, kesedihan dan putus asa. Sheira tak sanggup lagi menopang tubuhnya. Kakinya lemas dan gemetar hingga perlahan-lahan tubuhnya ambruk. Ia duduk bersimpuh dengan pandangan kosong. Matanya masih mengenang. Sesaat kemudian ia menangis keras. Mungkin selama berjam-jam tangisnya tak akan berhenti. Hatinya benar-benar sakit.
* * * * *
Sheira kembali ke villa dengan penampilannya yang tampak kacau. Matanya sembab, rambut yang acak-acakan, bibirnya pucat, bajunya juga terlihat lusuh. Beberapa pelayanan mencoba menanyakan keadaannya, apa dia baik-baik saja, namun Sheira hanya diam dan berlalu menuju kamar tempatnya biasa tidur dengan Alex.
Di dalam kamar Sheira mematung menatap dirinya di cermin kemudian ia menyentuh wajahnya.
"Apa aku terlihat sangat jelek hingga kau menghianatiku sekejam ini?" Ia kembali menangis terisak-isak.
Saat ini yang ada dipikirannya adalah pergi dari rumah ini sesegera mungkin. Sebelum Alex membuangnya ia harus pergi lebih dulu. Akan sangat menyedihkan jika ia harus menunggu Alex dan wanita itu mengusirnya dulu dari sini.
Sheira mengemas semua pakaian, tas, sepatu dan surat-surat pentingnya. Seluruh ijazah dan rapornya, uang, buku tabungan dan lain sebagainya.
Sheira memang sudah lulus dan menerima ijazahnya tiga hari yang lalu. Sebelumnya Sheira berencana akan melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Tapi sekarang, harapannya pupus. Sheira telah berbadan dua, ia tak bisa membayangkan bagaimana murkanya sang ayah jika sampai mengetahuinya. Bahkan sekarang Sheira tidak tau akan pergi kemana. Ia tidak berani untuk pulang ke rumah. Mungkin ia hanya akan mengikuti langkah kakinya.
Beberapa menit kemudian Sheira keluar dari kamar membawa koper yang berukuran besar. Dengan cepat ia menuruni tangga. Para pelayan bingung melihat nona mudanya menggiring koper. Bahkan salah satu dari mereka berlari mendekati Sheira.
"Nona ada apa? Kenapa nona membawa koper?"
Wanita paruh baya yang bekerja sebagai koki itu panik melihat keadaan Sheira, apalagi sekarang Sheira menggiring koper ingin meninggalkan rumah.
Seketika langkah Sheira terhenti. Namun pandangannya masih lurus ke depan.
"Dia akan membawa wanita itu kesini. Jadi biarkan aku pergi sekarang" ucapnya dengan wajah datar
Pelayan itu menatap Sheira terkejut, ia tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan Sheira. Wanita? Siapa? Siapa yang akan membawa wanita kesini? Apakah tuan Alex?
"Apa maksud nona?" Tanyanya bingung
__ADS_1
Sheira hanya diam tak ingin menanggapi. Ia kembali melangkah menuju pintu utama villa.
"Nona Rachel, nona mau kemana?" Pelayan itu mengejar Sheira dari belakang
Sheira tetap berjalan, ia tak menghiraukan pertanyaan pelayan itu.
"Nona jangan pergi atau tuan Alex akan marah"
"Stop it" Sheira menoleh dan membentak pelayan itu dengan sangat keras
Saking kerasnya hingga membuat pelayan wanita itu hampir terlonjak. Bahkan tubuhnya bergetar pelan mendengar respon dari Sheira.
"Aku sangat membencinya, jadi jangan pernah menyebut namanya lagi dihadapanku" lanjut Sheira menatap pelayan itu dengan tatapan tajam dan bicara dengan nada penuh kebencian
Pelayan itu tertegun tak percaya, nona mudanya tak pernah bicara sekasar ini sebelumnya. Apa yang sebenarnya terjadi?
Tanpa menunggu respon dari pelayan itu, Sheira kembali melangkah menuju taxi yang sedari tadi menunggunya. Kemudian ia masuk, dan roda-roda mobil mulai melaju di atas aspal. Berderap perlahan meninggalkan villa yang selama 6 bulan ini menjadi tempat tinggalnya.
Sheira sudah tak dapat melihat lagi villa itu. Bangunannya sudah hilang seiring jalan berliku yang dilewati mobil yang membawanya pergi. Ia mulai menjauh dari semua kenangan itu. Ia benar-benar akan pergi dan memulai kehidupan barunya. Jauh dari tempat sebelumnya. Jauh dari semua kenangan menyakitkan itu.
"Kenapa kau melakukan ini padaku?" Sheira kembali terisak di dalam mobil sambil memandangi fotonya dengan Alex.
"Aku sangat membutuhkanmu saat ini, tapi kauu..." Sheira tak mampu lagi melanjutkan kata-katanya. Suaranya tercekat menahan isakannya. Berkali-kali ia mengusap mata untuk menghentikan tangisnya namun gagal. Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika hidupnya akan seperti ini.
* * * * *
Praaaakk..
"Sialan" Alex membanting ponselnya ke dinding hingga hancur berserakan. Alex benar-benar marah sekarang. Bukan pada gadis yang telah pergi meninggalkannya tapi pada dirinya sendiri.
Alex baru saja melihat rekaman cctv yang memperlihatkan Sheira berdiri didepan pintu kamarnya. Hatinya merasa sangat sakit melihat bagaimana Sheira terkejut, terjatuh dan menangis. Ia merasa sangat membenci dirinya sendiri sekarang. Kenapa ia tidak menyadari jika tadi Sheira datang kesini.
"Aaagghhh" Alex mengacak rambutnya frustasi.
__ADS_1
Tadi saat Alex keluar dari kamar untuk mencari ponselnya yang tertinggal di ruang kerjanya, ia menemukan sebuah gulungan kertas di depan pintu kamarnya. Karena begitu penasaran, Alex membukanya dan begitu terkejutnya ia saat membaca isi dari kertas itu yang menyatakan Sheira positif hamil.
Matanya melebar dengan pacuan jantung yang semakin cepat.
Sheira hamil? Apa tadi dia datang ke apartemen ini?
Di saat yang bersamaan Alex kembali dibuat terkejut dengan kedatangan sekretarisnya yang memberitahukan bahwa Sheira telah pergi dari villanya.
Seketika Alex berlari untuk melihat rekaman cctv yang berada diruangan kerjanya. Dan ternyata dugaannya benar, Sheira tadi memang datang kesini, berdiri didepan pintu kamarnya, dan mungkin melihat pergulatan panasnya dengan Laura.
Alex tak bisa lagi menahan amarahnya. Ia membanting semua barang yang ada membuat ruangan kerjanya sepeti kapal pecah.
"Panggil orang-orang kita yang berada di wilayah ini dan sekitarnya. Aku tidak mau tau kalian harus bisa menemukan Rachel" ucapnya penuh amarah.
Kenapa rasanya sangat menyakitkan ketika mengetahui Sheira pergi dari rumahnya? Bukankah selama ini dia tidak pernah mencintai Sheira?
"Baik tuan"
Sekretaris itupun berlalu dari hadapan Alex, kemudian mulai menelpon anak buahnya.,
Setelah kepergian sekretarisnya, Alex menjatuhkan dirinya dikursi kemudian memijat dahinya dengan siku yang bertopang pada paha.
"Apa kau membenciku?"
"Kenapa hatiku sakit saat mengingatmu Rachel" ucapnya lirih
Alex menyandarkan dirinya dikursi kemudian memejamkan matanya. Ia mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Sheira.
Saat itu New York sedang musim gugur.
Dihari itu Alex terpesona pada seorang gadis cantik yang sedang melukis di tepi danau, di bawah pohon rindang. Semilir angin yang berhembus menerbangkan helaian rambutnya. Daun-daun kering mengalir lembut ke tanah sesekali menimpa rambut hitamnya.
Entah mengapa Alex merasa tertarik untuk mendekati gadis itu meskipun hatinya berusaha menolak. Gadis itu hanyalah seorang gadis kecil menurut pria dewasa sepertinya. Entahlah itu perasaan apa, rasa suka ataukah hanya sekedar kagum? Yang pasti ia merasa gadis itu menarik.
__ADS_1