Terusik Rindu

Terusik Rindu
Mencoba


__ADS_3

Apartemen 08:30 PM


Setelah memutuskan panggilan telepon dari Lili, Sheira kembali termenung. Sheira membaringkan tubuhnya di tempat tidur, matanya menatap langit-langit kamar. Entah untuk hal apa, mungkin sekedar memandang kenangan yang jauh.


Ada yang menyengat dihatinya ketika mendengar nama New York. Ia mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan pria itu, bagaimana mereka menghabiskan waktu bersama dan melalui banyak hal indah bersama.


Ya, pertemuan pertama mereka adalah di kota New York, kota yang menjadi saksi bagaimana mereka dulu merajut cinta dan menjalin kasih hingga penghianatan pria itu pada gadis SMA yang saat itu baru berusia 18 tahun.


Sheira menghela nafasnya panjang


Memikirkan itu semua, mendadak ekspresi wajah Sheira sedih dan ia tiba-tiba menangis. Apakah ia akan selamanya terjebak dalam kenangan pahit masalalu yang membuatnya selalu terpuruk? Bukankah Sheira juga berhak untuk berbahagia?


Tidak, Sheira tidak ingin selalu dihantui masalalu nya yang buruk. Ia harus bisa keluar dari masalalu nya itu.


Sheira berhak menyimpan kenangan itu, tapi tidak untuk membukanya lagi apalagi dipandangi setiap hari, diratapi ataupun disesali.


Memang sulit melepaskan masalalu, terutama yang meninggalkan kenangan pahit dan menyakitkan. Tapi Sheira tidak ingin terus menerus terjebak di dalamnya. Ini sudah 5 tahun, jika ia terus seperti ini maka selamanya Sheira tidak akan bisa hidup untuk mengejar masa depannya. Selamanya, hanya akan berdiam di waktu yang sama, dengan luka yang sama.


"Apa aku harus benar-benar mencobanya kali ini?" gumamnya.


Apa ia akan sanggup jika suatu hari harus terluka lagi?


Pertanyaan demi pertanyaan menghinggapi kepalanya. Hingga tak sadar jika sekarang ia telah terbuai di alam mimpi.


* * * * *


Di tempat lain, Bandara Internasional Xx


11:45 PM


Pria tampan dengan setelan jas warna hitamnya terlihat tengah menuruni anak tangga jet pribadinya. Dia terlihat sangat seksi dengan pakaiannya tersebut. Kaki yang jenjang serta bahu dan dadanya yang bidang membuat siapapun yang melihat merasa takjub. Sempurna, kaya raya, tampan dan juga sexy😁


Mungkin itu adalah definisi yang tepat untuk menggambarkan seorang Alexander Smith, pria dewasa berusia 33 tahun yang kini akan kembali menetap di negara X tempat kelahirannya. Setelah sekian lama ia menetap di New York, akhirnya ia memutuskan untuk kembali dan menetap disini.


(cih, jika saja aku ini wanita pasti sudah sangat tergila-gila padanya) batin seorang pria yang tengah berdiri memperhatikan di depan sebuah mobil mewah berwarna hitam milik pria tampan tersebut.


"Bawa aku ke tempat biasa"


Suara bariton pria yang kini tengah berjalan menuju mobil mewahnya yang tak lain dan tak bukan adalah bosnya, Alexander Smith menyadarkan lamunannya.


"Baik tuan"


David, sekertaris kepercayaan Alex sekaligus tangan kanannya itu membukakan pintu belakang mobil untuk tuannya, kemudian ia duduk di belakang kemudi, mengemudikan mobil melintasi jalanan yang tidak terlalu ramai karena memang sekarang sudah tengah malam.


Selama perjalanan, tidak ada percakapan di dalam mobil. Alex hanya bersandar dikursinya menatap nanar keluar jendela. Kini di kepala nya muncul sketsa-sketsa kejadian 5 tahun lalu saat ia masih bersama dengan gadis itu.


"Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja sekarang?"


Pertanyaan itu tiba-tiba lolos dari mulutnya hingga membuat David menatap kaca spion didepan nya.

__ADS_1


Ia menatap prihatin wajah tuannya itu. Ini bukan kali pertama nya ia melihat tuannya begitu sedih karena kepergian gadis itu.


Ya, Alex sangat merindukan gadis itu. Ia benar-benar merindukannya sekarang. Gadis yang sudah ia sakiti 5 tahun yang lalu.


"Rindu? Cih.. Setelah apa yang yang aku lakukan padamu rasanya sangat tidak pantas jika aku mengatakan bahwa aku merindukanmu. Apakah salah jika aku merindukanmu? Sekali saja, aku ingin melihatmu, memastikanmu baik-baik saja" batinnya, wajahnya terlihat sangat menyedihkan. Ingin sekali rasanya ia bertemu. Tak bisa sedikitpun ia beranjak melarikan diri dari semua kenangan itu.


Hingga akhirnya sampai pada titik ini, Alex mulai menyerah, tertatih dan tidak ingin mengharapkan gadis itu lagi. Ia akan mencoba kembali pada dunianya dengan harapan baru tanpa gadisnya. Alex sadar ia harus menerima kenyataan bahwa gadis itu telah pergi jauh darinya.


5 tahun bukanlah waktu sebentar untuk Alex mencari keberadaan gadis itu. Alex telah berusaha sebisa mungkin, dan sekarang ia benar-benar menyerah. Mungkin memang sudah takdirnya harus berpisah dan melanjutkan hidup yang berbeda.


Ya, alasan itu yang membuatnya kini kembali ke negara X. Ia menyerah dan ingin melupakan semuanya.


* * * * *


Mobil berhenti di sebuah club malam yang cukup ternama di kota X. David memarkirkan mobilnya lalu kemudian ia turun untuk membukakan pintu belakang mobil. Terlihat Alex yang masih tidak beranjak dari kursinya.


"Tuan kita sudah sampai" ucap David


"Hmm" hanya jawaban singkat yang keluar dari mulut Alex


Kemudian Alex turun dari mobil lalu melangkahkan kaki nya menuju club tersebut di ikuti oleh David di belakangnya.


"Wow coba lihat siapa yang datang!"


"Bukankah itu Tuan Alex?"


"Dia adalah pria idamanku"


Begitulah kira-kira bisik-bisik pengunjung wanita ketika melihat Alex memasuki club.


Alex tak ubahnya seperti magnet dalam ruangan, membuat orang-orang disekitarnya berusaha ingin mengitarinya.


Alex berjalan dengan gayanya yang elegan namun tatapannya tetap dingin dan angkuh. Ia berjalan menuju ruangan executive club yang tersedia disana.


"Kau sudah datang" ucap Daniel tersenyum ketika pintu terbuka dan melihat siapa yang ada di balik pintu itu.


"Hmm" Alex hanya mengangguk, ia berjalan mendekati ketiga sahabatnya yang sedang menunggunya.


Daniel, Marcel dan Nathan tengah duduk di sofa panjang sambil menikmati wine yang sudah tersedia di meja. Mereka adalah sahabat Alex dari kecil dan mereka berkumpul di club milik Daniel ini untuk menyambut kedatangan sahabat mereka yang sudah 5 tahun ini tidak mereka temui.


Ketiganya bergantian memeluk Alex. Aaahh rasanya seperti teletubis


Alex mengikuti ketiga pria itu duduk di kursi, sedangkan David dia duduk agak jauh dari tuannya.


"Aku tidak percaya kau kembali, aku pikir selamanya kau akan menetap disana Alex" ucap Daniel yang kemudian menyesap santai wine yang ada di tangannya.


"Tidak, disana sangat membosankan"


ucap Alex dengan gaya santai menyalakan api dan disunutnya rokok ditangannya.

__ADS_1


"Bosan?" Daniel mengernyitkan dahinya heran. Setaunya New York adalah negara yang menarik dan menyenangkan.


Masih dengan isapan rokok dan asap yang keluar dari hidung dan mulutnya "Hmm, terlalu banyak wanita yang mengejarku disana" ucap Alex santai


Seketika David yang sedang memainkan ponselnya menoleh pada Alex yang tidak jauh dari sampingnya.


(Kau narsis sekali tuan! bukankah tadi saat di dalam mobil kau terlihat sangat menyedihkan.. cih dasar) batin David


"Hahaha.. aah sayang sekali. Padahal gadis-gadis disana sangatlah seksi" ucap Daniel masih tertawa dengan ucapannya.


"Apa gadis itu juga membosankan?" kekeh Marcel sambil menatap Alex


Pertanyaan Marcel sontak membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu melihat ke arahnya.


"Gadis?" tanya Nathan terkejut.


"Hmm" angguk Marcel "Seorang gadis cantik berambut pendek yang tinggal di villa Alex di New York" imbuhnya dengan bangga, ini seperti kejutan untuk semua orang karena hanya dirinya yang mengetahui gadis itu.


Dan memang benar apa yang Marcel duga, semuanya terlihat terkejut termasuk David.


(Jadi tuan Marcel tahu tentang gadis itu) David


Nathan kembali terkejut dengan ucapan Marcel


"Benarkah?" Ia menoleh ke arah Alex dan kembali bertanya


"Apakah itu benar Alex? Siapa gadis itu?" Nathan tersenyum tidak percaya.


David menoleh pada Alex, wajah tuannya terlihat sangat muram ketika semua orang mempertanyakan siapa gadis yang Marcel maksud.


Semuanya terlihat menunggu jawaban dari Alex, namun Alex hanya diam, membuat semua orang yang ada disana semakin penasaran.


Ya, memang tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi pada tuannya 5 tahun yang lalu. Termasuk David, dia juga tidak pernah bertemu dengan gadis itu karena memang pada saat itu dia diberi kepercayaan oleh tuannya untuk mengurus perusahaan di negara ini, sedangkan Alex mengelola cabang baru perusahaannya di New York bersama sekretarisnya yang lain.


Siapa gadis itu sebenarnya? Tidak ada yang tahu, gadis yang sudah membuat tuannya terlihat sangat menyedihkan. Bahkan David hanya mengetahuinya dari foto saat Alex memintanya untuk mencari dimana keberadaan gadis itu.


Ketika Marcel kembali membuka mulutnya untuk bicara, David segera menghentikannya karena wajah tuannya yang sedari tadi sudah terlihat tidak bersahabat.


"Yaa merekaa.."


"Jangan bicara sembarangan tuan"


Kata-kata Marcel terpotong oleh ucapan peringatan dari David, dengan mimik wajah yang menakutkan David memberi peringatan pada Marcel yang langsung membuat nyali Marcel menciut. Karena David bisa melakukan apapun pada orang yang berani menyinggung tuannya.


"Aa-aah ya baiklah, lupakan saja itu tidak penting" ucap Marcel dengan senyumnya yang dipaksakan.


(aaah padahal aku ingin sekali bergosip tentang gadis itu, jika saja si David itu tidak ada disini) Batin Marcel


Sedangkan Daniel dan Nathan saling menatap, mereka benar-benar dibuat penasaran, siapa sebenarnya gadis yang Marcel maksud? Kenapa gadis itu bisa berada di villa Alex? Bukankah Alex memiliki kekasih?

__ADS_1


__ADS_2