
Sheira semakin mempercepat langkahnya menuju taman di dekat perusahaan. Hatinya bagai di remas-remas, pedih dan terluka. Pertahanannya selama ini runtuh begitu saja. Cairan bening kristal yang menumpuk hanya menunggu waktu untuk jatuh mengalir basahi pipi.
Sheira menjatuhkan dirinya dikursi taman. Tangannya bergetar meremas ujung kursi tempat duduknya.
"Alex" gumamnya
Cairan bening kristal itu jatuh tak terbendung lagi bersamaan dengan perasaan sedih yang menghanyut.
"Tuhan kenapa kau kembali mempertemukan aku dengannya?" Isaknya semakin keras terdengar.
Lili yang sedari tadi mengikuti Sheira hanya berdiri menatap sahabatnya yang kini tengah menangis tersedu-sedu.
Hatinya teriris melihat keadaan Sheira saat ini. Sekarang ia mengerti kenapa tuan Alex tadi menghampiri sahabatnya itu. Mungkin dia pria yang telah membuat Sheira trauma selama 5 tahun ini.
Sangat wajar jika Sheira menangis saat ini. Bagaimana tidak, ia harus di pertemukan kembali dengan pria yang telah membuatnya jatuh begitu dalam. Lili tahu semua tentang Sheira, bahkan Lili adalah orang yang membantu Sheira bangkit dari dukanya saat itu.
Perlahan ia berjalan mendekati Sheira, kemudian duduk di sampingnya. Air mata terus mengalir membasahi pipi putih Sheira. Dia terus menangis, menggigiti bibirnya yang bergetar. Tangannya ia kepalkan di dada, sedang tatapannya memandang jauh entah kemana.
(Mengapa Tuhan mempertemukan jika akhirnya Tuhan tidak mempersatukan) batin Lili, ia menatap pilu sahabatnya itu.
"Menangislah jika itu bisa menenangkanmu" ia merangkul sahabatnya yang tangisnya kini kian menjadi.
Lili memeluk Sheira begitu erat. Tanpa sadar air matanya jatuh begitu saja, ia merasakan sakit yang Sheira rasakan. Selama ini Sheira berusaha menutupi kesedihannya, ia berusaha bangkit dari keterpurukannya. Tapi kenapa takdir seakan mempermainkannya, ketika Sheira bertekad melupakan tapi Tuhan malah mempertemukan?
Lili teringat kembali pertemuan pertamanya dengan Sheira. Sheira yang saat itu kehilangan arah dan tujuan hidupnya. Lili adalah orang pertama yang merangkulnya, menguatkannya dan memberinya dukungan. Bahkan selama 5 tahun ini ia adalah orang yang selalu ada di samping Sheira. Beruntungnya Sheira memiliki sahabat baik seperti Lili.
* * * * *
Cahaya mentari sore begitu tajam. Teriknya menyajikan pemandangan yang begitu indah di mata. Sore itu Lili berjalan menyusuri bibir pantai yang terkenal dengan keindahannya dan masuk jajaran 10 pantai terindah di dunia.
Sudah dua hari ini Lili berada di pulau ini berlibur bersama orang tuanya untuk merayakan kelulusannya. Ya, Lili baru saja lulus SMA dan disinilah dia sekarang menagih janji ayahnya. Ayahnya berjanji jika Lili sudah lulus dan mendapatkan nilai bagus, ia akan mengajaknya berlibur ke pulau XX.
Bisa berlibur dengan kedua orangtuanya adalah impian Lili selama ini, karena selama ini kedua orangtuanya terlalu sibuk mengurusi pekerjaan hingga tak ada waktu untuk sekedar berlibur sejenak melepas penat.
Saat Lili tengah asik berjalan tanpa alas kaki di pasir pantai, matanya menangkap seseorang yang sedang duduk termenung dibawah pohon kelapa memandangi lautan lepas.
Lili terpaku melihat gadis berambut pendek yang di lihatnya kemarin. Sudah dua hari ini Lili melihat gadis itu duduk disana. Pandangannya terlihat kosong. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
Perlahan Lili berjalan mendekat ke arah gadis itu. Semakin dekat sehingga Lili bisa melihat dengan jelas bola matanya yang sembab penuh air mata.
Wajahnya cantik, namun penampilannya sungguh semrawut.
__ADS_1
Gadis yang mengenakan dress putih selutut itu wajahnya juga tampak pucat.
Apa yang sebenarnya terjadi pada gadis ini? Dilihat dari wajahnya sepertinya ia seumuran dengan Lili.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Lili dengan hati-hati
Sekarang ia sudah berdiri tepat di samping gadis itu. Namun tidak ada jawaban yang terdengar, hanya gemuruh angin laut dan deburan ombak yang mengisi kesunyian.
Lili menghela nafasnya pelan, kemudian ia duduk di samping gadis itu.
"Aku Lili"
Lili mengulurkan tangannya pada gadis yang ada di sampingnya. Uluran tangannya mengembang di udara, gadis itu hanya menatap Lili dan uluran tangannya secara bergantian, namun sesaat kemudian ia menerima jabatan tangan dari Lili.
"Sheira" ucapnya dengan suara serak
"Kenapa menangis?" Tanya Lili iba
Ia merasa prihatin melihat keadaan Sheira
Sheira tersenyum. Namun di balik senyumannya tersimpan perasaan suram, cemas, dan rasa putus asa yang sangat dalam.
"Aku benci diriku" ucapnya
"Aku tidak tau harus berbuat apa sekarang. Pikiranku buntu. Aku ingin pergi jauh dimana tak ada satupun orang yang akan melihatku" ucap Sheira sendu
Sejenak Lili menatap Sheira, kemudian ia tersenyum mengulurkan tangannya kembali
"Mari berteman dan kita bisa berbagi kisah. Kau bisa membagi kesedihanmu padaku, sebaliknya aku juga bisa membagi kesedihanku padamu"
"Jangan berteman denganku, aku bukan orang baik" ucap Sheira menatap nanar ke tengah laut lepas
"Kenapa? Apa kau seorang penjahat?" Ia bingung dengan apa yang di ucapkan Sheira
"Aku adalah anak yang tidak tau diri. Aku sudah mengecewakan ayah dan almarhumah ibuku" air mata Sheira seketika jatuh ketika mengingat wajah kedua orangtuanya
"Memangnya apa yang sudah kau lakukan?" Tanya Lili penuh selidik
"Aku hamil diluar nikah dan sekarang aku pergi dari rumah. Aku tidak tau apa yang akan terjadi jika ayahku sampai mengetahuinya. Mungkin dia akan membenciku seumur hidupnya karena aku telah mempermalukan keluarga"
Lili benar-benar terkejut mendengar penuturan Sheira, tanpa sadar Lili menatap perut gadis yang ada di sampingnya. Perutnya terlihat masih rata.
__ADS_1
Melihat tatapan tidak percaya dari Lili, Sheira menunduk mengusap perutnya
"Aku sudah bilang jangan berteman denganku. Aku bukanlah gadis baik-baik" ucapnya tersenyum
"Dimana ayah dari bayimu? Apa sekarang kau bersamanya?"
Deg.. Pertanyaan itu membuat Sheira hancur
Bagai pisau yang menusuknya bertubi-tubi tanpa iba, perasaan sakit itu membuncah menyebabkan luka baru yang terus menganga dan melepuh mengoyaknya tanpa ampun.
Bahkan sebelum anaknya lahir pun sudah ada yang mempertanyakan ayah dari bayinya. Bagaimana jika bayinya sudah lahir, ia akan menanggung malu karena tidak memiliki ayah seperti yang lainnya.
Sheira mengangkat wajahnya, air matanya jatuh berderai membasahi pipinya
"Aku terlalu mencintainya sampai aku tidak bisa melihat kenyataan bahwa dia tidak pernah mencintaiku"
"A-apa maksudmu?" Tanya Lili ragu. Melihat Sheira menangis, perasaan bersalah menghinggapinya. Mungkin pertanyaannya tadi telah menyakiti Sheira.
"Dia pergi dengan wanita lain. Dia tidak pernah mencintaiku. Mungkin aku hanyalah alat untuk mengusir kebosanannya selama ini. Bukankah aku sangat bodoh?" Sheira tersenyum getir, merasa sakit hati dengan ucapannya sendiri
Sementara Lili hanya diam menatap pilu gadis di sampingnya.
Usia mereka mungkin sama, tapi ujian yang di berikan tuhan pada Sheira sangat berat. Ia harus berjuang sendirian, tanpa keluarga, dan juga tanpa orang yang ia cintai.
"Jadi sekarang kau tinggal sendiri?" Tanya Lili lembut
"Hmm" Sheira menekuk lututnya, dan menelungkupkan kepalanya di antara lutut itu.
"Ini hukuman untukku karena sebagai wanita aku tidak bisa menjaga diriku dengan baik. Aku harap di atas sana ibuku tidak membenciku" menengadah menatap langit sore yang bercampur semburat warna senja
Kata-kata Sheira terdengar sangat memilukan di telinga Lili. Jika sudah begini, yang tersisa hanyalah sesal yang mendalam. Andai Sheira bisa kembali pada titik sebelumnya dan bisa mengubah segala keputusannya. Mungkin kehidupannya tidak akan semenyedihkan ini.
"Tinggalah denganku, orangtuaku akan menyayangimu. Berjanjilah kau akan memperbaiki dirimu dan membesarkan bayi itu dengan baik"
Sheira menoleh pelan dan menatap mata gadis cantik berambut curly disampingnya.
"Kau sangat baik, aku beruntung bisa bertemu denganmu disini. Tapi untuk sekarang aku ingin sendiri. Terimakasih sudah peduli padaku Lili" ucapnya dengan senyum manisnya
Dan itulah awal mula pertemuan Lili dengan Sheira. Lili tidak pernah putus asa mengajak Sheira untuk tinggal bersamanya, bahkan ia selalu datang ke pulau XX untuk membujuk Sheira, hingga akhirnya Sheira menyerah dan bersedia untuk tinggal dengan Lili.
Awalnya Sheira menduga jika orangtua Lili tidak akan suka padanya, namun ternyata dugaannya salah. Mereka bagaikan malaikat dalam kehidupan Sheira, mereka sangat berjasa dalam hidupnya. Menerima kekurangan Sheira, menguatkannya, dan mendukungnya. Bahkan mereka tanpa pamrih membiayai pendidikan Sheira.
__ADS_1
Sheira selalu berdo'a semoga tuhan memberikan kesempatan untuknya bisa membahagiakan orang-orang yang telah menyayanginya selama ini.