Terusik Rindu

Terusik Rindu
New York


__ADS_3

New York, 5 tahun yang lalu


Salju mulai turun di kota New York. Suhu dingin mulai menyelimuti seluruh kota.


Malam itu seorang gadis cantik berambut pendek tengah berjalan menuju sebuah apartemen mewah di tengah kota New York. Ada kecemasan yang terlihat di wajah gadis yang mengenakan mantel dan syal berwarna abu-abu itu. Perasaannya gelisah, membuatnya meremas-remas tangannya tanpa henti.


Perlahan ia memasuki lobby apartemen, langkahnya terhenti ketika sampai di depan lift kemudian ia menekan tombol 18 menuju unit apartemen milik kekasihnya Alexander Smith.


Rachelya Sheira, seorang gadis yang telah berhasil menjadi kekasih Alexander Smith. Seorang nona muda keluarga kaya yang kurang perhatian dan kasih sayang dari ayahnya. Ibunya sudah meninggal sejak ia duduk di bangku SMP mengharuskannya terbiasa tinggal bersama ibu tiri yang dinikahi ayahnya 2 tahun yang lalu.


Sudah 6 bulan Sheira menjalin hubungan dengan Alex dan semenjak itu pula ia tinggal di villa mewah milik Alex. Bukan tak ingin tinggal dirumah sendiri, namun ia canggung jika harus tinggal bersama ibu dan juga adik tirinya. Ya, Sheira memang mempunyai adik tiri perempuan yang usianya lebih muda satu tahun darinya.


Meski tak jahat, Sheira merasa jika ibu tirinya lebih mementingkan anak kandungnya. Memang, sangat manusiawi jika orang secara naluriah terbawa untuk lebih memperhatikan anak kandungnya. Tapi bukankah sebelum menikah sudah berkomitmen bahwa masing-masing harus memperlakukan sama kepada semua anak?


Entah kurangnya komunikasi atau mungkin memang ibu tirinya hanya peduli pada ayahnya saja, yang jelas Sheira merasa tidak betah tinggal dirumah. Terlebih ayahnya yang sangat sibuk dengan pekerjaannya hingga tak ada waktu untuk sekedar bertanya keadaan anaknya.


Ayahnya yang sibuk bahkan tidak tau jika anaknya berbohong. Sheira mengatakan ia menyewa sebuah apartemen di dekat sekolah, padahal selama ini ia tinggal bersama dengan Alex di villa mewah miliknya.


* * * * *

__ADS_1


Sheira terus menghubungi Alex, tapi nomornya masih belum aktif. Tadi setelah kembali dari rumah sakit untuk memeriksakan dirinya yang belakangan ini merasa sangat pusing dan lemas, Sheira tidak menemukan Alex di villanya. Nomornya bahkan tidak aktif, jadi Sheira memutuskan untuk mencarinya ke sebuah apartemen mewah yang juga milik Alex yang berada di tengah kota New York. Biasanya jika tidak ada di villa, Alex selalu menghabiskan waktunya untuk bekerja sampai lelah di apartemen ini.


Langkahnya semakin melebar setelah mendekati unit Alex. Tanpa pikir panjang, Sheira langsung memasukan kode password. Dia menerobos masuk dan tidak melihat siapapun di dalam. Kemudian ia melanjutkan langkahnya menuju kamar.


Pintunya sedikit terbuka, Sheira yakin Alex pasti ada di dalam.


Sheira meraba saku mantelnya, ia mengeluarkan sebuah kertas dari sana, sejenak Sheira terdiam menatap kertas yang ada di tangannya kemudian ia melangkah perlahan menuju kamar Alex.


Sheira terdiam di balik pintu yang sedikit terbuka.


Ia terkejut, mulutnya terbuka, matanya berkaca, rasa sesak membuncah di dadanya. Ia bahkan meremas kertas yang dipegangnya. Hatinya hancur berkeping-keping.


Sheira tidak salah lihatkan? Apa dia sedang berhalusinasi sekarang? Tapi ini benar-benar nyata.


"Benarkah? Lalu kenapa kau pergi begitu lama?" Tanya Alex, tangannya dilingkarkan di pinggang ramping gadis itu. Pandangan seksi dihadiahkan pada wanita yang ada dihadapannya.


"Kau juga kenapa tidak menyusulku ke Swiss?" Gadis itu memasang wajah cemberut


"Aku menunggumu disini, Laura" ucap Alex tersenyum sambil memberi tatapan menggoda pada Laura, wanita yang sangat ia rindukan selama 6 bulan ini.

__ADS_1


Alex mengecup bibir Laura. Sudah sangat lama ia tidak mencium bibir ranum gadis yang ada di dalam pelukannya itu. Awalnya hanya kecupan kecil, kemudian mereka berciuman lagi dengan sangat panas. Alex mendorong tubuh Laura hingga jatuh ke tempat tidur tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Posisi Alex yang menindih tubuh Laura dan membelakangi pintu membuatnya tak sadar jika ada seorang gadis yang tengah jatuh berlutut, tubuhnya bergetar hebat, nafasnya tak beraturan, ia membekap mulutnya dengan kedua tangannya agar tak menangis keras.


Kertas yang ia kepal sudah jatuh di lantai sejak tadi. Saat ini ia benar-benar hancur. Melihat pria yang ia cinta bercumbu mesra dengan wanita lain benar-benar telah memporak-porandakan hatinya. Segala impian dan harapan yang ia bangun selama ini binasa dalam hitungan detik.


Sheira melepas sepatu boots warna hitamnya yang berhak tinggi, ia ingin berlari sekencang-kencangnya meninggalkan apartemen ini. Ia tak sanggup lagi jika harus melihat adegan-adegan yang akan terjadi selanjutnya antara Alex dan wanita itu.


Sheira berusaha untuk bangun, keseimbangannya tidak stabil, kakinya gemetar dan rasa pusing menderanya. Bahkan ia harus menopang tubuhnya pada sisi-sisi dinding apartemen agar tak terjatuh.


Ia terus berusaha untuk melangkah, ia tak peduli dengan kakinya yang gemetar dan kepalanya yang menahan pusing. Ia harus keluar secepatnya, ia harus pergi dari sini.


Sheira sesengukan menahan tangis di sudut lift. Semua yang tadi ia lihat membuat hatinya remuk redam. Dunianya tak lagi seindah angan-angannya dulu. Segala harapan yang ia pendam seakan sia-sia. Malam itu ia harus menerima kenyataan yang selama ini menjadi hal yang tak pernah ia bayangkan.


* * * * *


Setelah selesai menuntaskan gairahnya, Alex segera bangun untuk membersihkan dirinya. Ini bukan kali pertamanya ia bercinta dengan gadis yang kini tengah tertidur lelap di tempat tidurnya. Sejak awal hubungan mereka memang sudah sangat intim. Laura sejak awal sudah tidak virgin tapi Alex tidak pernah mempersalahkan hal itu.


Di kamar mandi Alex termenung dibawah guyuran air shower. Dia sedikit bingung. Entah kenapa, ada perasaan menyesal dihatinya setelah percintaan panasnya dengan Laura.


Alex memejamkan matanya. Mendadak saja bayangan seorang gadis lugu dan polos yang sedang tersenyum muncul dalam benaknya. Gadis yang sudah ia renggut kesuciannya, gadis yang sangat mudah ia bodohi yang mungkin sekarang sedang menunggunya di villa.

__ADS_1


Ia segera menyelesaikan mandinya dan segera keluar dari kamar mandi. Kemudian Alex berjalan mengambil pakaiannya di lemari, lalu memakainya.


Alex terus menerus mengingat wajah Sheira. Dan saat itu pula ada perasaan aneh dihatinya. Ada perasaan bersalah, khawatir, merasa jijik dengan dirinya sendiri. Ia tidak tau itu perasaan apa, yang jelas itu adalah perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bahkan ia tidak pernah merasa bersalah ketika mengkhianati Laura. Tapi kali ini kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi padanya?


__ADS_2