
Pagi itu Sheira sedang sibuk di dapur memasak bubur untuk sahabatnya Jessi. Semalam memang Sheira menginap di apartemen ini. Ia menemani sahabatnya yang sedang sakit.
Bel apartemen berbunyi..
Sheira segera mematikan kompor dan bergegas untuk melihat siapa yang datang.
Ketika membuka pintu, Sheira terpaku melihat seorang pria tampan yang tampak tak asing di matanya.
Keduanya tampak terkejut, namun tak lama kemudian Sheira tersenyum.
"Kak Alex, apa yang kau lakukan disini?" Tanya Sheira bingung
"Aku yang harusnya bertanya padamu. Apa yang kau lakukan di apartemen adikku?" Ucap Alex menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
Sheira terkejut. Jadi pria yang ia temui dua hari yang lalu adalah kakaknya Jessi.
(Kenapa Jessi tidak pernah bercerita padaku jika dia punya kakak setampan ini) batin Sheira
"A-aah jadi kak Alex adalah kakaknya Jessi?"
"Emm aku sahabatnya. Semalam Jessi memintaku untuk menemaninya disini" ucap Sheira tersenyum canggung
Alex menaikan kedua alisnya kemudian mengangguk.
"Terimakasih" ia tersenyum manis lalu mengusap pucuk kepala Sheira. Kemudian berjalan masuk untuk melihat keadaan adiknya Jessi.
Sheira tertegun dengan perlakuan manis dari Alex. Ia yakin pasti sekarang pipinya sudah sangat merah seperti tomat. Perlakuan manis itu membuatnya malu. Jantungnya saja sudah berdetak kencang sekarang.
"Astaga kenapa aku seperti ini"
Sheira menepuk kepalanya yang terus mengingat perlakuan manis dari Alex.
"Apa yang kau pikirkan bodoh, itu tidak mungkin" ucapnya.
Kemudian Sheira segera berjalan untuk menyusul Alex dan menyiapkan bubur untuk sahabatnya.
* * * * *
"Jadi kalian sudah saling mengenal?" Tanya Jessi bersemangat. Ia menatap kedua orang itu bergantian
Sheira yang sedang mengaduk-aduk bubur melirik sekilas pada Alex yang duduk di sofa di seberang tempat tidur. Sementara Sheira duduk di sebelah Jessi yang juga duduk bersandar di tempat tidur.
"Hmm, kami bertemu 2 hari yang lalu" ucap Alex masih memainkan ponselnya
"Benarkah? Ayo ceritakan padaku kak. Bagaimana kalian bertemu?"
__ADS_1
Alex mengalihkan pandangannya pada gadis yang duduk di sebelah adiknya. Ketika mata mereka saling bertemu, Alex menghadiahkan senyuman manis pada Sheira. Sheira yang gugup segera mengalihkan pandangannya ke mangkuk bubur, enggan untuk menatap pria itu.
(Aaah kenapa dia tersenyum padaku, membuat dadaku sesak dan jantungku berdebar saja) batin Sheira
* * * * *
Pagi itu awal musim gugur di kota New York. Alex yang saat itu baru saja selesai mengadakan pertemuan bisnis di sebuah hotel dekat danau menerima telepon dari kekasihnya Laura.
Ia berjalan menyusuri pinggir danau namun tiba-tiba mata hitam cemerlangnya menangkap sesosok gadis cantik berambut pendek yang sedang duduk di kursi panjang di bawah pohon. Saking terlalu fokusnya pada objek yang ia amati, Alex sampai tersentak mendengar suara Laura di telepon yang sudah memanggilnya sejak tadi. Tanpa bicara ia mematikan teleponnya. Entah kenapa, Alex lebih tertarik pada objek yang ada di depannya dari pada Laura.
Seperti ada magnet, tak seperti biasanya hatinya seperti di tarik untuk mendekati keindahan itu.
Perlahan ia melangkah ke arah gadis itu. Senyum tipis terlukis di wajah Alex. Ia menatap lekat gadis cantik yang belum sadar jika ada seseorang di sampingnya yang tengah memandanginya.
"Lukisanmu sangat indah nona" ucap Alex memuji lukisan gadis itu
Seketika gadis itu menoleh, mendongak menatap pria yang sedang berdiri di samping kursi tempat duduknya.
Tatapan mata mereka bertemu membuat mereka saling tatap dalam diam. Sesaat kemudian Alex tersenyum lalu mengalihkan pandangannya pada danau yang ada di depannya.
"Terimakasih" senyum manis mengembang di wajah cantik gadis itu. Kemudian ia kembali melanjutkan aktivitas melukisnya.
Menyadari jika pria di sampingnya hanya berdiri, gadis itu menggeser duduknya.
"Duduklah kak"
"Nama?" Ucap Alex masih menatap danau didepan nya
"Hah?" Gadis itu sedikit bingung. Apa pria di sampingnya ini tadi menanyakan namanya atau bukan. Pertanyaannya tidak jelas membuatnya sedikit ragu untuk menjawab.
Alex tersenyum, ia menoleh menatap gadis itu kemudian kembali bertanya.
"Siapa namamu gadis cantik?"
Deg
(Oh ya tuhan, dia tampan sekali)
"Ooh mm... Rachel kak" ucapnya tersenyum canggung
"Mmm... Lalu nama?" Sebelum ia menyelesaikan pertanyaannya Alex sudah menjawab
"Alexander Smith"
Saat itulah pertemuan pertama mereka. Dan mungkin saat itu juga Sheira jatuh cinta untuk yang pertama kalinya pada seorang pria yang mengajaknya berkenalan di pinggir danau kota New York.
__ADS_1
Sheira terlena dengan perlakuan manis pria itu. Apalagi saat Jessi sakit Alex sering menengoknya dan tentu saja Sheira juga selalu ada disana. Mungkin karena seringnya bertemu dan mendapat perlakuan manis membuat Sheira semakin jatuh hati pada pria tampan yang usianya terpaut 11 tahun lebih tua darinya.
Hingga akhirnya Sheira tak bisa menahan lagi rasa yang bergejolak di hatinya. Ia memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya.
"Kak aku menyukaimu"
Alex hanya tertawa, karena selama ini ia hanya menganggap Sheira seperti adiknya sendiri.
Sheira tau ini adalah sebuah penolakan. Namun jika sudah cinta Sheira siap menerima segala resiko yang akan terjadi setelahnya. Entah Alex akan membalas perasaannya atau tidak yang terpenting ungkapkan saja lebih dulu.
Tidak menyerah, Sheira kembali mengungkapkan cintanya pada pria dewasa itu. Sebut saja Sheira tidak tau malu karena ia mengejar-ngejar pria yang hanya menganggapnya sebagai adik. Dan benar saja lagi-lagi Sheira di tolak. Alex bahkan mulai muak dengan sikap agresif Sheira, ia tak pernah mencintai gadis itu karena memang Sheira bukan kriterianya. Ia hanyalah gadis kecil yang seumuran dengan adiknya.
Hingga pada suatu waktu, karena hari sudah sangat malam Alex memutuskan untuk menginap di apartemen Jessi.
Saat itu sudah lewat tengah malam, ia keluar dari kamarnya untuk mengambil segelas minuman. Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika menyadari sesosok gadis tengah terlelap di sofa ruang tengah. Dari tadi Sheira menunggu Alex, namun Alex tidak keluar dari kamarnya hingga akhirnya tanpa sadar ia tertidur di sofa.
Perlahan Alex mendekat ke arah Sheira. Ia benar-benar tercekat menahan nafas ketika melihat kecantikan dan kemolekan tubuh Sheira. Sheira yang mengenakan daster tanktop bermotif strawberry membuatnya terlihat begitu seksi, berisi, dan berlekuk indah di tempat-tempat yang semestinya. Posisi tidurnya membuat roknya sedikit terangkat hingga paha mulusnya terekspos begitu saja. Mata Alex tak puas menatap kaki jenjang dan putih Sheira. Ia mulai memimpikan kedua kaki itu melingkari pinggangnya saat ia menghujam miliknya dalam-dalam ke tubuh aduhai Sheira.
Alex menelan salivanya kasar. Apa yang ia lihat di depannya telah membuat darahnya mendesir menuju satu titik di bawah perutnya.
Ahhh Alex benar-benar tergoda oleh gadis yang berulang kali ia tolak cintanya.
Tiba-tiba seringai licik terlukis dibibirnya
"Akan kubuat kau menjadi milikku seutuhnya" ucapnya menatap Sheira intens
Alex mulai membuat rencana jahat, ia ingin membuat Sheira semakin tergila-gila padanya. Jika Sheira kembali menyatakan cinta pada nya, ia akan dengan senang hati menerimanya dengan satu syarat, Sheira harus tinggal bersamanya.
Alex berencana menjadikan Sheira gundik yang akan memuaskan nafsunya. Dia hanyalah gadis kecil yang bodoh yang baru pertama kali mengenal cinta. Dia pasti akan menuruti semua keinginan Alex. Alex baru akan membuang Sheira setelah ia merasa bosan pada gadis itu.
Dan benar saja rencana liciknya benar-benar terealisasi. Sheira menyetujui syarat untuk menjadi kekasih Alex yaitu harus tinggal bersamanya. Dan mereka benar-benar tingal serumah dan terlihat seperti pasangan pada umumnya. Perlakuan manis dari Alex membuat Sheira luluh hingga akhirnya ia merelakan kehormatannya direnggut begitu saja.
Sudah tak terhitung berapa kali mereka melakukannya, yang pasti ini adalah atas dasar suka sama suka. Alex tak pernah menyadari jika selama ini ia telah mencintai Sheira. Terlihat dari sikapnya yang selalu memperlakukan Sheira dengan lembut dan penuh kasih sayang. Ia hanya berfikir mungkin karena Sheira seumuran dengan adiknya jadi ia menyayangi Sheira dengan tulus. Ia meyakinkan dirinya jika ini hanyalah sebuah obsesi pada tubuh gadis itu, tidak mungkin ia jatuh cinta pada gadis kecil yang polos seperti Sheira.
Hingga pada suatu waktu, Alex melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Kedatangan Laura ke New York membuat hidupnya berantakan. Hubungan yang telah ia bangun dengan Sheira selama ini hancur begitu saja.
Menyesal, ia benar-benar menyesal karena terlambat menyadari perasaan cintanya pada Sheira. Ia melakukan kesalahan yang teramat fatal dan mustahil untuk dimaafkan. Hingga akhirnya gadis lugu yang selama 6 bulan tinggal bersamanya itu menyerah dan pergi meninggalkannya.
* * * * *
Sudah 5 tahun setelah kepergian gadis itu. Alex berubah menjadi laki-laki yang tak tersentuh oleh siapapun. Bahkan hubungannya dengan Laura berakhir sejak kepergian Sheira saat itu. Laura tidak tahan lagi dengan perlakuan dingin dari Alex dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.
Selama 5 tahun ini, Alex selalu dihantui rasa bersalah.
Setiap malam ia selalu menangis jika mengingat wanita yang telah ia sia-siakan cintanya. Apalagi saat ia mengetahui jika wanita yang dicintainya sedang mengandung bayinya.
__ADS_1
Jika tuhan mengizinkan, sekali saja Alex ingin menemui wanita yang telah ia bodohi untuk meminta pengampunan darinya.
Meskipun ia tahu ucapan maaf tak akan cukup untuk segala hal menyakitkan yang ia berikan pada gadis itu. Ia akan berusaha meminta maaf meskipun harus mengucapkannya berjuta-juta kali dan bersujud dikakinya, ia sungguh akan melakukannya.