
Aku hanyalah satu diantara jutaan milyar bintang yang menatap kagum pada rembulan.
Sebuah bintang kecil nan redup mengharap sang rembulan bisa mendekat.
Sungguh mustahil --Ellena--
Di sebuah kamar 3x3 bernuansa gold grey. Sunyi, hanya terdengar detak jarum jam yang setia menjadi penanda bahwa ruangan itu masih memiliki penghuni.
Benda yang menghasilkan suara detakkan itu sudah menunjukkan angka satu dini hari pertanda hari sudah berganti, tapi tidak dengan seorang gadis cantik berambut panjang itu. Hati dan pikirannya masih lekat dengan kejadian yang entah dia sudah sadar bahwa kejadian itu sudah hari kemarin atau masih menganggap hari ini.
Ellena masih setia duduk termenung dengan sebuah buku lengkap dengan pasangannya yaitu bulpoin. Mengingat satu persatu kejadian yang telah di alaminya kemarin. Sesekali dia menelungkupkan tangannya untuk menyembunyikan wajahnya, pertanda dia sudah mulai bertengkar dengan pikiran dan hatinya.
Diliriknya buku yang masih setia dengannya, belum ada coretan yang berarti, hanya sebuah sebuah tanggal di pojok kanan atas. Ya.. Ellena selalu di temani dengan buku diary kecil sebagai tempat mencurahkan segala isi hatinya setiap hari. Kehidupan yang kejam membuat dia menjadi sosok yang introvet.
Ellena POV
Dear
Hari ini aku melihatmu. Untuk pertama kalinya aku melihatmu setelah hanya kupandang fotomu di sebuah novel online kesayangannku. Ternyata kau lebih hebat dari yang di katakan Vanya. Kau sungguh tampan dan berwibawa. Walaupun pertemuan kita sungguh sangat membuatku terluka.
Entah apa yang terjadi padaku, seakan kau bukan orang asing bagiku. Hatiku selalu berkata bahwa tatapan itu bukan kali pertama aku mendapatnya. Bahkan seluruh tubuhku menghianatiku. Otakku berkata tidak sedangkan hati dan mataku memberotak untuk menurut.
Kau terlihat sangat tampan dari yang ku lihat di novel saat itu. Meski tak ada bedanya sikapmu dengan di novel-novel yang aku baca hehe. Sangat dingin dan arogan haha, tapi aku yakin kau sangat baik.
Maafkan aku yang membuatmu marah, karena kecerobohan ku telah menabrak mu, bahkan sudah dua kali untuk hari ini. Maafkan aku jika suatu saat ternyata hati ini benar bahwa bukan hanya sekedar kagumku untuk seorang hebat sepertimu. Jujur, aku tak ingin menaruh hatiku untukmu, tapi aku bukan malaikat yang tau alur dari kehidupanku dan apa yang diinginkan hatiku.
Kita sangat berbeda, kau bagaikan rembulan yang sangat terang sedangkan aku hanyalah satu dari jutaan milyar bintang yang ingin mendekat. Mungkin ini terlalu cepat untukku mengerti perasaanku. Aku harap perasaan ini bukan sebuah rasa cinta melainkan hanya sebuah obsesi kekagumanku pada sosok yang sangat sempurna sepertimu.
Selamat malam Tuan S.-- Ellena*
.
.
__ADS_1
.
.
Author POV
Tak terasa sudah dua Minggu Ellena melakukan kegiatan magangnya di OSH Grup. Masih seperti hari-hari sebelumnya, Vanya dan juga Aldo masih menyempatkan untuk hanya sekedar kumpul di kantin untuk makan bersama. Seperti sekarang, kami sedang menanti dengan sabar amunisi agar kami bisa melanjutkan aktivitas lagi. yups.. makan haha
"Gak kerasa ya udah dua Minggu kita di sini"
"Iya El, udah dua Minggu aja" sahut Aldo
belum sempat Vanya menyaut suara suara deheman seseorang mendahuluinya. Sontak Ellena, Vanya dan Aldo menoleh ke sumber suara.
"ehem.. boleh ikut gabung?"
"Eh.. boleh" jawab Ellena singkat
"Kalian mahasiswa magang kan??" tanya cowok itu sekedar basa basi
"Kenalkan, aku Doni, kepala marketing"
"Aku Vanya, ini Ellena dan satu lagi yang paling lengket sama kita kayak lem sama kertas, namanya Aldo" jelas Vanya panjang lebar.
Tak lama pesanan kami pun datang.
"Selamat makan..." ucap Ellena riang yang di anggukin oleh Vanya, Aldo dan Doni
Ellena dkk pun menikmati makan siang masing masing sambil diselingi canda dari Aldo dan Doni tak lupa peran Vanya yang udah kayak tom and Jerry kalau udah sama Aldo. Entahlah, sepertinya hidup mereka tak lengkap sebelum ada pertengkaran.
"Pak Doni sudah berapa lama kerja di sini??" tanya Ellena sambil menyeruput es sejuta umat yaitu es teh
"Emm.. udah 4 tahunan la..."
__ADS_1
"Wah... udah lama ya???" sahut Vanya "Berarti sering ketemu sama pak bos artis itu dong??"
" Gak juga sih, bahkan baru ini aja aku ketemu, soalnya kan beliau kerjanya bukan hanya di perusahaan aja. Belum lagi kan dia artis papan atas jadi ya gak pernah ada waktu buat mantau langsung"
'Wahh... keren ya.. udah ganteng, tajir masih muda lagi. Mau dong yang kayak gitu" cerocos Vanya
"Dianya yang gak mau sama kamu Van Haha" sahut Aldo yang di barengi gelak tawa yang lain
"tapi kok aku gak pernah lihat ya?? apa udah balik ke negaranya??" sahut Ellena
"Cie... yang merhatiin???"
"Ih.. apa sih Van, kan aku cuma nanya?
"Eh.. tapi bener sih!!" jawab Vanya yang di hadiahi toyoran dari Ellena
Tak lama kantin tiba-tiba riuh, terdengar bisik-bisik karyawan. Bahkan ada yang hampir histeris.
"Ada apa sih???"
"Wah.. wah.. tu kan pak bos" sontak yang ada di situ menoleh ke arah yang menjadi pusat perhatian, begitu juga Ellena.
"Pak bos ganteng bangetttt......"
"Adek gak kuat kalau kayak gini bang.."
"Boleh minta tanda tangan gak ya??? itu kan biasku"
yah begitulah sekiranya bisik bisik karyawan.
saat Ellena menoleh, tanpamu sengaja mata mereka bertemu. lagi - lagi Terasa ada getaran yang entah apa namanya, Ellenapun tak tau.
Sehun dengan wibawa berjalan diikuti dengan sekretaris dan juga beberapa bodyguard di belakang.
__ADS_1
Mata elang yang mampu mengobrak abrik siapa saja dan juga karisma yang sangat terpancar, hanya satu kata yang mewakili "Perfect!!!"