The Big Fate Secret

The Big Fate Secret
Eps 2


__ADS_3

Bahkan rumitnya hati seperti tidak pernah berkahir. Jika bisa memilih, ku tak ingin memberikan perasaanku kepada siapapun. Karena aku tau, bahwa tidak selamanya perasaan itu memberikan kebahagiaan --Ellena--


Elena POV


Disebuah padang bunga, terlihat pemandangan yang sangat indah. Bunga lili yang berwarna warni, sungguh menyejukkan mataku. Kupu-kupu yang berterbangan seakan menyempurnakan ciptaan tuhan yang tak terkalahkan. Langkah demi langkah ku menyusuri padang bunga lili itu. Tak terasa langkahku berhenti kala melihat seorang pemuda yang berdiri di depanku dengan posisi membelakangiku. Tubuh tegap dengan badan yang proporsional sangat gagah, meskipun dengan posisi seperti itu, aku sangat yakin bahwa dia memiliki wajah yang rupawan. Ku perhatikan lagi pemuda itu, dan mataku tertuju di kakinya. Terdapat borgol bola besi di salah satu kakinya. Ku beranikan langkahku untuk melangkah lebih dekat.


"Tuan..." ku panggil pemuda itu, tak ada sahutan darinya. "Tuan.." nadaku sedikit ku keraskan berharap dia mendengarku.


Perlahan dia menoleh ke arahku. Mataku menangkap sosok itu, pemuda yang sangat gagah dan rupawan. Wajahnya begitu tampan, hidung mancung, bibir tipis, alis tebal, dan garis rahang yang ketara. Sungguh seakan ku terhipnotis olehnya. Namun sepersekian detik aku tersadar oleh mata itu, terlihat sayu dan penuh dengan kesedihan. Ku arahkan mataku ke kakinya, dia menatapku, dan tersenyum kepadaku seolah memberi isyarat "I'm oke".


Ku mulai mencoba untuk mendekatnya, inginku lepaskan borgol bola besi itu. Tetapi, ketika satu kakiku melangkah ku hanya melihat kabut putih di depanku. Samar-samar ku masih melihatnya. Kucoba berlari menerjang kabut yang semakin tebal.


"Hei.. tuan.. tuan" ku coba memanggilnya namun nihil tidak ada sahutan apapun yang ku dengar.


"Tuan...tuann... tuan..."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Author POV


"El..El..Ellenaaaaa" Vava membangunkan Ellena yang masih berada di alam mimpi itu


"Hosh..hosh.." nafas Ellena terengah-engah, keringat semakin bercucuran.


"Lu kenapa El??" tanya Vava "mimpi buruk??" sambung Vava sambil memberikan segelas air kepada Ellena.


Ellena mengambil air yang di berikan oleh Vava dan meneguknya habis tak bersisa.


"Lu habis mimpi ikutan lari maraton ya??" tanya Vava yang penasaran sembari mengambil gelas dari Ellena.


"gak kok, gue gak apa-apa" balas Ellena singkat. "Jam berapa ini??" tanya Ellena.


"Baru jam 6 kok" jawab Vava yang hanya di balas anggukan oleh Ellena. "Lu beneran gak apa-apa El?? Muka lu sampe pucat gitu" selidik Vava.


"Iya gue gak apa-apa" singkat Ellena. "gue mandi dulu ya??" yang hanya di balas anggukan oleh Vava

__ADS_1


Dengan gontai Ellena menuju ke kamar mandi.


20 menit berlalu.


Ellena sudah menyelesaikan ritual mandinya.


Ellena duduk di depan cermin, merapikan rambutnya. Menatap pantulan wajah cantiknya yang hanya di balut dengan make up tipis namun terlihat sempurna. Namun, lagi-lagi bayangan mimpi itu muncul.


"Tuhan.. kenapa aku mimpi seperti itu? Apa arti mimpi itu?? dan siapa pemuda itu??"


pikir Ellena yang sedari tadi selalu terbayang bayang akan mimpinya.


"Woy Elll.." Teriak Vava. "Lu kenapa sih, aneh banget. Pagi-pagi udah ngelamun aja" tanya Vava


"Duh Va!!!๐Ÿ˜  lu bisa gak sih gak ngagetin gue, bisa-bisa gue mati dini gara-gara lu" sungut Ellena yang dengan mengusap dadanya


"Hehehe ๐Ÿ˜ maaf, lu sih, dari tadi gue panggilin gak denger-denger, malah asyik ngelamun"

__ADS_1


"Udah.. udah.. ni udah jam 8 yuk berangkat, entar telat" Ajak Ellena.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2