The Big Fate Secret

The Big Fate Secret
Eps 5


__ADS_3

Seperti terus menerus dipecundangi dunia, tak ada akhir, hanya neraka yang kulihat, walaupun samar kumasih menemukan sosok malaikat --Sehun--


POV Sehun


Dan disinilah aku. Belahan dunia yang lain dengan iklim tropis, senyuman ramah yang kulihat di mana-mana, orang-orang yang memiliki warna kulit yang sedikit berbeda denganku. Ya.. Indonesia. Negara yang 17 tahun lalu ku tinggalkan. Hanya sesekali kali ku sambangi jika ada pekerjaan yang menuntut ku untuk mampir di Negara damai ini. Bukan ku tak mau, hanya saja kenangan buruk itu selalu terlihat di depan mataku jika kakiku sudah ku pijakkan di bumi Pertiwi ini. Sesungguhnya, Negara damai ini adalah negara yang selalu ku sebut sebagai negara penolongku.


Masih sama seperti 17 tahun yang lalu, tak banyak berubah kecuali bertambahnya bangunan-bangunan tinggi menjulang, yaa... tak heran karena negara ini selalu berkembang di semua sektor. Aku sangat bangga pernah besar di negara ini. Tak ada perbedaan aku dengan mereka. Mereka selalu menyambutku dengan hangat, memberiku senyuman tulus yang tak kutemukan di negara lain yang pernah ku temui.


Setelah sampai Indonesia, tujuan utamaku adalah salah satu panti asuhan di Bandung. Tempat ini terlihat masih sama seperti terakhir kali ku tinggalkan. Hanya saja, ada beberapa gedung di sekitarnya. Dari kejauhan sudah kulihat senyum dan tawa anak-anak yang sedang bermain di pelataran rumah. Dan wanita paru baya yang hampir menginjak usia kepala 5 itu, terlihat semakin menua walaupun masih terlihat cantik dengan sapu di tangannya. Ya... dia Bunda Marni, ibu panti pengganti orang tuaku sejak 21 tahun yang lalu.


"Selamat sore bunda??" ku menghambur ke pelukan wanita itu. Sungguh ku sangat merindukan pelukan hangatnya.


"Kamu??" ucap wanita itu seraya memainkan tangannya di dagunya, memutar kembali memorinya, mengingat sosok yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Ken???" ucapnya lagi, yang hanya ku balas dengan anggukan dan senyum tulusku.


"Kennard Xavier????" tegasnya, dan sekali lagi aku hanya membalasnya dengan anggukan. Wanita paru baya itu kembali mendekapku.


"Iya bunda, ini aku, Ken"


"Ya tuhan, kau semakin gagah nak. Pangling bunda lihatnya" seru bunda Marni. "Ayo nak masuk, kapan kamu datang nak?"


"Hari ini Bun, langsung ke sini, kangen sama bunda" kulihat lihat satu persatu anak-anak yang ada di situ.


"Rara sudah tidak disini, semenjak masuk sekolah menengah atas dia mendapatkan beasiswa di kota dan menetap di sana"


"Apa dia tidak pernah datang kemari bun??" Sebenarnya ada rasa kecawa saat ku mendengar penuturan bunda Marni.

__ADS_1


"Hanya sesekali, karena dia juga harus bekerja paruh waktu untuk biaya hidup di sana, juga dia selalu mengirimkan uang untuk kami, dia bekerja keras semenjak donatur tetap disini sudah tidak ada" terang bunda dengan mata yang sudah berkaca-kaca


"Dan juga.." tiba-tiba omongan bunda terhenti,. Aku langsung membawa bunda di perlukanku.


"sudah bun tak apa" jawabaku berusaha menenangkannya.


########


Hari ini sangat melelahkan. Ku rebahkan tubuhku di kasur king size apartemen. benar.. setelah dari panti ku putuskan untuk langsung ke apartemen yang sudah disiapkan oleh asistenku sebelumnya. Sebenarnya aku sudah memiliki orang paket komplit di sini yang sudah lama bersamaku. Sam, asisten, sahabat sekaligus tangan kananku salah satu orang kepercayaanku.


Mataku menerawang jauh di cat putih langit langit kamar, menerawang jauh kejadian yang hampir 17 tahun berlalu. Senyuman yang tak pernah bisa ku hilangkan dari pikiranku, dan perjalanan jauhku di masa lalu mengantarku kealam lain. ya.. aku tertidur dengan kenangan yang berputar kembali seperti film dokumenter kemerdekaan.


##########

__ADS_1


Maapken ya.. kalau susah di pahami ceritanya, yah maklum lah, ini kali pertama author nulis cerita yang di publish jadi rada oleng kalau nulis haha.. 사 랑 해


🥰🐣🐣🐣🥰


__ADS_2