
Jeffrey Anderson Jung. Pria blasteran Amerika-Korea. Di umurnya yang genap 32 tahun ia sudah melampaui banyak pencapaian. Menjadi CEO di sebuah perusahaan terkemuka di Asia.
Duda tampan yang mempunyai anak berumur 4 tahun yang lucu. Hot Daddy.
Berkebalikan dari 'hot', sikapnya dingin. Kejam. Tak berperasaan. Jika dia sedang tidak mood, jangan pernah sekali-kali kau mengganggunya atau- keut! Kau akan hancur. Apalagi kau mengganggu ketenangan keluarganya.
Selalu memasang wajah dengan ekspresi datarnya tapi tetap saja terlihat tampan. Ia tidak akan segan-segan memecat siapaun yang lalai saat bekerja padanya, setelah sebelumnya ia maki-maki habis-habisan.
Kekejaman dengan wajah dinginnya akan berubah menjadi hangat dan berseri-seri ketika sedang berdua dengan anak semata wayangnya, Mark Anderson Jung.
Seperti saat ini, anaknya menelponnya saat ia sedang membahas meeting dengan sekretaris pribadinya; Johnny, di ruangan pribadinya. Ekspresi seriusnya seketika berubah menjadi tenang dengan senyuman begitu melihat nama kontak asisten rumah tangganya tertera di layar handphone.
'Pasti Mark' pikir Jeffrey. Ia sudah menduganya. Pembicaraannya dengan Johnny dihentikan begitu saja.
"Halo.." Jeffrey mengangkat teleponnya.
"PAPAAAA" suara khas anak kecil terdengar begitu nyaring.
"Iya, kenapa hm?" Jeffrey tersenyum. Hal langka jika itu terjadi di luaran. Johnny yang sudah bertahun-tahun menjadi tangan kanannya tentu sudah biasa.
"Malk mau ice cleam di kedai dekat kantol papa yang waktu itu.. ya papaaa.."
Ekspresi lucu dengan tatapan memohon seketika muncul di bayangannya. Anaknya yang belum fasih mengucapkan huruf 'r' itu benar-benar.
"Mark mau kapan hm?"
"Malk mau sekalang papa.. okaay tidak? halus okay yaa papa okay?"
Jeffrey terkekeh gemas mendengar bujukan anaknya. Bahkan Johnny harus menahan tawanya karena gemas mendengar percakapan papa dan anak itu. Fyi, Jeffrey selalu mengeraskan suara ponselnya jika Mark meneleponnnya.
"Okay, sekarang. Papa akan suruh Paman Max untuk mengantarmu ke kantor papa okay?"
"Eung! Yeayyyy papa yang telbaikk. Aku akan segela belsiap-siap. Sampai ketemu disana papa..."
Mark terdengar begitu bersemangat sekali. Senyum Jeffrey menjadi tahan lama dari biasanya karenanya. Ia menutup teleponnya.
"Johnny, telepon Max suruh dia mengantarkan anakku ke kantor". Kembali dengan Jeffrey si serius nan dingin.
"Baik, Sir". Johnny terlihat mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang bernama Max itu.
__ADS_1
Jeffrey meraih dompet, ponsel serta jasnya yang tersampir di kursi singgasananya. Ia berjalan ke arah pintu yang akan membawanya keluar.
Baru memegang gagang pintu, ia berbalik. "Ah, jika aku belum kembali saat makan siang. Kau yang handle meeting hari ini okay?".
"Baik, Sir".
Dengan itu.. Jeffrey keluar ruangannya sambil mengenakan jasnya. Pergi masuk ke elevator khusus untuk dirinya turun ke lantai dasar. Lebih tepatnya ke lobi untuk menyambut anaknya.
Tak sampai sepuluh menit ia melihat anaknya turun dari mobil dan langsung berlari masuk ke lobi. Para security yang menyadari sang tuan muda memasuki gedung langsung mengawalnya. Takut ia terjatuh.
Jeffrey yang menyadari anaknya berlari ke arahnya dengan sigap juga ikut berjalan menghampirinya. Jeffrey segera menggendongnya begitu Mark sampai di hadapannya.
"Jangan lari-lari Mark nanti jatuh bagaimana hum?" tanya Jeffrey sambil menciumi wajah anaknya dengan gemas. Para karyawati yang kebetulan berada di lobi gedung sontak menatap mereka dengan tatapan memuja.
Mark tertawa kegelian, "Malk ingin cepat-cepat makan ice cleam, Papa..".
Jeffrey melangkah keluar sambil menggendong Mark. Tak ingin berlamablama menjadi tontonan gratis para karyawannya.
Max berdiri di samping mobil. Ia membungkuk hormat begitu Jeffrey dan Mark keluar dari gedung. Max lalu membuka pintu penumpang bagian belakang untuk mereka berdua.
Tanpa kata Jeffrey masuk ke dalam mobil. Ia duduk dengan memangku anak tampannya, Mark.
"Ke kedai ice cream dekat sini, Max" katanya pada Max yang baru saja menghidupkan mesin mobilnya. Mobil itu melaju dengan perlahan meninggalkan gedung bertingkat itu.
"Malk sudah makan papa. Kalau papa gak pelcaya tanyakan pada Bibi Joe, iyakan Max?"
Max melirik sekilas ke arah kaca spion bagian atas, ia tesenyum. "Iya, tuan muda".
"Tuh kan".
Jeffrey terkekeh pelan. "Baiklah, Mark ingin ice cream rasa apa?"
"Lasa semangka dan coklat dan vanilla dan lasa strobeli dengan coklat"
"Kenapa banyak sekali? Tidak boleh banyak banyak. Nanti Mark sakit perut.. pilih satu saja okay?"
"Ih papaa... tapi baiklah. Malk gak mau sakit pelut"
"Nah.. gitu, Mark pintar" kata Jeffrey sambil mengelus sayang kepala Mark.
__ADS_1
"Sudah sampai tuan" Max memotong keasyikan para pria berbeda usia itu. Mobil mereka sudah sampai di kedai ice cream yang diinginkan Mark.
Max keluar untuk membukakan pintu bagi Tuan Besar dan Tuan Mudanya. Jeffrey turun dengan Mark di gendongannya. Mereka berjalan memasuki kedai ice cream. Max menunggu di dalam mobil setelah melihat Jeffrey dan Mark masuk ke dalam kedai.
"Ayo.. mau pesan ice cream rasa apa hm?" tanya Jeffrey. Mereka kini berdiri di depan kasir pesanan.
Mark melihat-lihat menu-menu yang tertera di atas. Ia nampak berfikir.
"Hmmm... pesan lasa coklat dan stobelii".
"Rasa coklat dan stroberi di satu cup?" tanya pegawai kedai itu.
"Ya, cup kecil saja tolong ya" jawab Jeffrey.
"Lho? kok yang kecil sih Papa? Papa memangnya tidak mau?" Mark menatap Jeffrey.
Jeffrey menggeleng pelan. "Biar Mark saja yang makan yaa"
"Yasudah.. kalau tidak mau". Atensi Mark teralihkan begitu ice cream pesanannya sudah berada di depan mata. Jeffrey membayar dengan segera. Lalu mengambil cup ice cream dari tangan pegawai itu.
"Telima kasih" ucap Mark.
Mark mengambil cup ice cream dari tangan papanya. Ia lalu merangsek dari gendongan Jeffrey. Ingin turun. Jeffrey yang mengerti segera menurunkan Mark. Mereka berjalan keluar kedai itu.
Mark berjalan sendiri menuju mobil yang mereka tumpangi tadi. Jeffrey mengikutinya dari belakang Mark. Karena tidak fokus, Mark tersandung kakinya sendiri hingga ice cream yang di genggamnya jatuh.
"Aduh" Jeffrey terkejut dan langsung menghampiri Mark.
"Papa ice cleam nya jatuh" wajah Mark terlihat sedih sekali. Tampak ingin menangis.
"Ssttt.. anak papa jangan nangis hm? Papa beli lagi yaa Mark tunggu disini okay?"
Mark mengangguk. Ia berdiri sambil memperhatikan papanya yang membeli lagi ice cream untuknya.
Lalu lalang orang di trotoar yang tak memperhantikan jalanan dan langkah kaki mereka karena sibuk dengan ponsel. Hingga Mark yang tingginya sebatas paha mereka tak terlihat.
BRUKK!
Mark terjatuh karena tertabrak orang yang tak fokus. Bahkan orang itu tak repot-repot menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Hey, dik. Kamu gak apa apa?" seseorang datang menghampiri Mark.
...----------------...