THE BOSS

THE BOSS
Chapter 9


__ADS_3

"Memangnya disini kekurangan makanan ya? Sampai-sampai kau beli di luar?"


Sebuah suara lelaki dalam nan dingin mengagetkan Anna. Mulut yang sudah siap mengigit paha ayam itu menutup kembali. Perlahan ia menoleh ke samping kirinya. Jeffrey, sang Boss berdiri dengan Mark di gendongannya.


"A-anu.." Anna berusaha menjelaskan, tapi malah tergagap-gagap kikuk.


"Anu apa anu?"


"I-itu saya tidak beli kok. I-ni.. ini dari teman saja ketika pulang tadi" kata Anna.


"Begitu?" tanya Jeffrey.


Anna mengangguk cepat, "Ya, Tuan".


Mark bergerak turun dari gendongan Jeffrey. Lalu menghampiri Anna.


"Kak Anna makan apa?" tanya Mark.


"O-oh ini ayam goreng" jawab Anna.


"Malk mau dongg.. boleh tidak?"


Anna menatap Jeffrey yang diam memperhatikan mereka. "E-euh, Tuan apa Ma- maksud ku Tuan Muda boleh makan ayam goreng?" tanya Anna dengan pelan.


Suaranya kecil sekali tapi masih dapat terdengar oleh telinga Jeffrey. Kentara sekali kalau Anna sedikit banyak takut pada Jeffrey.


"Tidak"


Anna tersentak karena jawaban super dingin itu. Mark menoleh kepada ayahnya. Bersiap dengan tatapan andalannya yang membuat keinginannya bisa terpenuhi.


"Tidak kalau ayam goreng itu beracun" lanjut Jeffrey.


"Mana mungkin beracun?!" Anna tiba-tiba saja menyalak.


"Kita tidak akan tahu kalau kau belum memcobanya, Ann. Siapa tahu kan? Aku hanya tidak ingin anakku celaka"


Menyebalkan sekali, gerutu Anna dalam hati.


"Ini memang sudah dingin, tapi tidak mungkin beracun Tuan" tegas Anna.


"Coba saja" kata Jeffrey.


Anna membuka lebar-lebar mulutnya lalu menggigit beringas paha ayam goreng yang sedari tadi dipegangnya. Mengunyah dengan cepat dan menelannya.


"See? Apa ini beracun?" tanya Anna.


"Kita tunggu 5 sampai 10 menit"


"Lamaaa Papaa ish" kesal Mark. Pasalnya ayam goreng itu terlihat sangat lezat. Mark tidak sabar ingin memakannya juga.


"Ayolah Tuan.. ini hanya ayam goreng"


"Iya aku tau" kata Jeffrey.


"Kalau Tuan tau-"

__ADS_1


"Kenapa Papa lama sekali?" kata Mark memotong pembicaraan Anna. "Ayolah.. Papaa boleh yaaaa".


Mark menatap ayahnya dengan tatapan super memelas. Membuat anak itu semakin terlihat imut. Ayolah.. Jeffrey lemah sekali dengan tatapan itu.


"Ya sudah.. tapi jangan makan banyak-banyak Mark, okay?"


"Okey Papaaa... telima kasih" Mark terlihat senang sekali ketika diizinkan makan ayam goreng oleh Jeffrey.


"Sini" kata Anna sambil menarik tangan Mark. Gadis itu mendudukkan tubuh Mark di pangkuannya. Kemudian menaruh box ayam goreng itu di paha Mark.


"Mark mau makan yang mana, hum?" tanya Anna.


"Yang banyak dagingnya" kata Mark.


"Huum.. kalau begitu bagian paha saja ya.." Mark mengangguk.


"Mau makan sendiri atau di suapi?"


"Mau di suapi kak Anna" kata Mark.


"Baiklah" Anna mengambil potongan paha baru setelah meletakkan bagian paha yang tadi dia makan. Mencubit dagingnya sedikit hingga daging itu terlepas dari tulangnya.


"Aaaaa..." kata Anna meminta Mark seolah membuka mulutnya.


"Aaam" Mark membuat suara seperti itu ketika berhasil melahap daging ayam yang di arahkan Anna pada mulutnya.


Anak itu mengunyah ayam dengan suka cita. Matanya sedikit melengkung layaknya sedang tersenyum.


Jeffrey memperhatikan Mark dalam diam. Pria itu menghela nafas. Sebenarnya Jeffrey tak ingin perut anaknya diisi makanan-makanan tak jelas tapi mau bagaimana lagi? Keinginan Mark harus bisa ia penuhi dengan bagaimanapun.


Lihat. Mark sedang asyik di suapi Anna. Bahkan anak itu yang memintanya sendiri. Mark sesekali tersenyum saat di suapi Anna. Sambil mengunyah pun mata anak itu terlihat sekali bahagianya.


Dan entah mengapa melihat Anna dan Mark, membuat hatinya menghangat. Mark belum pernah sedekat itu dengan orang yang baru dikenalnya. Joe sekalipun. Padahal Mark sudah tau Joe sejak anak itu dilahirkan.


Pusing dengan pemikirannya sendiri, Jeffrey memilih untuk pergi meninggalkan Mark dan Anna di teras rumah belakang.


"Umm.. enak sekali. Malk jadi mau lagi" kata Mark ketika ayam goreng dalam box itu sudah habis mereka makan.


"Mark mau lagi?" tanya Anna.


Mark mengangguk dengan semangat.


"Nanti Kak Anna buatkan deh, tapi tidak sekarang ya"


"Benel yaa.. Janji?"


"Iya Mark.. Kakak janji. Tapi nanti okay?"


"Eung!"


...----------------...


2 minggu kemudian~


Anna semakin dekat saja dengan Mark. Setiap hari kediaman Anderson selalu penuh dengan tawa Mark. Seperti menghidupkan kembali suasana rumah yang sejak lama selalu hening.

__ADS_1


Seperti sekarang ini, Mark dan Anna sedang bermain tebak gambar hewan di ruang tengah. Jika benar, Mark akan mendapatkan satu gigit ayam goreng buatan Anna. Gadis itu menepati janjinya pada Mark.


"Kalau ini gambar apa?" Anna menunjukkan sebuah kartu bergambar jerapah pada Mark.


"Eungg... apa yaa?" Mark menangkup dagunya dengan kedua tangannya. Berpikir dengan cara yang imut.


"Hayoo... apa coba?"


"Malk belum pelnah lihat binatang ini kak"


"Ayo.. coba tebak. Satu.. dua.. tiga.."


Mark berpikir dengan keras. Ia menatap Anna sambil memajukan bibirnya, kesal karena tidak menemukan jawabannya. Mark menggelengkan kepalanya menyerah tak bisa menjawab.


"Haha.. ini namanya jerapah Mark. Kau hanya akan melihatnya di televisi atau kebun binatang"


"Kebun binatang?"


Anna mengangguk. "Iya kebun binatang. Mark tahu tidak?" tanya Anna.


Mark menggelengkan kepalanya, "Tidak. Apa itu?"


"Kebun binatang itu adalah tempat wisata.. Disana baanyak sekali binatang. Aku pernah bekerja di sana" kata Anna.


"Jelapah juga ada?" tanya Mark.


"Eung! Tentu saja ada, disana ada gajah ada singa ada monyet dan masih banyak lagi binatang" kata Anna.


Mark memperhatikan Anna dengan tatapan berbinar. "Sepeltinya menyenangkan di sana ya Kak?"


"Hum, banyak orang yang datang ke sana setiap hari"


"Malk ingin main ke kebun binatang"


"Apa? Tidak Mark" kata Anna. Mana mungkin ia bisa mengajak Mark ke kebun binatang.


"Kenapa? Malk akan meminta Papa untuk mengajak Malk main ke kebun binatang" kata Mark.


"Papa kan bekerja sayang" kata Anna. Mark jadi ingin ke sana karenanya. Ia tahu sekali jika Jeffrey sangat sibuk.


"Papa bisa kok main sama Malk. Papa pasti mau" katanya. "Ayo kita telepon Papa".


"Sekarang Mark?" tanya Anna.


"Heung!" kata Mark sambil mengangguk.


Anna mengeluarkan ponselnya. Dia membuka kontak telepon tapi kemudian tersadar karena ia tak punya nomor telepon Jeffrey.


"Yah.. kakak tidak punya nomor telepon Papa mu Mark" kata Anna.


"Bibii Joeeeee" teriak Mark membahana seketika saat mengetahui Anna tak bisa menelepon Papanya.


Joe datang. Ia tahu maksud Mark ketika memanggilnya di jam makan siang seperti ini. Joe mengeluarkan ponselnya dan menelepon Jeffrey. Ia memberikan ponselnya pada Mark ketika Jeffrey sudah mengangkat teleponnya.


"Hal-"

__ADS_1


"PAPAA MALK INGIN KE KEBUN BINATANG" teriak Mark dengan senang. Bahkan Papanya pun belum selesai mengucapkan sapaan awal panggilan telepon itu.


__ADS_2