THE BOSS

THE BOSS
Chapter 3


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan jam 9 malam. Jeffrey sudah pulang sedari tadi dengan Mark yang tertidur di gendongannya. Siang tadi Mark sekalian bermain di kantor papanya dan tidak ingin pulang. Alhasil beginilah..


Jeffrey menaiki tangga menuju kamar Mark. Bermaksud menidurkannya di kasurnya. Tapi baru saja kepala Mark ia letakkan di atas bantal berbalut gambar iron man itu Mark membuka matanya.


"Eung- papa" lenguhnya setengah mengantuk.


Jeffrey duduk di pinggiran kasurnya. "Kenapa sayang?"


Mark berbalik, tidur menyampingkan tubuhnya menghadap ke arah Jeffrey. Matanya mengerjap-ngerjap lucu menahan kantuk. Jeffrey tertawa pelan dibuatnya.


"Kenapa anak papa hum?" tanya Jeffrey lagi.


"Malk mau teman balu- hoaam"


"Teman baru?"


Mark mengangguk lucu. Jeffrey mengusap sayang kepala anaknya.


"Iya, papa kan sedang mencari pengasuh baru untuk Malk. Sekarang Mark tidur kita bicarakan lagi nanti, okay?"


"Eung!- hoaam" Mark kembali menguap. Kali ini dengan matanya yang tertutup. Kembali melanjutkan tidurnya.


Jeffrey tersenyum ketika Mark tertidur dengan cepat. Wajah imutnya terlihat damai dan semakin imut. Jeffrey menarik selomut untuk menutupi tubuh anaknya. Menunduk, mencium kening anaknya sebelum bangkit dari duduknya. Mematikan lampu ruangan dan segera berjalan keluar. Jeffrey menutup pintu kamar anaknya dengan pelan, takut tidur anaknya akan terusik.


Jeffrey berjalan ke kamarnya yang berada tepat di samping kamar Mark. Melepas jas, dasi dan jam tangannya kemudian masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Waktunya merelaksasikan tubuhnya dari penah seharian bekerja.


...----------------...


Pagi yang sibuk di mansion keluarga Jung. Para maid hilir mudik ke sana kemari membersihkan isi mansion mewah ini. Hanya suara-suara peralatan kebersihan dan langkah kaki yang terdengar pagi hari yag tenang ini.


Jeffrey sedang bersiap dengan setelan kemeja berdasi dan celana bahan berwarna hitamnya. Seperti biasa. Jasnya tak ketinggalan, tersampir di sikunya. Ia menuruni tangga, berjalan ke lantai dasar menuju ruang makan.


Para maid menyambutnya dengan bungkukan hormat ketika ia tiba, Jeffrey membalasnya dengan anggukan kemudian duduk di kursi meja makan.


Seorang maid perempuan paruh baya menghampiri Jeffrey dengan membawa nampan berisi secangkir kopi di atasnya.


"Silahkan tuan"


Maid itu meletakkan kopi di atas meja di hadapan Jeffrey. Jeffrey membalasnya dengan gumaman. "Hm".


"Mark belum bangun, Joe?"

__ADS_1


"Belum tuan, mau saya bangunkan?" tawar seseorang yang dipanggil Joe itu. Joe sudah lama bekerja pada keluarga Jung. Semenjak Jeffrey belum menikah dengan ibunya Mark.


"Ya, sekalian mandikan. Hari ini kita akan menyeleksi babysitter baru untuknya".


"Baik, Tuan". Joe mengangguk dan berlalu meninggalkan ruang makan. Membiarkan maid yang lain melayani Jeffrey sarapan.


Joe memasuki pintu kayu berwarna putih yang menjadi kamar Mark. Dilihatnya sang tuan muda masih bergelung dalam selimut, membelakanginya . Joe membuka gorden mempersilakan sinar matahari pagi menyapa tuan mudanya.


Hangat matahari tembus melalui jendela. Menyoroti wajah tuan muda Jung yang sedang terlelap. Joe mendekati Mark dan duduk di sisi ranjang yang ditidurinya.


"Tuan Muda.." panggil Joe lembut. Tangannya mengguncang pelan tubuh Mark. Mencoba membangunkannya. Mark diam bergeming. Bahkan sinar matahari pun tak mengusik tidurnya sedikit pun. Apalagi suara lembut Joe?


"Tuan Muda.." Joe menarik pelan selimut yang membalut tubuh Mark.


"Ayo bangun, Tuan Jeffrey sudah menunggu anda.." tangan Joe kembali mengguncang tubuh Mark.


"Eungh-" Bagus. Mark mulai merasa tidurmya terusik. Dia melenguh pelan sambil merenggangkan sebelah tangannya ke atas. Lalu mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang.


"Tuan Muda.. ayo bangun" Joe dengan sabar terus mencoba membangunkan Mark.


Mark mulai mengerjapkan kedua matanya. Kedua tangannya terangkat ke wajahnya. Mengusak kedua matanya.


"Ayo bangun. Kita mandi lalu sarapan bersama Papanya Mark" Joe menggendong Mark ketika anak itu membuka setengah matanya sambil merentangkan tangannya minta di gendong.


...----------------...


Jalan xxx, Perumahan Luxury no. 127, Mansion Jung


Begitulah alamat yang di terima Anna dari sahabatnya; Jea Wilson. Anna berkali-kali memastikan alamat yang dikirim Jea dan alamat yang tertera di depannya kini adalah alamat yang benar.


Jea mengatakan yang akan menyeleksinya adalah keluarga kaya. Tapi dia tidak bilang jika keluarga yang mencari babysitter itu sekaya ini. Melihat gerbangnya saja Anna sudah ternganga dan tidak berani membayangkan harganya.


"Halo, Jea" Anna memilih menelepon Jea. Untuk memastikan.


"O?" jawab di seberang sana. "Ada apa? aku sedang bekerja".


"Hey apa kau bercanda? Rumahnya besar sekali, lebih mirip istana"


"Hey apa kau bercanda?" Jea mengikuti apa yang di katakan Anna.


"Tentu saja tidak. Benar itu Mansion keluarga Jung. Tanya saja security, mereka akan membawamu masuk. Sudah ya" tanpa menunggu Anna membalas perkataannya, Jea menutup telepon begitu saja.

__ADS_1


Anna menghela nafas. Menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan. Menenangkan dirinya.


Anna berjalan ke arah gerbang besar berwarna putih. Dia mengetuk pelan pagar itu, lalu seorang pria berbadan besar dengan setelan bak bodyguard menghampirinya.


"Siapa? Ada apa?" tanya pria itu dengan datar. Wajah berkacamata hitam itu terlihat menyeramkan. Anna menatap pria itu takut-takut.


"S-saya ingin mengikuti seleksi untuk babysitter di keluarga ini, Tuan"


"Kau bawa berkasmu?"


Anna mengangguk. Untung saja dia menyiapkannya padahal Jea tidak memberi tahunya. Terbiasa mencari pekerjaan, sis.


"Baiklah".


Pria itu beranjak membuka gerbang itu. Mempersilakan Anna masuk ke dalam.


Anna tak bisa menahan mulutnya untuk terbuka. Terkesima melihat pemandangan yang dilihatnya. Halaman depan yang begitu luas. Jarak dari gerbang ke pintu rumahnya saja terasa jauh sekali. Anna mungkin akan betah jika ia diterima bekerja di mansion ini.


Seorang bodyguard yang mengikutinya sedari tadi membukakan pintu mansion begitu mereka sampai di depan rumah besar ini.


Anna melangkah masuk. Ruangan besar itu tampak seperti aula bedanya interiornya sangat bagus sekali. Warna putih gading mendominasi ruangan ini. Di dalam sudah banyak orang dengan para wanita yang mendominasi. Pakaian mereka... bisa dibilang bukan seperti orang yang akan mengikuti seleksi menjadi babysitter.


Pakaian mereka saaangat rapi. Rok pendek span dengan kemeja ketat bermarna putih. Rata- rata pakaian mereka seperti itu. Rambut rapi dengan kuku tangan panjang bercat warna-warni. Heol. Mereka mau ikut ajang kecantikan atau apa?


Berbeda sekali dengan Anna, dia hanya mengikat kuncir kuda rambut panjangnya. Memakai celana bahan berwarna hitam dan kemeja berwarna baby blue.


"Okay, semuanya tolong berbaris sebentar lagi Tuan Besar akan segera menyeleksi kalian". Suara wanita patuh baya dengan pengeras suara terdengar.


Anna dan wanitanita-wanita itu berbaris dengan rapi. Mereka bahkan sempat-sempatnya membenarkan rambut dan membubuhkan lipstik tambahan. Membuat bibir mereka semakin merah merona. Anna merasa terusik dengan pandangan itu.


Anna merangsek maju, berbaris di paling depan.


Ketukan suara sepatu pantofel terdengar menggema di keadaan hening itu. Para wanita itu menjenjangkan lehernya, mencari-cari keberadaan suara itu.


Seorang pria dengan setelan jas sambil menggendong anak kecil berjalan ke depan barisan-barisan wanita pelamar babysitter. Ia duduk di kursi megah tepat di hadapan para pelamar.


Anna menatap wajah pria itu. O, bukankah itu pria yang kemarin?, pikirnya.


"Oh! Kak Anna?!"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2