
Mark sudah rapi didandani Bibi Joe. Baju jeans overall dengan kaus warna kuning berlengan pendek sebagai dalamannya, membuat Mark terlihat sangat tampan sekaligus imut. Kini Mark sedang sarapan bersama papanya.
"Tuan, para pelamar sudah berdatangan Tuan" seorang bodyguard datang memberi kabar pada Jeffrey.
"Tunggu sebentar lagi, Mark belum menyelesaikan sarapannya"
"Baik Tuan" kata bodyguard itu sebelum berlalu pergi.
"Joe, berapa orang yang datang?" tanya Jeffrey pada Joe yang setia berdiri di sampingnya.
"Ku dengar sangat banyak Tuan, sebagian besar wanita".
"Kau urus mereka dulu, Mark selesai sebentar lagi".
Joe mengangguk kemudian pergi meninggalkan ruang makan.
"Malk sudah selesai makan papa" kata Mark sembari mengambil serbet di samping kanan piringnya. Menyeka mulutnya yang sedikit belepotan nutella. Anak yang pintar memang.
Jeffrey tersenyum sembari beranjak dari duduknya. Mengangkat Mark dari kursi ke gendongannya. Berjalan ke aula tempat penyeleksian 'teman baru' untuk Mark.
Sebelumnya Mark tidak mempunyai babysitter. Orang terdekatnya selain papa dan neneknya adalah Joe. Tapi karena pekerjaannya sebagai maid sekaligus kepala pelayan yang mengatur para maid lainnya, jadi ditakutkan ia akan lalai menjaga Mark.
Ketukan sepatu pantofel hitam nan mahal terdengar begitu menggema di heningnya suasana aula. Terlalu mewah untuk di sebut aula sih.. Ruang tengah? Entahlah..
Jeffrey berjalan ke arah sofa single mewah yang menjadi singgasanya. Mark memeluk leher Jeffrey, sedikit terkejut karena begitu banyak wajah asing di dalam rumahnya. Hari ini ia Jeffrey akan memilih 'teman baru' untuk Mark.
Mark duduk menyamping di pangkuan papanya. Matanya mulai memindai, menatap satu persatu wajah asing di hadapannya. Seakan menilai mana yang lebih baik menjadi temannya. Sampai matanya bertemu sosok yang di ingatnya. Kakak perempuan yang kemarin memberikannya band-aid bergambar buah semangka.
Gadis itu juga nampaknya terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Oh! Kak Anna?!" pekik Mark. Dia segera turun dari pangkuan Jeffrey dan berlari kecil ke arah sosok yang dipanggilnya.
Anna yang sudah terkejut dibuat terkejut lagi ketika Mark berlari menghampirinya.
"Tuan Mudaa" teriak Joe takut-takut Mark terjatuh karena berlari.
Anna berjongkok. Dengan sigap menangkap Mark yang menerjangnya dengan pelukan. Untung saja pertahanannya kuat. Kalau tidak... jungkel.
Jeffrey sampai memelototkan matanya saking terkejut dengan tingkah anaknya.
"Kak Anna, Kak Anna ingat Malk kan?" tanya Mark dengan girang. Senang sekali ia bertemu dengan Anna.
__ADS_1
Joe menghampiri Mark. Berniat melepaskan pelukan anak itu dari Anna.
"Tuan Muda.."
Anna tertegun. Otaknya sedang mencerna apa yang terjadi. Kemarin ia bertemu ayah dan anak itu secara tidak sengaja. Memang kemarin juga pakaian mereka terlihat begitu mahal tapi tak pernah terbayangkan jika mereka termasuk golongan konglomerat. Terlebih Anna melamar di tempat orang sekaya ini. Terlebih menjadi babysitter dari anak seorang pria yang sedang duduk dengan angkuh di depan sana.
"Kak Annaa.. Kakak lupa sama Malk ya?" Mark memasang ekspresi sedih ketika Anna tak juga menanggapinya.
Joe menarik mundur Mark dari pelukannya pada Anna. Barulah Anna tersadar. Ia menatap Mark yang mulai berkaca-kaca.
"Kakak kan kemalin membelikan Malk itu- em.. apa ya namanya.. itu- euh! yang ditempel pada lutut Malk" jelas Mark karena Anna hanya diam saja.
Anna tersenyum manis, "Kakak ingat kok". Anna berdiri lalu membungkuk memberi hormat pada Jeffrey yang sedari tadi menatap Anna dengan tajam.
"Heol. Bagaimana bisa dia mengenal bakal pewaris tunggal Anderson Group?" bisik seseorang di belakang Anna.
"Kita kalah start" bisik wanita lainnya di belakang Anna.
Anna menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Kikuk.
Jeffrey berjalan menghampiri barisan terdepan calon babysitter untuk anaknya. Dia menelisik satu persatu wajah mereka. Setiap kali Jeffrey berhenti tepat di depan wanita pelamar babysitter itu, ia menatap dari atas ke bawah, dari kaki sampai ke ujung kepala. Ekspresinya datar. Tatapannya dingin. Tapi anehnya wanita yang menjadi di tatap malah tersenyum.
"Lihat kukumu terlalu menarik untuk mengurus anak umur empat tahun. Keluar" kata Jeffrey begitu mendapati wanita dengan kuku panjang bercat merah menyisipkan rambut ke belakang telinganya.
Wanita itu memerah malu, lalu segera keluar.
"Yah.. setidaknya jika tidak diterima kita sudah melihat langsung the most handsome hot daddy" bisik wanita di belakang Anna lagi yang ditanggapi cekikikan centil teman di ssampingnya.
'Jika tidak sungguh-sungguh butuh pekerjaan untuk apa kau kesini? dasar', umpat Anna dalam hatinya. Merasa kesal dengan wanita-wanita itu.
"Mau jadi babysitter atau sales promotion girl, huh?! Make-up mu terlalu mencolok, keluar"
"Kau akan menjadi babysitter, pengasuh anak kecil bukan gadis penghibur kan? Rok mu pendek sekali. Keluar"
"Rambutmu membuat mataku risih, sial. Keluar"
"Parfum apa ini? Ah- pusing sekalu aku menciumnya. Keluar"
Aish. Jeffrey lelah mengusir wanita-wanita yang menurutnya berdandan terlalu berlebihan. Ia kembali ke kursinya. Memijit keningnya.
"Rambut banyak gaya, make-up tebal, rok mini, kuku panjang, baju ketat, parfum menyengat tolong yang merasa hal-hal itu melekat pada diri kalian.. Keluar".
__ADS_1
Suara itu terdengar absolute. Dalam dan menggema. Tak boleh ada bantahan. Jeffrey mengusir wanita-wanita itu dengan sekali titah.
Anna saja terkesiap mendengarnya. Ia memilih sibuk menunduk menatap Mark yang kini berdiri di depannya dengan Joe.
"Cih, kasar sekali" bisik wanita di belakang Anna sambil berlalu keluar ruangan.
Sebagian besar para pelamar telah keluar rumah ini. Kini tersisa Anna dan dua orang pelamar lelaki.
"Okay, kalian bertiga kemari" titah Jeffrey.
Anna dengan gugup menghampiri Jeffrey. Diikuti dua orang pelamar lelaki itu. Mark yang melihat Kak Anna-nya berjalan ke arah papanya pun mengikuti Anna.
Anna berdiri tegang di depan Jeffrey. Berbeda sekali dengan dua orang lainnya. Mark naik ke pangkuan Jeffrey.
"Mana berkas kalian" pinta Jeffrey.
Ketiga orang itu memberikan map berisi berkas CV mereka.
"Hendery Huang, dari- oh! kau masih kuliah?" Jeffrey menatap seorang berambut pirang dengan poni belah dua itu; Hendery. Ia mengangguk menanggapi Jeffrey.
"Keluar" Jeffrey meletakkan berkas pria bernama Hendery itu di meja di sampimh singgasananya.
"Tapi aku butuh pekerjaan ini"
"Tuan.. semua orang butuh pekerjaan. Kau masih mahasiswa bagaimana bisa mengurus anakku tanpa lalai?" kata Jeffrey membuat pria bernama Hendery langsung keluar rumah iini
"Papa.. Pilih Kak Anna saja, kakak yang itu wajahnya menyelamkan" bisik Mark pada Jeffrey yang masih terdengar oleh Anna, Joe dan satu lagi pria pelamar.
"Kau memelototi anakku?" sengit Jeffrey.
Pria itu gelagapan. "T-tidak aku tidak-"
"Keluar!"
Pria itu masih terdiam, "Tapi T-tuan-"
"Keluar ku bilang!" usir Jeffrey.
Pria itu akhirnya keluar. Mark menatap Anna kemudian menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Cekikikan.
...----------------...
__ADS_1