THE BOSS

THE BOSS
Chapter 7


__ADS_3

Jeffrey sudah tiba di rumah. Masuk ke dalam mansion dengan tergesa-gesa. Mansionnya hening. Para maid mungkin aaja sibuk di ruangan lain.


"Joe.. Joee" teriak Jeffrey memanggil Jeffrey. Joe yang sedang berada di dapur tergopoh-gopoh menghampiri Jeffrey.


"Ya, Tuan?" tanya Joe begitu sampai di hadapan Jeffrey. Setelah membungkuk hormat tentu saja.


"Dimana Mark?" tanya Jeffrey dengan cepat begitu Joe tiba di hadapannya.


"Tuan Muda sedang bermain bersama Anna di halaman belakang Tuan".


Jeffrey langsung berjalan menuju hlaman belakang yang ditujukkan Joe. Joe dwngan setia mengikuti Tuannya.


"Pelan-pelan Mark jangan berlari terlalu cepat" suara teriakan yang diyakini Anna itu langsung membuat Jeffrey dan Joe terkejut. Mereka mempercepat langkah menuju halaman belakang.


Jeffrey membuka pintu yang menghubungkan ruang makan dan halaman belakang itu dengan kasar. Matanya mencari-cari keberadaan Mark. Dan dilihatnya Mark dan Anna yang sedang berlari-lari di pinggiran kolam renang.


Jeffrey melihat langkah kaki Mark yang tak stabil. Pinggiran kolam renang itu sesikit licin karena air.


"Mark!!!!!" teriak Jeffrey. Ia bahkan tak sempat berlari. Kemudian-


BRUGH !!!


Suara benturan keras khas orang terjatuh membuat Joe yang berdiri di balik tubuh Jeffrey terkejut. Joe segera melihat apa yang sedang terjadi.


Anna menjatuhkan tubuhnya sebelum Mark benar-benar jatuh terpeleset genangan air dan jatuh. Untung saja Anna sempat menggapai baju Mark dan menariknya dari insiden 'jatuh di pinggiran kolam renang itu.


Anna jatuh setengah terlentang dengan Mark di atas tubuhnyanya.


"Awh- sss" Anna meringis. Bahunya dan pinggangnya sakit sekali. Pinggulnya membentur keras lantai yang licin itu.


Jeffrey dan Joe berjalan menghampiri mereka. Anna sudah ciut saja. Takut kena marah. Anna bangun perlahan, ia mendudukkan dirinya di lantai basah itu. Lalu mengangkat tubuh Mark supaya berdiri.


Anna mengecek tubuh Mark takut-takut ada yang lecet. Bisa mati dia kalau sampai Tuan Mudanya terluka.


"Mark, Mark tidak apa-apa kan?"


Mark terdiam. Ia sangat terkejut dengan apa yang terjadi. Mark hanya menutup mulutnya dan menatap Anna.


"Mark?" Anna mengguncang tubuh Mark pelan. Mata Mark berkaca-kaca. Ia kemudian memeluk leher Anna dengan erat.


"Huwaaaaa~" tangisan kencang terdengar di samping telinga Anna.


Jeffrey berdiri di hadapan Anna dan Mark yang saling berpelukan. Jeffrey menatap tajan Anna. Jika mungkin, tatapannya bisa saja melubangi kepalanya Anna. Ditambah melihat anak kesayangannya menangis seperti ini.


"Apa yang kau lakukan?" sentak Jeffrey.


Anna memilih diam. Dia yakin Jeffrey juga melihat apa yang terjadi. Anna menyelamatkan Mark. Tapi memang salahnya juga bermain di tempat rawan seperti ini.

__ADS_1


Jeffrey bersimpuh di hadapan Anna. Memegang kedua bahu Mark. "Mark ada yang sakit sayang?"


Mark diam. Anak itu malah semakin menangis.


"Kenapa kau mengajaknya bermain di tepat seperti ini? Lihat! Salah-salah kau malah akan memuat celaka anakku" bentak Jeffrey.


"Hiks hiks~ huwaaa.." Mark melepaslan pelukannya pada Anna dan berbalik menghadap Jeffrey.


"Papa jangan malahin Kak Anna hiks-" dengan berurai air mata dan sesegukan ingus Mark menyalak pada papanya.


"Malk yang ajak Kak Anna main hiks salah Malk huwaaa Kak Anna jadi jatuh hiks"


Jeffrey terkejut dengan Mark. Anak semata wayangnya itu membela Anna.


Jeffrey mengecek tubuh Mark. Matanya menelisik dengan teliti. Takut-takut anaknya terluka.


"Hiks- Papaaa~"


"Iya apa sayang.. kenapa huum?" Jeffrey mengusap pipi Mark yang berurai air mata. Jeffrey masih khawatir.


"Ssh-" Anna meringis ketika menggerakkan sedikit bahunya.


Mark menoleh pada Anna. "Kakak.. huwaaa"


"Sssstt.. sudah jangan menangis hum? Kakak tidak apa-apa" kata Anna. Anna tersenyum menatap Mark.


"Mark tidak terluka kan? Tidak ada yang sakit hm?" tanya Jeffrey lagi. Tak bisa menahan rasa khawatirnya, bagaimanapun.


"Tidak apa Papaa.. tapi Kak Anna" jawab Mark lirih.


Anna menunduk takut-takut. Bagaimanapun ia juga sedikit merasa bersalah walaupun ia yang terjatuh.


Jeffrey menghela nafasnya. Ia berdiri kemudian mengangkat Mark ke gendongannya.


"Bangunlah. Minta Joe mengobatimu jika ada yang terluka" kata Jeffrey, dingin.


Anna mendongak, menatap heran Jeffrey.


"Apa?" tanya Jeffrey.


"S-saya tidak di- dipecat Tuan?" kata Anna terbata-bata. Jantungnya berdebar. Bagaimana jika ia benar-benar di pecat?


"Tidak. Kau menyelamatkan Mark tadi".


Mark mengangguk, "Telima kasih.. Kak Anna. Maaf yaa Kakak jadi jatuh".


Mark mengusap matanya yang masih basah bekas menangis tadi.

__ADS_1


"Ayo Mark. Kita mandi" kata Jeffrey lembut. Nada suaranya berubah begitu berbicara pada Mark. Lalu berjalan meninggalkan Anna dan Joe.


Sepeninggal mereka, Joe mengulurkan tamgan pada Anna. Membantunya bangun.


"Sangat jarang Tuan Besar baik seperti itu, kau beruntung Anna" kata Joe.


"Ya, terimakasih untuknya. Ku pikir aku akan dipecat di hari pertama ku bekerja- Awh! pinggulku" Anna mengaduh sambil memegangi pinggulnya.


"Sepertinya Tuan Muda menyukaimu. Ayo ku bantu ke kamar" Joe merangkul pinggang Anna. Membantunya berjalan ke kamar Anna.


'Klik'


Anna membuka kunci pintu kamarnya dan masuk kemudian bersama Joe yang mamapahnya. Anna duduk di tepi ranjang miliknya.


"Tidak ada yang lecet, Ann?" tanya Joe.


"Tidak. Mungkin hanya memar. Nanti juga sembuh sendiri" kata Anna sambil memutar bahunya. Kemudian tersenyum kepada Joe.


"Terima kasih" ucap Anna.


Joe mengibaskan tangannya, "Aih santai saja Anna.. nanti ku ambilkan kompresan es untuk pinggangmu".


"Baiklah. Terima kasih lagi. Tapi sepertinya aku akan mandi dan segera meminta Max mengantarku pulang" kata Anna.


Joe mengangguk, "Baiklah. Aku akan membawakan kompresan nanti saja. Setelah kau pulang".


"Eung" gumam Anna.


"Baiklah kalau begitu, aku keluar dulu".


Joe tersenyum sebelum keluar meninggalkan Anna. Setelah pintu kamarnya benar-benar tertutup, Anna berdiri menghadap cermin yang ada disana. Anna menyingkap sedikit kemejanya. Melihat pinggulnya dari pantulan cermin itu. Nampaknya pinggul sedikut ke area pinggang itu sedikit memar. Butuh kompresan. Tapi ia harus segera pergi ke rumahnya untuk mengambil barang-barang.


Anna kemudian melangkah ke pintu di samping lemarinya. Bergegas untuk mandi.


...----------------...


'Tuk tuk tuk'


Suara sepatu yang diketukkan pada lantai itu terdengar keras. Kentara sekali rasa bosan yang mendera. Sambil menyandarkan tubuhnya pada pintu yang terkunci.


"Kemana sih Anna? Apa dia langsung diterima bekerja di Keluarga Anderson kaya itu?" monolog Jea. Bosan dari tadi dia menunggu Anna tak datang juga.


Jea menoleh ketika terdengar suara langkah kaki mendekat. Jea menjaukan tubuhnya dari sandaran pintu. Matanya terbelalak ketika melihat Anna datang bersama seorang lelaki berusia 30an dengan setelan jas.


"Oh! Jeaaa"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2