
"Oh! Jeaaa" Anna mempercepat langkahnya menghampiri Jea.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Anna.
Bukannya menjawab pertanyaan Anna, Jea malah memberondongnya dengan pertanyaan, "Yaa.. Darimana saja? Kau tau berapa lama aku menunggu disini? Dan itu siapa?"
Anna menatap tajam Jea lalumengusap telinganya, "Ssssttt. Yasudah. Minggir, aku mau masuk".
Anna menggeser pelan tubuh Jea dari depan pintu. Merogoh tasnya, mengambil kunci rumahnya dan membuka pintu flat kecinya itu. Lalu Anna masuk meninggalkan Jea.
"Hey! Kau belum jawab pertanyaanku Anna Moore" kata Jea.
Jea melirik lelaki yang bersama Anna tadi. Tampangnya sedikit menyeramkan awalaupun tampan, dingin. Tak ingin berlama-lama, Jea menyusul Anna masuk ke dalam.
"Anna.. Anna.." panggil Jea ketika tidak menemukan Anna di ruang tengah.
"Annaaaa" panggil Jea lagi, tak sabaran.
"Apa sih?!" sahut Anna dari dalam kamar.
Jea menghampiri asal sahutan Anna, masuk ke dalam kamar tidur Anna dan dengan seenaknya duduk di tempat tidur Anna.
"Apa yang kau lakukan?" Jea terkejut mendapati Anna yang sedang memasukkan baju-bajunya ke dalam koper kecil yabg sudah sedikit usang milik Anna.
"Kau mau kemana Anna?" tanya Jea lagi.
Tapi Anna diam saja. Memilih fokus pada baju-bajunya.Lama-lam Jea jengah didiami terus seperti itu.
"Yak! Aku bertanya sedari tadi. Kau ini punya mulut untuk menjawab tidak?" sentak Jea.
Anna menatap malas pada sahabat cerewetnya. Menghentikan sejenak kegiatan 'mari memasukkan baju'-nya.
"Kau ini punya mulut untuk menjawab tidak?", Anna meng-copy perkataan Jea dengan ekspresi yang menyebalkan.
"Ish.. Annaa" rengek Jea.
"Ada apa kau kesini?" tanya Anna, mengalihkan topik.
"Ah! Benar. Aku membawa ini" kata Jea sambil membawa kantong plastik bening berisi dua box ayam goreng dan sebotol soda besar.
"Untuk me- Eh! Tapi siapa lelaki yang tadi?" lanjut Jea.
"Menurutmu?"
Jea terdiam. Sesaat memikirkan sesuatu sambil menatap wajah Anna. Lalu tiba-tiba matanya melotot tak karuan.
"OH TIDAK! JANGAN-JANGAN-" Jea tak kuasa melanjutkan teriakannya. Ia membekap mulutnya dengan kedua tangannya.
Anna yang tengah melipat kausnya secepat kilat menoleh ke arah Jea. "Apa? Apa yang jangan-jangan?"
__ADS_1
"Ya ampun Anna... aku tak menyangka kau akan melakukan pekerjaan yang seperti ini. Oh Tuhaaan.. maafkan aku sebagai sahabatnya tidak bisa membimbingnya ke jalan yang benar. Oh Tuh- Awh! Apa-apaan kau memukulku Moore?"
Anna memukul Jea dengan kaus yang belum selesai di lipatnya. Bahkan belum sempat Jea menuntaskan kata-katanya.
"Memangnya menjadi babysitter hal yang menyimpang ha?!" sentak Anna.
"Babysitter?"
"Iya. Babysitter. Kau sendiri kan yang memberitahu ku pekerjaan ini"
"Kau diterima?"
"Iya. Cerewet" kata Anna.
"Syukurlah... Ku pikir-"
"Apa yang kau pikirkan ha?!" sentak Anna, memotong perkataan Jea.
"Otakmu itu kotor sekali" cibir Anna pada sahabatnya itu .
Jea mengelus bahunya yang terkena pukulan Anna. "Yaa.. Maaf, habisnya mencurigakan sekali. Lalu siapa lelaki yang di luar itu?".
"Dia Max. Supir Keluarga Anderson"
Jea mengangguk-anggukan kepalanya. Anna nampaknya sudah selesai berkemas. Anna menurunkan koper kecilnya dari atas tempat tidur. Sejenak terdiam seakam teringat sesuatu.
"Ah! Benar. Max.." Anna keluar kamarnya dan mememui Max yang sedari tadi memunggu di luar.
"Terima kasih, tapi tidak perlu Anna. Apa kau sudah selesai?" tanya Max.
"O-oh, sudah selesai sebentar lagi. Tunggu ya". Anna menggigit bibir bawahnya kikuk, kemudian kembali ke dalam rumahnya.
"Kau akan pergi lagi Ann?" tanya Jea begitu Anna kembali ke kamarnya.
"Yah..au bagaimana lagi. Aku harus tinggal di sana sementara bekerja Je".
Anna membuka lemarinya dan mengambil sebuah tas ransel. Kemudian berjalan ke arah meja rias kecilnya, memasukkan peralatan make-up ssederhananya.
"Perginya harua sekarang sekali ya?"
"Iya" jawab Anna singkat.
"Lalu aku bagaimana?"
"Apanya yang bagaimana Jeaa?"
"Ayamnya sial. Aku membawanya untuk kita berdua makan".
"Haha sini satu kotak. Aku akan membawanya ke sana" Anna mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Ck, baiklah. Kita masih bisa saling menelepon kan? Aku takut kau akan rindu pada ku" kata Jea.
Anna mendecih. Kemudian tersenyum sambil mengangguk. "Iya, tapi mungkin malam hari?"
"Ya sudah kalau begitu" Jea mengeluarkan satu box ayam goreng dan memberikannya pada Anna.
Anna keluar sebentar, berlari menuju dapur untuk mengambil kantong plastik.
"Masukkan ke sini"
Jea memasukkan box ayam goreng itu ke dalam kantong plastik yang di bawa Anna. Anna memakai ranselnya. Membawa kopernya dan keluar rumahnya.
"Jangan lupa hubungi aku okay?" kata Jea begitu mereka keluar rumah kecil itu.
"Iya, cerewet" balas Jea.
Anna mengunci pintunya lalu menoleh pada Max, "Ayo pergi".
"Ini saja?" tangan Max terulur mengambil koper yang di bawa Anna.
"Ya, aku tidak punya banyak barang"
"Baiklah kalau begitu.. Ayo pergi" tanya Max.
"Hum.." gumam Anna sambil mmengangguk. "Aku pergi dulu ya, Jea".
"Ya, hati-hati di jalan. Tak jadi makan ayam bersama deh.." kata Jea.
Anna melambaikan tangan pada Jea, "Lain kali saja cerewet" kata Anna. Lalu menyusul Max yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Jea menatap satu box ayam goreng dan sebotol cola yang di jinjingnya.
"Ah... sayang sekali.. Kita berdua tak bisa bersama" kata Jea mendramatisir. Lalu melangkahkan kakinya berlawanan arah, menjauhi pintu flat Anna. Ngomong-ngomong rumah Jea berada dua lantai di atas flat Anna.
Anna yang belum terlalu jauh darinya hanya terkekeh pelan mendengar ocehan sahabatnya itu. Anna mempercepat langkahnya mengimbangi Max.
...----------------...
Anna kembali ke mansion Keluarga Anderson Jung ketika langit sudah berwarna remang-remang kemerahan. Tanda matahari akan segera tenggelam dan bulan akan segera menggantikannya bersinar.
Anna sudah menata baju-bajunya yang semula dalam koper ke dalam lemari bajunya. Barang-barang dalam ransel pun ia sudah tata di atas meja samping tempat tidurnya. Lalu mengganti bajunya dengan setelan piyama bermotif polkadot berwarna biru kesukaannya.
Anna menyisir rambutnya sembari bercermin. Tak sengaja matanya melihat kantong plastik yang tadi ia bawa dari rumahnya. Anna meletakkan sisir yang di pegangnya kemudian mengambil kantong plastik itu dan mengeluarkan isinya, satu box ayam goreng.
"Makan di mana yaa?" monolog Anna.
Terlalu banyak berfikir, Anna akhirnya keluar kamarnya. Sambil membawa kantong plastik itu, Anna berjalan ke halaman belakang. Sendirian, Anna duduk di lantai teras belakang. Jika saja ada orang yang lewat mungkin Anna akan mengajaknya bersama makan ayam goreng.
Anna membuka box ayam goreng itu, dan mengambil satu potong ayam goreng bagian paha. Ayam itu sudah dingin. Tapi biarlah, Anna lapar. Anna membuka mulutnya. Siap menggigit daging paha ayam-
__ADS_1
"Memangnya disini kekurangan makanan ya? Sampai-sampai kau beli di luar?"
...----------------...