
Langkah kaki gadis itu terlihat gontai. Lelah lesu tak ada gairah. Wajahnya menyiratkan keputus asaan. Dari kemarin ia mencari pekerjaan tapi belum satu pun yang meneleponnya untuk datang.
Beberapa hari ini ia membantu seorang ibu yang berjualan sup daging iga. Tapi bayarannya tidak cukup untuk biaya hidupnya. Menghela nafas lelah dia melanjutkan langkah kakinya. Matanya sesekali menatap gedung-gedung menjulang tinggi. Membayangkan bagaimana jika dirinya bekerja di tempat sebagus itu.
Tapi ayolah.. mana mungkin ada yang mau menerima lulusan SMK sepertinya?
Ya.. meskipun ia pintar.
Matanya terbelalak ketika melihat seorang anak kecil tertabrak orang yang lalu lalang di troroar. Gadis itu segera menghampirinya.
"Hey, dik. Kamu gak apa apa?" tanya gadis itu pada anak yang tengah menggigit bibir menahan tangis. Ia masih jatuh tersimpuh. Lututnya sakit sekali.
Gadis itu membangunkannya. Membuatnya berdiri. "Ada yang sakit, hum?" suaranya terdengar begitu lembut.
"S-sakit" cicit anak itu dengan suata yang terdengar sedih.
"Mana yang sakitnya huum? sini kakak lihat"
Anak itu menatapinya takut-takut. "Kata P-papa Malk tidak boleh berbicara pada orang asing hiks"
"Malk? Mark? namamu Mark?" gadis itu tersenyum.
"Tenang kakak bukan orang jahat. Kakak mau membantumu, mana yang sakit hum?"
Mark mengangkat sedikit celana yang dipakainya.
"Lututmu yang sakit?"
Mark mengangguk menanggapinya.
" Kemari.." gadis itu berjongkok lalu meraih tangan Mark. Mendudukkannya di paha. Ia menggulung sedikit celana Mark sampai atas lutut. Terlihat lutut Mark sedikit lecet dan mengeluarkan darah.
"Lihat.." gadis itu merogoh sakunya, ia mengeluarkan beberapa band-aid bergambar karakter-karakter lucu.
"Uwaaa.. lucu" Mark telihat terkesima.
"Lucu bukan? Mark mau yang mana?"
Mark menunjuk band-aid bergambar karakter semangka. Lalu mengambilnya. Gadis itu mengantongi band-aid yang tidak dipilih Mark.
Ia mengambil band-aid dari tangan Mark lalu menempelkannya pada lutut Mark yang terluka setelah meniupnya dengan lembut.
"Hush hushhh sakitnya pergi jauhh hushh" gadis itu menenangkan Mark yang masih meringis kesakitan.
"Sudah sakitnya akan pergi sebentar lagi oiya nama kakak Anna"
"A-anna? Flozen?"
"Bukan sayang" gadis terkekeh pelan. Sebelum terlonjak kaget mendengar suara berintonasi tinggi.
"MARK?"
__ADS_1
"P-papa.." Mark menatap pria yang menjulang tinggi tengah memegang satu cup ice cream. Jeffrey. Ia tiba- tiba langsung mengambil ke gendongannya dari pangkuan gadis bernama Anna itu.
Jeffrey menatap wajah anaknya yang dibubuhi jejak air mata. Matanya terbelalak kaget. Hatinya seketika memanas. Marah.
"Apa yang kau lakukan pada anakku?!"
Anna sempat terhenyak memdengar nada suara yang terlampau datar dan dingin itu.
"A-aku tidak melakukan apa ap-"
"Lalu kenapa anakku menangis?"
"I-itu t-tadi.." wajah dingin dan nada suara yang menusuk tajam itu membuatnya ciut. Bahkan Anna belum sempat berdiri. Ia menengadah menatap Jeffrey. Tak peduli lehernya sakit melihat ke atas setinggi itu.
"Papa.. jangan malah kakak ini baik, dia membeli Malk ini" Mark menunjukkan lututnya yang terluka pada Jeffrey.
Jeffrey melihatnya. Ia menghela nafas tapi wajahnya tak menampilkan rasa bersalah karena sudah berprasangka buruk pada gadis itu.
Anna berdiri. Akhirnya ada secercah keberanian untuk menjelaskan. Ia menatap Jeffrey. "Anak Anda tadi tertabrak orang lalu lalang. Dan kebetulan saya lewat membantunya Tuan"
"Telima kasih kak Anna" kata Mark. Membuat Anna tersenyum lembut.
"Maaf, tapi lain kali hati-hati. Saya permisi. Dah Mark" Anna membungkuk hormat dan segera berlalu dari pasangan papa dan anak itu. Sekali berbalik dan melambaikan tangannya pada Mark.
Jeffrey menatapematap datar kepergian gadis itu.
"Mark tidak di apa-apakan sama kakak itu?"
Mark menatap ayahnya lalu menggeleng pelan. "Tidak papa.. kakak itu baik".
Jeffrey dan Mark berjalan ke mobil mereka yang terparkir di sisi jalan. Max yang melihat kedatangan Tuannya langsung turun dan membukakan pintu penumpang bagian belakang untuk mereka.
"Mau papa suap hm?" kata Jeffrey begitu duduk di dalam mobil. Mark menggelengkan kepalanya, ia mengusap mata dan pipinya yang basah habis menangis tadi. Mark mengambil cup ice cream dari tangan ayahnya. Memilih untuk makan sendiri.
"Oh. Mark mau makan sendiri?"
Mark mengangguk. "Eung. Malk kan sudah besal papa". Jeffrey mengusak rambut anaknya.
"Baiklah baiklah. Max kembali ke kantor".
"Baik, Tuan"
...----------------...
Anna Moore kembali ke apartemen kecil dan sederhana tempat ia beberapa tahun ini tinggal. Kegiatan 'mari mencari kerja yang lebih baik' belum juga ia dapatkan. Pulang ke rumah dengan perut keroncongan. Pagi ini ia hanya makan sebungkus roti yang dibelinya dari minimarket.
Anna membuka lemari tempatnya menyimpan bahan makanan. Di dalamnya hanya ada tiga bungkus mie instan. Anna mengambil salah satunya. Kemudian menyiapkan panci untuknya memasak.
"Mie lagi.. kapan aku bisa memenuhi kulkas dengan bahan makanan? Haahh.. sudah lama aku tidak memasak apapun selain mie" monolognya sambil mengocek mie yang mulai melunak di dalam panci.
Ringggg~
__ADS_1
Suara dering ponsel tiba tiba terdengar. Anna merogoh saku celana jeansnya dengan harapan yang meneleponnya adalah salah satu dari tempat ia melamar kerja.
Helaan nafas terdengar ketika ia menatap layar ponselnya. Jea, sahabatnya ternyata yang menelepon. Anna mengangkatnya dan menekan tombol loudspeaker. Ia meletakkan ponselnya di atas meja makan kecil di belakangnya.
"Anna"
"O?" sahut Anna dengan malas.
"Hey ada apa demgan suaramu? Tidak suka ya aku meneleponmu?" cerocos Jea di sebrang sana.
"Ya" jawab Anna singkat. Anna mengambil mangkuk lalu memindahkan mie yang sudah matang ke dalamnya.
"Ish"
"Iya iya ada apa, Jeaa?" Anna duduk di kursi meja makan setelah menaruh mangkuk mienya di atas meja.
"Aku ada kabar baik untukmu" katanya.
"Kabar baik apa lagi? Terakhir kau mengabariku kabar baik itu karena kau menemukan sebelah kaus kakimu yang hilang".
"Ayolaaah.. kali ini aku serius"
Anna memasukkan sesuap mie ke dalam mulutnya. "Apwa?"
"Apa kan maksudnya? Hey kau sedang makan ya?"
Anna menelan mie yang dikunyahnya. "Ck, iya apa kabar baiknya?"
"Aku ada pekerjaan untukmu eh- maksudnya ada lowongan pekerjaan untukmu. Babysitter.. mau kan?"
"Babysitter?"
"Iya babysitter. Seleksi sih, keluarga kaya.. dari yayasan juga banyak tapi ini bebas. Kau mau kan? Kau kan suka anak-anak dan bisa mengurus anak-anak. Bagaimana?"
"Boleh saja, kapan?"
"Kalau lihat iklannya sih, besok. Tidak ada kriteria tertentu hanya berpakaian rapi, mereka akan menyeleksinya sendiri. Ya.. siapa tau ada kesempatan untukmu kan?"
Anna mengangguk mengerti, "Baiklah".
"Okay, lanjutkan makanmu alamatanya akan ku kirimkan lewat SMS"
"Eung. Terimakasih Jea"
"Aih.. bukan apa-apa jika aku bisa mengurus anak-anak pasti aku yang akan pergi. Aku teringat kau sahabatku.. oh! lihat begitu baiknya diriku"
"Ck, iya iya" Anna melanjutkan makannya.
"Huum.. dah".
Percakapan via telepon itu berakhir.
__ADS_1
Baiklah, kita coba yang satu ini.. mungkin saja aku beruntung kali ini, pikir Anna.
...----------------...