THE BOSS

THE BOSS
Chapter 5


__ADS_3

"Siapa namamu?" tanya Jeffrey, ia menatap tajam Anna.


"Anna Moore"


"Ah ya" Jeffrey membuka berkas lamaran Anna. "Pengalaman bekerja pelayan restoran, kasir minimarket, membagikan brosur, penjaga stan ice cream.. Hey! kau pikir ini bisa dipakai untuk melamar pengasuh bayi?"


Belum saja Anna membuka mulutnya, Jeffrey- "Keluar".


"Loh?! Kok Kak Anna disuruh keluar sih?" tanya Mark dengan nada sedikit kesal.


"Dia tidak kompeten sayang, mana bisa dia mengurus Mark" jelas Jeffrey pada anaknya.


"Tapi Kak Anna kan baik papaa.." Mark menatap Jeffrey dengan mata berkaca-kaca.


"Hm.. Saya tinggal di panti asuhan sejak kecil sampai lulus sekolah menengah atas, saya terbiasa mengurus anak kecil, Tuan" gumam Anna. Kecil, tapi terdengar sampai telinga Jeffrey.


"Begitu?"


Anna mengangguk menginyakan.


"Tapi kau ini sedikit mencurigakan. Kemarin kau bertemu kami, lalu sekarang kau melanar kerja di rumah kami" Jeffrey memicingkan tatapannya pada Anna. Menelisik dari bawah kaki sampai atas kepalanya.


"Ah, i-itu hanya kebetulan. Saya datang karena diberi tahu teman saya. Saya juga sedang mencari pekerjaan" kata Anna.


"Kau tidak bermaksud jahat pada anakku?"


Okay. Anna mulai kesal. "Tentu saja tidak. Kalau aku jahat sudah ku culik dia kemarin karena kelalaianmu tuan".


Jeffrey terkesiap mendengar jawaban Anna. Mata tajamnya semakin menusuk menatap Anna.


"Aku sangat butuh pekerjaan untuk menghidupi diriku sendiri, itu saja" kata Anna.


Ooy, kau pikir Jeffrey akan tersentuh?


Mark menatap ayahnya yang diam saja. "Papaa..." Mark merengek. Membuat Jeffrey menoleh ke arah Mark.


"Apa Mark?"


"Teman balunya Kak Anna saja yaa" pinta Mark pada Jeffrey.


"Kita harus memastikan dulu Anna baik atau tidak untukmu, nak"


"Ish papa... Kakak Anna itu baik"


Anna hanya diam memperhatikan interaksi ayah-anak itu. Hatinya berdebar. Bagaimana jika ia tidak diterima kerja di sini?


Anna menggigit bibir dalamnya gugup. Kedua tangannya saling bertautan di belakang tubuhnya.

__ADS_1


"Maaf, Tuan-" Joe yang sedari tadi diam membuka suaranya. Jeffrey menoleh ke arah Joe yang berdiri di samping kanannya.


"Ya?"


"Menurutku dari semua pelamar gadis ini telihat.. sederhana. Jelas sekali dia tidak tahu seperti apa tuan rumahnya. Rambutnya juga tak banyak gaya. Hm- Coba ku lihat kukumu". Joe mengulurkan tangannya pada Anna. Meminta melihat tangannya.


Anna mengeluarkan kedua tangannya dari balik tubuhnya. Ia memperlihatkan kedua tangan dengan jari jemarinya yang tak ada hiasan apapun.


Mirip pemeriksaan kuku saat sekolah dasar, Joe menyentuh kedua tangan Anna. Sedikit menelitinya. "Tak ada riasan pada tanganmya, kukunya juga tidak panjang Tuan. Tidak akan membahayakan Tuan Muda Mark" kata Joe.


Jeffrey mengangguk-ngangguk paham. "Yah.. riasannya pun tidak tebal dan tidak membuat mataku sakit".


Mark turun dari pangkuan ayahnya dan berjalan ke arah Anna. Memeluk kakinya. Jeffrey menatap kelakuan anaknya yang jarang sekali terlihat. Terlebih anaknya tidak pernah terlihat seperti itu pada orang yang baru di kenalnya.


"Papa... ayolah yaa.. Kak Anna jadi teman balu Mark, kay?" rengek Mark lagi. Ia memaaang ekspresi berkaca-kaca. Berusaha meluluhkan hati Jeffrey.


Jeffrey menghela nafas, "Baiklah".


"Yeayyyy" Mark berteriak kegirangan. Anna akan menjadi teman barunya.


Anna bernafas lega. Akhirnya ia mendapatka pekerjaan. Semoga saja kali ini berjangka panjang.


"Kau harus tinggal di sini. Nanti sore minta Max untuk mengantarmu pulang mengambil barang-barang yang di perlukan. Joe akan memberitahumu selebihnya" jelas Jeffrey.


Anna membungkuk hormat, "Terimakasih Tuan".


"Iya Tuan Muda" balas Joe.


Jeffrey melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Jam sudah menunjukkan jam 09.23. "Baiklah, saya harus segera ke kantor".


Jeffrey menatap anaknya lembut. "Mark, papa pergi kerja dulu yaa".


"Eung! bawakan buah semangka saat pulang nanti. Jangan lupa kay?"


"Okay" Jeffrey beranjak dari duduknya. Menghampiri Mark, kemudian mencium kening anaknya.


"Hihii.. dah papaa" Mark melambaikan tangannya pada Jeffrey yang akan berjalan keluar pintu. Jeffrey tesenyum, sebelum benar-benar menghilang dari balik pintu.


"Anna" panggil Joe.


"Em- ya?" Anna menoleh ke arah Joe.


"Ayo ku tunjukkan kamarmu dulu"


"Malk boleh ikut?" tanya Mark pada Joe.


"Tentu saja, Tuan Muda".

__ADS_1


Joe berjalan ke ruangan lain. Melewati ruang makan. Tampak lorong panjang dengan pintu-pintu di kedua sisinya. Anna menggenggan tangan Mark yang berjalan di sampingnya.


"Ini kamar para maid. Kamar Tuan Muda Mark ada di lantai dua, di antara dua pintu kayu besar berwarna coklat. Pintu kamarnya berwarna putih. Kau akan mudah menemukannya begitu sampai di ujung tangga.." Jelas Joe. "Nah ini kamar mu".


Joe membuka pintu dengan kunci yang di kantonginya sejak tadi. Mereka bertiga memasuki kamar itu. Kamar itu cukup besar untuknya. Single bed terlihat begitu nyaman. Ada lemari dan sebuah meja rias. Di samping lemari ada sebuah pintu, yang sepertinya itu pintu kamar mandi.


"Kau bisa gunakan kamar ini senyamanmu". Joe melepaskan sebuah kunci dari gantungan banyak kunci itu pada Anna.


"Aku Joe, kepala maid di rumah ini. Kamarku tepat di depan kamarmu. Jika perlu bantuan, kau bisa cari aku, Anna"


"Terimakasih Joe" Anna menerima kunci itu. Lalu meletakkannya di atas meja rias bersama dengan tasnya.


"Baiklah, aku keluar dulu. Bersenang-senanglah kalian" Joe keluar kamar meninggalkan Anna dan Mark.


Anna menunduk menatap Mark. Anak itu juga balik menatapnya. Tatapan mata yang lucu. Mau tak mau Anna tersenyum dibuatnya. Gemas.


"Tuan Muda Mark, mau main?" tawar Anna.


Kedua alis Mark mengkerut, seperti kesal. "Jangan panggil tuan muda ish, kita kan teman.. Panggil Malk dengan Malk saja kay?"


"Tapi nanti Tuan Jeffrey marah bagaimana?"


"Tenang... ada Malk yang akan melindungi Kak Anna, hyatt!" Mark membentuk lengannya seperti Iron Man.


"Haha.. Baiklah ayo kita keluar" Anna mengambil kunci kanarnya dan keluar kamar bersama Mark.


...----------------...


"Sudah selesai pemilihan babysitter Tuan?" Johnny bertanya pada Bosnya yang kini sedang menikmati makan aiang bersamanya di ruang kantor.


"Ya, Mark sangat menyukai gadis itu. Tapi ku lihat dia tidak terlihat punya niat jahat"


"Mark menyukainya, bagaimana bisa?" Johnny terkejut. Dia saja yang mengenal Mark sejak bayi tidak mendapat atensi dari Mark. Anak itu selalu menjauh darinya. Katanya wajah Johnny sangat menyeramkan.


"Kami bertemu dengannya kemarin. Aku tidak sengaja meninggalkan Mark di luar saat kembali memberi ice cream. Gadis itu membantu Mark yang jatuh dan memberikan band-aid bergambar semangka pada lutut Mark" jelas Jeffrey pada Johnny.


Jeffrey memakan suapan terakhir makanannya. "Kau tahu sendiri betapa sukanya Mark pada semangka".


"Benar juga.. siapa gadis itu?" tanya Johnny.


"Anna Mau- ah! Moore, ya. Anna Moore"


Johnny mengangguk. Ia memilih melanjutkan makannya.


"Carikan semua data tentangnya untukku. Memastikan dia baik untuk Mark tak ada salahnya kan?"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2