
- Alina -
Matahari menyeruak masuk ke dalam kamarku dan aku bernafas dalam, perlahan aku membuka mataku untuk menyesuaikan dengan kilaunya.
Sebelum aku sadar bahwa baru saja ada orang di dalam kamarku, terdengar suara pintu menutup.
Aku mengerang dan bangkit duduk di atas tempat tidur. Sudah lima hari setiap paginya sekarang Wilson mengecekku sebelum aku bangun dan pergi sesaat sebelum mataku terbuka.
Kenapa dia harus mengendap keluar saat mataku terbuka?
Aku mengusap-usap wajahku dengan tangan, dan menghela napas dengan lelah. Aku menggenggam sepraiku dan menghitung sampai tiga.
1, Hari lain tanpa ayahku
2, Hari lain tanpa Kieran.
3, Hari lain untuk menjadi lebih kuat.
Karena kalau aku mulai menangis, aku tidak akan pernah berhenti.
Dengan hati dan pikiran yang membaja dan siap, aku turun dari tempat tidur dan membersihkan diri.
Kieran bersamaku saat jantung ayah berhenti berdetak. Dia bersamaku selama tiga hari dan melewati prosesi pemakaman.
Setelah itu, aku tidak melihatnya lagi.
Aku melihat ke cermin dan mendengus, siapa yang ingin tinggal disini?
Orang gila kerja yang kesepian, sedih, depresi, dan kelelahan?
Tenggorokanku penuh dengan emosi dan aku menelannya dengan susah, menjaganya tetap di dalam. Kembali pada mataku yang panas, begitu putus asa ingin dilepaskan.
Aku tidak akan membiarkan diriku menangis.
Aku harus bertahan.
Aku berganti pakaian, atasan putih tanpa lengan yang sederhana dan celana panjang hitam dengan sabuk emas.
Kusapukan make up tipis dan meraih tas tanganku dari sofa. Sofa yang ditiduri Kieran.
Aku mengerjapkan mata dengan kuat, mengingat bayangan yang berkelebat dalam pikiranku. Ekspresi terkejutnya ketika aku merunduk dan mengecupnya.
Aku memejamkan mata, dan memerintahkan video player dalam pikiranku untuk menghentikan bayangan itu.
Kenapa dia menenangkanku hanya untuk meninggalkanku lagi?
Ketukan keras di pintu menyadarkanku, "Aku akan keluar Wilson."
Kukalungkan tasku di bahu dan kukenakan sepatuku, lalu melangkah ke luar.
Wilson berdiri tepat diluar dan memberiku sedikit senyuman, "Selamat pagi Nona Simmons. Apa tidurmu nyenyak?"
Aku mulai melangkah menuruni tangga, "Seharusnya kau tahu, kenapa kau mengecekku pagi-pagi?"
"Saya pernah mempelajarinya di kelas Psikologi. Anda baru saja kehilangan orang yang disayangi, jadi Anda membutuhkan perhatian dan penanganan ekstra. Saya hanya ingin memastikan bahwa Anda tidur dengan nyenyak."
Aku menoleh padanya, "Terima kasih. Tapi saya baik-baik saja, sungguh."
Ia tersenyum dan mengangguk, "Baiklah kalau begitu."
Dia tidak mempercayaiku.
Aku membiarkannya dan lanjut menuju ke dapur. Aku mencoba untuk menyantap dua makanan yang akhir-akhir ini bisa dicerna perutku. Sangat menderita.
Bagaimanapun tetap aku makan, dan ketika selesai, Louis mengantarku kerja.
Setelah menyelesaikan beberapa rapat, aku melewatkan makan siang dan makan malam, dan bekerja dengan semangat. Jadi, hanya sarapan itu makananku sehari ini.
Kepalaku terasa seperti dihantam karena kupakai dengan sangat intensif. Tapi, aku mengabaikannya dan langsung menggunakan lift pribadi turun ke tempat parkir untuk mengambil mobilku.
Aku melaju menuju gym eksklusif 24 jam yang dilengkapi dengan sebuah kolam renang indoor.
Kuambil tas duffel-ku dari bagasi dan masuk ke dalam gym. Lalu, aku mengganti pakaianku dengan bikini sebelum menyelam ke dalam air.
Aku menjadi anggota gym ini hanya untuk menikmati suasana kolam renangnya. Biasanya, lampu-lampu lilinnya dan atmosfer tenangnya mengingatkanku pada tempat-tempat spa lainnya. Tapi malam ini, atap kacanya yang cantik memperlihatkanku langit malam yang dipenuhi bintang. Dan, aku merasa transparan seperti atap kaca itu.
Ayahku biasa mengajakku berjalan-jalan pada malam hari. Biasanya kami melakukannya pada waktu-waktu yang sangat langka ketika kami berdua ada di rumah. Ia selalu bepergian. Ada semacam kebutuhan dalam dirinya untuk selalu berpindah-pindah.
Suatu kali ia akhirnya berhenti bepergian dan pulang. Ketika masih memulihkan kondisinya setelah semua perjalanan yang dilakukannya, Connor datang dengan ide cerdasnya yang bodoh untuk merusak mobil Ayah.
Melukai ayahku dalam proses.
Aku memandangi bintang-bintang itu, kemudian membalikkan badan untuk berenang satu putaran lagi.
Kemudian, langit berbintang itu membawa kenangan lain bagiku. Aku jadi teringat pada malam ketika aku dan Kieran berjalan di bawah bintang-bintang.
Langit malam yang sama, dengan bintang-bintang yang sama, orang-orang yang sama, namun pada waktu yang berbeda.
Kepalaku menembus permukaan air dengan kuat dan kuambil napas yang sangat dalam. Emosiku nyaris menggelembung ke luar jika aku tidak mengambil napas.
Kuletakkan kedua tanganku pada pinggiran kolam dan berusaha tidak memikirkan perasaan sakit yang muncul.
Satu malam lagi untuk aku menguatkan diri.
__ADS_1
"Wah, wah, lihat ini."
Aku meringis, Connor.
Oh benar, kita mengambil paket pasangan untuk gym ini.
Aku benar-benar tidak mengacuhkannya, lalu berenang satu putaran lagi. Ketika sampai di ujung, Connor sudah ada di sana. Ia melihatku dengan ekspresi senang di wajahnya.
"Sendiri? tidakkah budak barumu Knight yang mengikutimu kemana-mana atau semacamnya?"
Aku pergi ke samping kolam dan naik, "Sangat mengerikan bertemu denganmu juga Connor."
Ia bersiul seperti orang berengsek. Memang dia berengsek. Aku melotot dengan marah padanya, lalu mengenakan jubah mandiku.
Dia mengenakan kemeja hitam dengan jeans, beberapa lecet diwajahnya seperti dia seolah-olah baru berkelahi, "Apakah kamu membuangnya juga? Aku tidak terkejut, kamu mendorong semua laki-laki lajang pergi jika melibatkan perasaanmu."
"Persetan Connor."
"Wah, jaga omonganmu, Sayang. Dari semua kebiasaan yang diturunkan ayahmu, berkata kasar bukan salah satunya."
Aku menggertakkan gigiku dan berjalan ke kamar mandi. Dia mengikuti dekat di belakang, "Ayolah sayang, jangan terlihat sedih. Aku akan membawamu kembali jika Knight tidak menginginkanmu. Aku tidak keberatan dengan yang bekas."
"Aku bilang enyahlah kau kotoran!!"
Dia tertawa dan menarik lenganku kasar, membuatku berbalik padanya, "Berhenti jadi anak nakal sayang, Knight tidak pernah menginginkanmu. Dia hanya menginginkan vagina manismu. Dan sekarang ayahmu sudah meninggal, bagaimana jika yang berlalu biarlah berlalu?
"Kau lupakan saja bisnis gangku dan aku akan melupakan hari ketika kau memutuskanku. Adil seadil-adilnya."
Aku menatapnya tajam seperti dia adalah alien, "Apa kau bercanda denganku? aku tidak peduli meski kau pria terakhir di bumi atau jika Kieran hanya menginginkan tubuhku, aku tidak akan pernah kembali padamu."
"Tidak ada yang mustahil, Sayang."
"Kita ini mustahil untuk bersama lagi. Tanamkan itu ke dalam otak kerdilmu."
"Sekarang kau baru saja menyakiti perasaanku."
"Aku akan menyakiti perasaan sialanmu lebih dari ini jika kau tidak menyingkirkan tanganmu dariku."
"Ayolah Sayang..." Ia kemudian menggeser kedua tangannya ke bagian sisi badanku, lalu kutinju muka bodoh idiotnya.
Ia mengerang dan memakiku dengan terengah-engah, "Aku membiarkanmu memukulku saat terakhir kali, jalang sialan. Sekarang tidak lagi."
Dia menjambak rambutku, menariknya dengan kuat, membuatku kesakitan.
Sebelum aku bisa memukulnya, terasa ada logam dingin di perutku. Aku terpaku. Connor memiringkan kepalaku menghadap ke wajahnya. Saat itu juga aku mendengar rentetan bunyi senapan terkokang di sekitar kami.
Terlihat Kieran di kejauhan bersama sekelompok orang di belakangnya. Mereka mengarahkan senjata pada Connor, "Lepaskan dia."
Jatungku seperti berhenti berdetak dan napasku seperti tercekat di tenggorokan.
Connor menjambakku lebih keras lagi. "Wah, wah, lihat siapa yang datang."
Aku memberontak dan merasa ujung pistolnya naik ke atas sampai ke pipiku.
Kieran melepaskan pelindung pistolnya, "Aku tidak akan mengulangi Connor."
Connor tertawa dan mencium pelipisu, menghirup aroma rambutku, "Apa yang kau pikirkan dari adegan ini Alina? Romantis kan? Pria yang kau cintai mencoba menolongmu tapi mengungkapkan jati dirinya juga."
Kegelapan dalam mata Kieran seolah menyelimutinya. Tidak ada kehangatan yang biasa aku lihat di kedua mata itu.
Scott muncul dari belakang kelompok itu dan memberiku tanda untuk menyerang Connor.
Pikiranku seketika menjadi gerakan. Aku mendorong tanganku ke tangan Connor yang memegang senjata, lalu kusikut bagian iganya.
Senjatanya meletus ke langit-langit, memecahkan atap kaca dan pecahannya jatuh seperti hujan. Kami jatuh ke tanah. Scott berlari ke depan dengan beberapa anak buahnya, lalu menahan Connor agar tidak bergerak. Lalu, aku merasakan ada sebuah lengan yang kuat dan hangat melingkar di pinggangku.
Aroma cologne Kieran memenuhi penciumanku sembari ia mendekapku ke tubuhnya yang hangat. Ia menendang senjata Connor untuk menjauhkannya. Scott mendongak kepada Kieran dan berkata, "Bawa dia keluar dari sini."
Kieran tak perlu diberitahu dua kali.
Kieran membawaku keluar, matanya menyisir cepat memastikan semuanya aman.
Kami menuju mobilku, dan tersadar bahwa aku tidak mungkin membawa kunci mobil di dalam baju mandiku. Ia mengeluarkan sebuah kartu dan sebuah kunci dari sakunya. Kemudian, ia mencoba mencongkel pegangan pintu, dan pintunya terbuka. Ia memasukkan aku ke kursi penumpang di samping setir. Lalu, ia memutar ke sisi pengemudi, masuk, dan menyalakan mobil.
Ia melajukan mobil dalam diam.
Seharusnya aku merasa aman. Seharusnya aku membiarkan aromanya menguasaiku. Seharusnya aku merasa mabuk karena kehangatannya.
Namun yang terjadi, seolah ada rasa dingin yang menjalar cepat melalui syaraf-syarafku.
Kieran salah satu dari mereka.
Jika memang benar, ia sama berbahanya dengan Connor.
Aku telah berjanji pada ibuku dan mendedikasikan hidupku untuk melindungi ayahku dari mafia.
Dan disinilah aku, bersama pria yang paling berbahaya di kota ini.
***
- Kieran -
Ia memegang erat sabuk pengamannya seolah itu adalah pelampung penyelamatnya.
Matanya terbuka lebar dan nanar, seolah ia tidak dapat memahami apa yang baru saja terjadi.
__ADS_1
Aku menghubungi Wilson dan ia menjawab dengan cepat, "Ada yang bisa saya bantu, Tuan Knight?"
"Aku bersama Alina, Dia akan tinggal denganku malam ini."
"Apakah terjadi sesuatu?"
"Anak buahku sedang menanganinya, aku akan mengantar Alina pulang besok pagi."
Jeda sebentar. "Bisa saya bicara dengannya?"
Aku menoleh pada Alina dan ternyata ia sedang melihat ke luar jendela.
Aku mendekatkan teleponku padanya tapi ia malah menjauh. Ia menatapku tajam dengan mata dingin. "Saya baik-baik saja, Wilson, hanya sangat lelah."
Suara Wilson keluar lebih kasar, "Jaga dia untukku Tuan Knight. Alina, kamu dapat meneleponku kapan saja, kamu tahu itu kan?"
Ia menghela napas dalam, "Terima kasih."
"Saya akan bicara denganmu nanti Tuan Knight, selamat malam." Wilson memperingatiku lewat telfon dan aku menghela nafas.
"Selamat malam."
Aku menutup telepon dan kami sampai di apartemenku.
Petugas keamanan melambai padaku dan mempersilakan aku masuk. Aku memarkir mobil Alina di tempat parkir ekstraku. Kumatikan mesin mobil dan membiarkan suasana hening beberapa saat lagi.
"Alina..."
"Kau salah satu dari mereka."
Aku menghela napas, "Aku bukan salah satu dari mereka."
"Kalau begitu, jelaskan yang ada di sarung pistolmu."
Ia tidak menatapku, seolah sedikit saja melihatku ia merasa jijik.
"Itu untuk melindungi diriku sendiri."
"Tepatnya melindungi dari apa?"
"Dari gang lainnya. Aku punya agen detektif dengan Scott. Kau akan terkejut kalau tahu berapa banyak geng yang mencari masalah dengan kami."
"Apa kau mau tahu kenapa aku memutuskan pertunanganku dengan Connor?"
Aku tidak menduga hal ini. "Karena ayah dan ibumu. Ibumu tewas di tengah baku tembak. Ayahmu berada dalam salah satu kecelakaan bodoh Connor."
"Bagaimana kau-"
"Aku tidak bodoh Alina. Aku punya mata di mana-mana. Begitu perjanjian kita selesai, aku mencari informasi tentangmu. Aku tidak bisa mendapat informasi itu dengan cara lain. Menurutmu kenapa aku menjauh setelah pemakaman ayahmu?"
Ia membelalak, "Itu kenapa kau menjauh dariku?"
"Kenapa aku harus tinggal? Kau muak dengan orang sepertiku meski aku tidak pernah ingin membuatmu dalam bahaya.
aku pergi jadi kau bisa lebih aman. aku pergi agar kau tidak tahu seberapa brengseknya aku dan kau bisa melanjutkan hidupmu, menemukan pria yang benar-benar mencintaimu."
Dia menatapku dan dadaku naik turun karena gemetaran. Aku melepaskan sabuk pengamanku dan keluar dari mobil, membanting pintu.
Kusandarkan kedua tanganku di atas atap mobil Aston Martin milik Alina. Aku perlu menguasai diriku.
Aku mendengar pintu di sisinya membuka lalu menutup. Suara bip-bip dari penguncian mobil terdengar menggema di tempat parkir. Aku melihat Alina berdiri dan menungguku.
Konyol rasanya karena bagaimana pun ia terlihat sempurna.
Rambutnya masih basah dan berantakan karena apa yang dilakukan Connor. Postur semampainya terbalut baju mandi yang lembut dan mewah. Ia terlihat mengagumkan.
Aku mengembuskan napas frustrasi dan berjalan menuju lift. Aku bisa mendengarnya berjalan dekat di belakangku. Aku ingin membawanya ke rumahku, tapi apartemenku adalah tempat teraman saat ini di mana aku dapat membawanya.
Kami naik lift menuju penthouse-ku. Tubuhku terasa panas karena berada di ruangan tertutup bersamanya.
Dia bukan milikmu, Kieran. Tidak akan pernah.
Aku mempersilakan dia untuk masuk ke dalam apartemenku. Matanya seperti berkilat ketika memandangi semuanya.
Lantai marmer putih terlihat kontras dengan furnitur dan dekorasi ruangan yang berwarna hitam. Aku menyusuri koridor dan membuka pintu kamar tamu. "Kau bisa beristirahat di sini. Aku di kamar yang ujung."
Ia mengangguk tapi tidak bergerak untuk masuk ke dalam kamar itu.
"Aku akan mengambilkan pakaianku untukmu, aku tidak punya pakaian lain untukmu saat ini. Aku harap itu tidak masalah," Aku menambahkan.
Bayangan dirinya mengenakan bajuku lagi membuat kulitku terasa panas. Belum pernah dalam hidupku aku menginginkan seseorang sedalam yang kurasakan saat ini.
Ia mengangguk lagi dan melihat padaku, "Aku um... Terima kasih. Untuk yang tadi dan yang lainnya."
Aku menelan ludah. Sepertinya aku tidak akan bisa tidur malam ini.
"Tidak masalah."
Pandangan matanya seakan membakar ke dalam diriku. Aku bisa mendengar jantungku berdegup keras. Bibir manisnya sedikit terbuka, menunggu.
Lalu ia berkedip, menegakkan tubuhnya, berjalan ke dalam kamar itu, dan menutup pintunya.
__ADS_1