The CEO's Wife

The CEO's Wife
Chapter 17


__ADS_3

- Alina -


Kemana kita pergi dari sini?


Aku tidak pernah suka mengklik pena secara konstan, tetapi entah bagaimana aku membutuhkannya untuk membantu memproses pemikiran dalam pikiranku.


Jika aku yakin tentang apapun, itu berarti bahwa Kieran dan aku memiliki perasaan yang sama satu sama lain.


Klik, klik.


Dan jika aku yakin tentang hal lain, berarti aku tak bisa bersama pria yang bermain-main dengan mafia.


Klik.


Dan yang menakutkan adalah aku melupakan realita dan kehilangan diriku dihadapannya.


Apa yang akan dikatakan ayahku?


Klik, klik, klik.


Mungkin sesuatu seperti, "Kieran adalah pria yang baik Alina, beri dia kesempatan. Hanya karena dia bagian dari mafia bukan berarti dia orang yang jahat. Lihatlah Wilson, dia orang yang perhatian dan aku percaya padanya dengan hidupmu.


Apa yang terjadi pada ibumu merupakan kecelakaan yang patut disayangkan, jangan biarkan hal itu menghentikanmu mencari cinta. Kau tahu ibumu akan marah mengetahui kau menolak dia karena akan apa yang terjadi padanya.


Klik.


Aku menghela nafas dan melempar penaku ke atas meja, bahkan pekerjaanku sebagai CEO tak pernah serumit ini.


Aku menekan interkom, "Louis, bisa bawakan aku teh?"


"Segera datang"


Ponselku berdering dengan pesan masuk dan aku membukanya.


-Nanti makan siang? Kieran-


Aku meleleh seperti coklat karena pria ini.


-Untuk hutang ku atas keberhasilan perusahaanmu? :) Alina-


-Untuk semua kesenangan yang kita bagi bersama kemarin ;) -


-Bukan untuk suatu kebijakan bukan?-


-Bukan ketika aku tahu apa yang ku inginkan sayang dan untuk sekarang aku ingin makan siang bersamamu-


-Untuk sekarang?-


-Aku mungkin ingin sedikit makanan pencuci mulut setelah itu, aku bertanya-tanya jika kamu bisa memberiku saran ;)-


-Aku tidak yakin kalau pelatih pribadimu akan senang dengan jumlah makanan penutup yang kau makan.-


-Jika aku punya pelatih pribadi, aku yakin dia akan baik-baik saja dengan itu. Dan Lucy telah menyarankan hotel yang sangat bagus untuk hidangan penutup ini. Katanya kantor itu tidak memberikan suasana romantis yang tepat.-


Ya Tuhan


- Kieran, kita bertemu untuk makan siang, bukan untuk hidangan penutup.-


-Bagus, aku akan datang menjemputmu.-


Aku menatap layarku, lalu aku tersadar.


Keparat itu menipuku untuk makan siang bersamanya.


Aku mengerang dan mendengar ketukan di pintu. Aku membiarkan Louis masuk dan mengawasinya.


Dia meletakkan tehku di meja dan memberiku seringai jahil, "Dimana aku harus meletakkan ini?"


Dia membawa sebuket besar mawar putih dan aku menunjuk sofa, "Siapa yang mengirim ini?"


"Kurasa pengagum rahasiamu, ada kartu di suatu tempat di sana. Dan jemputanmu sudah di sini."


Aku beralih melihatnya dari bunga, "Sudah sampai?"


Senyum bodohnya melebar, "Kau menantikan seseorang?" +


"Yah begitulah tapi tidak sampai sekitar siang."


Dia terkekeh, "Aku agak terluka ketua. Aku selalu siap sedia untukmu tapi aku bahkan tidak tahu jika kau ada janji. Baiklah, aku akan membiarkannya sekarang karena aku terlibat di dalamnya. Aku bisa menyimpan rahasia ini untukmu. Katakan saja pada kekasihmu agar tidak mengirim mawar ke kantor, itu hadiah kematian."


"Aku tidak menyembunyikan apa pun Louis dan aku jelas tidak dengan siapa pun. Kita hanya- kita hanya-"


"Teman bercinta?"


"Louis."


Dia mengangkat tangannya menyerah, "Maaf, insting pertemananku keluar. Aku peduli padamu, aku bahagia selama kau bahagia."


Aku memberinya pelukan dan mengambil tasku, "Terima kasih atas perhatiannya. Aku tak tahu apa yang akan aku lakukan tanpamu."


"Kau akan membuat Wilson menggantikanku dalam sekejap."


"Itu tidak benar," Aku mengambil kartunya dari karangan bunga.


"Kau tahu itu benar, hati-hati pada kencanmu. Aku akan pergi mengatur jadwalmu dan mawar berikutnya yang akan kau terima."


Aku mengejek dan dia pergi, menutup pintu dibelakangnya dengan seringai menjengkelkannya.


Aku menggelengkan kepalaku dan membuka kartu itu.


-Tidak sabar untuk bertemu denganmu lagi. Bertemu denganmu di lantai bawah.-

__ADS_1


Aku tersenyum, idiot bahkan tak repot-repot tanda tangan.


Aku menaiki lift dan keluar ke lobi, melihat Mercedes hitam terparkir di luar menungguku.


Richard tak ada disana, pria yang berbeda keluar dari kursi pengemudi dan membukakan pintu penumpang untukku masuk.


Mataku terbelalak dan si supir mendorongku masuk ke mobil dengan cepat sebelum membanting pintu sampai tertutup.


Tangan kasar menahanku dan teriakanku teredam oleh kain yang ditempatkan pada mulutku.


Connor memberikan seringai gila, "Merindukanku?"


***


- Kieran -


"Apa yang kau lakukan?"


Aku lanjut mengetik. Makan siang dengan Alina berarti aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan, "Mencoba mengirim beberapa email. kenapa?"


Scott duduk di kursi seberang mejaku dan meletakkan kaki menjijikkannya pada tumpukan kertas, "Kau tak biasanya bekerja keras. Berkencan dengan putri nanti?"


Aku mendorong kakinya dari tempat kerjaku, "Itu bukan urusanmu."


Kenapa sangat rahasia? aku yakin seluruh tim melihat bagaimana kau tergila-gila padanya. Dan tak seperti kau tak pernah menyetubuhinya disini sebelumya."


Mataku tersentak olehnya, apa-apaan?


Dia menatapku dan mulutnya terbuka, "Sial kau tak melakukannya bukan?! Kieran! Aku tak pernah tahu kau jadi sangat mesum! seks kantor?! Lihat dirimu! Aku mendapatkan jackpot! Oh ya Tuhan aku harus ke Vegas malam ini, ini hari keberuntunganku!"


Aku menggumamkan pelan beberapa makian dan ingin agar Scott benar-benar diam dan pergi ke Vegas. Keparat ini punya terlalu banyak waktu di tangannya.


"Bagaimana kau melakukannya? Bukankah Lucy selalu di meja kerjanya? Jangan bilang padaku, kau melakukannya selama jam kerja?! Kieran! Dia 63 tahun! Kau akan memberinya serangan jantung jika kau melakukan kebejatan di kantormu seperti itu! Aku tak tahu bagaimana kedap suara ruanganmu tapi aku cukup yakin Lucy dapat mendengar putri lewat dinding."


Aku mengangkat alis, "Ada apa denganmu dan memanggil Alina seorang putri?"


"Dalam pikiranku dia adalah seorang putri. Berita online menobatkannya sebagai salah satu wanita lajang tercantik. Ditambah dia seorang pewaris multi-miliarder dan ayahnya seorang pria terkenal. Pastinya kaya karena kemampuan. bukan keturunan."


"Apa kau perlu menggali semua tentangnya?"


"Kau menyuruhku. Aku hanya mengikuti perintah."


"Bisakah kau mencari hal lain untuk dilakukan? Selain membuat hidupku seperti neraka dan menggangguku?"


Dia menepuk punggungku, "Terimakasih kembali."


Aku bisa mendengar keributan di luar kantorku dan menengok ke pintu.


Scott dan aku mengangkat senjata kami ketika pintuku terbuka dengan kasar.


Lucy memegangi Richard yang terluka dan berdarah, matanya terbelalak ketakutan.


Scott segera menghampiri dan menolong memegangi pria tua itu, "Apa yang terjadi?"


Darahku mendingin, "Siapa yang mereka inginkan?"


Dia menelan ludah, "Nona Simmons, mereka menginginkannya."


***


-Alina-


Mungkin hal yang baik aku memutuskan menggunakan pakaian hitam hari ini, jadi darah apapun yang menodai pakaianku tak akan terlihat.


Tapi di sisi lain, itu ide yang buruk menggunakan gaun. Jadi lebih mudah untuk Connor dan anak buahnya memperkosaku jika mereka memutuskannya.


Dan dinginnya ruangan langsung menjalar ke kakiku, membuat lututku gemetar.


Connor sialan, tentu saja dia tak akan menyalakan penghangat di ruang bawah tanah yang menyedihkan ini. Aku hanya berharap bisa mati kedinginan sebelum dia menyentuhku.


Suara gesekan logam berderit di seluruh ruangan dan aku akan menutup telingaku jika aku tidak dirantai pada kursi di tengah-tengah ruang dingin.


Deritan itu berhenti dan aku melihat bahwa itu adalah suara pintu yang terbuka. Sesosok orang berjalan mendekatiku dan ketika dia dekat, aku berpaling.


"Hai sayang, maaf aku harus meninggalkanmu disini. Aku ingin membuatmu tinggal di salah satu ruangan yang lebih nyaman tapi bos kami bersikeras menempatkanmu disini," Connor terkekeh, salah satu anak buahnya berdiri dibelakangnya.


Dia tak terlihat sedikit pun menyesal tapi aku benar-benar tak ingin melakukan apapun.


Sekali Wilson sadar aku menghilang, tim SWAT akan bersama dengannya dalam waktu singkat.


Dia menarik kursi dan duduk di depanku, baru saat itu aku sadar bahwa aku melihat bagaimana hancurnya dia. Wajahnya memar parah dengan beberapa luka pada pipi dan bibirnya, bekas ungu jelek menodai kulit lehernya dan apapun yang terekspos dari lengannya entah itu perban atau bengkak.


"Apa yang terjadi padamu?"


Dia mendengus dan meniup kepulan asap dari rokoknya ke wajahku, "Kau bertanya padaku? orang-orang suruhan kekasihmu menghajarku sampai seperti ini."


"Aku menatapnya, "Apa yang kau katakan?"


"Malam itu Alina, setelah aku menarik pistol itu kearahmu di kolam renang. **** sialan menghajarku dan membuangku di jalan seperti anjing."


Bagaimana aku harus bereaksi terhadap ini?


Apa aku harus senang karena dia mendapatkan apa yang pantas dia dapatkan? Atau apa aku harus marah karena Kieran membiarkan orang-orangnya menyakiti seseorang dengan sengaja?


"Tak ada yang ingin kau katakan?"Connor bertanya dan mengepulkan lebih banyak asap ke wajahku.


Aku terbatuk, "Jadi apa tujuanmu membawaku? Kau ingin semacam balas dendam?"


Dia tertawa dan berdiri dengan cepat, kursinya jatuh ke lantai dengan dentangan keras.


"Balas dendam? Kedengarannya benar, tapi aku ingin sesuatu yang lebih baik."

__ADS_1


"Sesuatu yang lebih baik dari balas dendam? Heh bahkan aku menginginkannya," aku bergurau.


Dia meraih daguku dan membuatku menatap wajahnya yang terluka parah. Dia meletakkan dahinya pada dahiku, bernapas dalam, "Aku jamin sayng, kau pastinya lebih baik daripada balas dendam."


Jantungku berdegup kencang, "Aku?"


Dia menyeringai dan mengangkangiku, tangannya mengacak-acak rambutku, "Menikahlah denganku dan aku akan membiarkan ksatria pergi."


Kemarahan segera menusuk nadiku, "Apa yang kau lakukan pada Kieran?"


Dia menyeringai, "Aku belum melakukan apapun padanya sayang, jangan khawatir. Selama kau mendengarkan permintaanku, Aku tak akan menyentuhnya. Aku janji."


Aku berusaha keras melawannya lepas dariku, " Kenapa aku harus menikahimu?"


Dia berdiri dan menggerakkan jarinya di pipiku, "Aku butuh uang sayang dan kelihatannya kau punya banyak."


"Bekerjalah untuk uangmu sendiri, aku tak harus membayar hutang-hutangmu."


Dia menyeringai gila, "Kau berhutang padaku Alina, dari awal aku mentolerir ayahmu yang mengganggu dan depresi bodohmu karena kematian ibumu untuk uand dan tubuhmu. Kau cukup bodoh mengira aku mencintaimu.


Aku hampir menikah denganmu sayang, suatu hari. Suatu hari! oh tapi tak apa-apa, jangan khawatir. Aku mendapatkan bantuan bos yang sangat cakap dan dia akan memastikan kita menikah."


"Baiklah ku kira kau bukan satu-satunya orang gila disini."


"Pikirkan tentang itu, itu adalah kemenangan untuk kita semu. Aku dapat memilikimu dan aku akan membiarkan bosku memiliki bank sebagai pembayaran hutang-hutangku. itu rencana yang sangat mudah."


"Kau lupa fakta bahwa aku tak akan pernah menikahimu."


"Itu dengan sukarela. Tapi kau lihat, aku sepertinya sudah menemukan kelemahanmu."


Jantungku terhenti, "Kau tak mungkin."


"Maksudmu ksatria? Dialah yang membuat kita putus dan menghancurkan rencanaku dari awal. Kau akan menikahiku, berikan bosku perusahaanmu dan ksatria akan patah hati. Bagaimana menurutmu?"


Aku benar-benar tertawa, menyesal karena mencintai Connor sepenuh hatiku. Betapa bodohnya aku mengira bahwa Connor benar-benar baik sekali waktu itu? Dia benar-benar seorang ****. +


"Jika ini tentang kau yang cemburu karena Kieran dan aku, maka aku bisa meyakinkanmu aku bahkan tak tahu kita sedang apa saat itu."


" Berhenti berpura-pura bodoh sayang, seluruh dunia dapat melihat bagaimana cara kalian saling memandang saat kalian bersama. Itu menjijikkan, aku tak pernah melihatmu memandangku seperti itu sebelumnya."


"Apa kau mencium bau itu? Bau seseorang yang cemburu."


Waktu yang salah untuk membuat lelucon. Dia menampar wajahku dan kepalaku tersentak ke samping karena tenaganya.


Aku mengerang, sakit yang berdenyut-denyut perlahan menjadi mati rasa.


Connor mondar-mandir di sekitarku, bergumam tak jelas, "Sialan kau memunculkan hal-hal yang lebih buruk padaku aku bersumpah."


Aku duduk sedikit lebih tegak, "Jangan khawatir tentang itu, energi itu semuanya milikmu."


Mata yang menyeramkan menatapku dan dia datang kembali padaku, meraih segenggam rambutku di tangannya, "Diamlah sayang, aku kehilangan kesabaranku karenamu."


Pintu logam berderit terbuka lagi dan seorang pria yang tampak lebih tua masuk dengan tongkatnya, sekelompok pria berada di belakngnya


"Connor, itu bukan cara memperlakukan wanita, apalagi yang akan menjadi calon istrimu," nada menyeramkan pria tua itu terdengar di seluruh ruangan.


Lampu-lampu di ruang bawah tanah menyala dan aku akhirnya dapat melihat semuanya. Lantai dan dinding semen yang kotor, lampu pijar yang menggantung di langit-langit dan pria tua dengan mata tajam menusuknya.


Anehnya mereka akrab.


Connor melepaskan pegangannya padaku dan menyingkir, membiarkan pria tua itu datang mendekat. Untuk seseorang seusianya, kau masih dapat melihat ototnya yang kencang dan rambut keabuannya yang sebenarnya melengkapi paras gelapnya.


"Apakah ini wanita itu?" Dia bertanya dan Connor mengangguk.


Si pria tua berlutut untuk menatap mataku, "Kau sudah tumbuh besar Alina. Tapi sebenarnya ada apa denganmu sehingga membuat putraku ingin menghajar tangan kananku?"


Kegelapan berputar pada bola matanya, itu menakutkan.


"Aku tak tahu apa yang kau katakan."


"Kau benar, dia keras kepala."


Segera aku merasa Connor mencengkeram leherku dan menekan udara keluar dariku. Aku sesak nafas dan melenguh, merasa wajahku membiru.


Saat pengelihatanku berkunang-kunang, dia melepaskan leherku dan mendorongku ke belakang. Seluruh kursiku terjatuh dan kepalaku menghantam lantai dengan keras. Aku langsung merasa pusing.


Pengelihatanku buram dan aku menggelengkan kepalaku mencoba untuk fokus.


Connor menarik kursiku dan mendudukkanku. aku mengerjap, pikiranku linglung.


Si pria tua mulai bicara lagi tapi aku tak dapat mencerna kata-katanya. Aku merasakan permukaan pisau yang dingin ditekan ke leherku.


Saat itu aku menyadari dia mempunyai pisau pada ujung tongkatnya. Beberapa peralatan mata-mata ada disini.


Suara peluru ditembakkan dan pintu logam terbuka membuatnya menusukkan pisau lebih dalam ke dagingku.


Aku mendengar senjata yang siap menembak dan suara bariton penyusup terdengar di ruangan, "Goresan lain padanya dan aku akan meledakkan kepalamu."


Jantungku berdegup kencang, Kieran disini.


Mata gelapnya menusuk mataku, khawatir terpancar singkat pada wajahnya sebelum membeku seperti batu.


Marah, dia benar-benar sangat marah.


Connor mencabut pistolnya tapi Kieran lebih cepat. Dia menembak lengan Connor dan dia jatuh ke lantai kesakitan.


Pria tua itu tak sedikitpun terganggu dengan kegaduhan. Dia menarik kembali pisaunya dan memutar bagian atas tongkatnya, Menarik keluar pistol.


Dia menekan logam dingin ke kepalaku dan aku menelan ludah.


Dimana dia mendapatkan semua peralatan mata-mata ini?

__ADS_1


Aku menunggu Kieran melakukan sesuatu, apapun. Sebaliknya dia menatap pria tua itu dengan kebingungan dan akhirnya bergumam, "Ayah?"



__ADS_2