
- Scott -
Aku berlari menaiki tangga besi hitam memasuki hamparan benteng kaca yang sangat besar.
Tentu saja, bagaimana aku bisa lupa memeriksa hutan untuk lokasi pria ini?
Aku mendengar suara langkah kaki dibelakangku. Aku berbalik dan menembak seorang anggota geng.
Wilson menyusul dibelakangnya, melihat ke arahku dan tersenyum. "Tembakan bagus."
"Terimakasih," aku meniup laras pistolku dan dia terkekeh.
Dentuman keras dari dalam rumah membuat kami berdua berbalik dan berlari ke arahnya. Aku menghempaskan pintu lebar lebar, kedua mataku segera menemukan Ayah Knight. Aku mengangkat senjataku dan menembaknya.
Dia tergeletak dan darah membanjiri lantai yang sudah penuh oleh darah dari kakinya yang luka.
Knight terduduk di lantai, memeluk Putri dengan lembut namun erat.
Aku melihat cahaya kehidupan di matanya berpendar dan seluruh tubuhnya semakin melemah.
Tatapan Knight berkaca-kaca dan terlihat amat sangat menakutkan.
Seperti dia telah kehilangan segalanya.
Sesuatu yang tak bisa kumengerti.
Aku tak pernah percaya akan cinta. Pemikiran sederhana tentang itu saja terasa bodoh buatku. Tentu, aku bisa memberi tahu knight dan Putri memiliki sesuatu satu sama lain, tapi cinta?
Itu suatu pencapaian.
Sampai aku melihat laki laki berhati dingin dan keras kepala yang aku kenal mulai menangis.
Si berengsek itu mulai menangis.
Bagaimana aku harus menanggapinya?
Aku bersumpah serapah paling tidak satu menit sementara Wilson mengambil alih segalanya.
Suara Sirine polisi terdengar dan untuk pertama kalinya dalam hidupku yang rendah ini aku tidak melarikan diri.
Para petugas polisi mengamankan daerah sekitar dan mengangkut semua orang kecuali yang terluka.
Wilson menepuk pundakku saat kami dikawal menuju mobil polisi, kekhwatiran dan senyum yang dipaksakan di wajahnya, "Jangan khawatir, kita akan baik baik saja."
Aku melihat Knight melompat ke Ambulan bersama Putri di tandu, "Mungkin, aku pikir Knight tidak akan baik-baik saja untuk sementara ini."
***
- Kieran -
Aku menatap kedua tanganku.
Aku mengendalikan seluruh hidupku dengan tangan dingin dan ketenangan. Tapi sekarang aku kacau dan jika siapa saja memberiku senjata, aku pasti menembak diriku sendiri karena tanganku yang gemetaran.
Aku menyeka pipiku dengan punggung tanganku, rasa basah menempel di kulitku.
Apa ini?
Terdengar langkah kaki dan aku mendongak melihat Lucy, Wilson dan Scoot masuk.
Aku menyuruh Lucy menebus mereka, karena aku tak bisa melakukannya saat ini.
Aku bahkan tidak yakin kalau Alina akan baik baik saja.
"Dia masih belum keluar?" Tanya Wilson.
Aku meremas rambutku yang berantakan, "Belum."
Ruangan dihinggapi kesunyian sementara kami menunggu.
Hati dan pikiranku berdenyut tersiksa.
Aku memiliki segalanya, kecuali wanita yang benar-benar Kucintai.
Lucy menyodorkan aspirinku, aku menelannya dengan cepat. Berharap aku bisa berpikir jernih.
"Ayahmu sedang dirawat karena luka tembaknya. Dokter mengatakan kalau dia akan baik baik saja, tapi polisi akan membawanya ke pengadilan untuk diadili." Lucy memberitahuku.
Aku mengusap wajahku."Dia membunuh ibuku dan ibu Alina. Dia juga hampir membunuh Alina. Apa yang harus kulakukan padanya?"
"Kau tidak perlu ikut campur jika kau tidak mau. Dia harus membayar perbuatannya atau dia akan melakukannya lagi."
"Aku tidak tau apakah aku bisa memaafkannya."
"Kau tidak harus."
"Dia ayahku Lucy."
"Terkadang kalau kau menginginkan yang terbaik untuk orang yang kau cintai, kau harus membiarkan mereka menerima apa yang datang kepada mereka."
"Aku tak bilang aku peduli padanya."
"Aku tidak bilang kau peduli."
"Dia seorang iblis, Seorang yang menakutkan."
"Dan kau samasekali tidak menjadi seperti dia, itu mengapa kau merasa sangat buruk. Biasanya orang baik merasa buruk dan orang jahat merasa mereka tidak melakukan kesalahan apapun."
"Aku tidak akan mencampuri hukumannya, tapi aku ingin setidaknya berbicara dengannya."
Dia menepuk punggungku, "Kau orang yang baik."
"Aku hampir menembakmu beberapa kali karena memasuki kantorku tanpa pemberitahuan, apa aku masih orang yang baik?"
"Kamu adalah orang baik yang kuat, akan selalu begitu. Lagipula, kau tidak akan menembakku."
"Tidak dengan sengaja"
Dia memegang tanganku yang gemetar dan menepuk nepuknya, "Dia akan baik baik saja, dia wanita yang kuat."
Gemetar di tanganku terlihat sedikit berkurang tapi kelihatannya tidak berhenti. Sarafku terbakar, aku harus tenang.
__ADS_1
Scoot menepuk punggungku, "Ambil ini, kau terlihat lebih buruk dari mobil rongsokan."
Aku meringis, luka tembak di bahuku masih sakit dan Lucy memelototinya," Mereka baru saja menjahitnya, pelan-pelan dengannya."
Dia memutar bola matanya dan menyerahkan segelas kopi panas padaku. Aku meraihnya, mencoba untuk menstabilkan tangan tanganku dan mengacuhkan rasa sakit di bahuku.
"Terimakasih."
Beberapa menit berlalu, Wilson terlihat akan pingsan karena khawatir.
Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padanya, dia hampir seperti ayah untuk Alina. Aku tidak yakin jika yang kuucapkan bisa membantunya, tanganku pun masih bergetar.
Pintu ke ruang operasi akhirnya terbuka dan kami bangkit menghampiri dokter, kecemasan dan kekhawatiran muncul di perutku.
Wilson berbicara sebelum kami semuanya, "Dokter Mike, bagaimana keadaannya?"
Dia mengenal dokter ini?
Sang dokter melepas masker operasinya dan aku ingat, dokter ini yang menangani Alexander, ayah Alina. "Ini operasi yang sulit. Pelurunya berada di posisi yang sulit tapi dia akan baik baik saja. Kami berhasil mengeluarkan peluru dan menghentikan perdarahannya. Kami akan membawanya ke ruang icu untuk memantau keadaannya sebelum di pindahkan ke kamar biasa."
Kelegaan menerpaku dan aku bernafas lega," Boleh kami menemuinya?"
Dia mengangguk, "Satu-satu, kita tidak mau membuatnya stres. Dia akan merasa sedikit pusing ketika dia terbangun dari obat bius."
Kami berterima kasih kepada dokter sebelum perawat keluar dan membawa kami ke ruang ICU.
Aku menarik napas dalam saat kami mendekati kamarnya, tak tau bagaimana harus bersikap saat melihatnya.
Lalu Scott maju ke depan ."Tuan Putri!"
"Ya Tuhan" Wilson bergumam saat kami berhenti di luar ruangannya dan melihat ke dalam dari kaca jendela.
Aku terdiam, mataku mengembara dari seprei tempat tidur hingga ke wajahnya.
Hatiku menjadi hangat sebelum rasa sakit mengambil alih, "Alina."
***
- Alina -
"Nona Simmons? Apa kau bisa mendengarku?" Samar samar terdengar suara yang kukenali.
Aku mengerang, tubuhku terbangun perlahan dan rasa sakit mencabik seluruh tubuhku.
"Jangan terlalu banyak bergerak, kami akan meresepkan beberapa obat untuk mengatasi rasa nyerinya."
Kelopak mataku akhirnya memutuskan untuk menurutiku dan membuka untuk melihat dokter dan perawat berdiri di dekatku di ruangan berwarna putih.
"Rumah sakit?" gumamku, mulutku sekering kertas pasir.
"Mengenali sekitar," perawat mengawasi.
"Apa anda tahu siapa saya Nona Simmons?" tanya dokter.
Aku menatapnya untuk sesaat lalu tersenyum, mengingatnya sebagai dokter yang merawat ayahku, "Dokter Mike."
Apa?
Dia melakukan rutinitasnya, tindakan pasca operasi dan setelah dia selesai, dia meninggalkan ruangan bersama perawat.
Aku bisa mendengarnya berbicara dengan seseorang di sisi koridor, bayangan di kaca samar samar dan aku tak bisa menebak siapa di luar.
Lalu pintu terbuka perlahan dan wajah lelah Kieran terlihat memasuki ruangan.
Aku merasa hatiku hancur.
Bahunya terbungkus perban dan ekspresi kesakitan di wajahnya dapat menghancurkan hati para malaikat.
Dia mendesah dan langsung mendekatiku."Ya ampun sayang, jangan menangis." Dia memegang wajahku dan menghapus air mata dari pipiku.
Dia membungkuk dan mendaratkan ciuman manis di keningku sebelum duduk di tempat tidurku, di sampingku.
Dia menggenggam tanganku menciumi setiap jarinya sebelum menatapku seakan akan aku satu satunya hal yang dia pedulikan di dunia ini.
"Jika kau terus menangis, aku akan memanggil Scoot supaya dia bisa membuatmu tertawa." Dia memarahiku dengan sayang dan aku tersenyum karenanya.
"Kau terluka." Aku menyapukan ujung jariku di perbannya dengan perlahan.
Dia tidak terlihat terganggu, "Tidak apa. Semua baik-baik saja selama kau juga."
"Apa yang terjadi pada...."
"Shh.... Wilson akan memberitahumu nanti saat dia datang. Sekarang biarkan aku mencintaimu."
Hatiku hancur dan meleleh mendengar perkataannya.
Dia menunduk dan mencium bibirku, ciumannya ringan dan aku terpesona karena kelembutannya.
Aku meraih kepalanya untuk memperdalam ciumannya, tapi rasa sakit menyerang perutku.
"Ah sialan"
Kieran segera menarik kepalanya, "Ya Tuhan aku bahkan tak bisa menciummu."
Aku terkikik, dan rasa sakit menyerang. "Siapa bilang tidak bisa? Kudengar kau adalah tunanganku, jadi kau berhak menciumku."
Alisnya berkerut, "Tunangan?"
"Dokter Mike mengatakan, dia akan membiarkan tunanganku masuk setelah dia selesai memeriksaku, kemudian kau muncul. Siapa lagi yang bisa jadi tunanganku? Wilson?"
Dia tertawa pelan. "Apa yang Wilson dan Scoot katakan pada dokter itu?"
Aku meraihnya perlahan dan membuatnya duduk disebelahku, "Aku mencintaimu Kieran."
Dia tersenyum sangat manis,"Aku mencintaimu juga Alina."
***
- Kieran -
"Kau bisa menemuinya sekarang."
__ADS_1
Aku melihat ke arah petugas dan berdiri, mengikutinya ke ruang sel tahanan.
Sudah dua minggu berlalu sejak kejadian itu. Alina sudah pulang dari rumah sakit tadi pagi dan membujukku kesini. Bahkan Scoot harus mengantarku setelah aku terus menunda-nunda.
Menurut Scoot, ayahku sudah keluar dari rumah sakit kemarin dan langsung dibawa kesini untuk melanjutkan penyelidikannya.
Sepertinya jelas, keberuntungan tidak berpihak padanya.
Dia mungkin mendapatkan hukuman seumur hidup.
Petugas berhenti di depan sebuah sel dan mengetuk keras."Carlos, ada pengunjung untukmu. Waktumu sepuluh menit."
Aku melangkah maju dan petugas itu menyentuh ujung topinya padaku sebelum kembali ke posnya.
Itu dia. Ayahku sedang duduk di lantai dan tanpa ekspresi diwajahnya.
Aku menghabiskan hampir semua waktuku di sekolah, menghindari masalah antara dia dan ibuku. Aku ingat sikapnya yang keras dan galak, harus menjadi orang terakhir yang mengeluarkan kata.
Walau sekarang, dia hanya terlihat seperti lelaki tua yang lelah dan terpukul.
Aku duduk di lantai berdebu dan memandangnya.
Butuh waktu semenit baginya sebelum akhirnya dia melihat ke arahku, "Oh, kau disini."
Aku mendengus.
"Bagaimana Alina?" dia bertanya.
Aku menyadari tanganku terkepal kencang. Aku merilekskan jariku, "Dia baik-baik saja, dia keluar dari rumah sakit hari ini."
Dia mengangguk kemudian menjadi diam untuk beberapa saat sebelum bertanya, "Bagaimana rasanya?"
"Bagaimana rasanya apa?"
Dia menunjuk jari manisnya dan aku melihat ke tanganku, "Untuk mencintai seseorang.'
Mataku kembali menatapnya dengan bingun, "Kau bertanya padaku bagaimana rasanya cinta?"
Dia tidak menjawab, hanya meluruskan kakinya dan menunggu.
Aku memutar-mutar cincin di jariku dan merangkai kata sebelum menjawabnya."Rasanya seperti sesuatu dalam diriku menjadi lengkap saat melihatnya."
Alisnya berkerut, menginginkanku untuk menjelaskan.
Ironis bagaimana akulah yang memberitahunya seperti apa rasa cinta itu.
"Hatimu yang mati sebenarnya mulai berdetak kencang untuknya, kadang kala akan sulit untuk berfikir dan bernafas tapi kau merasa senang, puas. Seperti obat, seperti alkohol.
Dia seperti mabuk, yang membuat kita kecanduan."
Aku berhenti, dia menunggu.
"Itu adalah saat saat yang dihabiskan bersama sama, ingin supaya dia- Tidak, butuh dia merasa aman. Kebutuhan untuk memastikan bahwa dia bahagia dan rela melakukan apa saja agar dia tetap bahagia. Menginginkan hanya yang terbaik untuknya."
"Lalu kenapa kau meninggalkannya?"
Aku menggeser posisiku di atas lantai yang kotor, tidak merasa nyaman dengan tempat ini, dengan bercerita tentang Alina, dengan ayahku pada umumnya.
"Kadang jalan terbaik untuk mencintai seseorang adalah untuk meninggalkannya. Bukan cara terbaik untuk Alina juga, dia tidak akan mengalaminya."
"Mengapa?"
"Dia adalah tipe orang yang mencintai sangat dalam. Dia menginginkan semuanya atau tidak sama sekali."
"Dia terdengar lebih kuat darimu."
"Dalam banyak hal, iya."
"Bagaimana kau mengatasinya?"
"Mengatasi apa?"
"Bahwa kau tahu kau mencintainya dan dia mencintaimu."
Aku mendesah dan melihat ke ayahku, "Begini-"
"Bagaimana kau tahu?" Dia memaksa, ada kebutuhan yang hampir putus asa di matanya. Itu cukup mengerikan.
"Ketika keselamatan dan kebahagiaannya lebih penting dari pada milikku."
"Apa?"
"Saat semua keputusan yang kubuat, semua hal yang kulakukan, semua yang kupikirkan hanya untuk membuatnya tersenyum bahagia. Jika dia bahagia bersama laki-laki lain, aku akan membiarkan dia pergi.
Aku hanya cukup beruntung bahwa dia mencintaiku sebanyak aku mencintainya."
Sepertinya dia mendapat pencerahan sembari bersandar di dinding dan menatap kosong."Kau akan membiarkan dia pergi jika kau tak bisa mendapatkannya?"
Aku mengangguk, "Aku akan melakukan apapun untuk melihat senyum diwajahnya."
Pintu terbuka lagi dan petugas berdeham, "Waktunya habis."
Aku tidak bergerak, tidak juga ayahku. Dia sepertinya sedang berpikir dalam dunianya sendiri.
Aku mendengus dan berdiri untuk pergi.
"Kau tidak pernah ingin memilikinya? Memilikinya hanya untuk dirimu sendiri?"
Aku mendongak ke arah plafon dan memikirkan hal itu.
Hari apakah hari ini?
Benar, Jumat. Hari baik lainnya untuk liburan.
Aku berbalik secara singkat ke ayahku, "Aku tidak akan memetik bunga yang cantik hanya untuk kusimpan selamanya dan melihatnya layu."
Dia menatap keras padaku kemudian berguman kata yang tidak pernah terpikirkan olehku akan pernah dikatakannya, "Maafkan aku nak."
--------------------------‐--------------
Hanya dua episode lagi termasuk epilog. Jangan lupa untuk Suka, Bagikan dan komenta dan Tip. Ikuti aku juga di instagram @lipsanalininaik.
__ADS_1