
- Alina -
Kieran berdiri di balkon luar pintu kaca, memandangi bulan.
Sebuah foto yang setiap majalah di kota akan memperebutkannya dan meletakkan nya di sampul.
Dia seorang yang tampan tetapi hatinya penuh dengan luka.
Dari yang kulihat, sepertinya dia selalu seorang diri menghadapi dunia. Seorang anak yang terlahir di lingkungan yang kurang baik, semuanya yang harus dia tanggung di pundaknya.
Dia lebih kuat dari yang kukira, ayahku mungkin melihat itu.
Tandai itu.
Dia tahu. Ayahku tahu.
Tahu bahwa Kieran adalah seorang yang jahat namun teman baik anaknya selepas dari apa yang pernah dia lakukan, dia melihat suatu kebaikan dari Kieran.
Aku berjalan mendekat, hawa dingin malam menggigit kulitku. Aku melingkarkan tangan di pinggangnya dan merasakan tangannya yang hangat menutupi tanganku.
"Sangat cantik diluar sini, " aku bergumam, pipiku menekan hamparan punggungnya
"Benarkah? Arsitekku mendesain sesuai dengan apa yang aku inginkan. Ini adalah tempat pelarianku. Dan sekarang, menjadi lebih baik lagi karena kamu berada disini bersamaku"
Aku tersenyum, Ini mungkin yang diinginkan ayahku untukku. Untuk selalu tersenyum dan bahagia dengan seorang lelaki seperti Kieran.
Dia menjauhkan tanganku dan berbalik untuk menemui tatapanku, "Apakah kamu berbicara dengan Wilson?"
"Sudah. Beberapa orang suruhan ayah mu berada di depan pagar ku lagi hari ini. Polisi menangkap mereka"
Aku menunggu ekspresinya untuk berubah marah, tapi itu tidak muncul. Dia membelai rambut di belakang telingaku dan mendaratkan ciuman di keningku, "Kau sangat berani untuk melawan Geng seperti itu. Kau takkan pernah tahu apa yang akan mereka lakukan."
"Aku juga tidak pernah tahu apa yang akan kamu lakukan, tapi aku menikmati semua momen dengan berada disisimu"
Dia terkekeh dan menarikku ke pelukannya. "Aku ingin kamu berjanji sesuatu padaku Alina"
"Apa itu?"
"Jika terjadi sesuatu, jika ayahku melakukan hal bodoh, biarkan polisi menangkapnya. Dia membutuhkan bantuan dan aku tidak berpikir aku bisa memiliki kemampuan untuk melakukannya"
Aku menarik diri dan menatap matanya yang gelap, melihat sedikit kelemahan di dalamnya. Dia mungkin tidak pernah mengakuinya, tetapi entah bagaimana di dalam hatinya, dia mencintai ayahnya.
Betapapun mengerikannya dia, bahkan sampai sejauh membunuh ibu kita, Kieran masih peduli padanya.
Aku mengangguk, "Aku janji."
Dia tersenyum dan membungkuk untuk ciuman yang lama, "Terima kasih."
***
- Kieran -
Aku tersenyum seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta. Melihat Alina begitu nyaman di dapur sedang membuat sarapan.
Tak pernah kubayangkan dihidupku melihat seorang wanita disini, di wilayah pribadiku. Apalagi wanita yang kucintai dalam hidupku berada disini.
Dia cantik dalam segala hal. Sikap riangnya saat dia ada di sekitarku, kepercayaan dan keamanan yang baru ditemukan dalam dirinya membuatku mencintainya lebih daripada yang kupikir akan pernah kulakukan pada manusia lain.
Dia mengenakan salah satu kemeja biru tua gelapku yang menutupi pantatnya. Rambutnya mengalir dalam gelombang alami di punggungnya. Tuhan dia cantik..
"Menyukai apa yang kau lihat tuan Knight?"
Aku menyeringai, "Oh kau tak tahu."
"Kieran-"
"Wilson akan segera datang untuk menjemputmu. Aku mengusulkan satu ciuman daripada ronde bercinta lagi. Apa kau setuju dengan ini?"
Dia memiringkan kepalanya ke posisi yang lucu dengan cara yang sensual, mencoba memutuskan jika itu adalah usul yang bagus untuk menciumku.
Setelah beberapa detik berunding, dia mematikan kompor, meletakkan pancake yang dimasak terakhir di atas piring, dan berjalan ke arahku.
Bahkan sebelum dia mengitari meja dapur, aku meletakkan tanganku di pinggangnya dan menariknya kepadaku. Teriak keterkejutannya dihentikan oleh bibirku dan seluruh tubuhnya luruh di tubuhku.
Tangannya menemukan jalan ke rambutku, lalu perlahan turun ke hem bajuku dan mulai menariknya.
Aku mengerang ketika tangannya menyentuh dadaku. Rasa panas membaraku dan dia mengerang di bibirku ketika aku meremas pantatnya dengan tanganku.
"Kieran-"
Lidahku menelusuri lehernya dan dia bergetar. Aku berbisik ke telinganya,"Kenapa sayang?"
Kakinya menyerah padanya dan aku terkekeh. Aku mengangkatnya ke dalam pelukanku, kakinya melilit pinggangku saat aku berjalan kembali ke kamar.
Dia melepaskan ciumannya sebentar, "Wilson akan datang sebentar lagi-"
"Aku yakin dia bisa menunggu."
"Sialan sayang-"
"Shh... "Aku mencium bibirnya yang manis dan berhasil membungkamnya. Namaku dan umpatannya yang seksi adalah satu-satunya hal yang terselip dibibirnya sejak saat itu.
***
- Alina -
Aku hanya tidak bisa dengan pria ini.
__ADS_1
Jika aku adalah tentara bersenjata lengkap dan Kieran berlari ke arahku, dengan pedang atau senjata di tangan, itu tidak masalah.
Perlengkapan perangku akan berantakan dan aku tidak akan bisa berbuat apa-apa.
Keduanya menakutkan namun menggembirakan, jatuh cinta pada seseorang yang begitu dalam.
Aku belum pernah merasakan ini untuk pacar-pacarku sebelumnya, termasuk Connor.
"Pancakemu akan sedingin es jika kamu tidak mulai makan sayang," Kieran menyeringai saat dia membelah mulut setelah mulut dari pancake masuk ke dalam mulutnya.
Aku menjilat bibirku, dia tampak lebih enak daripada makanan pada saat ini.
Setelah 2 ronde bercinta tadi malam dan ditambah satu lagi yang baru kami lakukan, aku terkejut aku masih bisa merasakan kedua kakiku.
Aku melapisi sirup maple pada pancakeku dan melirik ponselku, "Wilson perlu waktu untuk sampai ke sini."
Kieran meminum kopi hitamnya, "Kenapa kamu tidak menelponnya?"
Seolah karena suatu kebetulan, teleponku berdering dan aku mengambilnya, melihat nama Wilson berkedip di layarku, "Hei."
"Nona Simmons, saya akan sedikit terlambat. Ada pohon tumbang di jalan menuju rumah. Mobil tidak bisa lewat. Mungkin perlu beberapa jam bagi otoritas untuk memindahkannya. Saya akan membiarkan Louis jadwalkan kembali rapat anda untuk hari ini, saya rasa anda juga tidak bisa keluar."
Aku mendengar suara putaran mesin dan cabang cabang pohon yang patah di bawah roda.
Bukankah Wilson baru mengatakan kalau dia terperangkap di jalan menuju kemari?
Kieran berdiri dan dan mencari suara mobil, berpikir bahwa itu adalah Wilson
Aku mengangkat tangan dan menggelengkan kepalaku, "Wilson, kamu tidak ada di dekat rumah, kan?"
"Masih jauh, apa ada yang salah?"
Aku menatap Kieran, dan Dia segera mengeluarkan handphone nya dan menekan nomor Scott. +
Dia menunjuk ke kamar tidur dan aku mengangguk, menyelinap diam-diam ke kamar.
Kieran berbicara dengan cepat di telepon memberikan instruksi yang jelas dan ringkas pada Scott sementara aku menjelaskan pada Wilson apa yang terjadi.
Setelah menutup telepon, aku berbalik sebentar, melihat Kieran menarik salah satu laci di dapur, mengeluarkan pistol.
Dia menatapku, menangkap tatapanku. Ketakutan dari kematian ibuku tidak muncul dalam diriku.
Aku tetap tenang dan sebagai gantinya teringat cinta ibuku untukku dan ayahku.
Aku sudah sejauh ini dalam mengatasi kecurigaan di dinding hatiku, mengejar pria yang kucintai dengan segenap ragaku.
Aku tak akan mengijinkan diriku untuk terpenjara kembali.
Aku memberikan anggukan penuh percara diri kepada Kieran dan posisinya berdiri beralih.
Untuk melindungi kami dan masa depan yang belum kami jelajahi.
Dia bergerak cepat setelah itu, yakin dan penuh perhitungan. Dia berjalan mengikutiku ke kamar dan mengunci pintu di belakangnya.
Dia menekan tombol di samping tempat tidurnya dan aku melihat dinding kaca berwarna menutupi pertahanan kami yang menggelap.
Kieran menanggalkan kaus katunnya dan celana jogger nya, mengeluarkan kemeja panjang dan celana panjang yang biasa aku lihat dia kenakan.
Dia melemparkan Celana panjang bergarisku dan rompi anti peluru padaku, "Pakai ini, masukkan bajumu. Kau perlu bergerak cepat."
Aku menurut dan berpakaian, melihatnya memasang rompinya di atas dadanya yang lebar.
Dia meraih ke belakang lemari dan mengeluarkan beberapa senjata lainnya, sangat singkat aku melihat belati, granat dan senjata lainnya.
Dia memasukkan semuanya ke sarung senjata dicelananya dan bahkan di sepatu bot tentara yang baru dia pakai.
Jika kami tidak dalam keadaan berbahaya, aku akan menyukai penampilannya yang panas saat ini.
Sebuah tembakan terdengar beberapa saat sebelum aku mendengar suara peluru menghantal dinding kaca dan jantungku melompat dari dadaku.
Kieran sepertinya menyadari ada gerakan, memberi kode ke kamar mandi,"Masuk, sekarang!"
Aku berlari masuk, sekarang mendengarkan suara tembakan bertubi tubi di sekitar rumah. Dia masuk ke tempatku berada, memberikan satu pistol padaku,"Kau tak harus menggunakannya, hanya untuk berjaga jaga-"
"Tidak mungkin, aku tidak bisa-"
"Alina, ini untuk keselamatanmu. Aku tidak bisa membiarkan siapa pun menyakitimu."
"Aku tidak mau menembak siapa pun Kieran."
"Jika kamu tidak menembak mereka, mereka akan menembakmu. Dan aku tidak mau mengalami itu, kamu mendengarku?"
Matanya menatap mataku, memohon padaku.
Aku mengambil pistol dengan kedua tangan bergetar dan mengangguk sebelum dia berbalik pergi, aku memegang lengannya, berjinjit dan menciumnya lembut.
Dia menghela nafas dan meraih tanganku ke bibirnya, mencium cincin yang ada di jariku. "Aku mencintaimu Alina"
Jantungku berdegup kencang hampir menenggelamkan tembakan, "Aku juga mencintaimu Kieran."
***
- Kieran -
Aku akan menyimpan kata katanya dan tak akan melupakannya.
aku mencium dahinya dan memutuskan nasibku
__ADS_1
Aku akan melindunginya dengan hidupku.
Dia meremas tanganku dan mengangguk padanya, mendengar suara tembakan berhenti.
Aku meninggalkan kamar mandi dengan cepat, telingaku mendengar suara kaki menginjak tangga di pintu depan.
Aku bersembunyi di balik dinding dekat pintu dan mendengar pintuku ditembak jatuh. Aku menyelinap mengintip, melihat logam pintu bengkok.
Sialan
Pria pertama masuk dan aku mengarahkan tinjuku ke wajahnya sebelum menendang perutnya dengan lutut. Dia menjatuhkan senapannya dan aku mendorongnya kembali ke group orang orang yang terpana di belakangnya.
Mereka jatuh kembali dan aku mengambil senapan mesin otomatis dari lantai dan membanting logam keras pada orang kedua yang berani masuk.
Aku merunduk dan menyelinap ke balik dinding setelah mendengar suara tembakan, aku menyiapkan senapan mesin dan mengambil napas dalam-dalam.
Aku tidak pernah menyukai pemikiran untuk membunuh seseorang.
Kaki, bidik kaki bodoh mereka.
Seorang lelaki berputar ke pojok dan aku melemparkan pisau belatiku ke pahanya. Dia berteriak dan mengarahkan senjatanya padaku saat aku menendangnya di kemaluan, terdengar peluru melewati telingaku.
Dia terjatuh ke dapurku dan lebih banyak orang masuk, senapan mesin itu berguna. Aku berjongkok di belakang furnitur dan menembak kaki mereka, mendengar mereka berteriak dan jatuh ke tanah dengan bunyi yang keras.
Aku mendengar suara putaran baling baling helikopter dan menghembuskan nafas lega.
Terima kasih Tuhan, Scott memiliki banyak waktu luang.
Sebuah tumbukan menghantamku dan nafas sakit keluar dariku.
Aku merasakan sakit sebelum aku sempat mendengarnya, panas menyengat peluru menyebar dari pundak kiri ke seluruh tubuhku. Aku merunduk, berguling dan mekanisme pertahanan tepat sasaranku menembakkan peluru ke arah penembakku.
Connor
Aku menembak lengannya lalu ke kakinya dan menyaksikan dia melewatkan setiap tembakan lainnya setelah itu sebelum jatuh ke tanah karena kesakitan.
Aku meringis dan memanjat di belakang lemari. Lebih banyak tembakan dilepaskan dan aku mendengus, mendengar Scott melucuti orang-orang di bawah.
Sebuah teriakan yang menakutkan melenyapkan rasa sakit di bahuku dan aku berlari marah ke kamarku.
Tepat saat aku mendekati, pintunya terbuka. Aku mengangkat senjataku, tatapan mengigau ayahku berkedip-kedip padaku ketika dia menekankan pistol itu lebih keras ke leher Alina.
Darah menetes di tanah, menggumpal di kaki mereka. Dadaku menegang.
Sial sial sial.
Aku membuka pengaman pistolku, "Lukai dia dan aku akan membuat hidupmu bagai di neraka."
Dia tertawa gila, lalu perlahan-lahan menyeret pistol ke sisi Alina dan mendorongnya ke perutnya, "Jangan menantangku, Nak. Aku punya kebiasaan membunuh orang yang dicintai. Termasuk kamu."
"Apa maumu?!"
"Aku mau Bank nya! Itu hal terakhir yang kumiliki tentang Linda."
"Ibu Alina telah tiada, lupakan saja!"
"Linda tidak mati! Dia disini bersamaku. Kamu adalah bagiannya, bukankah begitu Alina? Aku akan mendapatkanmu juga! Aku akan memilikimu dan bank sialan yang ayahmu curi dariku! Dia mencuri segala sesuatu yang ku cintai"
Alina menelan ludah dan berbicara lantang,"Kau tak mencintai siapapun. Berhenti membohongi dirimu sendiri. Kau hanya mempedulikan dirimu dan dirimu saja. Kau tak pernah peduli pada ibuku, Kau tak pernah peduli pada istrimu, kau tidak pernah peduli dengan teman dan rekan bisnismu sendiri. Semuanya hanya tentang kamu.
Setiap hal, bahkan inipun untuk dirimu! Kau bajingan egois yang menjijikkan!"
Sebuah pistol ditembakkan, itu berdering di telingaku.
Seluruh dunia terhenti ketika pandangan Alina menemukan pandanganku.
Lututnya tertekuk dan dia mulai terjatuh.
Pembuluh darah di jantungku putus dan aku merasa jiwaku terjatuh bersamanya.
Tidak.
Tidak tidak tidak tidak.
Aku menjatuhkan segalanya dan bergegas maju, menangkapnya sebelum dia menyentuh lantai.
Dia menekan perutnya, Cairan merah gelap membanjiri jari jari dan bajunya.
Sangat menakutkan, rasa cahaya hangat yang dia nyalakan di hatiku perlahan lahan kembali ke kegelapan yang dingin.
"Alina."
"Ah-"
Aku mengeratkan pelukanku padanya "Tetaplah bersamaku, sayang "
Cahaya keperakan di bola matanya meredup dan matanya yang cantik perlahan lahan tertutup.
Hatiku terbakar dan gerbang disekelilingnya mulai menutup.
Dan tak akan pernah terbuka lagi.
------------------------------
Jangan lupa untuk Like, Share, Comment dan tip.
__ADS_1