
-Kieran-
"Apa yang salah denganmu?"
Aku menatap Scott, "Apa?"
"Kau tersenyum sendiri, terlihat menakutkan."
Aku mengejek, "Aku tidak tersenyum."
"Apa Tuan Putri setuju jadi pacarmu atau sesuatu yang lain?"
"Tuan Putri?"
"Maksudku, Alina, apakah dia setuju untuk bersamamu? Kalau tidak, aku tidak melihat alasan lain bagimu untuk tersenyum."
"Aku punya banyak alasan lain untuk tersenyum."
"Oh sebanyak itu? Katakanlah pada hakim."
Aku bersandar di kursi kulitku dan mengabaikan komentarnya, "Apa yang membuatmu menunjukkan batang hidungmu siang ini?"
Dia mendengus, "Terima kasih sudah bertanya. Setelah kau membawa Tuan Putri pulang, Connor mulai mengoceh sembarangan tentang sesuatu yang akan terjadi padamu. Katanya kau akan segera memanggil "ayah" atau semacam itu.
Aku bersumpah pria itu kelainan mental. Kami memukulinya sangat parah karena menyakiti kekasihmu..Terima kasih kembali. Kemudian kami melemparnya kembali ke jalanan dan membiarkan gengnya datang untuk menemukannya.
Dan kemudian Aku mendapatkan mimpi buruk, seekor beruang merobek tulang punggungku keluar dari badan. Aku bersumpah semua ini salahmu dan mendapatkan mimpi buruk mengerikan ini. Aku bisa menyusun mimpi-mimpiku dan membuatnya jadi sebuah video permainan-"
Ada suara ketukan pintu dan aku membiarkan Lucy masuk, dia tersenyum pada Scott dan meletakkan kopi untuk kami. Macchiato miliknya dan Americano milikku.
"Dan sebelum aku lupa Tuan Knight, anda ada rapat bersama 'Bank Internasional Sims' dalam 10 menit mengenai kebijakan baru. Tim PR sudah memberikan banyak usaha untuk presentasi ini, tolong puji mereka sesekali. Bahkan mereka layak mendapatkan kenaikan gaji." Lucy mengingatkanku dan sebelum pergi menyerahkan sebuah folder dengan materi presentasi padaku.
Lucy selalu memikirkan orang lain. Aku jarang sekali melakukan hal itu, hingga Alina datang.
"Kau melakukan hal itu lagi," Scott menyeringai dan meminum kopi susu miliknya
"Lakukan apa?"
"Tersenyum itu, kamu melakukannya lagi."
"Apa kau mau ku bentak?"
Dia menggelengkan kepalanya, "Tidak, terima kasih, aku sudah cukup dibentak hari ini. Tepat setelah beruang menarik tulang belakangku, aku memimpikan penyu menggigiti wajahku."
Aku mengangkat alis, "Dan kau bilang Connorlah yang gila?"
"Omong kosong."
Aku terkekeh dan menghabiskan kopi milikku sebelum mengambil mapku, "Baiklah, keluar dari sini. Aku masih punya rapat." +
"Maksudmu kau ada rapat dengan pacarmu dengan alasan pekerjaan. Betapa manisnya. Aku bisa memuntahkan pelangi saat ini."
"Mungkin kamu perlu menggali sedikit ke dalam hatimu dan menemukan cinta ya?"
Dia hampir menyemburkan kopinya ke seberang meja tapi berakhir menelannya, "Kau masih punya hati Kieran. Aku tidak, tinggalkan aku sendiri."
Aku mengangkat bahu dan dia pergi selagi bisa sebelum aku membalikkan kembali nasehatnya padanya.
Aku membalik-balikkan berkasku dan membaca dengan cepat peserta rapat. Aku tersenyum saat melihat namanya.
Sial, rahangku akan sakit jika tersenyum terus.
***
- Alina -
Hanya dengan berdiri di depan gedung miliknya saja membawa kenangan nostalgia.
Terakhir kalinya aku kesini, ayahku masih bersamaku dan aku bertunangan dengan Connor.
Menakjubkan sekaligus mengerikan betapa dalam waktu sebulan bisa mengubah hidupmu
Disinilah aku, menjalankan perusahaan warisan Ayahku dengan melanjutkan pekerjaannya setiap hari sementara Connor menghancurkan hidupnya sendiri.
Ayahku mungkin telah tiada, tapi dia tetap hidup dalam kenanganku.
Aku tidak akan membiarkan itu mati bersamanya dan Connor biarkan dia menghancurkan hidupnya sendiri.
Lucy ada di resepsionis untuk menyambut aku dan timku. Dia memandu kami ke ruang rapat dimana Kieran dan timnya sudah duduk dan siap.
__ADS_1
Mulutku mengering saat memandangnya. Tentu saja, Aku baru melihatnya pagi ini, tapi itu tidak mengurangi ketertarikanku padanya.
Aku nyaris tidak punya waktu untuk mencerna situasi kami sekarang ketika Louis mengingatkanku mengenai rapat ini.
Matanya jelas-jelas terarah kepadaku dan dia menyeringai, sisi nakalnya sangat terlihat.
Aku bahkan tidak bisa tetap marah padanya setelah apa yang dia lakukan saat sarapan.
Kami berputar untuk bersalaman dan memperkenalkan diri, Kieran sengaja menarikku terlalu dekat untuk menggoda seperti biasanya.
Aku tidak akan membiarkan dia mempermainkanku lebih jauh.
Setelah perkenalan, kami duduk berseberangan di meja kayu ek, tim kami berada di sisi kami masing-masing
Mejanya cukup besar dan lebar dengan ruang kaki yang nyaman, tapi kakiku bisa menjangkau kakinya.
Tim Kieran memulai presentasi mereka mengenai pembaruan beberapa kebijakan yang bisa berdampak kepada bank ku dalam jangka waktu panjang.
Louis mengetik cepat dengan panik dan pegawaiku yang bersangkutan mengajukan pertanyaan mengenai berbagai rencana berbeda yang dapat kami jalankan.
Aku cukup menyadari bahwa Kieran sesekali melihat ke arahku.
Aku mengampil cangkir teh ku dan menyeruput pelan-pelan, mengabaikan tatapannya.
Aku mengambil nafas dalam dan menggaruk kakiku, sepatu hak Christian Louboutin ku mengenai sepatu kulit miliknya. Dia menoleh ke arahku dan aku lanjut mendengarkan presentasinya. Aku menaikkan hakku ke betisnya dan dia terlihat mengepalkan tangan.
Aku tidak bisa menahan senyum yang menyelinap di wajahku.
Aku menaikkan dan menurunkan hakku di sepanjang betisnya, melihatnya berusaha mempertahankan akalnya. Dia mencoba bergeser tetapi aku menahan kakinya dengan kakiku, menguncinya dan melanjutkan penyiksaannya dengan pelayananku
Lucy menyenggolnya dan mengalihkan perhatiannya dariku ke layar presentasi yang dia tunjuk.
Aku mendorong kursiku sedikit lebih dekat, hakku mengenai otot paha atasnya yang tegang. Jari-jarinya menjadi putih karena menggenggam pena. Aku menjilat bibirku dan menggigit bibir bawahku dengan halus, bersamaan saat membelai ototnya yang tegang.
Dia mengerang dan menutupinya dengan berdeham. Aku menyeringai dan dia memelototiku.
Aku dalam masalah, oh tapi aku suka membuatnya kesal.
Rapatnya berakhir setelah satu jam dan aku memeriksa seluruh kontrak yang sudah di rubah bersama pengacara yang ditunjuk. Setelah menandatanginya, aku menyerahkan kontrak tersebut pada Kieran untuk dia tanda tangani.
Aku memberinya sebuah senyuman polos dan dia menyeringai sebelum menggelengkan kepalanya.
Kedua tim berdiri untuk berjabatan tangan satu sama lain, Kieran berjalan tidak nyaman untuk menutupi gelembung di celananya. Sangat sangat sulit untuk menahan tawaku.
Dia meraih tanganku, mengguncangnya dengan kuat dan mencondongkan tubuhnya mendekat untuk berbisik di telingaku "Aku akan menemuimu di kantorku."
Sebuah getaran merambat di tulang punggungku dan seluruh tubuhku terasa hangat.
Lelaki sialan ini.
***
- Kieran -
Wanita ini akan menjadi ajalku.
Timku pergi setelah aku memberi mereka pengarahan akan apa yang perlu dikerjakan dari hasil rapat dan aku menambahkan beberapa pujian untuk hasil kerja memuaskan.
Aku berdiri dan menunggu Alina untuk menyelesaikan diskusinya dengan Louis dan pengacaranya.
Aku tidak tahu garam mandi apa yang ditaburkan Wilson kedalam bak mandinya tapi dia terlihat lebih tenang dan kulitnya tampak bercahaya.
Dia menenakan blus bergaris berwarna merah gelap dengan lengan panjang yang elegan dan rok hitam yang hanya menyentuh bagian atas lututnya.
Menjelaskan kecantikannya adalah pemahaman universal yang dalam
Louis pergi bersama pengacaranya dan Alina menengok dan mendapatiku menatapnya.
Dia memberikan senyum manis dan berdiri menghampiriku. "Kamu ingin bertemu denganku?"
Aku mengangguk dan berjalan menuju Lift. Kami menaiki lift naik ke lantai teratas dan mendapati Lucy sudah di mejanya, menatap aku dan Alina.
"Tuan Knight, Nona Simmons, apa anda mau dibuatkan kopi?"
Aku menggelengkan kepala, "Tidak apa, ada hal yang perlu didiskusikan dengan Nona Simmons, pastikan tidak ada yang mengganggu kami. Kamu bisa pulang lebih cepat setelah pekerjaanmu hari ini selesai."
Lucy tersenyum kepadaku, "Jangan khawatir, tidak akan ada yang naik ke sini."
Dia mengambil tas nya dan mengedipkan mata pada Alina sebelum pergi. Dia merona merah.
__ADS_1
Dia begitu mengagumkan.
Aku membuka pintu ruanganku, memberi aba aba agar dia masuk. Dia melangkah dengan khawatir, seolah olah dia memasuki kandang singa. Aku tersenyum, dia gugup bukan. Dia tidak akan mengakuinya padaku.
Dia melihat sekitar, rasa familiar terlihat di matanya dan aku menyadari dia mengingat saat pertama kali kami bertemu. Aku mengingatnya seolah itu baru kemarin, pertahanan dirinya tinggi dan rasa percaya dirinya terpancar.
Pintunya tertutup di belakangku dan dia mematung di tempat. Saat itu sangat tegang, aku dapat merasakan aliran listrik di udara. Aku mengunci pintu dan berjalan perlahan ke arahnya.
Aku menyentuh lengannya lembut, mengelilinginya seperti yang akan dilakukan pemangsa. Aku berhenti di belakangnya, menghirup aroma parfum bunga di lehernya.
"Kamu yang memulai permainan ini Alina, aku hanya mengikutinya." Aku berbisik
Dia kehilangan keseimbangan dan aku menekan jariku untuk membuatnya kembali berdiri.
"Kupikir kamu punya sesuatu untuk dibicarakan denganku?" Dia bernafas.
Aku menyisir rambutnya ke samping dan membungkuk mendekat, membiarkan bibirku mendekat ke telinganya,"Hmm, aku ada sesuatu untuk dibicarakan denganmu."
Dia menelan ludah dan aku berputar melihat wajahnya, mata peraknya yang cantik , menusuk kedalam jiwaku , "Apa yang mau kamu bicarakan?"
Aku menyentuh rambutnya dengan jemariku, tanganku yang lain melingkari pinggulnya sehingga dia bisa bersandar padaku, "Aku berimajinasi membawamu kesini berkali-kali Alina. Ini saatnya untuk imajinasiku menjadi kenyataan, bagaimana menurutmu?"
Tangannya menyentuh dadaku dan aku mengerang, menenggelamkan diri dalam sentuhannya. Sensual, nakal dan seksi yang tidak dapat dipungkiri.
Dia melihatku, bibir kami terbuka dan tidak bisa merasakan hal lain
"Mari kita lihat seberapa baik imajinasimu itu."
Bibir kami bersentuhan dalam ombak panas dan aku mendorongnya ke pintu ruanganku. Dia mengerang dibawahku, tangannya mengeksplorasi dengan berani.
Lidah kami duel untuk mendominasi dan sesekali ia menyerah, membiarkanku memimpin
Aku bahkan tidak menyadari ia membuka kancing bajuku. Aku melemparkannya ke samping dan membantunya keluar dari blusnya. Aku memijat payudaranya melalui bra renda-nya dan dia mengerang karena sentuhanku.
"Jika lebih keras, aku akan membatu."
Aku melepaskan branya dan meletakkannya di tumpukan baju yang menggunung di lantai. Aku melepaskan bibirnya dan menempel ke dadanya.
"Ah! Kieran brengsek-"
Aku menjilat putingnya dan rintihan seksual terdengar di bibirnya.
Aku bisa menghabiskan waktu selamanya untuk merasakan setiap inci tubuhnya.
Aku membuka roknya dan dia melepas celana dalam rendanya. Aku hampir menggeram.
Aku menangkup bokongnya dengan tanganku dan menariknya ke arahku, kakinya melingkari pinggangku. Kemaluanku bisa merasakan kehangatan kemaluannya menembus celanaku.
Aku membawanya ke sofaku, bibir kami bertemu lagi dalam kegilaan. Dia sibuk dengan celanaku dan aku melemparnya, bersama dengan boxer ku ke tumpukan.
Aku menciumnya dengan keras, pelan, lapar dan lembut. Setiap sensasi dan ketegangan yang berbeda membawa kesenangan jenis baru dan dari rintihan manis yang berasal dari Alina, kurasa dia bisa merasakannya juga.
Aku menciumnya kebawah melalui lehernya, dada dan perut, menggigit kulitnya lembut untuk mendengarnya memanggil namaku
Dia sangat nikmat
Bibirku turun mendekati kemaluannya dan dia menggeliat penuh harap. Aku menyentuhkan jariku menuju lipatannya yang licin dan dia menggigil nikmat.
Seks yang manis.
Aku mencari kantung celanaku untuk bungkusan perak. Aku merobek membukanya dan menyarungkan kondom ke kemaluanku yang berdenyut.
Alina menggigit bibir bawahnya menggoda, dan aku hampir orgasme di tempat. Aku kembali padanya, memutar mutar putingnya di antara jari jariku dan menekan bibirku ke bibirnya, memasukkan kemaluanku kedalam kemaluannya sampai ke pangkal.
Aku membungkam erangannya dengan lidahku, namaku diucapkan tak jelas dari bibirnya.
Aku bergerak perlahan ke arahnya, membiarkannya menyesuaikan diri denganku. Lalu semakin cepat ketika dia menuntut kecepatan.
"Kieran aku..."
Aku menciumnya, lalu meletakkan keningku di dahinya, "Aku tahu sayang. Itu dia, datanglah untukku."
Dia orgasme di bawahku dan pemandangannya orgasme memicu orgasmeku.
Erangan kami memenuhi ruangan saat kami melepaskan gelombang kenikmatan.
Aku bergeser sedikit, mengagumi rasa puas di wajahnya. Aku mencium bibirnya lembut dan dia tersenyum, "Apakah kita melampaui ekspektasi dari imajinasimu?"
Aku tertawa dan mencium keningnya, "Tentu saja."
__ADS_1