The CEO's Wife

The CEO's Wife
Chapter 22


__ADS_3

- Alina -



Kieran bersandar pada gapura ruang tamuku, benar-benar linglung.



Aku memperhatikannya, pria tampan yang sedang kacau di ruang pribadi ku.



Dia menghembuskan nafas kelelahan dan mengusap wajahnya sebelum dia melihat ke arah ku.



Aku menatapnya, membiarkan badai emosi yang dia rasakan sedikit berkurang. Aku hampir bisa melihat kegelapan pada matanya menjadi lebih teduh.



Aku bangkit dari sofa empuk dan menuju ke arahnya, melingkarkan lenganku padanya, "Kau baik-baik saja sayang?"



Dia hanya menghela napas dan mendekap ku, berhati hati untuk tidak membuat lukaku sakit, "Dia minta maaf. Si brengsek itu minta maaf."



"Benarkah?"



"Ya."



Aku menyandarkan kepalaku pada dadanya yang bidang, merasakan kehangatannya, "Bagaimana perasaanmu?"



"Marah, bingung, tapi aku juga merasa sangat sedih. Dia bertanya padaku bagaimana aku bisa tahu kalau aku mencintaimu. Ayahku, bertanya padaku, bajingan yang paling tidak berperasaan di dunia itu, cinta itu seperti apa"



Aku menjauh darinya dan melihat ke mata gelapnya yang dalam, "Apa yang kau katakan padanya?"



Dia mengelus pipiku dengan jarinya dan mencium keningku, "Bahwa aku akan menempatkan hidupmu diatas hidupku."



"Kedengaran mulia."



"Itu benar."



"Aku akan berlaku adil dengan menempatkan hidupmu diatas ku."



"Tidakkah itu membatalkannya?"



"Kau bisa mengartikan sebaliknya juga, bahwa aku cukup mencintaimu dengan menghargai dan menjaga diriku sendiri untukmu."



Dia memikirkannya, "Kedengarannya mulia."



"Itu benar."



Akhirnya dia tersenyum dan memperlihatkan lesung pipit yang indah itu, "Aku punya kejutan untukmu"



"Kau selalu penuh dengan kejutan dari pertama kali aku bertemu denganmu."



"oh kau tak kan pernah terpikir tentang ini."



"Disneyland?"



"Kamu baru saja keluar dari rumah sakit sayang, aku tidak akan membawamu kesana hingga benar-benar pulih"



Aku menggigit bibirku, "Bunga?"



"Tebak lagi."



Jantungku berdetak sedikit lebih kencang, apakah dia sedang serius?



"Cincin yang lain?"



"Aku punya rencana untuk cincinmu, tapi bukan sekarang. Tebak lagi."



Aku sedikit kecewa, tapi aku tidak mau itu mempengaruhiku, "Apa kau mengadopsi anjing?"



Seringaian jahil yang mematikan itu, "Lebih bagus daripada itu"



Dia merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah foto polaroid lama.



Dia mengangkatnya agar aku bisa melihat dan aku menatapnya, berusaha mengerti konteksnya.



Itu adalah gambar dua orang anak. Seorang lelaki dan seorang perempuan.



Aku adalah perempuan di foto itu, yang ku tahu. Lelaki itu sedikit lebih tinggi dariku. Kami berdua memakai jubah kelulusan taman kanak-kanak, berdiri di depan kastil Cinderella di Disneyland. Jubah itu terlihat kekecilan pada anak lelaki itu.



"Apa ini?" tanyaku.



Aku tersadar, anak laki-laki dengan mata gelap itu.



Mataku terarah ke Kieran, dia mengangguk sambil terus tersenyum kepadaku, "Sepertinya kita teman masa kecil. Dari bayi sampai kita di taman kanak kanak. Dan sangat terlihat kalau aku sebenarnya terlalu besar untuk baju itu, tapi aku tetap ingin berfoto denganmu ketika kamu lulus. Ayahmu membawa kita ke Disneyland untuk merayakan kelulusanmu.



Kita terpisah saat di sekolah dasar karena pekerjaan orang tua kita dan sikap psikotik ayah yang mulai berkembang."



Mulutku ternganga, "Apa- Bagaimana-"



"Dia mengatakan padaku tadi, saat di telepon setelah dia meminta maaf. Dia bilang dia bisa membuktikannya dengan foto yang ada di apartemennya. Jadi aku pergi kesana dan mencari foto ini dari kardus kardus barang simpanannya"

__ADS_1



Dia memutarbalikkan foto itu melihatnya, melihat kami, "Kita terlihat bagus bersama iya kan? Bahkan sebagai anak-anak."



Aku terluap emosi.



Kami berteman bahkan sebelum drama itu terjadi.



Kieran melirik ku dan memiringkan kepalanya melihat mataku, "Aku sungguh buruk. Bahkan diwaktu mengatakan kita adalah teman dan kau sudah terluka."



Hanya senyuman yang bisa ku gumankan, "Kau tidak tahu ini sayang, tapi kau sungguh manis sekali."



Dia tertawa, "Maksudmu sekarang atau waktu masih kecil?"



Aku berjinjit dan mendekatkan bibirku kepadanya membuatnya mengerti seluruh perasaan yang aku rasakan dari kejutan yang dia bawa.



Perasaan kehilangan dan ditemukan.



Itu hampir ajaib bahwa kami menemukan jalan kembali bersama.



Dia tersenyum dalam ciuman kami sebelum mencium lebih dalam.



Tepat ketika kami menarik diri kami dari satu sama lain, kami mendengar Wilson berdeham, "Tuan Knight, Lucy memintaku untuk memberitahumu kalau pesawatnya sudah siap."



Kieran tersenyum, "Bagus, terima kasih Wilson."



Aku mengangkat alisku dan bertanya, "Kamu mau pergi kemana?"



"Maksudmu kemana 'kita' akan pergi."



"Apa?"



"Kejutan kedua sayang, ayo."



***



- Kieran -



Alina hanya diam selama penerbangan dan itu membuatku khawatir.



Dia ingin tahu kemana aku membawanya dan hampir melemparkan teriakan di pesawat ketika kita naik ke pesawat.



Aku senang saat akhirnya dia memutuskan tidak melawanku dan mengikut saja.




Aku meraih tangannya tapi dia menariknya dengan cepat.



"Alina sayang."



Dia sepenuhnya mengabaikan ku dan aku mendesah, memutuskan untuk menyerah padanya, omong-omong alasan untuk kejutan ini adalah untuk membuatnya bahagia.



"Kita akan pergi ke-"



"Hawai," dia tersentak dan memandang ke pulau saat pesawat kami semakin mendekat



Dia memalingkan wajahnya kepadaku, mata nya bersinar dengan penuh kegembiraan, "Kierann..."



Aku tidak bisa menebak suasana hatinya jadi aku berikan senyuman terbaikku dan dia mendekapku, menciumku seperti hanya aku yang berada didunianya.



Aku bisa terbiasa dengan sisinya yang begini.



Dia menjauh dan menatap ku sebelum mengigit bibir bawahnya. Wajahnya merona merah jambu tersadar begitu kasarnya dia dan aku menyeringai, "Senang melihat kau berhasrat."



Dia hampir memukulku dadaku ketika aku menangkap tangannya dan mencium setiap buku jarinya, "Aku seharusnya baikan denganmu lebih cepat. Kita bisa melakukan sesuatu yang lebih produktif daripada hanya memandangi awan"



Pipinya memerah tapi bukan menjauh dariku dia malah menggerakkan jarinya di dadaku dan membuat dirinya duduk nyaman di pangkuanku, "Aku rasa kita bisa melakukan sesi cepat."



F.U.C.K. M.E.



Tanda untuk menggunakan sabuk pengaman hidup dan pilot mengumumkan lewat pengeras suara, "Tuan Knight, Nona Simmons dan kru pesawat lainnya, untuk keamanan anda silahkan duduk dan gunakan sabuk pengaman karena kita akan segera mendarat."



Tanda sabuk pengaman bersinar dan Kapten bersuara melalui speaker, "Tuan Knight, Nona Simmons dan awak pesawat, untuk keselamatan anda, harap tetap duduk dan memasang sabuk pengaman karena kita akan mendarat."



Alina mendaratkan ciuman murni pada bibirku sebelum kembali ke tempat duduknya dan aku berusaha menjaga tanganku.



Mengapa dia sangat menyentuh?



Kulit lembut pada lehernya, warna perak cerah memenuhi mata birunya yang penuh nafsu, daging lembut pada pahanya dan bibir yang lezat itu-



"Tuan Knight, mohon pasang sabuk pengaman anda. Kita akan segera mendarat," salah satu kru datang dan mengingatkanku, dan aku memberikannya anggukan.



Aku memasang sabuk pengaman dan Alina menyilangkan kakinya, memberiku salah satu pandangan super sexy nya padaku "Kenapa Hawaii?"



Pesawat nya terbang turun dan aku tidak bisa untuk tidak tersenyum, "Ini sebuah kejutan."

__ADS_1



"Kau bilang lokasinya adalah kejutan, bukan aktivitasnya."



"Aku tidak mengatakan apapun."



"Kieran-"



"Apa kau percaya padaku sayang?"



Dia menatapku, sungguh menatapku hingga menyentuh ke dasar sanubariku, "Tentu saja."



Hatiku sangat senang dan konfirmasi yang kudapatkan menjadi seperti sebuah batu, "Itu yang perlu aku dengar"



***



- Alina -



Alih-alih langsung menuju ke hotel untuk bersiap, Kieran membawa kami turun ke pantai.



Matahari mulai terbenam, ombaknya menerjang lembut, angin bertiup menggoda lembut dan lembutnya pasir seperti bedak dibawah kakiku.



Semuanya sempurna.



Termasuk Kieran Knight yang rupawan.



Seperti terakhir kali, dia memegang sepatuku dan tanganku, berjalan menelusuri pinggir pantai yang cantik.



Tapi tidak seperti terakhir kalinya, tidak ada keluarga dan pasangan disekitar. Hanya kami berdua saja dan kehadirannya lebih dari penenang bagiku.



"Alina."



"Hmm?" Aku melirik nya, pikiran ku menjadi tenang dan jernih akibat tiupan angin laut.



Dia menatapku, membelai pipiku dan menyelipkan rambutku di belakang telinga, "Apa kau ingat terakhir kali kita kesini?"



"Maksudmu waktu kau cemburu pada Nigel?"



"Kau ingat namanya?"



"Hanya dengan menyebut tentang cincin dan kau sudah menggila."



Dia berguman kesal tapi cepat cepat menggelengkan kepala, "Aku tidak akan membiarkan laki laki itu merusak momen kita"



Aku tersenyum dan mengabaikannya sebelum sisi jahil ku memutuskan untuk menggodanya, "Tentu saja aku ingat waktu terakhir kali kita disini"



Dia memegang daguku dan mencium keningku, "Maka aku ingin kau menghapuskan kenangan itu dengan ini."



Dia berlutut, benar-benar berlutut dengan sebuah tujuan dan menengadah padaku dengan tatapan di matanya yang akan membuat wanita manapun berlomba-lomba untuk berada diposisi ku.



Penuh dedikasi dan cinta, dedikasi dan cinta untukku.



"Kieran-"



"Janji untuk tidak menangis sampai aku selesai bicara?"



Bibirku tersenyum dan aku menggangguk, emosi dan perasaanku sudah meluap tak terkendali.



Dia merogoh ke dalam kantong dan mengeluarkan sebuah kotak kecil beludru, kotak berwarna merah maroon. Dia membukanya dan mengulurkannya padaku, memperlihatkan cincin berlian berwarna rose gold di dalamnya.



"Alina sayangku, kita bertemu saat keadaan yang mungkin bagi beberapa orang itu aneh. Kau bertunangan dan aku dingin, sangat kacau. Kita berpisah dan bertemu kembali di negri asing. Aku mengakui, aku tidak bisa menghapus mu dari pikiranku sejak kau muncul di kantorku.



Apa yang terjadi disini di Hawaii adalah keinginanku untuk menghabiskan waktu denganmu untuk mengenalmu lebih baik. Saat kau pergi, kau membawa bagian diriku bersamamu.



Aku pria yang tidak berperasaan yang tidak tahu apa itu cinta, apa artinya menyerah pada sesuatu, apa artinya menyerahkan seluruh milikku kepada seseorang.



Tapi aku belajar itu semua darimu, karena bagaimanapun aku melihat diriku sendiri dalam mu dan yang paling kuinginkan adalah agar kau menyadari betapa cantik dan luar biasanya dirimu.



Melalui itu, kau membuat ku tersadar dengan perasaanku terhadapmu. Kau mungkin meninggalkanku, tapi pada akhirnya kau menemukanku dan kembali padaku dan itu lebih dari apa yang aku minta.



Aku berjanji pada ayahmu aku akan ada untukmu. Aku akan memenuhi permintaannya tapi kali ini aku akan membutuhkan persetujuanmu.



Maukah kau, Nona Alina Simmons, seseorang yang sesungguhnya sudah aku kenal sejak aku masih kecil, benar-benar menikah denganku kali ini dan mengijinkanku untuk membuatmu menjadi wanita yang paling bahagia yang pernah ada?"



Mataku dipenuhi dengan air mata, "Apa kau sudah selesai mengatakan yang ingin kau katakan? Karena itu pidato bisnis yang sangat panjang"



Dia tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya, "Itu bukan pidato, itu komitmen seumur hidup. Yang siap untuk aku jalani. Maukah kau menerima tantangan untuk menjadi istriku?"



Aku tersenyum seperti orang gila dan melompat ke arahnya, menciumnya dengan bermacam jenis perasaan yang bergejolak.



Dia memegangku dengan kuat, berhati hati untuk tidak menyentuh lukaku sambil menciumku dengan intensitas yang bisa mengalahkan kekuatan matahari.



Aku melepaskan ciuman, bibir kami masih saling menyentuh satu sama lain sambil aku menjawab, "Aku mau sayang, selama kau mengijinkanku juga untuk membuat mu menjadi lelaki paling bahagia yang pernah ada."


__ADS_1


Dia tersenyum lebar, "Aku sudah bahagia sekarang."



__ADS_2