The CEO's Wife

The CEO's Wife
Chapter 18


__ADS_3

- Kieran -


"Kieran," ayah menyapaku.


Pikiranku berusaha memahami apa yang sedang terjadi.


Ayahku seharusnya sudah tiada. Ia meninggal bersama ibuku karena kecelakaan mobil yang mengerikan.


Ada apa sebenarnya ini?


Suara Alina terengah membuatku kembali fokus dan aku menodongkan pistol ke arah ayahku.


Alina terluka, luka yang dalam di tenggorokannya, memar di lehernya dan matanya sayu


"Lepaskan dia," aku memerintahkan


Ayahku terkekeh, "Itu bukanlah cara seorang pebisnis berbicara."


Alina menggerakkan kepalanya sedikit untuk menghindari laras pistol ayahku, "Ini bukan kesepakatannya, lepaskan dia."


"Atau apa Kieran? Apa yang berani kamu lakukan kepadaku? Ayahmu-yang-kamu-sayangi? Menembakku?"


Alina merunduk dan sebuah peluru ditembakkan dari belakangku. Connor melompat ke arah ayahku dan terjatuh di lantai, peluru mengenai bahu Connor.


Aku berlari kedepan dan mengangkat Alina dari posisi meringkuk di lantai. Aku menembak rantai borgolnya dan mengangkatnya.


Aku mendekatkan tubuhnya yang dingin kepadaku dan mulai berlari.


Aku menyadari kalau peluru yang ditembakkan tadi berasal dari Wilson.


Apakah dia seorang gangster juga sekarang?


Wilson mendekat, matanya melebar karena khawatir, "Alina, Alina apa kau bisa mendengarku?"


"Aku akan membawanya ke apartemenku, bisakah kamu membantu Scott? Dia tidak punya cukup orang untuk melawan geng Connor," aku pinta


Dia menatapku, menyadari kekhawatiran dalam suaraku, "Kabari aku saat kau sudah aman."


"Pasti."


Lamborgini Aventador hitamku ada di luar gudang kumuh dan aku membaringkan Alina di kursi penumpang.


Aku duduk di kursi pengemudi dan segera mengendarai mobil, mengebut untuk sampai ke apartemenku.


Dia meringis dan mengerang selama aku berkendara dan hatiku sakit melihatnya.


Aku meremas tangannya, "Kita hampir sampai sayang, tetaplah bersamaku."


Aku menggenggam kemudi dengan erat dan memarkir mobil, mengangkatnya keluar dari mobilku dan menuju apartemenku


Lucy baru saja selesai dengan luka Richard saat aku masuk dan dia terkejut, "Astaga Tuhan! Baringkan dia di sofa, cepat Kieran."


Aku membaringkan Alina di sofaku dan Lucy memintaku mengambil es, perban dan semua perlengkapan pertolongan pertama.


Lucy dulunya adalah seorang perawat veteran dan sering merawat luka lukaku saat masih kecil.


Aku mempercayakan Alina padanya.


Aku tak yakin jika aku mempercayai diriku sendiri.


***


- Alina -


Ada suara-suara nyaring yang buruk di telingaku, membuatku berusaha keras untuk membuka mata.


"Dia mulai sadar, bersikaplah lembut padanya. Dia mengalami gegar otak ringan. Dia akan sedikit pusing dan bingung," suara lembut seorang wanita memberikan arahan pada seseorang saat aku membuka mata.


Lucy berdiri di sebelahku, ada senyuman di wajahnya, "Nona Simmons, bagaimana perasaanmu?"


Aku mengerang dan memaksa untuk bangkit, menekan tanganku di kepala, "Sakit sekali."


Dia tertawa ringan, "Apa anda tahu dimana anda sekarang?"


Aku melihat sekeliling, merasa mengenali ruang tamu, "Apartemennya Kieran."


Lucy mengangguk, "Bagus, kau mengenalku?"


Aku menaikkan alis, "Kamu adalah Lucy, asisten pribadi Kieran."


"Apa kau ingat apa yang terjadi padamu tadi malam?"


Denyut di otakku mengambil alih dan aku mengingat setiap detil. Mulai dari Connor mendorongku ke lantai.


Lucy bergumam beberapa kata sebelum meninggalkan ruangan. Lalu aku merasakan kehangatan tangannya padaku


Aku menatap Kieran, wajahnya dipenuhi keprihatinan. Matanya nampak lebih gelap dari biasanya dan alisnya berkerut karena khawatir.


Dia menjangkau tepian meja di samping tempat tidur dan mengambil segelas air dengan dua pil Tylenol.


Ia mencondongkan tubuhnya ke arahku dan menaruh kedua pil di telapak tanganku, seperti yang ia lakukan saat di Hawaii. Kemudian ia mengecup dahiku.


"Aku mencintaimu, Alina."


Hatiku bagaikan terbelah dua.


Seharusnya aku merasa bahagia, bahkan sampai ke bulan. Tapi mendengar rasa sakit dan penyesalan yang besar dalam suaranya membuatku berlinang air mata.


Dia tersenyum dengan senyuman pahit dan menyeka air mataku, "Sial aku sangat buruk. Kamu orang pertama dan satu-satunya orang yang aku nyatakan cinta dan bahkan belum dua detik aku membuatmu menangis."


Aku tersenyum ringan, menyadari bahwa Kieran menunjukkan sisi lemahnya padaku. Hatiku luluh, merasakan cintaku untuknya bertumbuh


"Ya Tuhan, aku mencintaimu juga Kieran."


Ia tertawa ringan dan menciumku dengan lembut, "Syukurlah, aku kira kau menangis karena kau muak terhadapku."


"Bukan kau, tapi gegar otak ini."


Dia tertawa rendah dan menunjuk ke gelas, "Minum pil nya, akan mengurangi rasa sakitnya."


Aku memasukkan pilnya ke mulut dan menelannya bersama air.

__ADS_1


Kieran mengambil gelas dari tanganku dan meletakkannya kembali, menyentuhkan jari-jarinya ke pipiku sebelum menyisirkannya ke rambutku.


Meskipun ia terlihat tenang saat ini, aku dapat melihat kerutan di dahinya. Aku ragu ia cukup tidur.


Hatiku terasa utuh, bahagia bahwa Kieran akhirnya berhasil mencintai dan cinta itu untukku


Tapi di sisi lain, benakku berusaha untuk mengambil alih. Sebuah pukulan di kepala tidak akan menghapus fakta bahwa entah bagaimana Kieran termasuk bagian dari mafia.


Dan jika aku tak salah ingat, ayah kieran adalah bos connor. Yang berarti bahwa kieran adalah putra seorang pemimpin geng mafia.


Mereka bilang cinta melampaui segalanya.


Aku bertanya-tanya seberapa benar kutipan itu.


Bisakah aku menghancurkan batasanku dan mencintai Kieran sepenuh hati? Tak peduli pekerjaan ilegal apa pun yang ia lakukan?


Kepalaku berdenyut dan aku mendesah kesakitan, Kieran mengusap punggung tanganku.


Persetan


Yang benar saja, setelah ini apa yang akan kita lakukan?


Kieran sepertinya tidak menyadari kekacauan di dalam diriku, nampaknya ia pun sedang melawan iblis dalam dirinya sendiri selagi ia menyentuhkan jarinya di leherku.


"Kieran."


"Hmm?" Ia menatap mataku, masih ada ekspresi kesulitan di wajahnya.


"Apa kepalamu terbentur juga? Kau tampak kebingungan."


Dia tersenyum, meskipun tidak sampai lesung pipinya terlihat, "Aku bersyukur kamu baik-baik saja."


"Sayang-"


"Aku baik-baik saja sayang, aku sunguh-sungguh. Aku hanya mencoba memikirkan beberapa hal."


"Kau yakin?"


Kieran mengangguk, kegelapan di matanya berputar, "Aku yakin."


***


- Kieran -


Tidak mungkin aku dapat melakukan ini.


Aku tidak bisa menahannya di sisiku. Sungguh konyol bahwa aku bahkan berpikir ada peluang di antara kami.


Aku memutuskan untuk mencoba bersamanya dan situasi orang-orangku mengganggu kita berdua.


Aku tidak dapat melakukan ini kepadanya.


Tidak saat ayahku sang pemimpin mafia kembali. Itu hanya menggandakan alasan mengapa kita tidak bisa bersama.


Wilson berhenti di bawah komplek apartemenku untuk menjemput Alina. Menurut Scott, Wilson sebelumnya adalah pengedar narkoba semasa mudanya.


Saat semuanya menjadi buruk dan ia kehilangan kendali atas hidupnya, ayah Alina merawatnya, memberikan kesempatan kedua untuk hidup.


Sejak saat itulah Wilson bersumpah seumur hidupnya pada keluarga Simmons, bahkan sekarang, mengurus Alina seperti putrinya sendiri.


Paling tidak dia memiliki kesempatan untuk penebusan.


Beberapa orang lebih beruntung dari orang lain. Aku hanya terselip di tumpukan yang kurang beruntung.


Wilson mengakuiku dan aku membalasnya. Dia berjalan ke arah Alina, "Apa kamu sudah siap untuk berangkat?"


Aku sadar dia menatapku, mata cantiknya memindai-ku.


Ia berbalik ke Wilson, "Bisakah kau memberiku sedikit waktu?"


Wilson mengangguk kecil dan melangkah menjauh untuk memberikan kita berdua privasi.


Alina menggenggam wajahku di kedua telapaknya, "Apapun yang kau pikirkan, jangan."


Aku tertawa dan membawa tangannya ke bibirku, mengecup telapak tangannya, "Jadi kau tak ingin aku menciummu?"


Pipinya bersemu merah muda, "Bukan itu maksudku."


Aku menaikkan dagunya dan menatap matanya, "Oh, aku tahu apa maksudmu sayang."


Aku mendorong bibirku kearahnya dengan lembut, merasakan kelembutan dirinya padaku. Dia terasa manis, kemungkinan besar dari buah yang diberikan Lucy padanya


Aku sudah merasakan dirinya tertanam di dalam benakku, bantalan jemariku, jiwaku sendiri.


Bagaimana bisa aku meninggalkannya?


Aku menarik diri, tanganku tetap menyentuh punggungnya sedikit untuk menahannya tetap tegap. Dia berkedip beberapa kali dan aku tersenyum, dia memang menggemaskan


Dia membuka mulutnya, "Aku sangat yakin, aku benar."


"Baiklah aku juga dan aku sudah membuat keputusan."


"Dan apakah itu?"


"Berpura pura soal pikiranku adalah hal yang bagus."


"Kieran-"


"shh... kalau itu membuatmu merasa lebih baik, aku tidak akan gegabah. Itu yang bisa kujanjikan padamu."


Dia sepertinya tidak mempercayai usahaku untuk mencoba meyakinkannya.


Wilson kembali, "Nona Simmons, kita harus berangkat. Dokternya telah menunggu janji dari Anda."


Dia menghela napas dan aku meletakkan wajahnya di tanganku, "Apa kamu mempercayai aku?"


Ia bahkan tidak berkedip, "Tentu saja aku percaya."


"Maka percayalah bahwa segala yang kulakukan mulai dari sekarang itu karena aku mencintaimu."


Ia ingin membantah saat telepon Wilson berdering, "Nona Simmons."

__ADS_1


Dia menatapku, menghela napas dan mengangguk, "Aku mencintaimu."


Aku merasakan hatiku hancur.


"Aku juga mencintaimu sayang."


***


- Alina -


Aku memainkan cincin pernikahan yang diberikan Kieran. Sinar mentari menyinari dengan indah.


Aku merasa sangat tidak tenang.


Setelah ia mengantarku pergi dengan Wilson kemarin, aku tidak dapat menahan rasa sakit yang menyebalkan di hatiku.


Setiap sentuhannya, setiap kecupan, setiap kata diucapkan dengan hati-hati.


Ada yang tidak beres.


Otakku pasti terbentur dengan sangat keras karena aku memerlukan waktu yang lama untuk menyadari hal itu.


Biasanya aku dapat langsung melihat kebohongannya, mata dinginnya yang tak beremosi.


Seberapa parah kepalaku kemarin?


Aku bangun dan mencari ponselku, aku harus meneleponnya. Memintanya untuk kembali dan berhenti melakukan apapun yang akan dia lakukan


Ada suara ketukan di pintu kamarku dan Wilson masuk, membawa nampan berisi obat-obatanku


"Ada sekelompok orang aneh yang memasuki gerbang. Mereka mau berbicara dengan Anda," dia memberitahuku dan aku menelan pil-pil itu.


"Aku rasa kamu sudah mencoba meminta mereka untuk pergi?"


"Mereka bilang Anda akan membiarkan mereka masuk saat Anda sadar Anda tidak bisa menjangkau Kieran."


Mataku membelalak, "Apa?"


"Mereka mau bernegosiasi sesuatu dengan Anda sebagai ganti informasi keberadaan Kieran."


Aku mencari-cari ponselku dan memasukkan nomor Kieran. Aku langsung ditujukan ke pesan suaranya.


Aku menelepon Scott dan ia mengangkat pada dering kedua, "Halo?"


"Scott, ini Alina."


"Oh tuan putri, kau mencari Kieran?"


"Iya, Aku pikir anak buah Connor ada di gerbang rumahku."


"Aku tahu, aku bisa melihat mereka."


"Apa?"


"Jangan khawatir Tuan Putri, tim kami sudah mengepung rumahmu. Perintah Kieran dan Wilson."


"Kalau begitu kau tahu dimana Kieran?"


"Entahlah, Dia memutuskan semua saluran dan cara untukku menghubunginya. Aku masih berusaha mengetahui keberadaannya."


"Apa dia mengatakan sesuatu sebelum dia pergi?"


"Dia hanya mengatakan untuk menjagamu. Bagaimanapun, hati-hati Tuan Putri, kamu bisa mencoba dan mencari tahu apa yang Connor inginkan darimu."


"Maksudmu membuat kesepakatan dengan sang iblis?"


"Kumohon, Aku adalah sang iblis sejauh ini menurut orang-orang."


"Sampai nanti Scott."


"Sampai jumpa Tuan Putri."


Aku memutuskan sambungan dan mencoba menenangkan diriku.


Kieran baik-baik saja. Scott akan babak belur jika Kieran tidak baik-baik saja.


Aku menatap Wilson, berharap dia akan memberikan pencerahan dengan cara lain.


Wilson berdeham, "Dalam situasi normal, aku akan menelepon polisi dan menunggu mereka untuk membawa pergi orang-orang itu. Tapi ini, aku tidak yakin apa yang harus dilakukan."


Aku berpikir sejenak, "Apa mereka mengatakan apa yang mereka inginkan dariku?"


Wilson menggelengkan kepalanya, "Haruskah aku membiarkan petugas keamanan untuk mengecek?"


"Silahkan, begitu aku tahu apa yang mereka inginkan, aku akan menyiapkan senjata yang tepat."


Wilson menekan alat dalam telinganya dan memberikan arahan sementara aku berpakaian di kamar mandi


Aku keluar dengan memakai blus bergaris sederhana dan celana hitam saat Wilson berbalik ke arahku


"Nona Simmons, mereka mengatakan ada sesuatu yang akan dikatakan oleh bos mereka."


Aku memiringkan kepalaku, "Tidak ada konteks apapun?"


"Tidak ada."


Aku menggigit bibirku, "Kalau begitu biarkan satu orang masuk, periksa dia untuk mencari senjata. Sisanya harus menunggu di gerbang. Aku sudah cukup muak dengan para bandit ini, aku tidak akan menoleransi mereka lagi."


Wilson mengangguk tapi aku menghentikannya sebelum dia pergi, "Oh benar, periksa tongkat juga."


------------------------------------------


Halo, semuanya. Jika kalian menyukai novelku mohon lihat karya-karyaku yang lain juga. Antara lain 'Worlds Apart' dan 'The Huntress and the Beast."


Jangan lupa untuk share, tip, like, dan komen. Ngomong-ngomong karyaku 'Worlds Apart' sudah dipublikasikan dan bisa ditemukan di Amazon kindle dan play book keduanya buku elektronik dan format buku


Terima kasih untuk para pembaca yang mengagumkan, tolong berbaagi dan berdonasi.



Cukup dengan basa-basiku, jumpa lagi nanti!

__ADS_1



__ADS_2