The CEO's Wife

The CEO's Wife
Chapter 16


__ADS_3

- Kieran -


"Ada apa denganmu?"


saya memandang Scoot, "Apa?"


"Kamu tersenyum, itu mengerikan"


Saya mendengus, "saya tidak tersenyum."


"Apakah putri setuju menjadi pacarnu atau ada sesuatu yg lain?"


"Putri?"


"Maksudku Alina, apa dia setuju jadian denganmu? Selain itu aku tidak melihat alasan lain bagimu untuk tersenyum."


"Saya punya banyak alasan untyk tersenyum."


"Oh hebat, beritahukan itu pada hakim."


Saya bersandar pada kursi kulitku dan mengabaikan ejekannya, "Apa yg membuatmu kesal sore ini?"


Dia menghembuskan nafas, "Terima kasih sudah bertanya. Setelah kamu membawa putri pulang ke rumah, Connor mulai mengoceh tentang kamu. Dia bilang kamu akan dipanggil "papa" segera atau sesuatu seperti itu."


Saya yakin orang itu gila. Kami memukulnya karena melukai gadismu. Sama sama. Kemudian kami melempar dia kembali ke jalan dan membiarkan sekutunya menemukannya sendiri.


Dan kemudian saya mimpi buruk ini tentang seekor beruang merobek keluar tulang belakang saya. Saya sumpah itu adalah kesalahanmu saya mendapat mimpi buruk mengerikan ini. Saya bisa menjelaskan mimpiku dan membuatnya menjadi video game.


Ada suara ketukan dipintu dan saya membukakan Lucy untuk masuk, dia tersenyum pada Scott dan membuatkan kami kopi. Dia kopi macchiato dan saya kopi americano.


"Dan sebelum saya lupa, Tuan Knight, anda mempunyai janji pertemuan dengan 'Sims International Banking, 10 menit lagi menurut aturan baru. Anggota PR sudah berusaha keras untuk presentasi ini, tolong hargai mereka. Sesungguhnya mereka berhak mendapat kenaikann" Lucy mengingatkanku dan memberikan sebuah map berisi materi presentasi kepadaku sebelum dia pergi.


Lucy selalu memikirkan orang lain. Saya hampir tidak pernah peduli apapun, sampai Alina datang.


"Kamu melakukan hal itu lagi," Scott meringis dan meminum kopi susunya.


"Hal apa?"


"Soal senyum itu, kamu melakukannya lagi."


"Kamu mau jika aku merobekmu?"


Dia menggelengkan kepala, "Tidak, terima kasih, saya sudah cukup dirobek hari ini. Setelah dalam mimpiku beruang itu menarik keluar tulang belakangku dan seekor kura kura menggigit wajahku."


Saya menaikkan alis mata, "dan kamu bilang Connor yg gila?"


"Omong kosong."


Saya tertawa kecil dan menghabiskan kopiku sebelum mengambil map, "Baik, pergilah. Saya perlu menghadiri pertemuan."


"Maksudmu pertemuan dengan pacarmu dengan alasan pekerjaan. Betapa mesranya. Saya bisa muntah dalam hal ini."


"Mungkin kamu perlu menggali dalam hatimu dan mencari cinta hah?"


Dia hampir menyemburkan kopinya ke mejaku tapi malah tersedak sendiri, "Kamu masih mempunyai hati Kieran. Saya tidak, jangan melibatkan saya dengan hal ini."


Saya mengangkat bahu dan dia pergi segera sebelum saya menasehatinya dengan nasehatnya sendiri.


Saya membalik berkas dan mengamati semua peserta pertemuan. Saya tersenyum ketika saya menemukan namanya.


Astaga, rahang saya terasa sakit karena semua senyuman ini.


***


- Alina -


Hal ini membawa semua kenangan itu kembali hanya dengan berdiri di depan bangunannya.


Terakhir kali aku disini, ayahku masih bersamaku dan aku bertunangan dengan Connor.


Itu menakjubkan sekaligus menakutkan betapa dalam satu bulan hal ini bisa mengubah hidupmu.


Aku disini, membawa perusahaan warisan ayahku melanjutkan perkerjaannya setiap hari. Sementara Connor mengacaukan hidupnya sendiri.


Ayahku memang sudah tiada, tetapi dia masi hidup dalam kenanganku.


Aku tidak akan membiarkan(kenangan)nya mati dan Connor boleh tidak peduli dengan apapun yang aku pedulikan.


Lucy ada di resepsi untuk menerima kelompokku dan aku. Dia memimpin kami ke ruang pertemuan dengan Kieran dan kelompoknya sudah duduk semua dan siap.

__ADS_1


Mulutku terasa kering saat memandangnya. Yang pasti, saya baru melihatnya pagi ini, tapi tidak menjadi pelajaran perhatian saya untuknya.


Saya nyaris tidak ada waktu untuk mencerna situasi kita saat ini ketika Louis memanggilku mengingatkan tentang pertemuan ini.


Matanya menyapuku dan dia menyeringai, menunjukkan sisi nakalnya.


Aku bahkan tidak bisa marah padanya untuk hal yang dilakukannya saat sarapan pagi.


Kami berputar untuk berjabat tangan dan memperkenalkan diri, Kieran sengaja menarikku terlalu dekat padanya seperti menggodaku.


Aku tidak akan membiarkannya mempermainkanku lagi.


Setelah perkenalan, kami duduk saling berhadapan berseberangan di meja kayu ek, kelompokku bersisian masing masing.


Mejanya cukup luas dan nyaman untuk kaki, tetapi kakiku pasti bisa mencapai kakinya.


Kelompok Kieran akan mulai memberikan presentasi mereka tentang pembaruan peraturan tertentu yang akan mempengaruhi bank ku dalam waktu jangka panjang


Louis dengan cekatan mengetik risalah rapat dan pegawaiku menanyakan apakah kita bisa mengambil rencana lain yang berbeda.


Saya menyadari sesekali Kieran melirik padaku.


Saya mengambil gelas teh dan meneguknya perlahan mengabaikan pandangannya.


Saya menarik nafas dalam dan meluruskan kaki, tumit sepatu Christian Louboutin-ku menyentuh sepatu kulitnya. Dia melirikku dan aku tetap melanjutkan mendengar presentasi. Aku menyentuh betisnya dengan tumit sepatuku dan dia terlihat sekali menegang.


Aku tidak dapat menahan senyum di wajahku.


Aku terus menyentuh betisnya baik turun dengan tumit sepatuku, melihatnya berjuang keras menahan akalnya. Dia mencoba bergeser tapi aku tetep menaruh kakiku dibelakang kakinya, menguncinya dan menyiksanya dengan perlakuan itu.


Lucy menyenggolnya dan dia mengalihkan perhatiannya dariku ke layar dimana Lucy menunjuk.


Aku mendorong kursi lebih dekat padanya, tumit sepatuku merasakan otot yang tegang di paha sebelah dalamnya. Buku buku jarinya memutih karena memegang penanya. Aku menjilat bibir dan menggigit bibir bawahku dengan lembut, sambil membelai ototnya.


Dia menggerang dan berpura pura batuk melegakan tenggorokkannya. Aku menyeringai dan dia menatapku sejenak.


Aku dalam masalah, oh tapi aku senang menggodanya.


Pertemuan itu berakhir dalam satu jam dan aku memeriksa perubahan kontrak dengan pengacaraku. Setelah menandatanganinya, aku menyerahkan map kepada Kieran untuk di tandatanganinya.


Saya memberikannya sebuah senyum tak bersalah dan dia menyeringai sebelum menggoyangkan kepalanya.


Kedua kelompok berdiri dan berjabat tangan satu sama lainnya, Kieran bergeser merasa tidak nyaman menyembunyikan tonjolan di celananya. hal itu benar benar susah bagiku untuk tidak tertawa.


Dia mengambil tanganku, menggoyangkannya dan bersandar sangat dekat berbisik ditelingaku, "Aku mau bertemu kamu ke kantorku"


Perasaan takut terasa di punggungku dan seluruh tubuhku menghangat.


Si*l*n orang ini.


***


- Kieran -


Wanita ini akan menjadi kematianku.


Kelompokku pergi setelah aku memberikan mereka petunjuk apa yang harus di tindak lanjuti dari pertemuan tadi dan aku menambahkan juga beberapa pujian untuk kerja mereka yang bagus.


Aku berdiri dan menunggu Alina selesai membahas hal hal dengan Louise dan pengacaranya.


Aku tidak tahu jenis apa garam mandi yang Wilson taburkan di air mandinya tetapi dia kelihatan lebih santai dan kulitnya terlihat lebih bercahaya.


Dia memakai kemeja bergaris warna merah tua dengan lengan panjang yang anggun dan rok sepanjang lututnya.


Menjelaskan kecantikannya hanya meremehkan dunia yg luas.


Louis pergi bersama pengacara dan Alina berbalik dan melihatku menatapnya.


Dia memberikanku senyum termanisnya dan melangkah ke arahku, "Kau ingin menemuiku?"


Aku mengangguk dan berjalan duluan ke tangga berjalan. Kita menggunakan lift ke lantai atas dan melihat Lucy sudah di mejanya, memandangi Alina dan aku.


"Tuan Knight, Nona Simmons, kalian ingin kopi?"


Saya menggoyangkan kepala, "Tidak, tidak perlu, saya ingin berdiskusi dengan nona Simmons, pastikan jangan mengganggu kami. Kamu boleh istirahat setelah selesai semua pekerjaan hari ini."


Lucy memberikan senyum pengertian, "Jangan kuatir, tidak ada yang akan datang kesini."


Dia mengambil tasnya dan mengedip kepada Alina sebelum pergi. Wajahnya memerah pudar.

__ADS_1


Dia sungguh mengagumkan.


Saya membuka pintu kantorku, mengisyaratkan dia untuk masuk. Dia melangkah dengan hati hati, seolah dia memasuki kandang singa. Saya tersenyum, dia sungguh gugup. Tetapi dia tidak akan mengakuinya.


Dia melihat sekeliling, matanya memancarkan keakraban dan saya menyadari dia mengingat kenangan saat kami pertama bertemu. Aku mengingatnya seperti baru saja terjadi kemarin, penjagaan dan kepercayaan dirinya menguap.


Pintu berbunyi terkunci dibelakangku dan dia terpaku ditempatnya. Suasana menjadi tegang, aku dapat merasakan ketegangan di udara. Saya mengunci pintu dan perlahan melangkah ke arahnya.


Aku menyentuh lengannya dengan ringan, merangkulnya seperti pemangsa. Aku berhenti dibelakangnya, mencium harum parfum bunga pada lehernya.


"Kamu yang memulai permainan ini Alina, aku hanya turut dalam permainanmu," bisikku.


Dia terlihat akan jatuh dan aku menekan jariku dipunggungnya supaya dia tegak.


"Kupikir kamu mempunyai sesuatu untuk dibahas denganku?" desahnya.


Aku menyapu rambutnya kesamping dan mendekat, dan bibirku menyentuh cuping telinganya, "Hmm aku mempunyai sesuatu untuk dibahas denganmu."


Dia menelan ludah dengan berat dan aku mendekatinya, mata peraknya yang indah menatap tajam kejiwaku, "Apa yang hendak kau bahas?"


Aku menelusuri rambutnya dengan jari jariku, merangkulnya dengan lengan pada pinggangnya jadi dia bisa bersandar padaku, "Aku telah sering sekali membayangkan membawamu kemari Alina. Hanya waktu yang akan membuatnya jadi kenyataan bukan?"


Tangannya meraba dadaku dan aku mengerang, tenggelam dalam sentuhannya. Sensual, nakal dan sangat sexy.


Dia menatapku, bibir kami terpisah dan saling menginginkan.


"Mari kita lihat seberapa bagus hayalanmu."


Bibir kami berpadu dalam gelombang panas dan aku menekannya ke pintu kantor. Dia mengerang dibawahku, tangannya menjelajahiku dengan berani.


Lidah kami saling berpagut dan dia akhirnya membiarkanku memimpin.


Aku bahkan tidak menyadari dia melepas kancing kemejaku. Aku melempar kesamping dan membantunya melepas kemejanya. Aku meremas payudaranya yang masih mengenakan bh dan dia mendesah dalam sentuhanku.


Jika aku lebih keras aku akan berubah menjadi batu.


Aku melepaskan bh nya dan dia menambahkannya pada tumpukan baju di lantai. Aku melepaskan bibirnya dan tenggelam dalam payudaranya.


"Ah! Astaga Kieran-"


Aku menjilat putingnya dan erangannya yang sensual keluar dari bibirnya.


Aku bisa melakukannya terus untuk merasakan setiap bagian darinya.


Aku melepaskan seleting rok nya dan dia menendang lepas celana dalam berendanya. Aku hampir menggeran.


Aku mencengkram pantatnya dengan tanganku dan menariknya kearahku, kakinya melingkari pinggangku. p****ku bisa merasakan hangatnya v*****nya dibalik bahan celanaku.


Aku membawanya ke kursi sofa, bibir kami berpagut kembali dengan kegilaan. Dia sibuk melepas celanaku dan aku melempar celanaku, bersama dengan celana dalamku ke tumpukan baju.


Aku menciumnya dengan ganas, halus, lapar dan lembut. Setiap perasaan dan ketegangan membawa semacam kebahagian dan dari erangan manis Alina, aku yakin dia juga merasakan hal yang sama.


Aku menciumnya turun dari lehernya, ke dadanya, dan perutnya, mengigit tubuhnya dengan ringan mendengarnya menyebut namaku.


Dia sungguh luar biasa.


Mulutku menjelajah sampai ke atas kelaminnya dan dia menggeliat berharap. Jariku bergerak turun menyentuh lipatan lembutnya dan dia bergetar bahagia.


indahnya.


Aku bangun dan mencari di kantong celanaku sebuah bungkusan metalik. Aku menyobeknya dan menyarungkan kondom membungkus p****ku yang berdenyut denyut.


Alina menggigit bibir bawahnya dengan menggiurkan dan aku segera mendekatinya. Aku kembali padanya, memuntir putingnya dengan jariku dan menekan bibirnya, menggeser kepunyaanku yang panjang masuk ke dalamnya.


Aku menghentikan erangannya dengan lidahku, bibirnya menyebut namaku dengan tidak jelas.


Aku memompanya dengan perlahan, membiarkannya menyesuaikan denganku. Kemudian semakin cepat dan cepat ketika dia menginginkannya.


"Kieran aku-"


Aku menciumnya kemudian merebahkan kepalaku disampingnya, "Aku tahu sayang. Itu dia, datang padaku."


Dia melepaskan diri dari bawah dan pandangannya memicuku.


Erangan kami memenuhi ruangan ketika kami memacu gelombang kesenangan kami.


Aku menjauh sedikit, mengagumi kepuasan diwajahnya. Aku mencium bibirnya dengan lembut dan dia tersenyum puas, "Apakah kita melakukannya melebihi hayalanmu?"


Aku tertawa kecil dan mencium keningnya, "Tentu saja."

__ADS_1



__ADS_2