The CEO's Wife

The CEO's Wife
Epilogue


__ADS_3

**semuanya, Aku serius membutuhkan bantuan kalian. Ada seseorang di wattpad dan inkitt, dan dia dengan salah menuduhku mencuri tulisannya tanpa ada bukti. Padahal di kedua halaman inkitt dan wattpadnya kosong.. Namanua Janice Gan(Goldenshaken) di Inkitt dan Goldshaken00 di wattpad. Tolong bantu aku untuk melaporkannya. Pekerjaanku sudah berada di beberapa platform selama lebih 2 tahun, tak ada yang terjadi dan tiba tiba setelah 6 bulan menerbitkan karyaku orang orang ini menggangguku. dia dan adiknya dan teman temannya mengancamku untuk menurunkan karyaku dari seluruh platform. Tapi mereka tidak memiliki bukti. jadi tolong aku.


‐‐-----------------------------------------


* 1 Bulan Kemudian *


- Alina -


"Kau tampak baik-baik saja, Knight akan keluar sebentar lagi," Scoot berdiri di ambang pintu dari ruang gantiku dan menyeringai seperti pengganggu menyebalkan sebagaimana dirinya.


Aku terkikik dan bangkit dari dudukku di depan meja rias, gaun lembut berwarna mutiara jatuh dengan indah di lekuk tubuhku.


Scott bersiul, "Woah, kau memang seorang puteri, Tuan Puteri. Knight pasti akan pingsan saat dia melihatmu."


Aku memelototinya, Dia berpakaian jas hitam kasual yang membuatnya terlihat seperti seorang playboy, "Usaha yang bagus, tak ada yang mengoceh padanya."


Dia tertawa,"Kalian, tak ada yang bisa melewati kalian berdua."


"Aku ragu kau kesini hanya untuk membicarakan tentangnya. Bukannya kau sibuk merayu para bridesmaidku barusan?"


"Ah betul, Knight ingin aku memberimu sesuatu. Maklum 'yang tak boleh di lihat pengantin pria' paham kan?


Dia memberikan silinder emas dari sakunya dan aku terhenyak.


Apa itu...


"Dia bilang kamu hanya akan pakai lipstik ini, dan dia paksa aku segera bawakan padamu."


Lipstik ku.


Lipstik yang ayahku buatkan untukku.


"Kau baik baik saja?" Scott melihatku sambil khawatir.


Kukendalikan kembali perasaanku, aku tidak mau menangis di hari paling bahagia dalam hidupku.


Bagaimana Kieran bisa punya ini?


Aku mengangguk dan ulurkan tangan untuk mengambil lipstik itu darinya, "Aku baik-baik saja. Terima kasih."


Dia mengangkat bahunya, "Tidak apa. Kelihatannya penting kalau dia mau kamu memilikinya. Aku akan panggil Wilson kemari. Sudah saatnya kamu masuk aula."


Aku tersenyum, Hatiku hampir meledak dan sepertinya itu karena bersyukur, "Terima kasih."


Dia menganggukkan kepala dan meninggalkan ruangan.


Aku berbalik ke meja rias dan periksa riasanku di kaca sekali lagi. Kutarik tube emas bermagnet itu dan putar lipstiknya, lalu kuoles di bibirku yang polos.


Aku menahan air mataku, kenangan ayahku bercampur dengan warna di bibirku, untuk pertama kali muncul di pikiranku dan hampir membuatku menangis.


Kuperbaiki riasan, tutup lipstiknya, biarkan ingatan akan ayahku berputar sedikit lebih lama sebelum kembali mengendalikan diri, "Ini harinya, ayah. Aku begitu rindu ayah dan ibu."


Ketukan lembut di pintu menyadarkanku seseorang datang dan aku berputar untuk melihat Wilson masuk.


Dia memberikan senyum tua manisnya, "Apa anda sudah siap nona Simmons?"

__ADS_1


Aku mengangguk dan dia menepuk bahuku, "Ayahmu akan senang sekali karena anda akhirnya menikah."


"Ini sepertinya tujuan hidupnya kan?"


"Bukan, Tujuan hidupnya adalaha agar anda bahagia. Menikah hanyalah bonus."


Di kejauhan, aku bisa mendengar lagu pernikahan dimainkan dan jantungku berdegup kencang.


Wilson mengangkat lengannya yang sudah melingkar dan aku memasukkan tanganku kesana, mencoba menenangkan detak jantungku yang menggila.


Dia tepuk tanganku, "Apa kamu yakin soal ini? Aku bisa suruh Tuan Knight batalkan."


Aku tertawa ringan, "Aku yakin Wilson, tak pernah lebih yakin lagi."


***


- Kieran -


Lagu pengiring pengantin melembut saat aku mengambil tempatku di altar yang cantik. Latar nya sangat mengagumkan, Jendela kaca dibuka agar menampakkan bulan yang memencarkan cahaya nya ke bumi. Lampu lampu tergantung di dinding, pilar dan di ke dua tangga besar di ruangan.


Suasananya penuh keajaiban, bagai dalam dongeng, sesuatu yang hanya bisa diciptakan Disneyland.


Pintu pintu megah di ujung kastil Cinderella terbuka dan lagu pernikahan dimulai kembali. Hatiku terasa kencang dan kurapikan lagi jas pernikahanku, kugosok kerah jasku dengan kedua tangan dan kuperiksa lagi mawar merah darah yang ada di saku jas ku.


Segalanya harus sempurna.


Lalu aku terpaku.


Di sana, di ujung ruangan, ada istriku, rekan hidupku, ratuku.


Alina tersenyum sangat cantik di balik cadar saat dia melihat tatapanku dan aku merasa hatiku mengembang karena cinta dan kagum padanya. Rasa sedikit gugup apapun yang kurasakan menguap dan aku menghela nafas.


Wilson berjalan bersama Alina menelusuri lorong menggantikan posisi Alexander dan teringat kembali janji yang kuucapkan padanya.


"Aku putus asa mencari seseorang untuk merawatnya, tapi aku kenal pria yang baik ketika aku melihatnya. Dia akan hancur begitu aku pergi, aku hanya berharap kamu akan ada untuknya."


Aku tersenyum mengingat kembali hal itu, dasar rubah licik. Dia sudah tahu siapa aku sebenarnya. Dia tahu aku anak temannya dan dia rahasiakan ini dari kami. Aku selama ini bingung bagaimana dia bisa begitu yakin pada seseorang yang tidak pernah dia kenal, tapi kini aku tahu.


Dia tahu, dia tahu segalanya.


Kukatakan Aku akan mencoba Alexander, tapi hanya sebatas itu. Aku akan berada di sisinya melewati apapun. Apapun yang akan terjadi seberapa besarpun. Tak akan membiarkanmu mencapainya sesuai rencanamu.


Videografer yang kami sewa berdiri di dekat altar, mengambil setiap momen, merekam segalanya.


Ayahku tidak diizinkan datang ke pernikahan, mengingat dia baru dipenjara selama beberapa minggu dan masih dalam maaa percobaan.


Itulah kenapa semua diabadikan dalam video, sesuatu yang Alina inginkan untuk kita sendiri dan agar setidaknya ayahku bisa menyaksikannya dari dalam penjara.


Bagaimana Alina bisa pertimbangkan hal ini terlepas dari semua yang sudah ayahku lakukan, ini membuatku terkagum-kagum. Meski ini membuatku sadar betapa besar hatinya. Aku sendiri bahkan belum mampu memaafkannya.


Wilson menuntun Alina menaiki tangga ke atas panggung dan meletakkan tangannya ke dalam tanganku.


Ya Tuhan. Dia benar benar mempesona.


Terlebih dengan warna lipstik di bibirnya itu.

__ADS_1


Wilson memandangiku, "Jaga dan bahagiakan dia. Aku yakin itu yang diharapkan Tuan Simmons."


Aku mengangguk meyakinkannya, "Kamu tidak perlu khawatir soal itu, kuberikan janjiku padamu dan padanya juga."


Dia berbalik ke arah Alina dan Alina memeluknya erat-erat, sambil secara halus membisikkan "Terima kasih," padanya sebelum melepaskannya.


Wilson melangkah ke samping dan duduk di barisan depan aula besar.


Alina menggenggam erat tanganku dan mendekat, "Sudah berapa lama kamu menyimpan lipstikku?"


Aku menyeringai, kejutan lainnya, "Sejak pertama kau meninggalkan kantorku. Aku ingin mengembalikan itu padamu, kau menolak. Aku rindu bibir merah seksimu."


"Kukira kamu mau kembalikan cincin padaku."


"Yah. Bagaimanapun juga tetap akan kukembalikan."


"Kieran-"


"Aku juga mencintaimu sayang."


Dia terkikik dan menggelengkan kepalanya, hatiku sesak tapi bukan sakit. Melebar dengan cinta dan kegelapan dingin yang pernah menjadi bagian hidupku, lenyap karena kehadirannya.


Pendeta mengambil posisi dan kami menghadapnya, mempersilahkannya mengucapkan semua yang perlu diucapkan sebelum kami ucapkan janji kami.


Setelah dia selesai, mereka mengeluarkan cincin di atas bantal beludru merah dan dia membaca sumpah kami.


"Apakah engkau, Nona Alina Simmons bersedia menerima pria ini sebagai suamimu? Di saat senang atau susah, Kaya atau miskin, sakit atau dalam keadaan sehat, sampai maut memisahkan kalian?"


Senyuman manis muncul dari bibirnya, "Aku bersedia."


"Dan anda, Tuan Kieran Knight, bersedia menerima wanita ini menjadi istrimu yang sah? Dalam senang atau susah, kaya maupun miskin, saat sakit dan sehat, hingga maut memisahkan kalian?"


Sekarang giliranku untuk senyum, "Aku bersedia."


"Kalian boleh menukarkan cincin sebagai komitmen kepada janji kalian satu dengan yang lain."


Kami ambil kedua cincin dan saling bertukaran cincin. Keduanya cincin yang kami gunakan saat pertama kali aku melamarnya.


"Sekarang kunyatakan kalian sebagai suami dan istri."


Seisi aula bersorak bahagia dan kubuka cadar di kepalanya. Mata peraknya bersinar dengan kebahagiaan yang harus tetap tampak di matanya. Aku bisa tenggelam di dalam tatapan mata peraknya dan tidak pernah kembali.


"Apa sekarang aku pantas menjadi seorang suami?"


Dia tertawa, "Astaga, sayang. Tentu saja iya."


Kupegang dagunya, bibirnya sudah meminta perhatian, "Warna ini cocok sekali denganmu."


"Bahkan akan lebih baik setelah kau menciumku."


"Akan kupegang kata-katamu, sayang."


Dan aku mendaratkan bibirku ke bibirnya, menyegel takdir dan tujuan hidupku.


--------------------------------------

__ADS_1


**Sungguh perjalanan panjang bersama kalian semuanya, sayngnya harus berakhir. Ini adalah akhir dari novel ini. Terima kasib banyak untuk cinta kalian, komentar dan terima kasih untuk.tip nua @keinekochan. Cerita baruku akan datang dalam beberapa minggu. Jadi tolong dukung juga. Dan beritahu aku pendapat kalian tentangnta. Sampai jumapa**



__ADS_2