
Sambil bersenandung riya, Rubby berjalan melewati koridor. Banyak siswa/i yang melihat Rubby, mereka merasa tak pernah melihat Rubby parasnya membuat dia menuai banyak tatapan. Terlebih lagi laki–laki.
Rubby memasuki ruangan kepsek bertanya dimana kelasnya.
Tok... Tok... Tok..
Ketuk Rubby.
“Permisi, saya murid baru ingin bertanya dimana kelas saya?” tanya Rubby pada pria yang duduk dengan segudang kertas.
“Oh kamu anak baru itu, kelas kamu ada di 11 Ipa 3” jawabnya, Rubby hanya mengangguk tanpa menjawab lalu keluar.
Saat perjalanannya menuju kelas barunya Rubby ditabrak oleh ke-tiga cewek, Rubby tersungkur ia kemudian berdiri menatap wajah cewek itu ganas.
“Maksud lo apa nabrak gue, ha?” nada Rubby berubah.
“Sorry ya nggak sengaja” jawabnya enteng, Rubby menarik nafas kembali mengingatkan peringatan momy nya yang jangan mencari masalah.
“Kali ini gue maafin, lain kali kalo lo kayak gini lagi, habis lo” peringatin Rubby lalu berjalan menabrak bahu ketiga cewek itu.
“Dasar sok cantik” ucap salah satu pemimpin mereka.
“Sabar inces, kuy ke kelas”
__ADS_1
Setelah ia melihat nama di atas pintu bertuliskan 11 Ipa 3, ia menatap kelas itu lalu masuk. Ada beberapa siswa/i di sana tapi masih ada yang belum masuk juga.
Rubby memilih bangku nomor 4 dari depan ke-tiga dari samping, ia duduk dengan santai lalu memasang earphone ke masing–masing telinga Rubby juga memejamkan matanya menikmati.
Berhentilah ke–empat cowok di hadapan Rubby tapi dirinya tak menyadari. Laki–laki itu menatap Rubby sinis karena sudah lancang menepati bangkunya.
“Woi minggir!” seru laki–laki yang bernama Haru. Tapi Rubby tidak mendengar akibat telinganya disumpal.
“Minggir woi!” Haru kembali berteriak, lagi–lagi tak di gubris oleh Rubby.
Haru mencopot earphone lalu berteriak “Woi minggir, ini bangku gue!” teriaknya, Rubby mendorong kasar bangku sampai terdorong kebelakang.
“Lancang banget lo lepas earphone gue” ujar Rubby menatap garang Haru. Yang ditatap juga menajamkan tatapannya.
“Kenapa? Mau marah? Oh ya gue nggak pernah lihat lo, anak baru?”
“Minggir ini bangku gue!” seru Haru namun tak di gubris oleh Rubby.
“Woi lo budeg apa tuli, wah beneran budeg ni cewek... Cantik cantik kok budeg” ejek Haru, Rubby menahan amarahnya ia lebih memilih diam saja. Sampai akhirnya seorang guru masuk.
“Haru, kamu ngapain disitu? Cepat duduk ibu mau mengajar!” perintah bu Nana.
“Tapi ini bangku saya bu”
__ADS_1
“Murid baru? Silahkan perkenalkan diri kamu!” perintah bu Nana, juga selaku wali kelas.
“Tapi saya bu”
“Udah kamu cari tempat duduk lainnya, ngalah sama perempuan ” dengan terpaksa akhirnya Haru merelakan tempat duduknya pada Rubby.
“Silahkan perkenalkan dirimu cantik” bu Nana memang sangat baik orangnya sabar penyayang, tapi jangan termakan sifatnya dia sewaktu-waktu bisa berubah menjadi iblis ketika sedang marah.
“Kenalin nama gue Zafanya Rubby Rieger, kalian bisa panggil gue Rubby, pindahan dari SMA Permata” ucapnya singkat. Matanya tajam menatap Haru, Haru merasa ditatap berbalik menatap Rubby.
“WIH CAN BANGET DAH”
“JATAH GUE INI”
“BIDADARI DARI JAKARTA”
“SUBAHANALLAH SENYUMNYA ITU LOH, MEMBUAT JANTUNGKU MAU LONCAT”
“MINTA NOMER LINE NYA DONG”
“WAH BOLEH DONG JADI PACAR AKU”
“Sudah–sudah, Rubby kamu bisa duduk kembali” Rubby berjalan ringan mengarah ke bangkunya.
__ADS_1
Mungkin begitulah tuturan dari cowok–cowok kurang belaian, bu Nana mendengarkan muridnya hanya menggeleng–gelengkan kepala.
Pelajaran pun dimulai sangat nikmat dan hikmat, karena bu Nana mengajar Ipa biologi dengan santai tanpa membuat muridnya menjadi tegang.