
Di rumah sakit Haru menyuruh Rubby untuk duduk sebentar, entah kemana Haru kemana. Rubby hanya bisa pasrah, saat melihat dari arah kanan, Rubby melihat Haru membawa kursi roda.
“Ayo naik!” printah Haru, Rubby ragu-ragu.
“Bisa nggak, nggak usah pakek ini” Rubby menunjuk kursi roda.
“Nggak bisa, cepat naik! Atau lo mau gue gendong?” spontan Rubby langsung naik kursi roda itu, Haru cekikikan.
Di ruangan berwarna, nampak seorang dokter laki-laki yang mengobati kaki Rubby, Haru menatap Rubby kesakitan.
Sesudahnya dokter itu memberikan resep obat, segera Haru menebusnya dengan mendorong kursi roda Rubby.
“Makasih” ucap Rubby ragu-ragu.
“Apa? Gue nggak denger?” Haru mendekatkan telinganya di mulut Rubby.
“Makasih udah nolongin gue” lirihnya namun Haru masih mendengar.
“Nggak masalah asalkan lo jadi pacar gue, gimana?”
“Ogah.. Lo cari cewek lain sana! Ngapain harus gue? Banyak yang suka sama lo dan itu bukan gue, lo bisa cari yang lebih dari gue di luaran sana kan bisa” ketus Rubby mengomel seperti tidak suka kebiasaan Haru, bukan seperti tanda penolakan.
“Nggak ah, entar lo cemburu lagi ngelihat gue sama cewek lain selain lo gue juga nggak suka selain sama lo”
“Pantesan ya banyak ciwi-ciwi suka sama lo, orang lo aja pinter gombal. Heh,, untung gue ga mempan”
“Lo liat aja entar lo bakalan gue taklukin”
“Nggak akan pernah bisa”
__ADS_1
🍫🍫🍫
Haru mengantarkan Rubby pulang. Ia takut jika dirinya di cap laki-laki tak bertanggung jawab tidak mengantarkan Rubby dengan selamat, apalagi ada luka di badan Rubby.
“Udah lo pulang sana”
“Kok lo ngusir gue sih, entar gimana sama nyokap lo kalo mikir gue cowok gak bertanggung ja–” potong Rubby.
“Ck, itu jadi urusan gue, dah lo pergi sana”
“Ya udah deh, bye”
Rubby masuk dengan kaki pincang, tak ada orang di rumah, padahal jam masih berada di angka 8. Rubby pelan-pelan menaiki tangga.
Belum lama menaiki tangga ia kehilangan keseimbangan tapi tiba-tiba ada yang menolongnya dari belakang.
“Nggak papa kak, tolong bantu aku bawa ke kamar” perlahan langkah Rubby berjalan kembali bersamaan dengan langkah Elnato disampingnya.
“Kak minta tolong” ucap Rubby.
“Apa?”
“Ambilkan adikmu ini air putih kak”
“Biasa aja mukanya nggak usah sok imut”
Rubby cengingisan sambil menunggu kakaknya. Tak lama Elnato kembali membawa air putih yang diperintahkan Rubby.
“Kenapa kamu bisa kayak gini dek?”
__ADS_1
“Loncat dari mobil”
“Kebiasaan, jangan diulangi lagi. Besok kakak nggak ada kuliah kakak antar sekalian beli komik” tawar Elnato.
“Dengan senang hati saya menerima tawaran anda” ucap Rubby bernada dibuat-buat.
“Hehe, bisa aja kamu. Udah tidur sana”
“Siap kakak”
“Kakak kenapa pulang?”
“Lah ini kan rumah kakak juga, apa kakak nggak boleh pulang?”
“Boleh sih, maksudnya aku itu kenapa pulang sekarang kata mommy dua hari lagi”
“Ohh, kakak kemarin ngelembur nggarap tugas jadi cepat selesainya, mommy sama daddy mana?” El baru menyadari jika kedua Orangtuanya tidak ada.
“Entah, kan aku juga baru pulang palingan juga mereka mesra-mesraan”
“Ada ada aja sih.. ya udah kamu tidur gih, kakak mau ke kamar”
“Oke”
“Good night honey”
“Too”
Setelah Elnato keluar dari kamarnya Rubby memejamkan matanya, ia juga sangat lelah dan capek.
__ADS_1