The Chocolate Girl

The Chocolate Girl
Nekat


__ADS_3

Seperti biasanya Rubby di rumah gabut, malas dan mager. Ia hanya duduk duduk santai di sofa kamarnya. Lalu ia teringat akan pesan Lisa memberikan tupperware milik Haru. Ia menepuk jidatnya.


Bagaimana bisa ceroboh tidak memberikan. Akhirnya dengan terpaksa ia membuat sandwich lagi untuk Haru, daripada dimarahi Lisa karena tidak menjaga amanah.


Rubby berjalan keluar pagar menuju rumah Haru memberikan sandwich. Di depan pintu rumah Haru, Rubby ragu-ragu untuk mengetuk ia malu jika Haru nantinya kegeeran.


Tok.. Tok...


Tak ada sahutan.


Tok.. Tok..


Lagi lagi tak ada sahutan, Rubby mengetok sekali lagi pintu dengan kesal, lama.


TOK... TOK.. (Ketuknya tanpa melihat ke pintu)


saat ada yang membuka pintu Rubby tak tau jika pintunya sudah di buka alhasil dirinya mengetuk jidat Haru.


“Ngapain sih lo?” kata Haru sambil memegangi jidatnya.


“Sorry sorry, nggak sengaja” ucap Rubby menutup mulut “Sakit ya?” Rubby tersenyum hambar.


“Menurut lo”


Rubby menekuk mulutnya “Gue nggak sengaja”


“Ngapain lo kesini?”

__ADS_1


“Oh iya ini gue ngasih sandwich sambil balikin tupperware, hehe itung itung nebus kesalahan habis njitak lo”


Sett.. (Sahutnya)


“Pulang sana!” usir Haru sambil menutup keras pintu.


“Kenapa sih tu cowok, aneh banget” Rubby bergidik ngeri akan sikap Haru yang mudah berubah.


🍫🍫🍫


Malam harinya berjalan dengan sangat baik antara keluarga Rieger dan Rexley. Makan malam penuh keharmonisan.


Mereka senang saling kenal bahkan akan menjadi besan, itu anggapan mereka. Namun tidak baik bagi kehidupan Rubby, ia harus terjerat dalam sebuah bencana.


Haru dari tempat duduknya asik menatap wajah cantik Rubby yang mengenakan dress coklat tua ditambah wajahnya yang di poles tipis.


Tiba tiba terlintas dipikiran Haru untuk bisa berbicara berdua dengan Rubby.


“Silahkan sayang, ingat ya jangan pulang larut malam” Haru mengangguk lalu menghampiri Rubby dan menggandengnya.


Di mobil Rubby terus terusan memandangi luar jendela. Ia malas harus berdua dengan Haru.


“Apa gue kurang ganteng sampek lo nggak mau natap gue?” ujar Haru melirik Rubby, Rubby diam tak menjawab.


“Woi gue ngomong sama lo, cowok ganteng kok di anggurin. Banyak ya semua cewek yang ngantri di posis–” potong Rubby.


“Kecuali gue, gue sama sekali nggak tertarik sama cowok modelan kayak lo” sinis Rubby.

__ADS_1


“Mulai sekarang lo pacar gue! Nggak ada penolakan!” paksa Haru, Rubby memanas mendengar perkataan Haru.


“Gue, pacaran sama lo?”


“Iya, pasti lo seneng kan”


“Sampek kapan pun gue nggak bakalan jadi pacar lo ” setelah mengatakan hal itu dengan nekatnya Rubby menekan pintu mobil dan meloncat, untung jalanan sedang sepi.


Melihat aksi berbahaya Rubby, Haru menatap Rubby cemas. Bisa bisanya dia lompat tanpa menakutkan nyawanya.


Rubby menggelinding seperti bola, aksinya memang nekat tapi tak bisa ia lakukan selain itu. Rubby terbangun dengan badan yang penuh luka karna gesetan aspal.


Rubby berjalan pelan, menelepon Vio untuk menjemputnya tapi nomor Vio tak aktif, dengan terpaksa ia duduk di pinggir jalan menatap luka di bagian lengan dan kaki, terdapat juga nyeri di bagian pipi.


Semua badannya sakit karena menggelinding terlalu cepat. Tiba tiba suara datang mengagetkan Rubby.


“Lo kok main nyelonong aja sih! Kalo lo mati gue yang disalahin ogep! Gue lihat sini mana luka lo yang sakit!” cecar Haru memegangi luka Rubby.


“Jangan dipegang sakit! ” keluh Rubby.


“maaf maaf, lagian sih lo ngapain sih pakek acara lompat dari mobil, tapi lo gapapa kan?” entahlah darimana datangnya rasa perhatian Haru terhadap Rubby.


“Gue nggak papa kok, balik yuk!” Haru mengiyakan.


Rubby berjalan pelan pelan dibantu juga dengan Haru disampingnya.


Setelah merasakan tubuhnya semakin lama semakin sakit Rubby hanya mengumpatnya tak mau sampai Haru tau.

__ADS_1


“Kenapa lo? Sakit?” tak ada jawaban, Rubby hanya melihat ke luar jendela.


Tak mungkin jika Haru membawanya pulang dengan keadaan yang seperti ini, akhirnya Haru mengarahkan ke rumah sakit sebelum pulang.


__ADS_2